Islam dan civil society

Islam dan Civil Society

Islam dan Civil Society

Islam dan civil society dapat dijelaskan dengan menguraikan sub-sub pokok bahasan sebagai berikut: (1) pengertian masyarakat, (2) asal-usul pembentukan masyarakat, (3) masyarakat beradab dan sejahtera, dan (4) prinsip-prinsip masyarakat beradab dan sejahtera.

PENGERTIAN MASYARAKAT

Sebelum menjelaskan konsep masyarakat beradab dan sejahtera, sebagai pemahaman awal, ada baiknya kita menjelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian masyarakat. Jika dilihat secara bahasa masyarakat yang merupakan  serapan  dari  bahasa  Arab  bermakna  “bersama”.  Tentu  yang dimaksud di sini bukan dalam arti etimologis. Secara terminologis, masyarakat merupakan salah satu bahan kajian sosiologi. Karena itu untuk membantu pemahaman terminologis kita tentang masyarakat kita harus merujuk pada sosiologi.

Baca Juga: Ibadah Haji dan Umroh : Pengertian, Syarat, dan Rukunnya

Untuk mendapatkan sebuah pengertian yang disepakati, kita menghadapi kesulitan karena konsep masyarakat digunakan untuk banyak konteks, misalnya, masyarakat agama, masyarakat kota, masyarakat agraris, dan sebagainya. Masyarakat tidak dipandang sebagai kumpulan individu atau penjumlahan dari individu-individu semata-mata. Masyarakat merupakan suatu pergaulan hidup, oleh karena manusia itu hidup bersama. Masyarakat merupakan suatu sistem yang terbentuk karena hubungan dari anggotanya. Emile Durkheim menyatakan bahwa masyarakat merupakan suatu kenyataan yang obyektif secara mandiri, bebas dari individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya. Muhammad Amin Al-Misri mengatakan bahwa masyarakat adalah jalinan kesatuan yang terdiri dari hubungan-hubungan sosial. Untuk lebih memahami tentang konsep masyarakat maka kita perlu memahami ciri-cirinya.

Ciri-ciri masyarakat adalah:

  1. Manusia yang hidup bersama. Secara teoretis, jumlah manusia yang hidup bersama itu ada dua orang. Dalam sosiologi, tidak ada ukuran mutlak atau angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada.
  2. Bergaul selama jangka waktu yang cukup lama.
  3. Adanya kesadaran bahwa setiap manusia yang menjadi anggotanya merupakan bagian dari suatu kesatuan.

Dengan demikian dapat disimpulkan, masyarakat adalah sejumlah individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, bergaul dalam jangka waktu yang lama sehingga menimbulkan kesadaran pada diri setiap anggotanya sebagai suatu kesatuan.

ASAL USUL PEMBENTUKAN MASYARAKAT

Manusia pada dasarnya dilahirkan seorang diri, namun di dalam proses kehidupan selanjutnya, manusia membutuhkan manusia lain di sekelilingnya. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang hidup bersama. Aristoteles menyatakan bahwa manusia adalah zoon politicon (man is social animal). Karena itu, jati diri manusia terbentuk setelah ia bersama dengan orang lain. “Manusia baru menjadi manusia setelah manusia itu hidup dengan manusia lainnya” kata Bouman.

Keinginan manusia untuk bersama dengan orang lain atau membutuhkan orang lain merupakan fitrah. Soejono Soekanto menyatakan,‖di dalam diri manusia pada dasarnya telah terdapat keinginan, yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia yang lainnya dan keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekitarnya.‖ Hal yang sama juga dikemukakan oleh Thabatahaba‘i,  bahwa,  “Manusia  adalah  makhluk  bermasyarakat  menurut wataknya, sehingga kehendak bermasyarakat telah merupakan fitrahnya”

Karena itu, mengasingkan diri (isolasi) merupakan pengingkaran terhadap fitrah ini dan akan berakibat fatal bagi manusia itu sendiri. Studi sosial dan psikologi telah banyak menunjukkan fakta bahwa pengingkaran hakikat sosial manusia dengan cara hidup sendiri akan mempengaruhi perkembangan hidupnya dan akan mengalami gangguan-gangguan yang cukup serius.

Dalam al-Qur‘an terdapat banyak ayat al-Qur‘an yang menunjukkan fitrah manusia sebagai makhluk sosial dan dari fitrah tersebut kemudian melahirkan masyarakat. Ayat-ayat tersebut antara lain:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَآ اُضِيْعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى ۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ ۚ فَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَاُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاُوْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُدْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ ثَوَابًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَابِ

Artinya: “Lalu Tuhan mereka memperkenankan permintaannya, (seraya berkata): Sesungguhnya Aku tiada menyia-nyiakan (pahala) amalan orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan, setengah kamu dari yang lain (sebangsa). Maka orang- orang yang hijrah dan diusir dari negerinya, lagi disakiti dalam jalan-Ku (agama-Ku) dan mereka berperang dan terbunuh, sesungguhnya Aku hapuskan segala kesalahannya dan Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir air sungai di bawahnya, sebagai pahala dari Allah; dan Allah di sisi-Nya pahala yang baik” (QS. Ali-Imran: 195)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: ―Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan (bapak dan ibu), dan Kami jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha mengetahui lagi Maha amat mengetahui.”(QS. Al-Hujuraat: 13)

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Artinya: ―Adakah mereka membagi rahmat Tuhannya? Kami membagi penghidupan mereka di antara mereka itu pada hidup di dunia dan Kami tinggikan setengah mereka di atas yang lain beberapa derajat, supaya setengah mereka mengambil yang lain jadi pembantu. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari harta yang mereka kumpulkan.(QS. Az-Zukhruf: 32)

اَلَمْ تَرَ اِلٰى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّۚ وَلَوْ شَاۤءَ لَجَعَلَهٗ سَاكِنًاۚ ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيْلً

Artinya: ―Tiadakah  engkau  lihat  perbuatan  Tuhan  engkau  bagaimana  Dia membentangkan naung (bayang-bayang). Jika Allah menghendaki, niscaya dijadikan-Nya naung itu tetap saja (tidak berobah-robah) kemudian Kami jadikan matahari sebagai penunjuk baginya.(QS. Al-Furqaan: 45)

Untuk mewujudkan keinginan tersebut manusia harus melakukan interaksi sosial dengan sesamanya. Dengan adanya pergaulan dan interaksi tersebut maka akan tercipta suatu pergaulan hidup. Hubungan sosial tersebut menumbuhkan kesadaran di antara individu-individu akan pentingnya keberadaan yang lain. Namun demikian, karena individu-individu di dalam hubungan sosial itu memiliki karakter masing-masing dan karenanya dimungkinkan terjadinya pertentangan dan konflik, maka untuk menjaga ketertiban dan keajekan, diperlukan suatu aturan atau norma yang mengatur hubungan sosial tersebut.

Baca Juga: PENGERTIAN DARI HAKIKAT MANUSIA

Atas dasar uraian di atas, maka asal usul pembentukan masyarakat bermula dari fitrah manusia untuk bersama dengan orang, lalu terbentuklah hubungan sosial yang melahirkan aturan atau norma. Ada tiga unsur pokok pembentuk masyarakat: individu-individu yang membangun kelompok, hubungan sosial dan aturan.

Tentu saja dalam perkembangannya, seiring dengan pertambahan individu dan tingkat kebudayaan, dalam sebuah masyarakat terdapat suatu sistem yang kompleks yang melibatkan pelbagai macam unsur. Hubungan- hubungan sosial sebagaimana diuraikan di atas memiliki struktur dan dinamikanya sendiri. Struktur masyarakat atau disebut juga struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yakni kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial. Sementara dinamika sosial adalah apa yang disebut dengan proses sosial dan perubahan-perubahan sosial. Proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama. Perubahan sosial dimaksudkan sebagai goyahnya cara-cara hidup yang sudah ada karena pelbagai pengaruh yang menyertainya.

Oleh karena itu, dalam sosiologi untuk mengurai kompleksitas masyarakat bisa dilihat dari dua sudut: sudut strukturnya dan sudut dinamikanya.

MASYARAKAT BERADAB DAN SEJAHTERA

Apa yang dimaksud dengan masyarakat beradab dan sejahtera, barangkali merupakan terjemahan dari bahasa Inggris civil society dan masyarakat madani. Karena itu untuk memahami konsep masyarakat beradab dan sejahtera, kita akan menjelaskan konsep civil society dan masyarakat madani terlebih dahulu.

Civil Society

Istilah civil society mula-mula muncul di Inggris dalam masa-masa awal perkembangan kapitalisme modern, yang konon merupakan implikasi pertama penerapan ekonomi Adam Simth dengan karyanya The Wealth of Nation. Pandangan ekonomi Smith itu mendorong perkembangan kewirausahaan Inggris, yang dalam prosesnya terbentur kepada pembatasan- pembatasan oleh pemerintah karena adanya merkantilisme negara di mana pemerintah terlibat langsung dalam setiap praktik ekonomi sehingga menyulitkan para usahawan mengembangkan usahanya. Para usahawan kemudian menuntut adanya ruang kebebasan di mana dapat bergerak dengan bebas dan leluasa mengembangkan usaha mereka dan pemerintah tidak ikut campur dalam praktik ekonomi.

Ruang kebebasan itu merupakan tempat terwujudnya civil society, yang merupakan ruang penengah antara kekuasaan (pemerintah) dan rakyat umum. Jadi, cukup jelas bahwa civil society senantiasa bercirikan kebebasan serta keterlepasan dari keterbatasan- keterbatasan oleh kekuasaan. Dari sini konsep civil society lebih mengarah pada para usahawan (sipil) dengan kebebasan dalam mengembangkan usahanya yang terbebas dari pembatasan negara.

Kemudian gagasan dan ide mengenai civil society mencuat kembali setelah Gorbachev menggagas ide tentang keterbukaan. Gagasan keterbukaan yang disebut dengan glasnoot dan perestoroika merupakan reformasi atas rejim komunis yang diktator dan tirani di mana negara menutup ruang kebebasan dan keterbukaan bagi warganya. Akibatnya rejim komunisme hancur.

Dalam wacana kontemporer, istilah civil society lebih kuat tekanannya terhadap lembaga-lembaga non-pemerintah (non-govermntal organization– NGO) atau lembaga swadaya masyarakat di mana lembaga-lembaga ini  bebas dari cengkeraman kekuasaan negara untuk mengekspresikan hak- haknya sebagai warga negara.

Masyarakat Madani

Sedangkan masyarakat madani merujuk pada masyarakat madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad di Madinah. Madinah itu sendiri adalah bahasa Arab yang memiliki pengertian yang sama dengan bahasa Ibrani. Ketika Nabi Musa mampu membebaskan masyarakatnya dari mental budak menjadi mental sebagai warga masyarakat yang merdeka dengan ciri taat pada hukum dalam bahasa Ibrani mereka itu disebut dengan medinat yang berarti masyarakat beradab karena taat kepada hukum dan aturan. Dalam perkembangannya perkataan Ibrani medinat berarti negara.

Dalam bahasa Arab yang serumpun dengan bahasa Ibrani, kata yang menunjuk negara adalah madinah dalam arti kota. Baik medinat maupun madinah sama mengacu pada semangat yang sama seperti pengertian negara kota pada masyarakat Yunani Kuno. Dalam pengembangan dan pelurusannya negara kota itu hampir sama dengan pengertian negara kebangsaan yaitu suatu negara yang terbentuk demi kepentingan seluruh bangsa yang menjadi warganya, bukan untuk penguasa atau raja.

Ketika Nabi mengubah kota Yatrsib menjadi Madinah pada waktu itu, maka Nabi sebenarnya mendeklarasikan terbentuknya suatu  masyarakat  yang bebas dari kezaliman tirani dan taat hanya kepada hukum dan aturan untuk kesejahteraan bersama.

Aturan dan hukum yang dimaksud itu tidak dibuat sewenang-wenang oleh penguasa akan tetapi berdasarkan perjanjian (mitasq), kesepakatan (mu‟ahadah),  kontrak  (akad)  dan  janji  setia  (bay‟at)  yang  kesemuanya mencerminkan kerelaan, bukan kepaksaan. Karena seperti halnya jual beli (bay‟) yang seakar dengan bay‟at mensyaratkan adanya saling rela antara penjual dan pembeli. Ini berarti bahwa semua aturan dan hukum harus berdasarkan musyawarah di mana semua warga merasa ikut memberikan gagasannya secara terbuka mengenai apa yang menjadi aspirasinya yang kemudian diputuskan secara bersama. Karena itu, ketaatan dalam masyarakat madani bersifat terbuka, rasional, kontraktual, dan transaksional, bukan pola ketaatan yang tertutup, tidak rasional, tidak kritis dan bersifat hanya satu arah.

Masyarakat madani yang dideklarasikan oleh Nabi adalah masyarakat yang adil, terbuka dan demokratis, dengan landasan takwa kepada Allah dan taat kepada ajaran-Nya. Takwa kepada Allah adalah semangat ketuhanan yang diwujudkan dengan membangun hubungan yang baik dengan Allah dan manusia. Hubungan itu tentu saja harus dilandasi dengan berbudi luhur dan akhlak mulia. Dalam konteks ini menjadi jelas masyarakat madani adalah masyarakat berbudi luhur mengacu kepada kehidupan masyarakat berkualitas dan beradab.

Berdasarkan uraian di atas, meskipun memiliki makna yang berbeda dari pemakanannya antara civil society dan masyarakat madani, tetapi pada intinya kedua istilah memiliki semangat yang sama, yakni suatu masyarakat yang adil, terbuka, demokratis, dan sejahtera dengan kualitas keadaban warganya.

PRINSIP-PRINSIP MASYARAKAT BERADAB DAN SEJAHTERA

Masyarakat madani pada hakikatnya adalah reformasi terhadap segala praktik yang merendahkan nilai-nilai universal manusia. Masyarakat madani yang dideklarasikan oleh Nabi merupakan reformasi terhadap masyarakat Jahiliyyah. Seperti diketahui bahwa masyarakat Jahiliyyah adalah masyarakat yang mempraktikkan ketidakadilan dan pengingkaran terhadap harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam masyarakat Jahiliyyah praktik penindasan dilakukan secara sistematis terhadap orang miskin dan merupakan suatu fenomena biasa.

Melalui praktik riba, penindasan itu dilestarikan dan dilembagakan sehingga memunculkan perbudakan yang merampas hak manusia sebagai manusia. Demikian halnya kedudukan perempuan. Dalam masyarakat Jahiliyyah perempuan merupakan makhluk subordinat yang tidak memiliki peran apa-apa. Bahkan perempuan dianggap sebagai aib bagi keluarga dan karena itu masyarakat Jahiliyyah mempraktikkan penguburan hidup-hidup bagi setiap bayi yang terlahir perempuan. Kemudian juga dalam hukum, masyarakat Jahiliyyah tidak mempraktikkan keadilan yang sama bagi semua individu. Hukum ditentukan oleh para elite bangsawan yang menguasai sumber politik dan sumber ekonomi.

Sementara itu, masyarakat madani atau civil society di era modern ini merupakan reformasi terhadap pemerintahan yang despotik dan tiranik. Tak jauh berbeda dengan masyarakat Jahiliyyah, masyarakat madani dalam wacana kontemporer merupakan reformasi terhadap pemerintahan yang menjalankan kekuasaannya dengan tangan besi di mana harkat dan martabat manusia diabaikan. Dalam konteks Indonesia, masyarakat madani merupakan respons dan reformasi terhadap pemerintahan Orde Baru yang dianggap otoriter di mana hak-hak rakyat dalam bidan politik, ekonomi, dan sosial diabaikan melalui slogan stabilisasi.

Atas dasar itu maka masyarakat madani pada hakikatnya adalah sebuah masyarakat berperadaban yang disemangati oleh nilai-nilai ketuhanan untuk kebaikan bersama. Untuk mencapai masyarakat yang beradab dan sejahtera itu maka masyarakat madani harus ditegakkan atas prinsip-prinsip berikut ini:

Keadilan

Berbicara tentang keadilan secara horizontal berarti berbicara kesejahteraan umum. Menegakkan keadilan merupakan kemestian yang bersifat fitrah yang harus ditegakkan oleh setiap individu sebagai pengejawantahan dari perjanjian primordial di mana manusia mengakui Allah sebagai Tuhannya. Keadilan merupakan sunnatullah di mana Allah menciptakan alam semesta ini dengan prinsip keadilan dan keseimbangan. Dalam al-Quran keadilan itu disebut sebagai hukum keseimbangan yang menjadi hukum jagat raya. Keadilan juga merupakan sikap yang paling dekat dengan takwa. Karena itu setiap praktik ketidakadilan merupakan suatu bentuk penyelewengan dari hakikat kemanusiaan yang dikutuk keras oleh al- Qur‘an. Dalam surat Al-Takaatsur dan Al-Humazah ekspresi itu sangat jelas:

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ (١)
حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ (٢)
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ (٣)
ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ (٤)
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ (٥)
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ (٦)
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ (٧)
ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ ࣖ (٨)

“Kamu telah dilalaikan oleh perlombaan (memperbanyak harta benda dan anak-anak). Sehingga kamu masuk kubur. Sekali-kali jangan begitu, nanti kamu akan mengetahui. Kemudian sekali-kali jangan begitu, kalau kamu mengetahui dengan ilmu yang yakin. Sesungguhnya kamu akan melihat neraka. Kemudian sesungguhnya kamu akan melihatnya dengan mata keyakinan. Kemudian kamu akan diperiksa pada hari itu tentang segala nikmat (yang kamu peroleh dari Tuhanmu).”(QS. Al-Takaatsur: 1-8)

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ
يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ
كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِۖ
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُ ۗ
نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُۙ
الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِۗ
اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌۙ
فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ ࣖ

“Celakalah untuk orang pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta benda dan menghitung-hitunginya. Ia mengira bahwa hartanya akan mengekalkannya. Tidak, sekali-sekali tidak, sesungguhnya ia akan dilemparkan ke dalam neraka hutamah. Tahukah engkau apa neraka hutamah itu? Yaitu api Allah yang bernyala-nyala. Yang membakar sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutupkan atas mereka. Sedang mereka itu (diikatkan) pada tiang yang panjang.”(QS. Al-Humazah: 1-9)

Supremasi Hukum

Keadilan seperti disebutkan di atas harus dipraktikkan dalam semua aspek kehidupan. Di mulai dari menegakkan hukum. Menegakkan hukum yang adil merupakan amanah yang diperintahkan untuk dilaksanakan kepada yang berhak. Dalam Surat An-Nisaa‘ ayat 58 ditegaskan:

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Artinya: ―Sesungguhnya  Allah  menyuruh  kamu  untuk  menunaikan  amanah kepada yang berhaknya dan apabila kamu menghukum di antara manusia, maka hendaklah kamu hukum dengan adil, sesungguhnya Allah sebaik-baik mengajar kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.(QS. An-Nisaa‘: 58)

Dalam usaha mewujudkan supremasi hukum itu maka kita harus menetapkan hukum kepada siapa pun tanpa pandang bulu, bahkan kepada orang yang membenci kita sekalipun, kita tetap harus berlaku adil. Dalam Surat Al-Maai‘dah ayat 8 ditegaskan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: ―Hai  orang-orang  yang  beriman,  hendaklah  kamu  berdiri  karena Allah, menjadi saksi dengan keadilan. Janganlah kamu tertarik karena kebencianmu kepada satu kaum, sehingga kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Maai‘dah: 8)

Atas dasar itulah maka Rasulullah menyatakan dengan tegas bahwa hancurnya bangsa-bangsa di masa lalu karena jika orang atas melakukan kejahatan dibiarkan, tetapi jika orang bawah melakukannya pasti dihukum. Rasulullah menegaskan bahwa jika seandainya putrinya, Fatimah, melakukan kejahatan maka beliau akan menghukumnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Rasulullah bersabda:

“Sebenarnya    hancurnya    mereka    sebelum    kamu    karena    mereka menegakkan hukum atas rakyat jelata dan meninggalkan hukum atas orang besar. Demi Dia, Allah- yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah berbuat jahat pasti aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Egalitarianisme (Persamaan)

Egalitarianisme artinya adalah persamaan, tidak mengenal sistem dinasti geneologis. Artinya adalah bahwa masyarakat madani tidak melihat keutamaan atas dasar keturunan, ras, etnis, dll. melainkan atas prestasi. Bukan prestise tetapi prestasi. Karena semua manusia dan warga masyarakat dihargai bukan atas dasar geneologis di atas melainkan atas dasar prestasi yang dalam bahasa Al-Quran adalah takwa.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: ―Wahai  manusia  sesungguhnya  aku  telah  menciptakan  kalian  dari jenis laki-laki dan perempuan kemudian kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling kenal, sesungguhnya semulia-mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.(QS. Al-Hujuraat: 13)

Oleh karena prinsip egalitarianisme inilah maka akan terwujud keterbukaan di mana seluruh anggota masyarakat berpartisipasi untuk menentukan pemimpinnya dan dalam menentukan kebijakan-kebijakan publik.

Pluralisme

Pluralisme adalah sikap di mana kemajemukan merupakan sesuatu yang harus diterima sebagai bagian dari realitas obyektif. Pluralisme yang dimaksud tidak sebatas mengakui bahwa masyarakat itu plural melainkan juga harus disertai dengan sikap yang tulus bahwa keberagaman merupakan bagian dari karunia Allah dan rahmat-Nya karena akan memperkaya budaya melalui interaksi dinamis dengan pertukaran budaya yang beraneka ragam itu.

Kesadaran plurralisme itu kemudian diwujudkan untuk bersikap toleran dan saling menghormati di antara sesama anggota yang berbeda baik berbeda dalam hal etnis, suku bangsa, maupun agama. Sikap toleran dan saling menghormati itu dinyatakan dalam Al-Qur‘an, antara lain:

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Artinya: ―Dan apabila Tuhanmu  menghendaki niscaya semua  manusia akan beriman kepada Allah, apakah engkau akan memaksa manusia sehingga mereka beriman. (QS. Yunus: 99)

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: ―Dan  janganlah  kamu  memaki  sembahan-sembahan  yang  mereka sembah selain Allah. (QS. Al-An‘aam: 108)

Pengawasan Sosial

Yang disebut dengan amal saleh pada dasarnya adalah suatu kegiatan demi kebaikan bersama. Prinsip-prinsip di atas sebagai dasar pembentukan masyarakat madani merupakan suatu usaha dan landasan bagi terwujudnya kebaikan bersama. Kegiatan manusia apapun merupakan suatu konsekuensi logis dari adanya keterbukaan di mana setiap warga memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan. Keterbukaan itu sebagai konsekuensi logis dari pandangan positif dan optimis terhadap manusia, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik:

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

Artinya: ―Ketika   Tuhanmu   menjadikan   keturunan   anak   Adam   daripada tulang punggung mereka, Dia mempersaksikan dengan diri mereka sendiri. Allah berfirman: Bukankah Aku Tuhanmu? Sahutnya: Ya, kami menjadi saksi, supaya kamu jangan mengatakan pada hari kiamat: Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini.”(QS. Al-A‘raaf: 172)

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Artinya: ―Maka  luruskanlah  (hadapkanlah)  mukamu  ke  arah  agama,  serta condong kepadanya. Itulah fitrah Allah yang dijadikan-Nya manusia sesuai dengan dia. Tiadalah bertukar perbuatan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”(QS. Ar-Ruum: 30)

Oleh karena manusia secara fitrah baik dan suci, maka kejahatan yang dilakukan bukan karena inheren di dalam dirinya akan tetapi  lebih disebabkan oleh faktor-faktor luar yang mempengaruhinya. Karena itu, agar manusia dan warga tetap berada dalam kebaikan sebagaimana fitrahnya diperlukan adanya pengawasan sosial. Dalam Al-Qur‘an ditegaskan:

وَالْعَصْرِۙ
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

Artinya: ―Demi   masa.   Sesungguhnya,   manusia   itu   ada   dalam   kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.(QS. Al-‗Ashr: 1-3)

Pengawasan sosial ini menjadi penting terutama ketika kekuatan baik kekuatan uang maupun kekuatan kekuasaan cenderung menyeleweng sehingga perwujudan masyarakat beradab dan sejahtera hanya slogan semata. Pengawasan sosial baik secara individu maupun lembaga merupakan suatu keharusan dalam usaha pembentukan masyarakat beradab dan sejahtera. Namun demikian, pengawasan tersebut harus didasarkan atas prinsip fitrah manusia baik sehingga senantiasa bersikap husnu al-dzan. Pengawasan sosial harus berdiri atas dasar asas-asas tidak bersalah sebelum terbukti sebaliknya.

Referensi:

Nurdin,Ali.dkk. 2016. Pendidikan Agama Islam.Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 3.3

Islam dan Civil Society Islam dan Civil Society Islam dan Civil Society Islam dan Civil Society Islam dan Civil Society Islam dan Civil Society Islam dan Civil Society Islam dan Civil Society

2 thoughts on “Islam dan Civil Society

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated