Berbicara formal dalam bahasa Indonesia

Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia

Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia

Berbicara formal dalam bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi dua yaitu monolog dan dialog. Berbicara monolog adalah berbicara satu arah, artinya dalam kegiatan berbicara tersebut tidak terjadi interaksi antara pembicara dengan pendengar. Kegiatan berbicara yang bersifat monolog; pidato/sambutan dan memandu. Memandu dapat berupa memandu acara atau mewara dan memandu wisatawan. Kegiatan berbicara yang bersifat dialog; wawancara dan diskusi. Diskusi memiliki ragam antara lain seminar dan simposium.

Baca Juga: Pengembangan Paragraf Dalam Bahasa Indonesia

Untuk memperoleh keterampilan berbicara formal diperlukan penguasaan terhadap faktor-faktor yang menentukan keberhasilan berbicara. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kebahasaan dan nonkebahasaan.

FAKTOR KEBAHASAAN

Faktor kebahasaan adalah faktor yang berkaitan dengan unsur-unsur kebahasaan. Penguasaan terhadap unsur-unsur kebahasaan dapat membuat pembicaraan menjadi jelas, enak didengar, dan menarik. Unsur-unsur kebahasaan yang dapat menunjang keefektifan berbicara yaitu, pengucapan fonem, intonasi, pilihan kata, dan penerapan struktur kalimat.

Pengucapan Fonem

Fonem dalam bahasa terdiri atas fonem vokal dan konsonan. Kesalahan dalam pengucapan fonem baik vokal maupun konsonan akan mengganggu kelancaran komunikasi antara pembicara dan pendengar. Artinya, kesalahan pengucapan fonem dapat membuat pendengar salah menafsirkan isi pembicaraan. Sebagai contoh perhatikan ujaran berikut ini.

”Mereka memang bukan dari keluarga mampu, tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat hidup yang tinggi. Pernah beberapa kali pindah tempat tinggal, pada tahun tujuh puluhan mereka di Serang [sarang], sekarang mereka menjadi orang-orang berhasil dan tinggal di pemukiman orang-orang berkelas.”

Perhatikan kalimat kedua; Pernah beberapa kali pindah tempat tinggal, pada tahun tujuh puluhan mereka di Serang [sarang]. Kesalahan pelafalan/pengucapan fonem /e/ menjadi [a] akan mengganggu komunikasi bahkan kesalahan penafsiran. Bisa saja pendengar menjadi bingung, misalnya pendengar berpikir ”Kok diserang, siapa yang menyerang, mereka kan orang baik-baik.”

Demikian Saudara jika pembicara membuat kesalahan dalam melafalkan fonem, baik vokal maupun konsonan. Pendengar tidak saja akan menjadi bingung, mungkin juga akan terjadi hal lebih tidak menyenangkan.

Penerapan Intonasi

Intonasi adalah unsur bahasa yang tergolong ke dalam suprasegmental, yaitu unsur bahasa yang dapat membedakan makna yang disebabkan oleh tinggi rendah, tekanan, dan jeda atau persendian. Perhatikan contoh perapan persendian atau jeda pada ujaran berikut ini. Ujaran ini diucapkan pembicara yang sedang memberi penjelasan kepada guru-guru senior tentang bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran.

”Seorang guru baru/dikatakan profesional jika mampu memperlihatkan pembelajaran yang berkualitas. Kualitas pembelajaran baru/dapat diperoleh dengan cara guru selalu mau belajar untuk mengetahui/ perubahan-perubahan yang ada dalam dunia pendidikan”.

Mendengar ujaran ini, para guru (senior) pasti akan bingung, kepada siapa sebenarnya ujaran ini ditujukan, karena yang hadir pada saat itu tidak ada guru baru. Demikian pula halnya dengan kalimat 2, kualitas pembelajaran baru itu seperti apa?

Baca Juga: Konsep Menulis dan Jenis Tulisan

Jika ujaran tersebut diperbaiki, orang yang mendengarkan akan menjadi lebih mengerti. Berikut perbaikan penerapan jeda pada kalimat tersebut.

”Seorang guru/baru dikatakan profesional jika mampu memperlihatkan pembelajaran yang berkualitas. Kualitas pembelajaran/baru dapat di- peroleh dengan cara guru selalu mau belajar/untuk mengetahui perubahan-perubahan yang ada dalam dunia pendidikan”.

Iya, persendian atau jeda, atau perhentian sejenak sangat berpengaruh terhadap makna sebuah kalimat. Penerapan persendian yang salah akan berakibat seperti contoh di atas. Penguasaan terhadap intonasi tidak hanya terletak pada aspek persendian, kesalahan penerapan penekanan dan aspek intonasi lain juga akan berakibat sama, yaitu gangguan atau kekeliruan komunikasi.

Pilihan Kata

Keterampilan memilih dan menentukan kata yang akan digunakan dalam kegiatan berbicara sangat penting bagi pembicara. Sama halnya dengan penguasaan terhadap pelafalan fonem dan penerapan intonasi, pilihan kata yang salah ketika melakukan kegiatan berbicara pun akan menimbulkan dampak yang sama yaitu, gangguan atau kekeliruan komunikasi. Perhatikan contoh berikut ini.

”Bapak-bapak dan Ibu-ibu, masalah keluarga selalu ada di setiap rumah tangga. Suami dan istri harus selalu saling menghormati dan tenggang rasa. Artinya, seorang istri harus memahami bagaimana kerjanya seorang suami dalam mencari nafkah? Suami pun harus bisa mengerti bagaimana lelahnya ketika istri dalam kandungan. Oleh sebab itu, suami dan istri harus selalu bekerja sama dan saling membantu”

Bagaimana Saudara, Anda dapat menangkap kekeliruan pilihan kata pada ujaran di atas? Pada bagian manakah letak kesalahan pilihan kata tersebut? Bagus, kesalahan pilihan kata terletak pada kalimat ketiga dan keempat. Mari kita lihat bersama-sama.

Artinya, seorang istri harus memahami bagaimana kerjanya seorang suami dalam mencari nafkah?

Kata apa yang salah penggunaannya pada kalimat tersebut? Iya, penggunaan kata ’kerja’ pada kalimat tersebut tidak tepat, karena kata tanya bagaimana berarti menanyakan kerja, bukan menanyakan suami. Berikutnya kita lihat kalimat keempat.

Suami pun harus bisa mengerti bagaimana lelahnya ketika istri dalam kandungan.

Kata ’dalam kandungan’ sangat tidak tepat, bagaimana mungkin ada istri di dalam kandungan. Kata apakah yang tepat untuk mengganti kata-kata tersebut. Perhatikan perbaikan ujaran tersebut.

”Bapak-bapak dan Ibu-ibu, masalah keluarga selalu ada di setiap rumah tangga. Suami dan istri harus selalu saling menghormati dan tenggang rasa. Artinya, seorang istri harus memahami bagaimana lelahnya  seorang suami dalam mencari nafkah? Suami pun harus bisa mengerti bagaimana lelahnya ketika istri sedang mengandung. Oleh sebab itu, suami dan istri harus selalu bekerja sama dan saling membantu”

Penerapan Struktur Kalimat

Struktur kalimat berkaitan dengan susunan kata-kata yang sesuai dengan fungsi kata dalam kalimat. Kalimat yang tidak jelas salah satu fungsinya akan mengganggu kelancaran komunikasi. Perhatikan ujaran berikut ini.

”Dalam rapat yang dihadiri oleh semua anggota DPR itu membahas masalah Nanggroe Aceh Darussalam.”

Apakah Anda dapat melihat kejanggalan ujaran di atas? Mari kita lihat konstituen-konstituen kalimat tersebut.

Dalam rapat yang dihadiri oleh semua anggota DPR = keterangan

membahas = predikat

masalah Nanggroe Aceh Darussalam = objek

Pertanyaannya, siapa yang membahas masalah dalam rapat itu? Artinya kalimat tersebut tidak memiliki subjek. Saudara, kalimat yang tidak jelas seperti contoh di atas memiliki dampak yang sama dengan kelemahan terhadap faktor-faktor kebahasaan sebelum ini (pelafalan fonem, penerapan intonasi, pilihan kata) yaitu kebingungan dan kekeliruan informasi. Lalu bagaimana struktur kalimat yang benar untuk ujaran di atas? Berikut ini perbaikannya.

  1. Rapat yang dihadiri oleh semua anggota DPR itu membahas masalah Nanggroe Aceh Darussalam.” atau
  2. ”Dalam rapat yang dihadiri oleh semua anggota DPR itu dibahas masalah Nanggroe Aceh Darussalam.”

Saudara, demikian penjelasan tentang penguasaan faktor-faktor kebahasaan dalam kegiatan berbicara. Uraian berikutnya adalah tentang penguasaan terhadap faktor nonkebahasaan yang harus dimiliki oleh seorang pembicara dalam rangka menjadi pembicara yang baik.

FAKTOR NONKEBAHASAAN

Faktor nonkebahasaan adalah faktor-faktor di luar unsur kebahasaan yang turut mendukung keberlangsungan kegiatan berbicara. Maidar Arsjad dan Mukti U.S. (mengemukakan sembilan faktor yang dapat dikategorikan sebagai faktor-faktor nonkenahasaan, yaitu keberanian, kelancaran, kenyaringan suara, pandangan, gerak-gerik, penalaran, dan sikap yang wajar.

Keberanian

Keberanian dalam kegiatan berbicara tidak hanya dibutuhkan untuk mengatasi demam panggung. Keberanian di sini menyangkut keberanian dalam mengemukakan pendapat dan keberpihakan terhadap gagasan yang diyakini kebenarannya. Pendapat yang harus dikemukakan kadang-kadang bersifat kontroversial. Tidak banyak pembicara yang berani mengemukakan pendapat seperti ini. Mereka lebih cenderung mencari aman, lebih-lebih jika pendapat tersebut menyangkut dengan kepentingan pihak yang sedang berkuasa.

Kelancaran

Kelancaran berbicara sangat ditunjang oleh penguasaan materi yang baik. Kurangnya menguasai materi akan menyebabkan kebingungan menentukan kata dan kalimat apa yang harus diungkapkan, sehingga kalimat- kalimat yang keluar banyak diselingi bunyi-bunyi yang tidak bermakna.

Baca Juga: Pengembangan Paragraf Dalam Bahasa Indonesia

Nurgiantoro (1988: 261) mengungkapkan beberapa hal yang menunjukkan ketidaklancaran berbicara, yaitu:

  1. pembicaraan selalu terhenti dan terputus-putus;
  2. pembicaraan sangat lambat;
  3. pembicaraan sering tampak ragu, dan kalimat yang diucapkan tidak lengkap;
  4. pengelompokan kata kadang-kadang tidak tepat;
  5. masih terdengar bunyi-bunyi yang tidak bermakna.

Kenyaringan Suara

Penjelasan yang dikemukakan harus juga ditunjang oleh suara yang nyaring dan jelas. Kenyaringan di sini tidak berarti keras, tetapi didasarkan kepada apakah orang yang paling jauh dari pembicara dapat mendengar dengan jelas suara pembicara. Oleh karena itu, suara yang dikeluarkan tidak harus keras, tetapi secara efektif suara yang dikeluarkan dapat didengar jelas.

Pandangan Mata

Pandangan mata sebaiknya diarahkan ke lawan bicara. Jika pembicaraan ini dilakukan dengan melibat pendengar banyak (misalnya seminar, pidato, ceramah), pandangan mata hendaknya secara teratur dan proporsional diarahkan ke segala arah.

Kadang-kadang seorang pembicara hanya mengarahkan pandangan hanya ke satu arah, bahkan ada juga yang menunduk atau menengadah. Arah pandangan mata seperti ini tentunya tidak mendukung keefektifan berbicara, sementara kontak mata dengan pendengar sangat mendukung hubungan psikologis antara pembicara dengan pendengar.

Gerak-gerik dan Mimik

Gerakan tubuh dan mimik wajah sangat diperlukan dalam menunjang keefektifan berbicara. Gerakan tubuh dan mimik ini digunakan dengan tujuan mendukung dan memperjelas penjelasan verbalisme. Jangan juga gerak dan mimik ini dilakukan secara berlebihan, karena hal ini akan mengundang perhatian pendengar terfokus pada gerak dan mimik pembicara.

Tidak sedikit pembicara melakukan gerak-gerakan tubuh yang tidak terkontrol, misalnya secara tidak disadari seorang pembicara mempunyai kebiasaan mengibas-ngibas rambut, memegang ujung baju atau kancing baju, atau memain-mainkan tangan. Jika tidak cepat disadari dan segera diatasi, gerakan-gerakan seperti ini akan mengganggu keefektifan berbicara.

Penalaran

Penalaran juga cukup menunjang efektivitas berbicara. Materi yang diungkapkan harus ditunjang data-data atau argumen-argumen yang masuk akal. Begitu pun susunan kalimat yang diungkapkan harus logis. Jangan sekali-kali mengungkapkan fakta yang tidak jelas sumbernya. Bila perlu setiap argumen yang dikemukakan disebutkan sumbernya yang autentik.

Ketidaknalaran sebuah pembicaraan dapat terjadi pada kalimat-kalimat yang digunakan sebagai media penyampaian gagasan tidak logis. Selain itu, ketidaknalaran dapat juga terjadi pada materi gagasan yang disampaikan. Misalnya, pembicara banyak menggunakan fakta-fakta yang tidak dapat diterima akal sehat.

Sikap yang Wajar

Pembicara sebaiknya menampilkan sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku. Ketenangan sikap yang ditampilkan pada awal pembicaraan menjadi modal berharga dalam membangun penampilan selanjutnya. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh situasi, khalayak, dan penguasaan materi pembicaraan. Dalam situasi tertentu, adakalanya seorang pembicara diharuskan berpenampilan lain dari kebiasaannya. Hal ini dapat saja dilakukan selama penampilan tersebut tidak mengganggu keefektifan berbicara.

Dalam menyikapi sebuah fenomena yang menjadi materi pembicaraan, seorang pembicara kadang-kadang harus menentukan sikap yang tepat. Sikap ini hendaknya tidak dibuat-buat, tetapi harus menunjukkan sikap yang merupakan respon yang wajar dari fenomena tersebut.

TAHAP-TAHAP KEGIATAN BERBICARA

Kegiatan berbicara formal harus melalui beberapa tahapan yaitu, tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan dilakukan sebelum kegiatan berbicara berlangsung. Tahap pelaksanaan adalah tahap menerapkan segala apa yang telah disiapkan sebelumnya (tahap persiapan). Tahap evaluasi adalah tahap yang dilakukan setelah kegiatan berbicara berlangsung. Evaluasi dilakukan untuk memperoleh masukan dalam rangka perbaikan atau peningkatan kualitas kemampuan berbicara. Berikut ini uraian tahapan- tahapan kegiatan berbicara tersebut.

Persiapan Kegiatan Berbicara

Kegiatan berbicara dalam situasi formal merupakan kegiatan yang memerlukan persiapan yang baik. Berhasil tidaknya kegiatan berbicara tersebut sangat ditentukan oleh persiapan yang telah dilakukan. Beberapa kegiatan yang harus dilakukan pada tahap persiapan ini adalah penentuan tujuan, penentuan topik, pengumpulan referensi, penyusunan kerangka, dan berlatih.

Penentuan tujuan

Sebelum kegiatan berbicara dilakukan, harus diperjelas dulu tujuan Anda berbicara. Jangan sampai kegiatan berbicara dilakukan tanpa tujuan yang jelas.

Penentuan tujuan berbicara berkaitan dengan komponen acara atau kegiatan dan masalah pembicaraan. Komponen acara misalnya, seminar, ceramah agama, upacara proklamasi, dan lain-lain. Masalah pembicaraan berkaitan dengan topik. Jika dalam seminar misalnya, tentu ada masalah yang akan dibahas. Seminar ekonomi misalnya, aspek atau masalah ekonomi bidang apa yang akan dibahas, apakah pemasaran, produksi, teknologi produksi, atau yang lain. Jadi dalam menentukan tujuan pembicaraan bukan keinginan pembicara yang dimunculkan, melainkan dalam rangka apa pembicaraan dilakukan dan apa masalah yang akan dibicarakan.

Penguasaan topik

Topik pembicaraan harus betul-betul dikuasai oleh seorang pembicara. Pembicara yang menguasai topik dengan baik akan membantu penguasaan terhadap unsur-unsur lain, seperti kelancaran berbicara, mengatasi kegugupan, dan menumbuhkan keberanian.

Sehubungan dengan penentuan topik, Maidar dan Mukti U.S. (1986: 3.9) mengungkapkan beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan sebagai berikut.

  1. Topik harus menarik; kemenarikan sebuah topik harus diukur dari sudut pembicara dan pendengar. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan agar topik yang dipilih itu menarik, adalah:
    • berisi masalah yang menyangkut persoalan bersama;
    • berisi pemecahan masalah yang sedang dihadapi masyarakat;
    • tidak terlalu sulit atau terlalu mudah bagi daya tangkap pendengar;
    • bersifat aktual, sedang menjadi pembicaraan dalam waktu yang relevan;
    • mengandung nilai manfaat;
  2. Topik tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit.
  3. Topik yang dipilih hendaklah belum banyak diketahui pendengar.
  4. Topik yang dipilih juga hendaklah jangan yang tidak Anda ketahui dan kurang didukung bahan dari sumber-sumber yang cukup.

Pengumpulan referensi

Banyak sumber informasi yang dapat dijadikan referensi atau pendukung kegiatan berbicara, misalnya media cetak, media elektronik, buku, dan internet. Ini dapat diperoleh di banyak tempat dengan mudah. Satu hal yang harus menjadi pegangan seorang pembicara dalam mencari referensi adalah keautentikan referensi yang dijadikan pendukung dalam berbicara. Keautentikan referensi menjadi bahan pertimbangan agar uraian-uraian pembicaraan dapat dipertanggungjawabkan. Jika ada tanggapan dari pendengar, walaupun tanggapan tersebut menyalahkan uraian pembicara, pembicara dapat menunjukkan bahwa referensi yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam berbicara, referensi dapat berfungsi untuk memperkuat gagasan atau dapat juga dijadikan untuk mementahkan opini-opini yang berkembang di masyarakat. Hal tergantung dari tujuan berbicara yang dilakukannya. Jika berbicara ditujukan untuk memperluas wawasan pendengar, tentunya referensi yang digunakan adalah referensi yang bersifat informatif. Jika berbicara untuk tujuan meyakinkan, tentunya harus didukung oleh banyak referensi yang bersifat argumentatif.

Penyusunan kerangka

Kerangka dalam kegiatan berbicara berfungsi untuk membimbing arah pembicaraan. Dengan kerangka ini, pembicara dapat mengatur keluasan dan kedalaman gagasan yang diuraikannya, sehingga uraiannya terfokus pada satu pokok pembicaraan.

Topik yang telah ditentukan dengan segala pertimbangannya dipecah- pecah menjadi beberapa subtopik yang menunjukkan hubungan bagian. Subtopik-subtopik tersebut harus menunjukkan bagian dari topiknya. Misalnya, Anda menentukan topik “Peranan Orang Tua dalam Membina Hubungan Harmonis Antaranggota Keluarga” dalam kegiatan ceramah, maka kerangka yang dapat disusun seperti contoh berikut ini.

  1. Mukadimah.
  2. Pendahuluan.
  3. Bila perlu, uraian-uraian pemikat (dapat berupa puisi, lagu, atau cerita anekdot).
  4. Uraian pokok:
    • fungsi orang tua dalam keluarga,
    • jenis-jenis hubungan yang perlu dibangun dalam sebuah keluarga,
    • pentingnya membina hubungan harmonis dalam keluarga,
    • kiat-kiat yang dapat dilakukan orang tua dalam membangun hubungan harmonis.
  5. Pertanyaan dan tanggapan.
  6. Penutup.

Berlatih

Berlatih merupakan tahapan terakhir dalam persiapan. Berlatihlah dalam kualitas dan kuantitas yang mendukung dan terarah. Banyak cara dapat dilakukan dalam berlatih. Latihan dapat dilakukan dengan cara sendiri atau meminta bantuan pihak lain.

Secara mandiri, cobalah berlatih di depan cermin agar segala gerak-gerik tubuh dari atas sama bawah dapat diamati. Dengan cara seperti ini, Anda sebagai pembicara berfungsi ganda, yaitu sebagai pembicara dan pengamat. Amatilah setiap gerakan dan ucapan yang Anda lakukan. Berilah penilaian yang jujur.

Jika dengan cara mandiri dirasakan kurang memungkinkan karena akan membuyarkan konsentrasi Anda, latihan dapat dilakukan dengan meminta bantuan orang lain. Orang lain dapat berperan sebagai pengamat atau pendengar (dilakukan dengan cara simulasi). Mintalah masukan dari mereka. Jika perlu siapkanlah lembar pengamatan yang dapat diisi oleh “pendengar” Anda, agar pengamatan terfokus pada hal-hal yang memang perlu mendapat perhatian lebih.

Jika proses ini sudah Anda lakukan, siapkanlah mental dan fisik Anda, agar pada saat melakukan kegiatan berbicara yang sesungguhnya dapat berjalan seperti yang telah direncanakan.

Pelaksanaan Kegiatan Berbicara

Tibalah saatnya kegiatan berbicara yang sesungguhnya. Anda harus percaya diri bahwa segala sesuatunya telah dilakukan. Lakukanlah apa-apa yang telah diuraikan dalam bab 3 dan 4 sebelumnya, yaitu mengenai kemampuan dasar berbicara dan kiat-kiat mengatasi hambatan berbicara jika memang hambatan tersebut muncul.

Secara umum, pelaksanaan kegiatan berbicara dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu

  1. pembuka
    • Pembuka berisi tentang pengantar sebelum masuk ke pembahasan pokok. Dalam bagian ini biasa berisi tentang:
      • doa pembuka (jika kegiatan berbicara berkaitan dengan masalah keagamaan);
      • latar belakang masalah yang berkaitan dengan pembahasan;
      • tujuan pembahasan.
  2. Pembahasan Pokok
    • Bagian ini merupakan inti dari pembicaraan. Bagian ini menuntut  banyak persiapan pembicara, karena di bagian inilah kemampuan pembicara yang sesungguhnya dalam berbicara di uji. Bukan berarti bagian lain tidak penting. Bagian lain pun sama menuntut keterampilan khusus, tetapi pada bagian inilah seorang pembicara betul diuji kemampuannya sebagai pembicara profesional.
  3. Penutup
    • Bagian ini merupakan akhir dari seluruh kegiatan berbicara. Oleh karena itu, hal-hal yang diungkapkan adalah simpulan dari seluruh uraian.

Tahapan-tahapan di atas merupakan tahapan-tahapan yang biasa dilakukan dalam kegiatan berbicara formal. Namun, saat ini berkembang teknik baru dalam berbicara yang sering dilakukan oleh pembicara, yaitu dengan menyisipkan satu kegiatan di antara pembukaan dan pembahasan pokok atau di antara pembahasa dan penutup, yaitu ungkapan-ungkapan yang berfungsi sebagai pemikat atas daya tarik untuk memusatkan perhatian pendengar dengan pengungkapan puisi, lagu, atau cerita anekdot yang berkaitan dengan pokok bahasan. Rangkaian kegiatan berbicara tersebut dapat digambarkan seperti berikut ini.

3.       Evaluasi

Adakalanya evaluasi perlu dilakukan untuk mendapat masukan tentang kegiatan berbicara yang telah dilakukan seorang pembicara. Dengan masukan tersebut seorang pembicara dapat menentukan kualitas pembicaraannya. Sesuatu yang masih kurang dapat segera diperbaiki, sedangkan yang sudah bagus harus dipertahankan kualitasnya, bahkan kalau mungkin lebih diperbagus lagi.

Sama halnya dengan ketika berlatih, penilaian dapat dilakukan baik secara mandiri maupun bantuan orang lain. Secara mandiri, penilaian dapat dibantu dengan alat perekam, baik rekaman auditif maupun rekaman audio-visual. Rekaman ini dapat saja dilakukan atas permintaan pembicara sendiri dan dengan perlengkapan yang disediakannya sendiri. Hasil rekaman diputar ulang, lalu amatilah setiap segmen-segmen yang dilakukan. Dengan demikian, Anda dapat memberukan penilaian terhadap kualitas Anda berbicara.

Selain itu, penilaian pun dapat dilakukan dengan minta bantuan orang lain, baik itu orang yang diminta secara khusus oleh pembicara maupun pendengar. Mintalah masukan dari mereka. Masukkan tersebut dapat saja berupa masukan yang kurang baik, yang baik, bahkan mungkin saja yang menyudutkan. Jadikanlah semua itu sebagai bahan untuk memperbaiki diri, agar kemampuan berbicara Anda menjadi kompetensi yang banyak diperhitungkan orang.

CONTOH KEGIATAN BERBICARA FORMAL

Wawancara

Wawancara merupakan bagian dari aktivitas seorang mahasiswa. Wawancara sebagai salah satu bentuk kegiatan berbicara digunakan mahasiswa sedalam keperluan penelitian. Sebagai seorang mahasiswa, tentunya penelitian bukan merupakan sesuatu yang aneh. Ada sepuluh tujuan wawancara menurut Tubbs dan Moss, yaitu mendapatkan informasi, memberi informasi, membujuk, memecahkan masalah, konsultasi, mencari kerja, menerima keluhan, meninjau kinerja, memperbaiki atau memperingatkan, mengukur stres (2000: 41-42).

mendapatkan informasi

Wawancara dengan tujuan mendapatkan informasi dapat dilakukan mahasiswa untuk keperluan penelitian, misalnya penitian untuk tugas akhir atau penelitian-penelitian lainnya. Dalam hal ini, pewawancara mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan fakta, pendapat, atau sikap dari responden.

memberi informasi

Dalam hal ini, pewawancara menyajikan fakta, pendapat, atau sikap untuk ditanggapi oleh responden. Jadi, fakta, pendapat, sikap merupakan rangsangan bagi responden agar respon yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan pewawancara. Wawancara dengan tujuan seperti ini dapat dilakukan dalam penelitian yang berkaitan dengan sikap manusia atau sebuah komunitas terhadap sebuah fenomena. Misalnya, dalam penelitian tentang bagaimana sikap sekelompok masyarakat terhadap pengaruh budaya asing, pewawancara dapat memberikan informasi tentang fakta, pendapat, atau sikap manusia modern sebagai rangsangan bagi responden untuk memberikan respon yang diharapkan.

Contoh:

Pewawancara : Seperti yang Saudara ketahui, manusia modern mempunyai kecenderungan untuk menyikapi pengaruh budaya asing dengan anggapan bahwa penyesuai sikap hidup dengan budaya asing merupakan sebuah keharusan dalam kehidupan modern saat ini. Bagaimana pendapat Saudara tentang pendapat seperti?

Responden            : Maaf, perlu kami katakan bahwa pendapat semacam itu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak mempunyai daya saring yang baik terhadap budaya asing. Mereka menganggap bahwa semua budaya yang berasal dari barat itu baik. Itu pendapat yang keliru, dan kami merasa berkewajiban untuk meluruskan sikap seperti itu.

membujuk

Wawancara semacam ini dilakukan dengan tujuan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau mengubah perilaku atau sikapnya. Misalnya, seorang mahasiswa mengadakan suatu pembicaraan dengan seorang dosen untuk membujuk dosen agar diberi kesempatan untuk diberi ujian perbaikan. Walaupun tidak berlangsung dalam wawancara formal, mahasiswa melakukannya dengan pola-pola wawancara.

memecahkan masalah

Wawancara yang bertujuan untuk memecahkan masalah dapat dilakukan oleh mahasiswa jika mereka ini mencari jalan keluar dari sebuah  masalah dihadapi. Misalnya, secara bersama mahasiswa dan dosen mencari pemecahan masalah yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Masing-masing pihak memberikan masukan berdasarkan sudut pandangnya masing-masing. Mahasiswa dapat saja memberi masukan tentang cara-cara yang dilakukan dosen dalam mengajar kurang menggunakan metode yang bervariasi. Sebaliknya, dosen dapat mengungkapkan bahwa mahasiswa harus mempunyai inisiatif sendiri untuk mencari sumber-sumber informasi terbaru berkaitan dengan mata kuliah tertentu.

Konsultasi

Dalam hal ini, dapat terjadi, misalnya, responden meminta nasihat pewawancara tentang masalah yang dihadapinya. Kemudian pewawancara mengadakan diagnosis terhadap responden tentang segala hal yang berkaitan dengan masalah tersebut melalui serangkaian pertanyaan.

mencari kerja

Setelah lulus, setiap sarjana baru tentu dihadapkan pada tahapan baru, yaitu mencari pekerjaan. Sebelum diterima bekerja di sebuah perusahaan atau instansi, selalu diadakan wawancara yang merupakan bagian dari seleksi massal. Pewawancara menanyakan segala hal kepada pelamar berkaitan dengan latar belakang yang dimilikinya. Selain itu, dapat juga ditanyakan hal-hal yang bersifat kemungkinan jika pelamar pekerja itu diterima di perusahaan tempat ia melamar.

menerima keluhan

Kadang-kadang seorang pewawancara menerima keluhan dari seorang responden. Keluhan-keluhan itu di tampung dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang terencana.

meninjau kinerja

Meninjau kinerja seorang karyawan kerap dilakukan manajernya dalam rangka penilaian, baik yang bersifat rutin maupun insidental. Hal ini juga dapat dilakukan dengan pola wawancara yang terencana.

memperbaiki atau memperingatkan

Wawancara ini biasanya terjadi di antara atasan dan bawahan dalam sebuah komunitas kerja, lembaga negeri maupun swasta. Bahkan wawancara ini dapat merupakan lanjutan dari wawancara dengan tujuan meninjau kinerja.

mengukur stres

Wawancara ini biasa dilakukan antara seorang psikiater dan pasiennya. Pewawancara dapat mendiagnosis seluruh masalah yang sedang dihadapi pasien tersebut. Pertanyaan yang diajukan pewawancara harus maupun mendeteksi kondisi pasien, sehingga dapat diketahui tingkat stres yang dialami pasien tersebut.

Biasanya, wawancara ini digunakan oleh mahasiswa sebagai salah satu cara pengambilan data penelitian. Setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya diwajibkan membuat karya tulis sebagai syarat kelulusan. Karya tulis tersebut dapat berupa hasil penelitian. Teknik yang digunakan dalam pencarian data dapat dilakukan dengan cara wawancara.

Komunikasi yang terjadi dalam wawancara adalah komunikasi lisan. Oleh karena itu, diperlukan keterampilan berbicara yang memadai jika mahasiswa ingin mendapat data yang lengkap dan jelas. Kekurangmahiran berbicara akan mengakibatkan efek-efek yang kurang menguntungkan, misalnya data yang didapatkan tidak lengkap atau terjadi salah pengertian antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai.

Rangkuman Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia

Kegiatan berbicara formal adalah kegiatan berbicara yang dilakukan dalam situasi atau acara-acara formal. Berbicara formal dikelompokkan menjadi dua yaitu monolog dan dialog. Berbicara monolog adalah berbicara satu arah, artinya dalam kegiatan berbicara tersebut tidak terjadi interaksi antara pembicara dengan pendengar. Kegiatan berbicara yang bersifat monolog; pidato/sambutan dan memandu. Memandu dapat berupa memandu acara atau mewara dan memandu wisatawan. Kegiatan berbicara yang bersifat dialog; wawancara dan diskusi. Diskusi memiliki ragam antara lain seminar dan simposium.

Untuk memperoleh keterampilan berbicara formal diperlukan penguasaan terhadap faktor-faktor yang menentukan keberhasilan berbicara. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi pengucapan atau pelafalan fonem, penerapan intonasi, pilihan kata, dan penggunaan struktur kalimat. Faktor nonkebahasaan meliputi keberanian, kelancaran, kenyaringan suara, pandangan, gerak-gerik, penalaran, dan sikap yang wajar.

Referensi:

Yeti Mulyati,dkk. 2021. Bahasa Indonesia. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 6.17

Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia

One thought on “Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated