Islam dan sains teknologi

Islam dan Sains Teknologi

Islam dan Sains Teknologi

Islam dan sains teknologi dalam masyarakat terkadang masih menjadi dua dikotomi yang tak mungkin disatukan. Bahwa menguasai yang satu artinya menolak yang satunya lagi. Bahwa ahli agama tak mungkin menguasai saintek dan ahli sains tak mungkin menjadi ulama. Apa benar harus seperti itu?

Iman dan Takwa

IMAN

Ada tiga konsep yang perlu Anda pelajari , yaitu iman, ipteks dan amal. Ketiga konsep ini dalam kehidupan harus menjadi sebuah kesatuan. Iman merupakan keyakinan vertikal terhadap sang pencipta (spiritual), Ipteks merupakan kognisi yang harus kita tuntut agar menjadi cerdas (rasional) dan amal merupakan dampak dari pengetahuan (Ipteks) sehingga menjadi sebuah bangunan yang berbentuk perilaku.

Fenomena yang terjadi pada akhir-akhir ini sering Anda dengar istilah kekerasan (violence), pelecehan (harashmence), bahkan orang berpikir akibat dari dua hal ini maka muncul bencana di mana-mana (disaster). Boleh-boleh saja berpikir seperti itu, hal ini menunjukkan adanya sebuah kesadaran terdapatnya perilaku-perilaku yang melenceng dari keyakinan. Baik kita mulai dengan konsep pertama yaitu Iman.

Pengertian iman telah Anda pahami pada modul pertama. Namun alangkah baiknya kita mengingat kembali tentang pengertian iman. Iman menurut arti bahasa adalah membenarkan dalam hati dengan mengandung ilmu bagi orang yang membenarkan itu. Sedangkan pengertian iman menurut syari’at adalah membenarkan dan mengetahui adanya Allah dan sifat-sifat- Nya disertai melaksanakan segala yang diwajibkan dan disunahkan serta menjauhi segala larangan dan kemaksiatan. Seperti dikatakan dalam hadits:

الامان مآرفة بالقلب و قول بالسان و عمل بالاركان

Al-imanu ma-rifatun bil-qolbi, wa qoulun bil-lisan, wa amalun bilarkan.

Artinya: Iman adalah mengetahui dengan hati dan mengucapkan dengan lisan serta melakukan dengan perbuatan dengan anggota tubuh.

Iman adalah keterikatan antara hati (qalbu), lisan, dan arkan. Ma’rifat artinya mengetahui. Qalbu adalah hati, lisan artinya ucapan, dan arkan artinya perbuatan.

Berdasarkan tafsiran tersebut diketahui, bahwa rukun (struktur) iman ada tiga aspek yaitu: kalbu, lisan, dan perbuatan. Tepatlah jika iman didefinisikan dengan pendirian yang diwujudkan dalam bentuk bahasa dan perilaku. Jika pengertian ini diterima, maka istilah iman identik dengan kepribadian manusia seutuhnya, atau pendirian yang konsisten. Orang yang beriman berarti orang yang memiliki kecerdasan, kemauan, dan  keterampilan.

Baca Juga: Islam dan Ilmu Pengetahuan

Kata iman dalam Alquran, pada umumnya dirangkaikan dengan kata lain. Kata rangkaian itulah yang memberikan nilai tentang sesuatu yang diimaninya. Jika kata iman dirangkaikan dengan kata-kata yang negatif berarti nilai iman tersebut negatif. Dalam istilah Alquran, iman yang negatif disebut kufur. Pelakunya disebut kafir. Berikut ini dikemukakan beberapa ayat yang mengemukakan kata iman dikaitkan dengan nilai yang negatif .

Kata iman pada ayat tersebut dirangkaikan dengan kata jibti dan taghut, syaithan dan apa saja yang disembah selain Allah. Kata iman dikaitkan dengan kata batil (yang tidak benar menurut Allah). QS. Al-Ankabut (29): 51;

اَوَلَمْ يَكْفِهِمْ اَنَّآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ يُتْلٰى عَلَيْهِمْ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَرَحْمَةً وَّذِكْرٰى لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ

Artinya: Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah  menurunkan Kitab kepadamu yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman.

Adapun kata iman yang dirangkaikan dengan yang positif antara lain; QS. Al-Baqarah (2): 4;

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Artinya: Orang-orang yang beriman kepada (Alquran) yang diturunkan kepadamu, juga beriman kepada (kitab-kitab Allah) yang diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya akhirat.

QS. Al-Baqarah (2): 285;

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Artinya: Rasul (Muhammad) telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan (demikian pula) orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, (seraya mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang (dengan lain) daripada rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.

Jika iman diartikan percaya, maka ciri-ciri orang yang beriman tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah saja, karena yang tahu isi hati seseorang hanyalah Allah. Karena pengertian iman yang sesungguhnya adalah meliputi aspek qalbu, ucapan dan perilaku, maka ciri-ciri orang yang beriman akan dapat diketahui, antara lain:

Tawakal

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah (Alquran), kalbunya terangsang untuk melaksanakannya seperti dinyatakan antara lain QS. Al-Anfaal (8): 2;

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah apabila disebut (nama) Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan mereka bertawakal kepada Tuhannya.

Baca Juga: ILMU DAN SENI DALAM ISLAM

Tawakkal, yaitu senantiasa hanya mengabdi (hidup) menurut apa yang diperintahkan oleh Allah. Dengan kata lain, orang yang bertawakal adalah orang yang menyandarkan berbagai aktivitasnya atas perintah Allah. Seorang mukmin, makan bukan didorong oleh perutnya yang lapar akan tetapi karena sadar akan perintah Allah. QS. Al-Baqarah (2): 172;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya: Hai sekalian orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik- baik yang Kami rezekikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepada-Nya kamu menyembah.

Dalam konteks Islam bila makan pada hakikatnya  melaksanakan perintah Allah supaya fisik kuat untuk beribadah (dalam arti luas) kepada- Nya.

Mawas Diri dan Bersikap Ilmiah

Pengertian mawas diri di sini dimaksudkan agar seseorang tidak terpengaruh oleh berbagai kasus dari mana pun datangnya, baik dari kalangan jin dan manusia, bahkan mungkin juga datang dari dirinya-sendiri. QS. An- Nas (114): 1-3;

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ
مَلِكِ النَّاسِۙ
اِلٰهِ النَّاسِۙ

Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara manusia (1). Yang menguasai manusia (2). Tuhan bagi manusia (3).”

Mawas diri yang berhubungan dengan alam pikiran, yaitu bersikap kritis dalam menerima informasi, terutama dalam memahami nilai-nilai dasar

keislaman. Hal ini diperlukan, agar terhindar dari berbagai fitnah. QS. Ali Imran (3): 7.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Atas dasar pemikiran tersebut hendaknya seseorang tidak dibenarkan menyatakan sesuatu sikap, sebelum mengetahui terlebih dahulu permasalahannya, sebagaimana dinyatakan di dalam Alquran antara lain QS. Al-Israa’ (17) : 36;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Artinya: Dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan ditanya.

Optimis dalam Menghadapi Masa Depan

Perjalanan hidup manusia tidak seluruhnya mulus, akan tetapi kadang- kadang mengalami berbagai rintangan dan tantangan yang memerlukan pemecahan jalan ke luar. Jika suatu tantangan atau permasalahan tidak dapat diselesaikan segera, tantangan tersebut akan semakin menumpuk. Jika seseorang tidak dapat menghadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan, maka orang tersebut dihinggapi penyakit psikis, yang lazim disebut penyakit kejiwaan, antara lain frustrasi, nervous, depresi. Alquran memberikan petunjuk kepada umat manusia untuk selalu bersikap optimis karena pada hakikatnya tantangan, merupakan pelajaran bagi setiap manusia. Hal tersebut dinyatakan dalam Surat Al-Insyirah (94): 5-6.

فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.

Jika seseorang telah merasa melaksanakan sesuatu perbuatan dengan penuh perhitungan, tidaklah perlu memikirkan bagaimana hasilnya nanti, karena hasil adalah akibat dari suatu perbuatan. Namun Nabi Muhammad menyatakan bahwa orang yang hidupnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, adalah orang yang merugi dan jika hidupnya sama dengan hari kemarin berarti tertipu, dan yang bahagia adalah orang yang hidupnya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Jika optimisme merupakan suatu sikap yang terpuji, maka sebaliknya pesimisme merupakan suatu sikap yang tercela. Sikap ini seharusnya tidak tercermin pada dirinya mukmin. Hal ini seperti dinyatakan dalam Surat Yusuf (12) ayat 87, sedangkan sikap putus asa atau yang searti dengan kata tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang kafir. QS. Yusuf (12): 87;

يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir”.

Konsisten dan Menepati Janji

Janji adalah hutang. Menepati janji berarti membayar utang. Sebaliknya ingkar janji adalah suatu pengkhianatan. QS. Al- Maaidah (5): 1;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sempurnakanlah segala janji. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (larangan-Nya). Tidak dibolehkan berburu ketika kamu sedang ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum  terhadap apa yang di kehendaki-Nya.

Baca Juga: MENUNTUT ILMU MEMBELA AGAMA

Seseorang mukmin senantiasa akan menepati janji, baik dengan sesama manusia, Allah maupun ekologinya (lingkungannya). Seseorang mukmin adalah seorang yang telah berjanji untuk berpandangan dan bersikap dengan yang dikehendaki Allah. Seorang suami misalnya, ia telah berjanji untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Sebaliknya istri pun demikian. Seorang mahasiswa, ia telah berjanji untuk mengikuti ketentuan- ketentuan yang berlaku di lembaga pendidikan tempat ia studi, baik yang bersifat administratif maupun akademis. Seorang pemimpin berjanji untuk mengayomi masyarakat yang dipimpinnya. Janji terhadap ekologi berarti memenuhi dan memelihara apa yang dibutuhkan oleh lingkungannya, agar tetap berdaya guna dan berhasil guna.

ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN SENI (IPTEKS)

Ilmu Pengetahuan

Islam sebagai landasan Ilmu Pengetahuan. Menurut konsep umum (Barat) ilmu (knowledge) adalah pengetahuan manusia mengenai segala sesuatu yang dapat di indera oleh potensi manusia (penglihatan, pendengaran, pengertian, perasaan, dan keyakinan) melalui akal atau proses berpikir (logika). Pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis merupakan formula yang disebut ilmu pengetahuan (science). Dalam Alquran keduanya disebut ”ilmu”.

Para sarjana muslim berpandangan bahwa yang disebut ilmu itu tidak hanya terbatas pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) saja, melainkan ilmu oleh Allah dirumuskan dalam ”lauhil mahfudz” yang disampaikan kepada kita melalui Alquran dan As-Sunnah. Perhatikan penjelasan Alquran surat Al-Buruuj (85): 21-22;

بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ
فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ ࣖ

Artinya: ”Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Alquran yang mulia.” (21). Yang (tersimpan) dalam Lauhil Mahfudz.” (22).

Keterangan Alquran di atas mengisyaratkan, bahwa ilmu Allah itu melingkupi ilmu manusia tentang alam semesta dan manusia sendiri. Jadi bila diikuti jalan pikiran ini, maka dapatlah kita pahami, bahwa Alquran itu merupakan sumber pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia (knowledge and science). Dengan membaca dan memahami Alquran, manusia pada hakikatnya akan memahami ilmu Allah serta logika atau proses berpikir yang terkandung dalam kalam Allah.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memikul amanah sebagai khalifah Allah di bumi yang pada dasarnya ditugaskan untuk mengurus, memelihara, mengembangkan, mengambil manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Q.S. Al-Ahzab (33): 73.

لِّيُعَذِّبَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ وَيَتُوْبَ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ

Artinya: ”Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; Dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Untuk melaksanakan tugas ini, maka Allah SWT membekali manusia dengan potensi-potensi seperti pendengaran, penglihatan, perasaan (qalbu), pengertian (akal), keyakinan (iman), dan keinginan. Q.S. Ali Imran (3): 14;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Artinya: ”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa- apa yang diinginkannya yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga)”.

Untuk memenuhi keinginan fitrah manusia dalam hidupnya maka manusia mencari jalan keluar mengatasi permasalahannya dan atau memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan segala potensi yang dimilikinya. Dengan akal (logika) manusia menumbuhkan ide dan tata-cara pencapaiannya sehingga berkembanglah ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada hakikatnya perkembangan ini didorong oleh Allah melalui keinginan. Di samping itu Allah sendiri mendorong dengan perintah dan rahmat-Nya yang difirmankan dalam Alquran dan melalui As-Sunnah. Q.S. Faathir (35): 27-28.

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ ثَمَرٰتٍ مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهَا ۗوَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ ۢبِيْضٌ وَّحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهَا وَغَرَابِيْبُ سُوْدٌ
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Artinya: ”Tidaklah kamu melihat bahwa Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat (27). Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama” (28).

Q.S. Az-Zumar (39): 9.

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

Artinya: ”(apakah kamu orang-orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan menghadapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ”Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakalah yang dapat menerima pelajaran.”

Q.S. Al-Mujaadilah (58): 11;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam masjid,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan apabila dikatakan. ”Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Selain manusia didorong untuk mencari dan menggunakan ilmu, juga dia diwajibkan untuk menyebarluaskan ilmu.

Q.S. At-Taubah (9): 122;

Artinya: ”Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Bahkan mereka yang menyembunyikan ilmu mendapatkan ancaman yang keras dari Allah.

Q.S. Al-Baqarah (2): 159, menyebutkan;

Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia dalam Al- Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknatinya.”

Q.S. Al-Baqarah (2): 174;

Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah) mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”

Dengan demikian, Islam mendorong para pemeluknya untuk mencari, menggali, mengembangkan, menggunakan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Jelas sudah bahwa Alquran dan As-Sunnah adalah sumber nilai-nilai kaum muslim untuk berpikir, merasa, dan bertindak.

Teknologi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan proses teknis. Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Kalau demikian, mesin atau alat canggih yang dipergunakan manusia bukanlah teknologi, walaupun secara umum alat-alat tersebut sering diasosiasikan sebagai teknologi. Mesin telah dipergunakan manusia sejak berabad yang lalu, namun abad tersebut belum dinamakan era teknologi.

Menelusuri pandangan Al-quran tentang teknologi, mengundang kita menengok sekian banyak ayat Al-quran yang berbicara tentang alam raya. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar 750 ayat Al-quran yang berbicara tentang alam materi dan fenomenanya, dan yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Secara tegas dan berulang- ulang Al-quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia..

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: Dan dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai anugerah) dari Nya Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Al-Jaatsiyah 45: 13)

Penundukan tersebut – secara potensial-terlaksana melalui hukum- hukum alam yang ditetapkan Allah dan kemampuan yang dianugerahkan- Nya kepada manusia. Al-quran menjelaskan sebagai dari ciri tersebut, antara lain sebagai berikut.

Segala sesuatu di alam raya ini memiliki ciri dan hukum-hukumnya

اَللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ اُنْثٰى وَمَا تَغِيْضُ الْاَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۗوَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهٗ بِمِقْدَارٍ

Wa kullu syai-in indahu bimiqdaarin

Artinya: Segala sesuatu di sisi-nya memiliki ukuran (QS. Al-Ra’d 13:8)

Matahari dan bulan yang beredar dan memancarkan sinar, hingga rumput yang hijau subur atau layu dan kering, semuanya telah ditetapkan oleh Allah sesuai ukuran dan hukum-hukumnya. Demikian antara lain dijelaskan oleh Al-Qur’an surat Yassin ayat 38 dan Al-A’laa ayat 2-3.

Semua yang ada di alam raya ini tunduk kepada-Nya

وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّظِلٰلُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ ۩

Hanyalah kepada Allah–lah tunduk segala yang di langit dan di bumi secara sukarela atau terpaksa (Al-quran Al-Ra’d 13:15).

Benda-benda alam–apalagi yang tidak bernyawa-tidak diberi kemampuan memilih, tetapi sepenuhnya tunduk kepada Allah melalui hukum-hukum-Nya. 

Dijelaskan  dalam  Al-quran  surat  Fushishilat  ayat 11. Di sisi lain, manusia diberi kemampuan untuk mengetahui ciri dan hukum-hukum yang berkaitan dengan alam raya, sebagaimana diinformasikan oleh firman-Nya dalam Al-quran surat Al-baqarah ayat 31. Yang dimaksud nama-nama dalam ayat tersebut adalah sifat, ciri dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya.

Adanya potensi itu, dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam raya membangkang terhadap perintah dan hukum- hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya semua itu mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam yang telah ditundukkan Tuhan. Keberhasilan memanfaatkan alam itu merupakan buah teknologi. Al-quran memuji sekelompok manusia yang dinamainya ulil albab. Ciri mereka antara lain disebutkan dalam surat Ali-Imran 3: 190-191.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dalam ayat-ayat di atas tergambar dua ciri pokok ulil albab, yaitu tafakkur dan dzikir. Kemudian keduanya menghasilkan natijah yang diuraikan pada ayat 195. Natijah bukanlah sekedar ide-ide yang tersusun dalam benak, melainkan melampauinya sampai kepada pengamalan dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Muhammad Quthb dalam bukunya Manhaj At-Tarbiyah Al-islamiyah mengomentari ayat Ali-Imran tadi sebagai berikut.

Maksudnya adalah bahwa ayat-ayat tersebut merupakan metode yang sempurna bagi penalaran dan pengamatan islam terhadap alam. Ayat-ayat itu mengarahkan akal manusia kepada fungsi pertama di antara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari ayat-ayat Tuhan yang tersaji di alam raya ini. Ayat-ayat tersebut bermula dengan tafakur dan berakhir dengan amal.

Lebih jauh ditambahkan bahwa Khalq As-samawatt wal Ardh di samping berarti membuka tabir sejarah penciptaan langit dan bumi, juga bermakna memikirkan tentang sistem tata kerja alam semesta. Karena kata  Khalq, selain berarti penciptaan juga berarti pengaturan dan pengukuran yang cermat. Pengetahuan tentang hal terakhir ini mengantarkan ilmuwan kepada rahasia-rahasia alam, dan pada gilirannya mengantarkan kepada penciptaan kepada teknologi yang menghasilkan kemudahan dan manfaat bagi umat manusia. Jadi dapatlah dikatakan bahwa teknologi merupakan sesuatu yang dianjurkan Al-quran?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada dua catatan yang perlu diperhatikan. Pertama, ketika Al-quran berbicara tentang alam raya dan fenomenanya, terlihat secara jelas bahwa pembicaraannya selalu dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, QS Al-anbiya 21: 30.

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?

Ayat ini dipahami oleh banyak ulama kontemporer sebagai isyarat tentang teori “Big Bang” (Ledakan Besar), yang mengawali terciptanya langit dan bumi. Para pakar boleh saja berbeda pendapat tentang makna ayat tersebut atau mengenai proses terjadinya pemisahan langit dan bumi. Yang pasti, ketika Al-quran berbicara tentang hal itu dikaitkannya dengan kebesaran dan kekuasaan Allah , serta keharusan beriman pada-Nya.

Pada saat mengisyaratkan pergeseran gunung-gunung dari posisinya, sebagaimana kemudian dibuktikan para ilmuwan, informasi itu dikaitkan dengan Kemahahebatan Allah SWT, QS Al-Nahl 27: 88.

اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ زِدْنٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوْا يُفْسِدُوْنَ

Artinya: Orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.

Ini berarti bahwa sains dan hasil-hasilnya harus selalu mengingatkan manusia terhadap Kehadiran dan Kemahakuasaan Allah SWT, selain juga harus memberi manfaat bagi kemanusiaan, sesuai dengan prinsip bismi Robbik.

Kedua, Al-quran sejak dini memperkenalkan istilah sakhkhara yang maknanya bermuara kepada kemampuan meraih dengan mudah dan sebanyak yang dibutuhkan segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan dari alam raya melalui keahlian di bidang teknik. Ketika Al-quran memilih kata sakhkhara yang berarti menundukkan dan merendahkan, maksudnya adalah agar alam raya dengan segala manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya berada di bawah manusia. Karena manusia sebagai khalifah.

Dari kedua catatan di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi dan hasil- hasilnya di samping harus mengingatkan manusia kepada Allah, juga harus mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah yang kepadanya tunduk segala yang berada di alam raya ini. Kalaulah alat atau mesin dijadikan sebagai gambaran konkret teknologi, dapat dikatakan bahwa pada mulanya teknologi merupakan perpanjangan organ manusia. Ketika manusia menciptakan pisau sebagai alat pemotong. Alat ini menjadi perpanjangan tangannya. Alat tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan organ manusia. Alat itu sepenuhnya tunduk kepada si pemakai, melebihi tunduknya budak belian. Kemudian teknologi berkembang, dengan memadukan sekian banyak alat sehingga menjadi mesin. Kereta, mesin giling dan sebagainya, semuanya berkembang. Khususnya ketika mesin tidak lagi menggunakan sumber energi manusia atau binatang, melainkan air, uap, api, angin, dan sebagainya. Pesawat udara, misalnya adalah mesin. Kini pesawat udara tidak lagi menjadi perpanjangan organ manusia, tetapi perluasan atau penciptaan organ baru manusia. Bukankah manusia tidak memiliki sayap yang memungkinkannya mampu terbang? Tetapi dengan pesawat ia bagaikan memiliki sayap. Alat atau mesin tidak lagi menjadi budak, tetapi telah menjadi kawan manusia.

Dari hari ke hari tercipta mesin-mesin semakin canggih. Mesin-mesin tersebut melalui daya akan manusia digabung-gabungkan dengan yang lainnya, sehingga semakin kompleks serta tidak bisa lagi dikendalikan oleh seorang. Tetapi akhirnya mesin dapat mengerjakan tugas yang dulu mesti dilakukan oleh banyak orang. Pada tahap ini mesin telah menjadi semacam seteru manusia, atau lawan yang harus disiasati agar mau mengikuti kehendak manusia. Dewasa ini telah lahir -khususnya di bidang rekayasa genetika- yang dikhawatirkan dapat menjadikan alat sebagai majikan.  Bahkan mampu menciptakan bakal-bakal majikan yang akan diperbudak dan ditundukkan oleh alat. Jika begitu, ini jelas bertentangan dengan kedua catatan yang disebutkan terdahulu. Berdasarkan petunjuk kitab sucinya, seorang muslim dapat menerima hasil-hasil teknologi yang sumbernya netral dan tidak menyebabkan maksiat, serta bermanfaat bagi manusia baik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan unsur “debu tanah” manusia maupun unsur “ruh Ilahi” manusia.

Seandainya penggunaan satu hasil teknologi telah melalaikan seseorang dari zikir dan tafakur serta mengantarkannya kepada keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan maka ketika itu bukan hasil teknologinya yang mesti ditolak, melainkan kita harus memperingatkan dan mengarahkan manusia yang menggunakan teknologi itu. Jika hasil teknologi sejak semula diduga dapat mengalihkan manusia dari jati diri dan tujuan penciptaan sejak dini pula kehadirannya ditolak oleh islam. Karena itu menjadi suatu persoalan besar bagi martabat manusia mengenai cara memadukan kemampuan mekanik demi penciptaan teknologi dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya.

Seni

Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apa pun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia atau fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Di sisi lain, Al-quran memperkenalkan agama yang lurus sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, QS Al-Rum 30: 30.

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Terjemahan
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Adalah merupakan satu hal yang mustahil, bila Allah yang menganugerahkan manusia potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan, kemudian Dia melarangnya. Bukanlah islam adalah agama fitrah? Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya dan yang mendukung kesuciannya ditopangnya. Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, islam pasti mendukung kesenian selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia yang suci itu, dan karena itu pula islam bertemu degan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam  islam. Tetapi mengapa selama ini ada kesan bahwa islam menghambat perkembangan seni dan memusuhinya? Jawabannya boleh jadi tersirat dari informasi berikut.

Diriwayatkan bahwa Umar Ibnul Khaththab -Khalifah kedua- pernah berkata Umat islam meninggalkan dua pertiga dari transaksi ekonomi karena khawatir terjerumus ke dalam haram (riba). Ucapan ini benar adanya, dan agaknya ia juga dapat menjadi benar jika kalimat transaksi ekonomi diganti dengan kesenian.

Boleh jadi problem yang paling menonjol dalam hubungan dengan seni budaya dan islam, sekaligus kendala utama kemajuannya adalah kekhawatiran tersebut.

Kalau memang seperti itu, mengapa warna kesenian islami tidak tampak dengan jelas pada masa nabi. Dan para sahabatnya. Bahkan mengapa terasa atau terdengar adanya semacam pembatasan-pembatasan yang menghambat perkembangan kesenian? Boleh jadi sebab Sayid Quthb yang berbicara tentang masa Nabi dan para sahabatnya. Adalah karena seniman, baru berhasil dalam karyanya jika ia dapat berinteraksi dengan gagasan, menghayatinya secara sempurna sampai menyatu dengan jiwanya, kemudian mencetuskannya dalam bentuk karya seni. Nah pada masa Nabi dan sahabatnya beliau, proses penghayatan nilai-nilai islami baru dimulai, bahkan sebagian mereka baru dalam tahap upaya membersihkan gagasan-gagasan jahiliyah yang telah meresap selama ini dalam benak dan jiwa masyarakat sehingga kehati-hatian amat diperlukan baik dari Nabi sendiri sebagai pembimbing maupun dari kaum Muslimin lainnya. Atas dasar inilah kita harus memahami larangan-larangan yang ada, kalau kita menerima adanya larangan penampilan karya seni tertentu. Apalagi seperti dikemukakan di atas bahwa apresiasi Al-quran terhadap seni sedemikian besar.

Apakah seni suara (nyanyian) harus dalam bahasa Arab? Ataukah harus berbicara tentang ajaran Islam? Dengan tegas jawabannya adalah Tidak. Dalam konteks ini Muhammad Quthb menulis. Kesenian islam tidak harus berbicara tentang islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni yang islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Seni islam adalah ekspresi tentang keindahan wujud dari sisi pandangan islam tentang alam, hidup, dan manusia yang mengantar menuju pertemuan sempurna antara kebenaran dan keindahan (Manhaj Al-Tarbiyah Al-islamiyah, 119).

Bagaimana dengan seni budaya asing? Islam dapat menerima semua hasil karya manusia selama sejalan dengan pandangan islam menyangkut wujud alam raya ini. Namun demikian wajar dipertanyakan bagaimana sikap suatu masyarakat dengan kreasi seninya yang tidak sejalan dengan budaya masyarakatnya? Dalam konteks ini perlu digaris bawahi bahwa Al-quran pemerintahkan kaum muslimin untuk menegakkan kebajikan, memerintahkan perbuatan ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar.

AMAL

Padanan kata amal dalam bahasa Indonesia adalah bekerja. Dalam Alqur’an terdapat 620. kata amal. Pengertian kata amal secara umum adalah sebuah perbuatan untuk mencapai sesuatu. Namun perbuatan /amal terdiri dari amal baik dan amal buruk. Amal baik sesuai perintah, sedangkan amal buruk adalah perbuatan yang dilarang. Perbuatan yang sesuai dengan perintah ajaran agama disebut ibadah. Ibadah terdiri dari ibadah mahdhoh dan ghair mahdhoh. Ibadah mahdhoh yang berkaitan dengan kewajiban  sebagai seorang muslim/mukmin seperti shalat, zakat, puasa dan menunaikan ibadah haji. Sedangkan ibadah ghair mahdhah adalah ibadah dalam bentuk kebajikan-kebajikan dalam kehidupan antar sesama manusia.

Seperti dalam hadits dikatakan: bekerjalah untuk dunia seperti orang yang tidak orang yang akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhirat seperti orang yang akan mati besok hari. Artinya bahwa umat islam harus bekerja keras. Namun dalam kehidupan ini ternyata tidak cukup hanya mengandalkan bekerja keras akan tetapi kita dituntut untuk bekerja cerdas (intelligence). Inilah fungsi dari ilmu pengetahuan yang mendorong kita untuk bekerja dengan penuh perhitungan. Konsep kerja keras dan cerdas belum memenuhi syarat untuk mendapat ridha Allah, tetapi harus dibarengi dengan konsep keikhlasan. Sikap ikhlas akan terwujud mana kala seseorang memiliki keimanan yang kokoh. Jadi seseorang yang memiliki keimanan perlu ditopang oleh ilmu pengetahuan sehingga akan terwujud sebuah perbuatan yang dituntut oleh ajaran, ilmu amaliyah dan amal ilmiah.

Ada 4 hal pandangan islam dalam etos kerja yaitu:

  1. Niat (komitmen) sebagai dasar nilai kerja.
  2. Konsep ihsan dalam bekerja.
  3. Bekerja sebagai bentuk keberadaan manusia.
  4. Orang mukmin yang kuat lebih disukai.

Pembahasan mengenai pandangan islam tentang bekerja dapat dimulai dengan usaha menangkap makna sedalam-dalamnya sabda nabi yang amat terkenal bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung kepada niat-niat yang dipunyai pelakunya.

Referensi:

Nurdin,Ali.dkk. 2016. Pendidikan Agama Islam.Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal  6.3

Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi Islam dan Sains Teknologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated