Islam dan masyarakat madani

Islam dan Masyarakat Madani

Islam dan Masyarakat Madani

Islam dan masyarakat madani adalah dua sisi yang sulit untuk dipisahkan, terutama di Indonesia. Untuk mewujudkan masyarakat beradab dan sejahtera (masyarakat madani atau civil society), tentu saja diperlukan usaha bersama semua elemen masyarakat untuk mewujudkannya. Salah satu elemen   penting dalam rangka mewujudkan masyarakat itu adalah umat beragama.

INDONESIA SEBAGAI BANGSA YANG PLURAL

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Pluralitas bangsa ini mewujud dalam keberagaman etnis, tradisi, adat istiadat, seni, budaya, dan agama. Clifford Geertz, seorang antropolog kenamaan dari Amerika Serikat, dalam Indonesian Cultes and Comunities, dengan baik melukiskan pluralitas bangsa Indonesia demikian,

“Terdapat lebih dari 300 kelompok etnis yang berbeda-beda di Indonesia, masing-masing dengan identitas budayanya sendiri-sendiri, dan lebih dari 250 bahasa daerah dipakai … dan hampir semua agama- agama penting di dunia diwakili, selain agama-agama asli yang banyak jumlahnya.”

Meskipun plural, bangsa ini direkatkan dalam satu kesatuan kebangsaan sehingga masing-masing kelompok itu merasa menjadi satu kesatuan akibat dari pengalaman sejarah yang sama: pengalaman penjajahan yang getir dan pahit. Kesatuan Kebangsaan ini secara simbolik terangkum dalam Bhineka Tunggal Ika, yang mengakui perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan.

Baca Juga: PRINSIP TERBENTUKNYA MASYARAKAT MADANI

Kesatuan kebangsaan ini pertama kali direkatkan melalui deklarasi Sumpah Pemuda 1928 ketika bangsa ini yang diwakili oleh para pemuda untuk mendeklarasikan ikrar kesatuan: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia. Kesatuan kebangsaan ini semakin menemukan momentum historisnya ketika Pancasila dijadikan falsafah negara dan ideologi negara oleh tokoh-tokoh yang mewakili berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Dalam perspektif Islam sebagaimana digagas oleh Nurcholish Madjid, cendekiawan Muslim Indonesia, Pancasila merupakan kalimatun sawa sebagai dasar untuk merangkum semua pluralitas agama dan sosial dalam suatu wadah yang bernama negara Indonesia. Mengenai hal ini, ia menegaskan bahwa Pancasila,

“…sebagai mediator bagi suatu konvergensi nasional. Pancasila merupakan landasan bersama (kalimatun sawa/common platform) yang kokoh antara berbagai pengelompokan sosial, juga antara berbagai komunitas keagamaan. Dibandingkan dengan bangsa-bangsa  lain, seperti India, Irlandia, Filipina, bangsa Indonesia masih sangat beruntung karena memiliki Pancasila sebagai landasan bersama secara nasional yang dapat mempersatukan berbagai kelompok keagamaan.”

Jika kita membandingkan kedudukan Pancasila bagi bangsa Indonesia sama dengan kedudukan Piagam Madinah. Piagam Madinah merupakan dokumen politik yang dibuat oleh umat Islam untuk merekonsiliasi pelbagai kepentingan sukuisme di Madinah setelah Nabi menjadi pemimpinnya sebagai landasan bagi toleransi di antara pelbagai umat yang ada. Konstitusi ini merupakan formulasi prinsip-prinsip kesepakatan antara kaum muslimin Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah dengan berbagai kelompok bukan muslimin, untuk membangun masyarakat politik bersama. Dalam dokumen historis itu termuat prinsip-prinsip mengenai kebebasan beragama, hak setiap orang untuk hidup, hak menjalani hubungan-hubungan ekonomi dengan golongan-golongan lain, kewajiban partisipatif dalam mempertahankan peranan dan keamanan bersama.

Sebanding dengan sikap kaum muslimin Indonesia menerima Pancasila dan UUD 1945, orang-orang muslim pimpinan Rasulullah itu menerima Piagam Madinah adalah juga atas pertimbangan nilai-nilai yang dibenarkan oleh ajaran Islam dan fungsinya sebagai kesepakatan antara golongan untuk membangun masyarakat politik bersama. Demikian pula sama halnya dengan umat Islam Indonesia yang tidak memandang Pancasila dan UUD 1945 itu sebagai alternatif terhadap agama Islam, Rasulullah dan para pengikut beliau itu pun tidak pernah terbetik dalam pikiran bahwa Konstitusi Madinah merupakan agama baru mereka.

Baca Juga: HAM dan Demokrasi Dalam Islam

Dengan Piagam Madinah tersebut Rasulullah dan umat Islam bersama umat yang lain membangun sebuah masyarakat madani, sebuah masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis.

PERAN UMAT BERAGAMA MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI

Seperti dikemukakan di atas bahwa pluralitas bangsa Indonesia salah satunya adalah keragaman dalam hal agama. Di Indonesia ada enam agama yang diakui secara resmi oleh negara: Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Semua umat dari masing-masing agama sudah mengakui bahwa Pancasila merupakan platform bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, hubungan antar umat beragama di Indonesia dapat dikatakan baik.

Namun demikian dalam perjalanan sejarah bangsa ini, bukan berarti tanpa gesekan mengenai hubungan antar umat beragama tersebut. Terutama hubungan Islam dan Kristen, beberapa fakta menunjukkan sering kali antara dua umat beragama ini sering kali mengalami keretakan dan terlibat konflik, apapun yang melatarbelakanginya. Ismatu Ropi dalam karyanya Fragile Relation: Muslim and Christians in Modern Indonesia mengemukakan  betapa rentannya hubungan antara kedua umat beragama ini. Kasus-kasus seperti Situbondo (Jawa Timur), Ketapang (Jakarta) di mana gereja dibakar oleh umat Islam, Kupang (Nusa Tenggara Timur) di mana masjid dibakar oleh umat Kristiani. Belum lagi kasus Maluku dan Poso yang hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara baik.

Mungkin kasus-kasus itu tidak terlalu mengganggu hubungan Islam dan Kristen  karena  masih  dalam  skala kecil,  tetapi  jika  dibiarkan  dan  tidak diselesaikan dan dicarikan solusinya maka hubungan Islam dan Kristen di masa mendatang akan menjadi bom waktu yang bisa merusak tatanan sosial masyarakat. Hubungan yang tidak harmonis antara umat beragama, khususnya antara umat Islam dan umat Kristiani, tentu saja akan  mengganggu usaha bangsa ini dalam meretas menuju masyarakat yang beradab dan sejahtera. Tak mungkin kita membangun suatu masyarakat madani dengan kondisi retak dan penuh ketegangan. Karena itu, maka peran umat beragama dalam meretas menuju masyarakat madani merupakan sesuatu hal yang tak bisa ditawar-tawar. Piagam Madinah yang dibuat oleh umat Islam bersama umat lain yang ada pada masa itu menunjukkan pentingnya peran umat beragama dalam menciptakan sebuah tatanan sosial politik yang adil, terbuka, sejahtera dan demokratis.

Baca Juga: Agama Sebagai Sumber Moral

Berikut ini adalah beberapa peran yang harus dilakukan oleh umat beragama dalam mewujudkan masyarakat madani itu.

Pertama, menumbuhkan saling pengertian antara sesama umat

beragama. Peran ini bisa dilakukan melalui dialog intensif. Dialog tersebut dilakukan, sebagaimana dikemukakan oleh Mukti Ali, dengan cara: mempertemukan antara orang-orang atau kelompok dari agama atau ideologi yang berbeda untuk sampai pada pengertian bersama tentang berbagai isu tertentu, untuk setuju dan tidak setuju dengan sikap yang penuh apresiasi dan, karena itu, untuk bekerja sama, menemukan rahasia makna kehidupan ini.

Dialog adalah sebuah proses di mana para individu dan kelompok berupaya untuk menghilangkan rasa takut dan rasa tidak percaya satu sama lain dan mengembangkan hubungan baru berdasarkan rasa saling percaya. Dialog adalah satu kontak dinamis antara kehidupan dengan kehidupan— tidak saja antara satu pandangan rasional yang berlawanan satu sama lain— yang ditujukan untuk membangun dunia baru secara bersama-sama.

Dengan dialog tersebut maka perdamaian antara umat beragama akan tercapai. Perdamaian adalah salah satu prasyarat untuk membangun cita-cita bersama menuju masyarakat madani. Hans Kung yang gencar mempromosikan keharusan dialog mengatakan:

“Tidak ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa adanya dialog antaragama; tidak ada perdamaian di antara agama-agama tanpa adanya dialog antara umat beragama; tidak ada dialog antara umat beragama tanpa ada investigasi dasar (fondasi) agama-agama.”

Kedua, melakukan studi-studi agama

Studi-studi agama bertujuan:

  1. menghayati ajaran agama masing-masing,
  2. membangun suasana iman yang dialogis,
  3. menumbuhkan etika pergaulan antara umat beragama,
  4. kesadaran untuk menghilangkan bias-bias dari satu umat bergama terhadap umat agama lain,
  5. menghancurkan rintangan-rintangan budaya yang ada pada masing-masing umat beragama seperti eksklusivisme,
  6. menumbuhkan kesadaran pluralisme,
  7. menumbuhkan kesadaran akan perlunya solidaritas dan kerja sama untuk menyelesaikan masalah-masalah kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan, dan lain-lain.

Ketiga, melakukan usaha-usaha penumbuhan sikap-sikap demokratis, pluralis, dan toleran kepada umat beragama sejak dini melalui pendidikan.

Keempat, mengerahkan energi bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama membangun masyarakat madani.

Referensi:

Nurdin,Ali.dkk. 2016. Pendidikan Agama Islam.Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 3.20

Islam dan Masyarakat Madani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated