Ciri-ciri pengusaha yang akan sukses

CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES

CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES

Ciri-ciri pengusaha yang akan sukses dalam mengelola bisnisnya dapat dikenali bahkan sejak usahanya mulai berjalan. Begitu sebaliknya ciri-ciri pengusaha yang akan gagal dapat dikenali sejak usahanya mulai berjalan juga.

Di lapangan sering kali dijumpai pengusaha kecil yang berhasil ternyata memiliki perilaku yang berlawanan dengan teori-teori mengenai Entrepreneur yang telah dibahas sebelumnya, sehingga mendorong kita untuk menganggap bahwa teori-teori itu tidaklah benar. Tampaknya teori- teori tersebut tidaklah keliru. Dalam sebuah kelompok perusahaan kecil yang umumnya berhasil, ciri-ciri teoretis pengusaha yang berhasil tampaknya hanya dimiliki pengusaha pertama, yaitu orang yang menjadi pelopor jenis usaha tersebut. Sementara pengusaha berhasil lainnya adalah “peniru yang beruntung”, yaitu kebetulan ikut-ikutan pada jenis usaha yang prospeknya baik, sehingga juga terbawa menjadi pengusaha yang berhasil.

Baca Juga: Konsep Dasar Kewirausahaan atau Entrepeneurship

Dengan demikian bisa dipertanyakan apakah diperlukan bakat apabila seseorang bercita-cita hendak menjadi pengusaha kecil yang berhasil. Kenyataan mengejutkan pernah dijumpai di suatu kelompok industri kecil yang membuat produk teknik dan tergolong berhasil. Ternyata lebih 80% pengusaha yang berhasil tersebut sebenarnya tidak bercita-cita menjadi pengusaha, melainkan lebih menginginkan menjadi Pegawai Negeri. Dengan demikian berarti bahwa mereka menjalankan usaha dengan keinginan yang tidak selaras atau searah dengan yang mereka jalankan, dan tetap bisa berhasil.

Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa keberhasilan usaha kecil lebih didukung oleh ketepatan pilihan produk atau jasa, yaitu yang memang hanya sesuai bagi usaha kecil (yang dibahas pada bab sebelumnya), dan bukan karena  dipimpin  pengusaha  berbakat. Dengan  demikian  terbuka  peluang bagi siapa pun juga, berbakat ataupun tidak, untuk menjadi pengusaha kecil yang berhasil.

Keberhasilan perusahaan kecil lebih bergantung pada pilihan produk/jasa dibanding karakteristik pengusahanya. Karena itu, banyak ditemukan perusahaan kecil sukses dengan pilihan produk atau jasa yang sesuai bagi usaha kecil yang dipimpin oleh pengusaha yang tidak berbakat. Sebaliknya, mungkin sulit untuk menemukan gabungan pengusaha yang berbakat dengan pilihan produk atau jasa yang tidak sesuai bagi usaha kecil yang perusahaannya bisa berhasil. Pendapat ini masih bisa diperdebatkan, dan belum pernah diuji kebenarannya secara ilmiah.

Pengamatan di lapangan, menunjukkan dua ciri menonjol dari pengusaha kecil yang berhasil, yaitu (1) memiliki kemampuan “melihat lebih dalam” sehingga mampu menemukan peluang usaha, dan (2) memiliki keuletan atau konsistensi untuk menjalankan peluang usaha tersebut. Kedua ciri lapangan tersebut akan diuraikan berikut ini.

KEMAMPUAN “MELIHAT LEBIH DALAM”

Pengusaha kecil yang berhasil pada umumnya mampu melihat dan memahami, secara lebih mendalam, kondisi dan apa yang terjadi, dalam lingkup usaha mereka. Mereka pada umumnya sangat menghayati kegiatan yang mereka jalankan dan juga situasi yang terjadi di sekeliling mereka sehingga mereka mampu menemukan peluang usaha, yang kemudian terbukti berhasil, dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh orang lain.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan “melihat lebih dalam” terdiri dari jenis kemampuan berikut :

Kemampuan Membaca Peluang Usaha

Kemampuan mengidentifikasikan atau mencium adanya peluang usaha, baik berupa permintaan yang sudah muncul ataupun yang masih tersembunyi dari peristiwa yang mereka lihat ataupun yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, seperti contoh kasus Antena TV ataupun contoh kasus berikut ini.

IBU RUMAH TANGGA SEKOLAH S-2

Suatu hari, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi memasuki kantor tempat ia menjadi pengelola program Pasca Sarjana S-2, Sejumlah mahasiswa S-2 berkerumun di depan pintu masuk kantor itu.

Baca Juga: Konsep Entrepreneur atau Wirausaha dalam Bisnis

Mahasiswa S-2 ini pada umumnya berusia sekitar 30 tahun, pada umumnya sudah bekerja, sedang berusaha membangun karier, sehingga berusaha meningkatkan pendidikannya agar dapat meraih masa depan yang lebih baik. Sebagian baru menikah 3 sampai 5 tahun, dan beberapa di antaranya sudah mempunyai anak yang masih usia balita.

Tepat di pintu masuk, sang dosen masih sempat mendengar obrolan yang sangat menarik, dari dua orang ibu muda, keduanya mahasiswa program S-2:

Ibu A :       “kamu kok kelihatan agak kusut?”

Ibu B :       “iya, sialan, lagi musim ujian begini, mertua datang, sudah dua hari!“

Mendengar dialog yang sangat unik ini sang dosen mengurungkan niatnya masuk ke ruangan kantor. Ia malah menghampiri kedua mahasiswa S-2 itu, dan kemudian bertanya: “Ibu, apa sebabnya ‘sialan’ kalau mertua datang?”

Kedua ibu muda itu tertegun, Ibu B akhirnya menjawab: “Pak, kalau suami saya, dia paham betul bahwa saya sedang sekolah, dan sedang sibuk menghadapi ujian, karena dia juga dulu sekolah di sini. Jadi, kalau saya tidak sempat memasak dengan serius, dia juga bisa memaklumi. Tapi, ibu mertua menginap sudah 2 hari, mustahil saya suguhi makan mie instan tiap hari!”

Ibu B malah kemudian menambahkan: “di mana kita bisa memesan makanan rumah yang bisa diantar? Andaikata ada, ‘kan melayani mertua jadi mudah!”

ooo

Kasus Ibu Rumah Tangga Sekolah S-2 ini memberikan gambaran bahwa gagasan mengenai peluang usaha ternyata bisa muncul dari peristiwa yang kita alami sehari-hari. Secara khusus kasus ini menunjukkan munculnya peluang usaha, apabila ada pihak yang tidak dapat menjalankan fungsi yang biasanya ia jalankan. Ibu rumah tangga yang biasanya tinggal di rumah, menyediakan makan untuk keluarga, meninggalkan fungsi yang biasa ia jalankan karena menjadi mahasiswa S-2.

Kebutuhan yang mudah terlihat adalah yang bersifat konsumtif, karena jelas seperti makanan dan pakaian, sehingga merupakan jenis gagasan usaha yang biasanya muncul pada para pengusaha kecil baru. Karena itu, akan lebih mudah apabila pengusaha baru mencari gagasan lain di luar jenis usaha yang bersifat konsumtif.

Secara lebih lengkap, peluang usaha bisa muncul dari berikut ini.

Kebutuhan menggantikan fungsi

Kebutuhan bisa muncul apabila ada pihak yang terpaksa meninggalkan tugas atau fungsinya sehingga perlu digantikan, seperti contoh yang telah ditunjukkan melalui kasus Ibu Rumah Tangga Sekolah S-2 sebelumnya.

Kebutuhan untuk menghubungkan

Kehidupan manusia modern jauh lebih rumit dibanding kehidupan manusia di jaman dahulu. Di masa sebelumnya, manusia cenderung harus menyediakan seluruh komponen kebutuhannya sendiri. Memakan makanan yang ia tanam ataupun hasil perburuannya sendiri, mengenakan pakaian yang ia buat sendiri, dan seterusnya. Sementara, manusia modern tidak lagi memiliki kesempatan untuk memenuhi sendiri seluruh jenis kebutuhannya. Manusia modern mengonsumsi nasi yang berasal dari padi yang ditanam oleh orang lain, memakan daging yang berasal dari peternakan yang tidak dikelolanya sendiri. Kebutuhan berpakaian juga tidak lagi dipenuhi sendiri, manusia modern tinggal pergi ke toko dan membeli pakaian yang diproduksi oleh pihak lain. Kesimpulannya, semakin modern tingkat kehidupan, semakin banyak pula komponen kebutuhan manusia yang tidak dapat diusahakan sendiri dan perlu disediakan oleh orang lain.

Baca Juga: Manajemen Ketenagakerjaan dan Serikat Pekerja

Berbagai jenis komponen yang dibutuhkan tersebut memang dibuat atau disediakan oleh pihak lain. Tetapi, karena pihak yang membutuhkan ternyata memiliki keterbatasan waktu, tempat tinggalnya terlalu jauh dari lokasi penyedia, ataupun tidak memiliki pemahaman yang memadai untuk memilih sendiri, dan juga berbagai alasan lainnya, menyebabkan pihak yang membutuhkan tidak tepat apabila mencoba mendapatkannya secara langsung dari pihak penyedia. Kondisi seperti ini mendorong munculnya kebutuhan akan fungsi perantara, yang menghubungkan pihak yang membutuhkan dengan pihak penyedia, sehingga pihak yang membutuhkan menjadi terbantu untuk memperoleh komponen-komponen kebutuhannya.

Dengan bantuan fungsi perantara, pihak yang membutuhkan tidak perlu mencari, memeriksa, memilih sendiri, ataupun mendatangi lokasi yang jauh untuk mendapatkan kebutuhannya. Pihak yang membutuhkan akan memperoleh kebutuhannya dengan mudah, akan tetapi ia perlu membayar jasa dari pihak yang menjadi perantara.

Semakin modern kehidupan manusia, maka semakin banyak komponen kehidupannya yang akan lebih mudah diperoleh melalui perantara.

Karena itu, peluang untuk menjalankan fungsi perantara banyak dijumpai di kota besar.

Kebutuhan akan fungsi perantara ini bisa dijumpai hampir pada seluruh aspek kehidupan manusia, seperti digambarkan pada contoh kasus berikut ini.

DELIVERY MAKAN SIANG

Gendut, mahasiswa sebuah perguruan tinggi teknik, perantau dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, tinggal bersama belasan mahasiswa lainnya di sebuah rumah kos sederhana dekat kampus. Tempat kos Gendut tidak menyediakan makan bagi para penghuni, tetapi tidak menjadi sulit bagi Gendut dan kawan-kawan karena rumah kosnya bersebelahan dengan sebuah toko kecil yang menjual berbagai jenis kebutuhan sehari-hari, juga sebuah warung makan yang murah dan cukup enak.

Mahasiswa yang serumah dengan Gendut, ternyata kebanyakan berasal dari bidang Teknik Kimia, yang kegiatan sehari-harinya relatif sibuk. Sehari-hari, selain mengikuti kuliah di kelas, para mahasiswa Teknik Kimia ini banyak mendapat tugas praktikum di laboratorium. Kegiatan praktikum sangat banyak menyita waktu dan perhatian para mahasiswa Teknik  Kimia  ini.  Sebagian  praktikum  hanya  membutuhkan  waktu  3 jam, tetapi beberapa jenis praktikum lain membutuhkan waktu yang lebih panjang. Salah satu praktikum membutuhkan waktu hingga 10 jam, dilakukan mulai jam 7.00 pagi hingga jam 17.00 sore, dengan waktu istirahat antara jam 12.00 hingga 13.00.

Di awal pelaksanaan praktikum, mahasiswa sudah sibuk dengan keharusan mempersiapkan Laporan Pendahuluan dan menjalankan Tes Pendahuluan, yang seluruhnya harus selesai sebelum kegiatan praktikum yang sebenarnya berlangsung. Selama pelaksanaan praktikum, kegiatan dan pikiran para peserta praktikum terkonsentrasi pada berbagai percobaan kimia yang harus mereka jalankan. Karena itu, tidak mengherankan jika pada  saat  istirahat  yang  hanya  diberikan  selama  1 jam sering kali tidak mencukupi. Pada saat istirahat yang pendek itu, peserta praktikum harus melakukan pengolahan data hasil praktikum, dan mempersiapkan Laporan Akhir yang harus diserahkan di akhir praktikum. Karena itu, waktu yang tersisa untuk keperluan pribadi para peserta praktikum ini sempit sekali. Kebanyakan peserta praktikum biasanya hanya sempat melaksanakan ibadah salat, tetapi jarang yang bisa membeli makan siang. Ini juga diakibatkan karena lokasi kantin agak jauh dari laboratorium mereka.

Peserta praktikum yang tinggal di rumah sendiri biasanya sengaja membawa bekal makan siang dari rumah. Tetapi, mahasiswa yang tinggal di rumah kos seperti Gendut, kebanyakan akhirnya terpaksa menahan lapar, dan baru bisa mengisi perut setelah praktikum usai, jam 17.00 sore.

Kondisi semacam ini menyebabkan munculnya gagasan “bisnis” di kepala Gendut. Ia memutuskan untuk menjadi penyedia makan siang, yang akan diantarkan langsung kepada para pemesan di laboratorium tempat praktikum berlangsung. Tetapi, Gendut tidak membayangkan akan memproduksi makanan sendiri, ia tidak punya keterampilan memasak yang memadai, tidak memiliki peralatan, dan ia sendiri juga harus kuliah.

Gendut mencoba menawarkan jasa tersebut kepada para mahasiswa Teknik Kimia yang tinggal serumah dengannya: “kalau mau, saya bisa sediakan makan siang buat kalian, diantar jam 12.00 ke laboratorium. Tapi, harganya beda sedikit dari yang biasa ya!”. Kemudian ia mencoba berunding dengan Ibu pemilik warung makan di sebelah rumah kosnya, yang ternyata setuju untuk menyediakan makanan yang dipesan Gendut, asalkan dibayar di muka.

Usaha Gendut berjalan lancar. Peserta praktikum ternyata merasa sangat senang, bisa makan siang tanpa kehilangan waktu, harganya juga termasuk “miring”, dan mereka juga bisa memilih makanan yang diinginkan sesuai selera dan kantong mereka. Pemesanan dilakukan seminggu sebelum praktikum dengan pembayaran di muka. Daftar pesanan itu kemudian diserahkan kepada Ibu pemilik warung. Pada saat praktikum berlangsung, Gendut mengantarkan sendiri pesanan makanan itu ke laboratorium.

Lama kelamaan hampir seluruh peserta praktikum memesan makanan dari Gendut, juga termasuk para asisten, dan akhirnya juga para dosen. Gendut akhirnya mulai lagi berpikir: “di kampus ini banyak sekali laboratorium dan tentu saja praktikum”. Gendut mulai berpikir untuk menjajaki kemungkinan pengembangan usahanya.

ooo

Kebutuhan akan jenis produk/jasa tertentu karena terjadi perubahan atau karena suatu kondisi khusus

Berbagai jenis perubahan selalu terjadi dalam kehidupan manusia maupun dalam masyarakat, baik perubahan yang terjadi karena situasi yang memang bergeser, ataupun karena peraturan pemerintah. Berbagai perubahan tersebut sering kali disertai dengan munculnya kebutuhan tertentu yang mungkin bisa dimanfaatkan sebagai peluang usaha.

Beberapa contoh perubahan yang menumbuhkan peluang usaha antara lain sebagai berikut.

  1. Perubahan Tegangan Listrik, menyebabkan munculnya kebutuhan akan transformator Step-up Step-down yang mampu mengubah tegangan listrik, dari 110 volt menjadi 220 volt, dan sebaliknya.
  2. Perubahan Peraturan Lalu Lintas, yang mewajibkan pengendara sepeda motor mengenakan helm ataupun pengendara mobil menggunakan sabuk pengaman, menyebabkan munculnya berbagai jenis usaha yang berkaitan dengan kedua jenis perangkat tersebut.
  3. Pengetatan Penagihan Pajak, sementara aturan dan formulir untuk membayar pajak pengisiannya relatif menyulitkan bagi pembayar pajak, menyebabkan tumbuhnya kebutuhan akan konsultan pajak.
  4. Meningkatnya minat untuk melanjutkan pendidikan di sekolah ataupun perguruan tinggi yang dianggap bermutu menyebabkan munculnya usaha bimbingan tes maupun les privat.

Kemampuan Membaca atau Memahami Hal Mendasar dari Produk atau Jasa

Setelah memilih jenis produk ataupun jasa yang hendak diusahakan (menggunakan berbagai instrumen yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya), perlu dimiliki kemampuan untuk memahami hal mendasar (esensial) dari pengusahaan produk atau jasa tersebut. Pemahaman akan hal mendasar dari produk atau jasa akan membuat pengusaha memahami secara lengkap sifat dari produk atau jasa yang diusahakannya, sehingga akan mampu menonjolkan hal-hal penting maupun melindungi aspek-aspek yang rawan dari usahanya. Sebagai contoh, dalam kasus Antena TV sebelumnya, pada saat Ibu Ocid menawarkan bantuan Hamonangan untuk membetulkan tiang antena TV yang patah, calon klien, yaitu Bu Yanto, sama sekali tidak bertanya mengenai keahlian atau kompetensi yang dimiliki

Hamonangan dan justru bertanya mengenai kelakuannya: “Siapa Bu yang mau bantu? Orangnya baik?”

Ini menunjukkan bahwa hal mendasar yang dibutuhkan oleh calon klien dalam usaha jasa seperti yang dijalankan oleh Hamonangan adalah rasa aman. Setelah terbukti berkelakuan baik, selanjutnya Hamonangan berulang- kali diminta membantu melakukan berbagai jenis perbaikan di rumah Bu Yanto, memasang kabel listrik, membetulkan pagar, memasang bel, membetulkan engsel pintu, dan lain-lain. Dengan demikian usaha jasa seperti yang dijalankan oleh Hamonangan ini perlu dipromosikan dengan menonjolkan jaminan rasa aman bagi para pelanggannya.

Kegagalan pengusaha, terutama yang berukuran kecil, sering kali terjadi karena tidak memahami hal-hal mendasar dari produk atau jasa yang diusahakannya, sehingga saat memasarkan ataupun menawarkan produk atau jasa tidak tepat ataupun tidak secara lengkap menonjolkan aspek-aspek yang diinginkan konsumen, ataupun cenderung hanya menonjolkan aspek teknis.

Kemampuan Membaca Potensi ataupun Keterbatasan Diri

Setelah memiliki pilihan produk atau jasa dengan prospek yang baik dan juga memahami hal mendasar dari produk atau jasa tersebut, selanjutnya perlu dipahami kesesuaian pilihan tersebut dengan potensi ataupun keterbatasan diri pengusaha ataupun usaha yang dijalankannya.

Sering kali dikatakan bahwa seseorang sebaiknya menjalankan bidang usaha yang betul-betul ia pahami dan juga sesuai dengan potensi ataupun keterbatasan dirinya. Menjalankan usaha tanpa pemahaman akan memaksa pengusaha tersebut mempekerjakan pihak lain dengan keahlian yang lebih tinggi. Akibatnya sering dijumpai perusahaan tidak terkendalikan dengan baik karena pengusaha didikte oleh pihak yang lebih ahli.

Selain itu pada umumnya sering  terjadi kekeliruan dalam memahami  arti potensi diri. Potensi diri sering kali hanya ditafsirkan sebagai “keahlian teknis”, misalnya keahlian menjahit, mengelas, main musik, dan sebagainya, yang sulit dan perlu waktu panjang untuk dikuasai. Masih banyak jenis potensi diri lainnya, yang mungkin sudah bertahun-tahun kita miliki tanpa sadar, dan ternyata memungkinkan untuk dimanfaatkan dalam mengembangkan perusahaan, seperti sifat ramah, sifat sebagai perunding (negosiator), memiliki pergaulan dengan network yang luas ataupun pergaulan di kalangan elite, sehingga bisa dimanfaatkan untuk memasarkan suatu jenis produk atau jasa yang sesuai seperti yang digambarkan pada kasus

berikut ini. Kasus ini memberikan gambaran bahwa tanpa disadari seseorang mungkin sudah berada dalam pasar, dengan daya beli yang kuat dan juga sudah sangat dikenal, sehingga tinggal memikirkan produk ataupun jasa yang tepat untuk ditawarkan,

IBU JENDERAL BUKA CATERING

(Kasus semacam ini dimungkinkan terjadi pada saat bisnis militer masih diizinkan di Indonesia). Istri seorang Jenderal (Ibu Jenderal) merasa bahwa ia harus banyak mensyukuri kebahagiaan yang diberikan Tuhan kepada keluarganya. Sekarang mereka sekeluarga hidup nyaman di Jakarta, uangnya banyak sehingga mereka mampu memiliki sebuah rumah yang besar di daerah elit, sudah sering jalan-jalan ke luar negeri (paling sedikit setahun sekali), karier suami bagus, dan yang luar biasa ketiga anaknya juga bisa dibanggakan, sekolahnya maju – bahkan anak sulungnya diangkat menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi negeri terkemuka, dan mendapat bea-siswa untuk mengikuti program doktor di luar negeri; sementara anak kedua dan ketiga juga sedang menyelesaikan pendidikan mereka di perguruan tinggi negeri yang lain.

Ibu Jenderal masih ingat bagaimana di awal perkawinannya dengan Pak Jenderal, mereka hidup sangat sederhana. Waktu itu, suaminya masih berpangkat sersan-mayor, harus pandai-pandai berhemat karena gaji suami relatif kecil. Tetapi, pangkat suaminya naik tingkat demi tingkat, hingga akhirnya mampu menjadi jenderal, dengan tugas yang relatif “empuk” mengelola berbagai jenis perusahaan milik tentara di berbagai daerah di Indonesia. Tanpa korupsi-pun penghasilan suaminya sudah cukup besar untuk bisa hidup nyaman, seperti yang mereka nikmati saat ini.

Pergaulannya juga berubah, istri jenderal tentunya bergaul dengan ibu- ibu jenderal juga. Dulu, waktu pangkat suaminya masih rendah, pergaulannya dengan ibu-ibu bintara, dan obrolan waktu arisan tentang kiat menghemat agar gaji sebulan bisa cukup; sekarang berubah sekolah anak di luar negeri, bowling, parfum, shopping, Paris, Singapura, dan lain-lain. Tetapi, karena ia pernah merasakan hidup dari “bawah”, urusan

dapur bukan hal yang luar biasa bagi Ibu Jenderal, bahkan boleh dibilang bahwa jika ia memasak hasilnya sangat enak.

Pada suatu hari, si Ibu Jenderal sibuk di dapur memasak, karena ia mendapat giliran menyelenggarakan acara arisan istri-istri tentara. Undangan yang datang juga tentunya kebanyakan ibu-ibu jenderal, dan banyak peserta arisan yang pada saat hendak pulang memberikan pujian: “Jeng, masakannya enaaak sekali!”

Beberapa minggu kemudian, si Ibu Jenderal ditelepon oleh seorang rekannya, anggota arisan:

Rekan Ibu Jenderal : “Jeng, waktu arisan yang lalu, masakannya enak

sekali. Dari catering mana ya?”

Ibu Jenderal              : “Bukan catering Jeng, saya sendiri kok”.

Rekan Ibu Jenderal : “Oooh, tadinya saya pikir catering. Tadinya

saya mau pesan, kebetulan mau sukuran, si sulung baru pulang dari Amerika, sekolahnya sudah tamat”.

Ibu Jenderal akhirnya menawarkan bantuan agar ia yang memasak untuk acara sukuran rekannya itu, yang ternyata berakhir sukses karena para tamu merasa puas dengan hidangannya yang enak. Tidak berapa lama kemudian, beberapa istri jenderal yang lain juga minta bantuan memasak, sehingga akhirnya si Ibu Jenderal dikenal sebagai ahli masak yang ulung di kalangan rekan-rekannya.

Suatu saat, si Ibu Jenderal ditelepon oleh seorang rekannya: “Jeng, minta bantuan masak lagi ya, kebetulan perusahaan Bapak mau meresmikan gedung baru. Tolong bikinkan kalkulasinya ya. Tolong yang agak ‘wah’, soalnya Ibu Panglima juga mau hadir”.

Lama-kelamaan kegiatan si Ibu Jenderal menjadi perusahaan catering yang laku keras. Langganannya, mula-mula ibu-ibu jenderal, berbagai kesatuan militer, perusahaan-perusahaan milik tentara, kemudian menjalar ke perusahaan-perusahaan swasta murni. Jadilah usaha si Ibu Jenderal catering besar yang sangat menguntungkan.

Suatu saat Bapak dan Ibu Jenderal berangkat ke luar negeri untuk menjenguk anak sulung mereka yang sedang mendapat tugas belajar. Kembali ke Indonesia, mereka bawa seperangkat radio komunikasi CB (Citizen Band) untuk anak bungsu mereka, pemuda, mahasiswa sebuah

perguruan tinggi negeri ternama di Jakarta. Peralatan komunikasi seperti ini masih langka dan belum banyak dijual di Indonesia pada saat itu.  Dua tahun kemudian, si bungsu juga ternyata menjadi pengusaha. Ia membuka toko yang menjual dan menyervis radio CB. Dua tahun sebelumnya, radio CB dari orang tuanya segera ia operasikan. Kawan- kawannya banyak yang tertarik, mula-mula mencoba, dan akhirnya ingin memiliki. Anak jenderal biasanya bergaul dengan anak-anak muda yang daya belinya kuat. Karena ia yang paling pertama memiliki radio CB, teman-temannya banyak yang bertanya tentang cara mengoperasikan, minta bantuan memasang, dan juga membeli perangkat radio CB, sehingga akhirnya menjadi perusahaan!

ooo

Kemampuan Mengusahakan Kesesuaian

Pilihan jenis produk atau jasa perlu sesuai dengan corak permintaan pasar, dan juga sesuai untuk dijalankan oleh usaha kecil (terutama sesuai dengan potensi maupun keterbatasannya). Kesesuaian ketiga unsur tersebut merupakan kunci keberhasilan berdirinya usaha kecil.

Pemahaman mengenai corak permintaan pasar, corak proses produksi, hal-hal yang mendasar dari produk atau jasa yang diusahakan, dan juga paham potensi maupun keterbatasan usaha kecil yang dijalankan, secara keseluruhan berawal dari “kemampuan melihat lebih dalam”. Pada bab 4 halaman 8 telah dijelaskan bagaimana cara-cara yang disarankan untuk mengembangkan kreativitas. Kreativitas dibutuhkan untuk menemukan jenis produk atau jasa yang akan diusahakan. Selanjutnya, diperlukan kemampuan melihat lebih dalam untuk memahami cara yang tepat untuk menjalankan usaha.

Di lapangan, perjalanan para pengusaha kecil yang berhasil dilalui dengan banyak melakukan kesalahan. Mereka berulang kali melakukan berbagai kekeliruan, tetapi kemampuan melihat lebih dalam akhirnya membuat para pengusaha berhasil, bisa memiliki pemahaman yang lebih lengkap untuk mengerti cara menjalankan usaha secara lebih baik, yaitu cara yang mampu mengusahakan kesesuaian antara ketiga unsur yang telah dibahas sebelumnya.

ULET/KONSISTEN

Telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa melalui berbagai jenis kekeliruan yang dialami, pengusaha kecil yang berhasil akhirnya memiliki pemahaman yang lengkap mengenai kegiatan usaha yang mereka jalankan, karena memiliki kemampuan melihat lebih dalam. Karena itu, persyaratan kedua agar pengusaha kecil bisa berhasil adalah ulet atau konsisten. Keuletan atau konsistensi membuat para pengusaha kecil yang berhasil mampu tetap bertahan walaupun dihadapkan pada serangkaian kekeliruan, dan akhirnya memiliki pemahaman yang relatif sempurna mengenai cara menjalankan kegiatannya.

KASUS HAJI SOMA

Haji Soma, pengusaha pertenunan yang sukses dari Majalaya, sebuah kota kecil 30 km ke arah tenggara kota Bandung. Ia memulai usaha pertenunan sejak jaman penjajahan Belanda. Sebelumnya, ia dan istrinya bekerja di rumah seorang pejabat Belanda sebagai pembantu. Sang  suami menjadi tukang kebun, sedang si istri di dapur. Pasangan suami istri ini bekerja dari pagi hingga sore, dan sehari-hari mereka tidur di rumah milik mereka sendiri, tidak menginap di tempat sang majikan.

Setelah cukup lama menabung, mengumpulkan sisa-sisa gaji bulanan, akhirnya mereka berhasil membeli 2 buah alat tenun (ATBM – Alat Tenun Bukan Mesin). Selanjutnya, mereka kembali menabung untuk membeli bahan baku (benang tenun). Setelah memiliki bahan baku, setiap malam, selepas jam kerja, Haji Soma dan istrinya mulai bertenun kain.

Setelah menghasilkan beberapa gulung kain, Haji Soma kemudian meminta cuti beberapa hari. Gulungan kain dinaikkan pada sebuah sepeda, diikat, dan karena cukup banyak jumlahnya sepeda tersebut tidak lagi bisa ditunggangi, dan hanya bisa didorong. Ia kemudian berkeliling, mendorong sepeda, menjajakan kain.

Di kota asalnya, Majalaya, biasanya tidak ada kain yang berhasil dijual, karena di kota tersebut sangat banyak perusahaan pertenunan kelas rumahan. Haji Soma kemudian berjalan kaki ke arah kota Bandung, sambil mendorong sepeda yang sarat dimuati gulungan tekstil. Lima kilometer kemudian ia sampai di Ciparay, yang juga penuh dengan

pengrajin tenun, sehingga biasanya tidak ada juga kain yang berhasil dijual. Melanjutkan perjalanan, 30 kilometer kemudian ia sampai di pinggiran kota Bandung, dan mulailah beberapa gulungan kain berhasil dijual.

Puluhan tahun kemudian, Haji Soma sudah menjadi pengusaha yang terbilang paling sukses di daerahnya. Suatu saat ia diwawancarai oleh seorang peneliti yang ingin mempelajari perjalanan perkembangan para pengusaha kecil yang berhasil.

Peneliti :  “Pak Haji, biasanya perjalanan mendorong sepeda sambil bawa kain, berakhir di mana?”

Haji Soma : “Kadang-kadang sampai Tanjung Priok, Jakarta.

Pulangnya, saya naik kereta api sampai ke Majalaya”.

Peneliti  :  “Berapa  lama  Pak  Haji  berjualan  kain  dengan  cara  seperti itu?”

Haji Soma : “Yaah, barangkali 3 sampai 6 tahun”.

Peneliti     :     “Terus-terusan   seperti   itu   caranya   berjualan   selama 6 tahun?”

Haji Soma : “Tidak juga, kadang-kadang berhenti  dulu,  soalnya uangnya sering terpakai keperluan yang lain, ada yang sakit, dan lain-lain. Tapi, kalau uangnya sudah ada lagi, mulai lagi, bikin tekstil lagi”

Hampir semua pengusaha kecil yang berhasil ternyata pernah mengalami masa-masa “keras”, terutama di awal memulai usaha. Tetapi mereka secara konsisten akan selalu mencoba kembali menekuni usaha yang sebelumnya sudah mereka mulai.

Mengapa keuletan atau konsistensi menjadi persyaratan utama? Keuletan dan konsistensi menjadi penting karena pengusaha yang tetap bertahan akan mengakumulasi pengalaman, sehingga menjadi  paham dan menguasai seluruh aspek penting maupun yang rawan dari usaha yang dijalankannya. Calon pengusaha yang “cepat patah”, segera berhenti atau pindah ke jenis usaha yang lain begitu mengalami kesulitan, sulit untuk menguasai aspek-aspek penting suatu jenis usaha secara lengkap dan mendalam.

Pengusaha yang ulet dan konsisten akhirnya paham dan menguasai seluruh aspek penting dari kegiatan usahanya, mula-mula paham cara bertahan-hidup (survive) kemudian paham cara untuk menjadi unggul seperti ditunjukkan pada wawancara selanjutnya.

Peneliti : “Apa sebabnya  Pak  Haji  malah  membuka  peternakan  bebek, pabrik batako, dan lain-lain? Mengapa bukan perusahaan pertenunan saja yang dibesarkan. Sekarang Pak Haji cuma punya 120 mesin tenun, padahal saya lihat Pak Haji Dodi punya 350 tenun, bahkan di pabrik Pak Haji Ahadiat ada 600 mesin?”

Haji Soma :  “Iya, saya juga tahu. Tapi, saya juga sudah coba, punya  200 mesin tenun, pernah juga 80 mesin tenun. Ternyata, yang paling menguntungkan 120 mesin tenun. Buat apa punya 600 mesin tenun kalau sehari-hari kebanyakan menganggur!”

Di saat yang lain, si peneliti mencoba mempertanyakan teori tentang pertumbuhan perusahaan kepada Pak Haji Soma. Menurut teori, semakin besar persentase keuntungan yang ditanamkan kembali di perusahaan (reinvestasi) maka perusahaan akan lebih cepat tumbuh (growth).

Peneliti : “Kalau Pak Haji untung 100, berapa yang  ditanamkan  kembali di perusahaan?”

Haji Soma : “ Maksimum 3!”

Peneliti :  “Lho, kok ada maksimumnya? Bukannya makin banyak  makin bagus? Biar perusahaan Pak Haji cepat jadi besar?”

Haji Soma : “ Kalau lebih dari 3, jadi  “modal  mati!  Saya  sudah  pernah coba, 10, 5, 2, ternyata yang paling pas 3. Lebih dari 3, barang tidak terjual!”

Kesimpulannya, pengusaha yang konsisten selalu mencoba “melihat lebih dalam”, akhirnya akan dapat menemukan bentuk dan cara menjalankan kegiatan usahanya secara tepat, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk berhasil. Ditunjukkan bahwa Haji Soma berulang-ulang melakukan kesalahan, tetapi karena konsisten akhirnya mampu menemukan bentuk paling sesuai untuk menjalankan usahanya.

RANGKUMAN CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES

Di antara Ciri-ciri pengusaha yang akan sukses, yaitu:

  1. memiliki kemampuan “melihat lebih dalam”, sehingga bisa menemukan jenis produk ataupun jasa yang sesuai untuk ia usahakan, dan juga mampu memahami hal mendasar dari kegiatan usahanya. Pemahaman ini akhirnya membuat pengusaha menjadi mampu mewujudkan bentuk pengusahaan yang sesuai dengan karakteristik produk,, ataupun jasa yang ia usahakan maupun terhadap kondisi-kondisi di luar perusahaan;
  2. memiliki keuletan atau konsistensi, sehingga mampu tetap bertahan untuk mengantarkan usahanya, mulai dari tahapan survive, berkembang, akhirnya sukses.

SUMBER

Lubis, S.B. Hari. 2020. Kewirausahaan. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 5.14

CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES

One thought on “CIRI-CIRI PENGUSAHA YANG AKAN SUKSES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated