Akhlak mulia dan akhlak tercela

Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela

Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela

Akhlak mulia dan akhlak tercela adalah pilihan manusia dalam bertindak laku. Berakhlak mulia akan dimuliakan oleh Tuhan dan sesama manusia sebaliknya berakhlak tercela akan hina dalam pandangan Tuhan dan manusia.

Akhlak mulia  dalam kehidupan meliputi: akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap orang tua/keluarga, akhlak terhadap sesama, dan akhlak terhadap alam.

AKHLAK MULIA DAN AKHLAK TERCELA

Akhlak adalah kriteria-kriteria perbuatan manusia baik yang bersifat batin maupun yang bersifat lahir. Dalam perwujudannya baik yang batin maupun yang lahir ada yang mulia dan ada yang tercela. Jika ia  sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya yang kemudian melahirkan perbuatan yang baik, maka itulah yang dinamakan akhlak mulia. Jika tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan rasul-Nya, maka dinamakan akhlak tercela.

Baca Juga : hakikat manusia

Akhlak batin merupakan dasar atau sendi bagi akhlak lahir. Akhlak batin yang mulia akan melahirkan akhlak lahir yang mulia pula, sebaliknya akhlak batin yang tercela akan melahirkan akhlak lahir yang tercela pula.

Menurut Imam Al-Ghazali ada empat sendi atau akhlak batin yang baik yang menjadi dasar bagi perbuatan-perbuatan baik dan ada empat sendi akhlak batin yang tercela yang menjadi dasar bagi perbuatan-perbuatan tercela. Keempat sendi akhlak batin yang baik itu adalah sebagai berikut.

  1. Kekuatan ilmu yang berwujud hikmah, yaitu kebijaksanaan yang artinya adalah keadaan jiwa yang bisa menentukan antara hal-hal yang benar  dan hal-hal yang salah.
  2. Kekuatan amarah yang wujudnya adalah berani, yaitu keadaan kekuatan amarah yang tunduk kepada akal pada waktu dinyatakan atau dikekang.
  3. Kekuatan nafsu syahwat (keinginan) yang wujudnya adalah iffah, yaitu keadaan syahwat yang terdidik oleh akal.
  4. Kekuatan keseimbangan di antara yang tiga di atas. Wujudnya adalah adil, yakni kekuatan jiwa yang menuntun amarah dan keinginan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh hikmah (kebaikan dan kebijaksanaan).

Dari empat sendi akhlak tersebut di atas akan melahirkan perbuatan- perbuatan baik, yaitu jujur, suka memberi kepada sesama, tawadu, tabah, tinggi cita-cita, pemaaf, kasih sayang terhadap sesama, menghormati orang lain, qana’ah, sabar, malu, pemurah, berani membela kebenaran, menjaga diri dari hal-hal yang haram.

Baca Juga: ILMU DAN SENI DALAM ISLAM

Sementara empat sendi-sendi atau dasar-dasar akhlak batin yang tercela adalah:

  1. keji, pintar busuk, bodoh, yaitu keadaan jiwa yang terlalu pintar atau tidak bisa menentukan yang benar di antara yang salah karena bodohnya;
  2. berani tapi sembrono, penakut, dan lemah, yaitu kekuatan amarah yang tidak bisa dikekang atau tidak pernah dilakukan, sekalipun sesuai dengan kehendak akal;
  3. rakus dan statis, yaitu keadaan syahwat yang tidak terdidik oleh akal dan syariat agama, berarti ia bisa berlebihan atau sama sekali tidak berfungsi;
  4. aniaya, yaitu kekuatan syahwat dan amarah yang tidak terbimbing oleh hikmah.

Keempat sendi akhlak tercela itu akan melahirkan berbagai perbuatan tercela yang dikendalikan oleh nafsu, seperti sombong, riya’, mencaci maki, khianat, dusta, dengki, keji, serakah, „ujub, pemarah, malas, membukakan aib, kikir, dll. yang kesemuanya akan mendatangkan malapetaka baik bagi pribadi maupun bagi masyarakat.

AKHLAK MULIA DALAM KEHIDUPAN

Akhlak dalam pengertian budi pekerti harus menjadi sikap batin dan termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak tersebut meliputi akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap orang tua dan keluarga, akhlak terhadap orang lain/masyarakat, dan akhlak terhadap alam.

Akhlak kepada Allah

Akhlak dalam Islam harus dibangun atas dasar kesadaran akan keberadaan Allah SWT sebagai pencipta alam semesta beserta seluruh isinya. Perwujudan daripada kesadaran itu adalah akhlak kepada-Nya, antara lain:

Menauhidkan

Menauhidkan artinya mengesakan bahwa Allah adalah pencipta; bahwa Allah yang wajib disembah oleh kita, bahwa Allah yang memilik sifat sempurna dan jauh dari sifat kurang. Dalam Al-Qur‟an ditegaskan,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ

Artinya: “Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Alah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas/112:1-4)

Beribadah

Karena Allah pencipta maka kita harus beribadah hanya kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat/51:56)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah/2:21)

Bersyukur

Bersyukur adalah berterima kasih kepada Allah atas karunia dan nikmat yang telah diberikan.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (nimat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim/14:7)

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ

Artinya: “Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS.Al-Baqarah/2:152)

Taqwa

Taqwa adalah melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Artinya: “Hai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari satu diri (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya (Hawa). Dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah di mana kalian saling pinta meminta sesama kalian dengan mempergunakan nama-Nya, lagi pula peliharalah hubungan kasih sayang antara kalian. Sesungguhnya Allah itu adalah Pengawas kalian.” (QS. An-Nisa/4:1)

Baca Juga: Manusia Dalam Pandangan Islam

Rasulullah bersabda:

“Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada,  dan ikutilah perbuatan jahat dengan perbuatan baik pasti dapat  menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan perangai yang baik.” (HR Turmudzi)

Berdoa

Berdoa adalah memohon kebaikan kepada Allah dalam segala hal untuk kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku, maka (jawab) sesungguhnya Aku dekat, Aku akan memenuhi doa orang yang berdoa jika ia berdoa kepadaku. Maka mintalah mereka kepada-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.“ (QS. Al-Baqarah/2:21)

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ

Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu‟minuun/23: 60).

Berdzikir

Berzikir artinya mengingat Allah. Perwujudannya dengan membaca tahlil, tahmid, tasbih, istighfar.

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Dan ingatlah, karena sesungguhnya ingat itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (QS. Azd-Dzaariyaat/ 51:55)

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ

Artinya: “Sebab itu ingatlah kepadaku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah/ 2:152)

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah- lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‟d/ 13:28)

Tawakal

Tawakal adalah sikap pasrah kepada Allah atas ketentuan-Nya sambil berusaha.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Mahabbah (Cinta)

Mahabbah artinya sikap merasa dekat dan ingat terus kepada Allah yang diwujudkan dengan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS.Al-Maa‟idah/5:54)

Akhlak kepada Diri Sendiri

Manusia dalam hidupnya pasti mengharapkan kebahagiaan baik kebahagiaan batin maupun kebahagiaan lahir. Karena harapan ini maka manusia harus berusaha untuk memperolehnya menurut kemampuannya. Perwujudan akan harapan tersebut merupakan akhlak terhadap dirinya sendiri, yang meliputi, antara lain:

Kreatif dan dinamis

Kreatif adalah sikap seorang yang selalu ingin menciptakan sesuatu untuk kebahagiaan hidupnya. Sikap mental ini kemudian ia realisasikan dalam bentuk berpikir, merenung dan meneliti. Seiring dengan sifat kreatif adalah sikap dinamis. Dinamis adalah sikap mental kita yang ingin selalu maju dan berubah dari satu kondisi ke kondisi yang lebih baik.

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَاَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللّٰهُ يُنْشِئُ النَّشْاَةَ الْاٰخِرَةَ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۚ

Artinya: “Katakanlah,”Mengembaralah di muka bumi, dan saksikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan; kemudian Allah mewujudkan ciptaan berikutnya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segalanya.” (QS. Al-Ankabut/29:20)

اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَّاَثَارُوا الْاَرْضَ وَعَمَرُوْهَآ اَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوْهَا وَجَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۗ فَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَۗ

Artinya: “Tidakkah mereka mengembara di bumi ini, lalu melihat apa yang terjadi dengan orang-orang sebelum mereka? Orang-orang ini lebih kuat dari mereka; mengolah tanah dan membangunnya melebihi pekerjaan mereka; rasul-rasulnya mendatangi mereka dengan bukti- bukti nyata. Allah tidak akan menganiaya mereka, tapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.” (QS. Ar-Ruum/30:9)

Sabar

Sabar adalah sikap mental untuk menerima dan menjalani dengan lapang dada ketika mendapatkan musibah dan menjalankan perintah. Sabar itu tidak hanya ketika kita mendapatkan cobaan dan penderitaan.

Ada empat macam sabar:

  1. sabar ketika menghadapi cobaan dan musibah,
  2. sabar dalam menghadapi dorongan hawa nafsu yang tidak baik.,
  3. sabar dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya;
  4. sabar ketika kita mendapatkan kebahagiaan.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami akan memberikan cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan hasil tanaman. Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ”Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah/2:155-156)

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ۗ

Artinya: “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: ”Ya Tuhan kami, tuangkanlah sabar atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah/2:249-250)

وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar (sabirin).“ (QS. Ali-Imran/3:146).

Tawadu

Tawadu artinya rendah hati dan tidak sombong. Perwujudan dari sikap tawadu itu kita tidak sombong, tidak curang, senantiasa baik kepada orang lain. Allah berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

Artinya: “Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka mengucapkan kata- kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqaan/25:63)

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, ”Bertaqwalah kamu sehingga seseorang tidak berlaku sombong terhadap yang lain dan seseorang tidak berlaku curang atas orang lain.” (HR. Muslim)

“Sedekah tidak mengurangi harta dan Allah tidak menambah selain kehormatan kepada seseorang yang memberi maaf, dan tiada seorang yang bertawadlu secara ikhlas karena Alah melainkan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Benar

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertawakallah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah/9:119)  

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

Artinya: “Dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‟Ashr/103:3)

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا

Artinya: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Israa‟ 17:53)

Iffah

Iffah adalah menjaga diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah. Termasuk iffah adalah memelihara diri dari meminta-minta.

وَابْتَلُوا الْيَتٰمٰى حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَۚ فَاِنْ اٰنَسْتُمْ مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوْٓا اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ ۚ وَلَا تَأْكُلُوْهَآ اِسْرَافًا وَّبِدَارًا اَنْ يَّكْبَرُوْا ۗ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۚ وَمَنْ كَانَ فَقِيْرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوْفِ ۗ فَاِذَا دَفَعْتُمْ اِلَيْهِمْ اَمْوَالَهُمْ فَاَشْهِدُوْا عَلَيْهِمْ ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ حَسِيْبًا

Artinya: “Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu maka hendaklah ia menahan diri (dari harta anak yatim itu).” (QS. An-Nisaa‟/4:6)

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ࣖ

Artinya: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat oleh jihad di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang  yang tidak tahu menyangka mereka orang yang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta.” (QS. Al-Baqarah/2: 273)

Amanah/jujur

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu memberikan amanat kepada pemiliknya dan jika kamu menghukum di antara manusia maka hukumlah mereka dengan adil. “ (QS. An-Nisaa‟/4:58)

Akhlak kepada Ibu, Bapak, dan Keluarga

Ibu dan bapak serta saudara-saudara adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita. Sejak kita masih di dalam rahim hingga remaja seperti sekarang ini mereka senantiasa berada dekat terus dengan kita. Merekalah yang selalu di sisi kita, dan mereka pulalah yang selalu sehati dengan kita. Apa yang kita rasakan mereka juga merasakannya. Kita bahagia, mereka juga bahagia, sebaliknya jika kita sakit mereka juga ikut merasakannya. Karena itu kita harus menghormatinya yang diwujudkan dalam akhlak, antara lain:

Berbakti kepada kedua orang tua

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya:“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, kerabat dekatmu, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa‟/4: 36)

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuamu ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang semakin bertambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tua ibu bapakmu. (QS. Luqman/31:14)

Rasulullah bersabda:

“Pulanglah kepada ibu bapakmu dan baik-baiklah bergaul dengan keduanya.” (HR. Muslim)

“Berbaktilah kepada ibu bapakmu, pasti nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu.” (HR. Thabrani)

“Keridlaan Allah tergantung pada keridlaan ibu bapak, dan kutukan Allah tergantung juga pada kutukan kedua ibu bapak.” (HR. Tirmidzi)

Mendoakan orang tua

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu di antara mereka atau kedua-duanya sudah umur lanjut dalam pemeliharaannya, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya hus dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai  Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.” (QS. Al-Israa‟/ 17: 23-24)

Adil terhadap saudara

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl/ 16: 90)

Membina dan mendidik keluarga

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakatnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Memelihara keturunan

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ
يَتَوٰرٰى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْۤءِ مَا بُشِّرَ بِهٖۗ اَيُمْسِكُهٗ عَلٰى هُوْنٍ اَمْ يَدُسُّهٗ فِى التُّرَابِۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

Artinya: “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menubuhkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl/16: 58-59)

Akhlak terhadap Orang/Masyarakat

Manusia adalah makhluk sosial. Aristoteles mengatakan manusia sebagai zone politiken atau homo socius. Sebagai makhluk sosial manusia tidak mungkin hidup sendiri. Jika manusia hidup sendiri maka ia akan rusak mentalnya dan tidak akan tumbuh normal karena mengingkari hakikatnya sebagai manusia yang membutuhkan orang lain. Oleh karena itu manusia akan selalu membutuhkan orang lain. Manusia membutuhkan orang lain untuk berinteraksi dan komunikasi.

Akan tetapi, untuk mewujudkan hubungan sosial yang baik  dan harmonis dengan orang lain baik yang muslim maupun non-muslim harus disertai dengan akhlak, antara lain:

Membangun sikap ukhuwah atau persaudaraan

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah di antara keduanya dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat/49: 10)

Melakukan silaturahmi

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu dahulunya berada di tepi jurang neraka; lalu Allah melepaskanmu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar mendapat petunjuk.” (QS. Ali-Imran/3 : 103)

Ta’awun ialah saling tolong menolong dalam hal kebajikan

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam (mengerjakan) dosa dan     pelanggaran.    Dan     bertaqwalah    kamu    kepada    Allah, sesungguhnya Allah amat besar siksa-Nya. (QS. Al-Maai‟dah/5: 2)

Bersikap adil

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu memberikan amanat kepada pemiliknya dan jika kamu menghukum di antara manusia maka hukumlah mereka dengan adil. “ (QS. An-Nisaa‟/4: 58)

Bersikap pemaaf dan penyayang

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Janganlah bersumpah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (kekayaan) di antaramu, bahwa mereka tiada akan memberikan kekayaannya itu kepada karib kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang hijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan merelakan. Tiadakah kamu suka, bahwa Allah mengampuni dosamu? Allah Pengampun lagi Pengasih.” (QS. An-Nuur/24: 22)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “Maka dengan rahmat Allah, jadi lunaklah hati engkau (ya Muhammad) terhadap mereka. Kalau sekiranya engkau berbudi jahat, berhati kasar, niscaya berserai berailah mereka menjauhi engkau, maka maafkanlah mereka dan minta ampunkanlah untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka tentang urusan itu. Apabila engkau bercita-cita (yang tetap), maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mengasihi orang yang tawakal.” (QS. Ali-Imran/3: 159)

Bersikap dermawan

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا

Artinya: “Jangan engkau jadikan tanganmu terbelenggu ke kuduk engkau dan jangan pula engkau lepaskan selepas-lepasnya, nanti engkau duduk tercela dan menyesal. (jangan bakhil dan jangan boros). (QS. Al-Israa‟/17: 29)

Menahan marah dan berkata yang baik (lemah lembut)

اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ

Artinya: “Ketika engkau berkata kepada orang-orang beriman (dalam peperangan): Tidakkah mencukupi bagimu, bahwa Tuhanmu menolongmu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan.” (QS. Ali-Imran/3: 124)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang betul (baik).” (QS. Al-Ahzab/33: 70

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr/15: 88)

Musawah

Sikap musawah dalam arti persamaan dalam hidup bermasyarakat maupun persamaan dalam hukum. Berkenaan dengan persamaan dalam arti luas, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya aku telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan kemudian kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling kenal, sesungguhnya semulia-mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujuraat/ 49: 13)

Dalam hadits Rasulullah bersabda: “Tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab dan bukan Arab dan tidak juga orang kulit putih atas orang kulit hitam kecuali dengan taqwanya.”

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

Artinya: “Dan sungguh kami telah muliakan anak-anak Adam, dan kami tebarkan mereka di darat dan di laut serta kami anugerahi mereka rezeki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna daripada kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan. (QS. Al-Israa‟/ 17: 70)

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى ۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ ۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ

Artinya: “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal saleh di antara kamu sekalian baik laki-laki maupun perempuan (karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain).” (QS. Ali-Imran/3: 195)

Dan  masih  banyak  lagi  ayat  al-Qur‟an  yang  berbicara  menegaskan prinsip persamaan tersebut.

Berkenaan persamaan dalam hukum, misalnya, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orang yang teguh dan bersaksi kepada Allah dengan adil dan janganlah kalian menjadikan urusan satu kaum menjadikan kalian berlaku tidak adil, berlaku adil kalian sesungguhnya ia lebih dekat kepada ketakwaan dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian perbuat.” (QS. Al-Maai‟dah/5: 8)

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah cukup memberi kesempatan kepada orang yang zalim apabila datang masa siksanya tidak akan dilepaskan. Kemudian beliau membacakan,”Demikianlah cara Tuhan jika menyiksa sebuah negeri yang zalim, sungguh siksanya sangat pedih dan keras.” (HR. Bukari Muslim)

Tasamuh

Keyakinan yang berbeda harus dihormati. Oleh karena itu, pemaksaan dan penindasan manusia agar menerima Islam bukanlah perbuatan yang baik. Kebebasan beragama sangat dijamin oleh Islam.

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan dalam agama, telah jelas mana yang baik dan mana yang buruk.” (QS. Al-Baqarah/2: 256)

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Dan apabila Tuhanmu menghendaki niscaya semua manusia akan beriman kepada Allah, apakah engkau akan memaksa manusia sehingga mereka beriman.” (QS. Yunus/10: 99)

Atas dasar sikap tasamuh inilah, tidak benarkan umat Islam menghina umat agama lain. Allah berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah.” (QS. Al-An‟aam/ 6: 108)

۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

Artinya: “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang paling baik.” (QS. Al-Ankabut/29: 46)

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ
وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ
وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ
وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ

Artinya: “Aku (orang Islam) tidak akan menyembah apa yang kau (kafir) sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan (Allah) yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula penyembah apa yang aku sembah. Dan kamu juga tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kaafiruun/109: 2-6)

Bermusyawarah

Musyawarah merupakan upaya memecahkan bersama untuk menghindari penyimpangan dan meletakkan langkah-langkah bersama yang secara bulat disepakati.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu,  kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertaqwalah kepada Allah.” (QS. Ali-Imran/ 3: 159)

Rasulullah bersabda: “Tidaklah suatu kaum bermusyawarah melainkan mereka diberi petunjuk kepada apa yang paling baik bagi persoalan-persoalan mereka.”

Musyawarah adalah media untuk menyinkronkan perbedaan-perbedaan dalam keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak.

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ

Artinya: “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (Asy-Syuura/ 42 : 38)

Menjalin perdamaian

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

Artinya: “Mereka itu ditimpa kehinaan di mana mereka berada, kecuali dengan tali (agama) dari Allah dan tali (perdamaian) dari manusia.” (QS. Ali-Imran/ 3: 112)

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Dan kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) kecuali sebagai rahmat kepada alam.” (Al Anbiya: 107)

Akhlak kepada Alam

Alam adalah ciptaan Allah dan diperuntukkan bagi manusia untuk kebaikan dan pengabdian kepada-Nya. Karena itu, akhlak yang harus diwujudkan terhadap alam, antara lain:

Memperhatikan dan merenungkan penciptaan alam

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran/ 3: 190)

Memanfaatkan alam

قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَمَا تُغْنِى الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ

Artinya: “Katakanlah,”Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus/10: 101)

Referensi:

Nurdin,Ali.dkk. 2016. Pendidikan Agama Islam.Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal  5.22

Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela Akhlak Mulia dan Akhlak Tercela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated