Kemampuan membaca dalam bahasa Indonesia

Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Kemampuan membaca dalam bahasa Indonesia dan cara atau strategi untuk memperoleh kemampuan tersebut akan dijelaskan dalam artikel ini. Selamat membaca….

KEMAMPUAN MEMBACA

Coba Anda perhatikan beberapa ilustrasi berikut ini.

  1. Dalam sebuah percakapan di sebuah halaman sebuah sekolah dasar, seorang ibu muda yang tengah menunggui putrinya memasuki hari pertama sekolah di sekolah itu dengan bangga bercerita kepada ibu muda lainnya. Inilah rekaman percakapannya.

Ibu A : “Anak saya, si Gina sudah pandai membaca sejak dia di TK lho Bu!”

Ibu B : “Oya…, pintar ya anak Ibu”.

Ibu A : “Iya, sekarang dia sudah bisa baca koran, bahkan judul-judul buku bapaknya yang berbahasa Inggris pun, dia baca”.

Ibu B : “Apa dia juga bisa berbahasa Inggris”.

Ibu A : “Tidak, tapi dia bisa melafalkan tulisan yang ada pada judul- judul buku itu, Maksud saya, melafalkan huruf-huruf itu sesuai dengan lafal bunyi-bunyi bahasa kita, bukan lafal bahasa Inggris”.

  1. Seorang guru bahasa Inggris di sebuah SMP meminta muridnya untuk membacakan sebuah teks bahasa Inggris kepada salah seorang murid barunya di kelas 1-B. Hari itu merupakan hari pertama sekolah pada tahun ajaran baru tahun itu.

Inilah rekaman percakapannya!

Guru : “Hari ini, kalian akan belajar bahasa Inggris. Coba buka buku paket kalian, halaman pertama. Bapak beri kesempatan kalian 5 menit untuk membacanya dalam hati”.

Siswa : (Hening Semua melakukan aktivitas membaca dalam hati).

Guru : “Ya, cukup! Coba sekarang Bapak  minta  Gumelar  membacakan teks itu dengan nyaring!”

Gum : (Membaca nyaring teks itu dengan lancar dan lafal yang baik) Guru : “Bagus! Kemampuan membacamu bagus sekali”.

  1. Kasus yang sama terjadi di sebuah SMA. Salah seorang murid yang duduk di bangku kelas 11 (kelas 2 ) dapat membacakan (secara nyaring) sebuah teks bahasa Inggris dengan lancar dan lafal yang baik, namun tidak memahami apa yang dibacanya. Inilah rekaman percakapannya!

Siswa A : (Membacakan sebuah teks bahasa Inggris dengan lancar dan lafal yang baik).

Guru : “Bagus,  pelafalanmu  bagus  sekali.  Nah…  coba  sekarang  kamu ceritakan maksud teks yang kamu baca itu dengan bahasamu sendiri!”

Siswa A : (Diam sejenak, lalu menggelengkan kepala). “Saya  tidak  tahu, Pak! Saya tidak mengerti”.

Berdasarkan ketiga ilustrasi di atas, kita menjadi bingung dengan definisi atau batasan “:kemampuan membaca”. Apa sebenarnya “kemampuan membaca itu? Apakah Gina pada ilustrasi (1) di atas dapat dikategorikan pada kelompok anak yang memiliki kemampuan membaca? Bagaimana dengan Gumelar pada ilustrasi (2); dan bagaimana pula dengan siswa A pada ilustrasi (3)?

Dilihat dari kelompok pembacanya, ketiga siswa pada ketiga ilustrasi di atas menunjukkan kelompok pembaca yang berbeda. Gina (ilustrasi 1) merupakan kelompok pemula; sedangkan Gumelar dan Si A (ilustrasi 2 dan merupakan kelompok pembaca lanjut. Definisi “kemampuan membaca” untuk   kedua   kelompok   pembaca   ini   tentu   saja   berbeda. Kemampuan membaca untuk kelompok pemula sama dengan melek huruf, yakni dapat mengenal lambang-lambang tulis dan membunyikannya dengan lafal yang benar. Sementara kemampuan membaca untuk kelompok pembaca lanjut adalah melek wacana, yakni dapat mengenali lambang-lambang tulis dan memahami arti/makna/maksud di balik lambang-lambang itu, baik makna tersurat, makna tersirat, bahkan makna tersorot.

Kemampuan membaca yang dimaksud adalah kemampuan membaca yang identik dengan melek wacana. Bahkan kemampuan membaca dapat ditolokukuri oleh dua kemampuan utama, yakni kemampuan visual dan kemampuan kognisi. Kemampuan visual adalah kemampuan mata melihat dan menangkap lambang-lambang tulis secara cepat. Kemampuan kognisi adalah kemampuan otak memahami makna dan maksud lambang-lambang secara tepat.

Berdasarkan patokan kedua komponen tadi, yakni kecepatan mata melihat lambang dan ketepatan otak memaknai lambang merupakan cerminan dari kemampuan membaca yang sesungguhnya. Kemampuan itu sering juga disebut kemampuan (ada juga yang menyebutnya kecepatan) efektif membaca atau populer dengan istilah KEM. Jadi, KEM itu adalah perpaduan antara kemampuan visual (kecepatan mata melihat lambang) dan kemampuan kognisi (ketepatan otak memaknai lambang). Dengan demikian, semakin cepat orang membaca dan semakin banyak informasi bacaan yang dapat dipahaminya, maka semakin bagus/tinggi KEM-nya. Sebaliknya, semakin lambat membaca dan semakin sedikit informasi yang dapat dipahami dari teks yang dibacanya, maka semakin jelek/kecil KEM-nya.

Untuk mencapai KEM yang tinggi terdapat dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yaitu kecepatan membaca dan ketepatan memahami isi bacaan. Untuk mencapai kecepatan membaca dimaksud, pembaca perlu menguasai berbagai strategi membaca cepat, seperti skimming dan scanning.

Kegiatan membaca dimaksud dilakukan dalam hati secara senyap. Untuk mencapai tingkat pemahaman yang tinggi, pembaca perlu mengerahkan segenap konsentrasi dan menerapkan berbagai strategi membaca yang disesuaikan dengan karakteristik bahan bacaan dan tujuan membaca. Pada umumnya, untuk kepentingan studi dan perluasan informasi kita sering berhubungan dengan wacana-wacana informatif. Pada kegiatan belajar ini, anda akan saya ajak untuk mengenali jenis wacana dimaksud dan cara membacanya.

MEMBACA WACANA INFORMATIF

Kita sering mendengar komentar orang-orang di sekitar kita atau di koran-koran bahwa kita telah memasuki abad informasi. Pernyataan ini tentu saja terutama berlaku bagi masyarakat modern yang tinggal di kota-kota yang telah dilengkapi dengan berbagai sarana komunikasi, seperti koran, majalah, buku-buku, jurnal, radio, tv, dan internet. Setiap hari di hadapan kita, sebagai bagian dari masyarakat modern, tersedia berlimpah informasi yang bagaikan tak terbatas.

Sebagian dari informasi yang berlimpah tersebut tersedia dalam wujud bahan bacaan berupa koran, majalah, jurnal, buku, serta surat elektronik (email), artikel, dan berita/artikel yang disampaikan melalui internet. Dalam situasi kita menghadapi sumber informasi yang melimpah itu, kita dituntut memiliki kemampuan memilih bahan bacaan dengan cepat serta berkemampuan membaca cepat pula. Untuk itu, diperlukan strategi-strategi membaca yang efektif. Berikut ini, akan kita bicarakan beberapa strategi membaca tersebut.

Membaca Memindai

Ketika mengunjungi perpustakaan, sering kali kita perlu membaca dengan cepat judul-judul buku dalam kartu-kartu katalog serta kode-kode buku yang terpanjang di rak sebelum memutuskan mengambil salah satu di antaranya. Demikian juga ketika kita akan makan di restoran, kita kadang- kadang merasa perlu membaca menu makanan dan minuman dengan cepat sebelum memutuskan memesan makanan dan minuman yang kita inginkan. Dengan kata lain, kita perlu memindai judul-judul buku dalam kartu katalog dan kode-kode buku di rak sebelum memutuskan mengambil satu atau dua buah buku dari suatu rak, dan kita perlu memindai daftar makanan dan minuman di sebuah restoran sebelum memutuskan memesan makanan dan minuman. Jenis kegiatan membaca seperti ini disebut membaca memindai, yang sering pula disebut membaca scanning (Mikulecky, 1990:138).

Setelah menemukan judul buku yang kita cari di sebuah rak perpustakaan, misalnya kita bertanya-tanya apakah buku tersebut memang sesuai dengan kebutuhan kita. Lalu, kita pun berupaya melakukan survei terhadap buku tersebut. Dengan cepat kita baca identitas buku pada halaman- halaman depan, daftar isi, daftar indeks, dan beberapa halaman bagian dalam buku tersebut. Setelah itu, baru kita mengambil kesimpulan bahwa buku tersebut sesuai dengan kebutuhan kita atau tidak. Jenis kegiatan membaca tersebut dapat disebut juga membaca memindai, yaitu membaca dengan cepat sesuatu bahan bacaan untuk mendapatkan sesuatu kesan awal atau untuk menemukan sesuatu yang kita cari yang mungkin terdapat di dalamnya. Sebagian pakar menamakan kegiatan membaca demikian dengan istilah membaca skimming (Mikulecky, 1990:138).

Kedua jenis kegiatan membaca ini sangat penting bagi kita. Oleh karena itu, di samping kita perlu berlatih agar menguasai kedua jenis keterampilan membaca tersebut, para murid pun perlu kita latih agar dapat memanfaatkan kedua jenis keterampilan membaca tersebut.

Scanning

Mikulecky (1990:49-51) memberikan penjelasan mengenai jenis kegiatan membaca yang disebut scanning, seperti berikut. Scanning adalah keterampilan membaca yang bertujuan menemukan informasi khusus dengan sangat cepat. Dengan demikian, dalam kegiatan membaca jenis ini kita tidak perlu membaca kata demi kata dan tidak perlu membaca secara teliti keseluruhan bahan bacaan yang kita hadapi guna menemukan informasi khusus yang kita butuhkan. Yang kita perlukan adalah kemampuan mata kita menjangkau kelompok-kelompok kata sebanyak-banyaknya secara sekaligus dan kemampuan berpindah dari satu jangkauan pandangan ke jangkauan pandangan berikutnya dengan cepat sampai menemukan informasi khusus yang kita cari.

Keterampilan membaca scanning hanya dapat diperoleh dengan melakukan latihan-latihan. Kita harus berlatih memperluas jangkauan pandangan mata kita terhadap kelompok-kelompok kata dan berpindah dengan cepat. Misalnya, dengan berlatih menemukan suatu kata dalam kamus, menemukan informasi mengenai harga emas dalam sebuah koran.

Dalam melakukan scanning, kita hanya perlu menangkap kata kunci yang menandai informasi yang kita cari. Misalnya, kita ingin menemukan berita mengenai masalah pendidikan dalam suatu surat kabar, kita tinggal memindai judul-judul berita pada halaman-halaman surat kabar tersebut dengan berbekal kata kunci pendidikan. Bahkan, dalam mencari kata tertentu dalam kamus atau ensiklopedia, kita hanya perlu memindai huruf pertama, kemudian huruf kedua, dan huruf berikutnya dari kata yang kita cari daftar kata yang ada dalam kamus ensiklopedia. Kita akan melewati dengan sangat cepat kata yang memiliki huruf pertama yang berbeda dengan huruf awal kata yang kita cari, sampai menemukan kata yang kita cari tersebut.

Tentu saja latar belakang pengetahuan pembaca turut menentukan kecepatan seseorang dalam membaca skimming. Misalnya, seseorang yang ingin menemukan iklan baris mengenai penjualan rumah, sebelumnya ia telah mengetahui bahwa iklan tersebut terletak pada halaman 11 surat kabar yang dibacanya, kemudian iklan jenis tersebut berkemungkinan akan dapat membaca scanning dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki pengetahuan mengenai letak iklan yang dimaksud itu sebelumnya bila luas jangkauan pandangan mata dan kecepatan berpindah pandangan mereka relatif sama.

Baca Juga: Berbicara Formal Dalam Bahasa Indonesia

Untuk tingkat permulaan, kita dapat melatih murid kita membaca scanning melalui perlombaan antarkelompok murid atau antarmurid dalam menemukan informasi khusus yang kita tentukan dalam sebuah bacaan. Misalnya, kita sediakan daftar acara televisi yang biasa dimuat di koran- koran. Lalu, kita minta murid menemukan acara tertentu dan kita hitung kecepatan membacanya. Kemudian, berdasarkan kecepatan mereka menemukan yang dicari, kita tentukan pemenang 1 sampai 3 di antara para murid.

Untuk tingkat selanjutnya, latihan membaca scanning dapat ditingkatkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak dan bervariasi kepada murid. Kegiatan ini pun dapat diperlombakan. Misalnya, kita sediakan daftar iklan baris yang berisi lowongan kerja yang kita ambil dari sebuah koran. Kemudian, kita ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk diperebutkan.

  1. Iklan lowongan kerja jenis apa yang mensyaratkan pelamarnya memiliki kemampuan menggunakan program auto card?
  2. Jenis lowongan kerja apa yang mensyaratkan pelamarnya jujur dan mau bekerja keras?
  3. Jenis-jenis lowongan kerja apa saja yang mensyaratkan pelamarnya berijazah minimal SMA?
  4. Jenis pekerjaan apa yang mensyaratkan pelamarnya memiliki SIM C?

Untuk setiap pertanyaan yang dijawab dengan benar diberi skor 25. Yang memiliki skor tertinggi merupakan pemenang lomba. Kita pun masih perlu terus berlatih membaca scanning guna meningkatkan kecepatan kita dalam membaca. Dalam berlatih, kita dapat meminta bantuan teman untuk mengajukan beberapa pertanyaan sehubungan dengan suatu bacaan dan mengukur kecepatan kita dalam membaca dengan menggunakan stopwatch.

Skimming

Menurut Fry dalam Mikulecky (1990:138), skimming memiliki kesamaan dengan scanning, yaitu memerlukan kecepatan membaca yang tinggi. Namun, skimming memiliki perbedaan dengan scanning. Scanning merupakan jenis membaca cepat dengan tujuan untuk menemukan informasi khusus dalam suatu teks, Sedangkan skimming menuntut pembaca memiliki kemampuan memproses teks dengan cepat guna memperoleh gambaran umum mengenai teks tersebut. Dalam hal ini, melalui skimming pembaca memperoleh kesan umum mengenai bentuk dan isi teks, yaitu mengenai organisasi, gaya, dan fokus tulisan, gagasan-gagasan utama yang disampaikan dan sudut pandang penulis, termasuk mengenai kaitan teks dengan kebutuhan dan minat pembaca.

Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui skimming, pembaca dapat mengambil keputusan apakah akan terus membaca bahan bacaan tersebut secara keseluruhan atau cukup membaca bagian tertentu saja yang sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Selain itu, skimming juga bermanfaat sebagai review terhadap teks yang sudah dibaca sebelumnya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa skimming menuntut pembaca sekurang-kurangnya memiliki pengetahuan mengenai organisasi teks, pengetahuan leksikal, terutama kata-kata yang menyatakan suatu petunjuk (lexsical clues), dan kemampuan menemukan ide pokok dari suatu bacaan. Dengan demikian, pembaca diharapkan memiliki kemampuan jangkauan mata yang luas dan beralih dengan cepat dari bagian demi bagian teks yang penting dibaca, berdasarkan pengetahuan mengenai organisasi teks dan pengetahuan mengenai kata-kata petunjuk teks. Seseorang baru dapat dikatakan sebagai pembaca skimming yang baik bila dapat memproses teks yang berisi sekitar 800 kata dalam satu menit.

Skimming sangat bermanfaat bagi kita dalam kehidupan, misalnya dalam mengambil keputusan berkenaan dengan hal berikut ini.

  1. Kita akan membeli sebuah buku mengenai cara mengajar membaca permulaan. Di toko buku terdapat empat buah buku yang ditulis oleh pengarang yang berbeda mengenai subjek itu. Kita harus memilih satu di antara keempat buku tersebut.
  2. Kita ingin mengetahui sedikit mengenai suatu peristiwa. Dari judul berita pada sebuah surat kabar, kita mengetahui bahwa peristiwa tersebut disajikan secara panjang lebar. Tetapi, kita tidak memiliki banyak waktu.
  3. Kita membaca sebuah buku beberapa tahun lalu. Kita diundang untuk menceritakan isi buku tersebut pada acara bedah buku besok pagi. Kita tidak mempunyai banyak waktu.
  4. kita mempunyai beberapa buah buku mengenai suatu subjek yang ditulis oleh pengarang yang berbeda. Kita ingin mengetahui gagasan-gagasan mereka, tapi kita tidak memiliki banyak waktu.

Membaca Pemahaman

Dalam modul ini kita menggunakan istilah membaca pemahaman guna merujuk kepada jenis kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan untuk memperoleh pengertian tentang sesuatu atau untuk tujuan belajar sehingga memperoleh wawasan yang lebih luas tentang sesuatu yang dibaca. Tarigan (1993) menyebut jenis kegiatan membaca ini dengan istilah membaca teliti. Namun, kita tidak menggunakan istilah membaca teliti mengingat ada kesan bahwa membaca teliti selalu dilakukan dengan lambat. Padahal, dalam membaca pemahaman kecepatan membaca yang kita gunakan mungkin bervariasi, tergantung pada bahan bacaan yang kita baca.

Bila bahan yang dibaca itu berisi penjelasan mengenai ciri-ciri negara demokrasi, misalnya kita akan membaca bagian itu berisi detail data berupa angka-angka (misalnya) mungkin kecepatan kita dalam membaca agak berkurang. Selain itu, cakupan konsep membaca pemahaman ini tidak sama persis dengan cakupan konsep membaca dalam hati yang dikemukakan oleh Tarigan (1993).

Prabaca (previewing)

Guna mendapatkan gambaran umum mengenai bahan bacaan yang akan kita baca, kita hendaknya melakukan kegiatan prabaca (previewing). Kegiatan prabaca akan memberikan pemahaman awal kepada kita mengenai bahan bacaan yang dihadapi. Selain itu, menurut Mikulecky (1990:33), kegiatan prabaca dapat mengaktifkan pengetahuan yang telah kita miliki sebelumnya berkenaan dengan bahan bacaan yang akan kita baca.

Kegiatan prabaca (previewingi) yang perlu kita lakukan ketika akan membaca sebuah buku, antara lain berikut ini.

  1. Bacalah halaman judul dan halaman copyright. Temukan nama pengarang buku dan tahun terbitnya. Mengetahui tahun terbit buku sangat penting guna mengetahui seberapa baru (how up-to-date) buku tersebut di antara buku-buku sejenis.
  2. Bacalah daftar isi. Amati organisasi buku, meliputi bab dan subbabnya.
  3. Lakukan skimming terhadap bagian (bab) pendahuluannya. Kemudian, perhatikan ilustrasi-ilustrasi, diagram-diagram, tabel-tabel. Bacalah judul-judul dan amati apakah setiap akhir bab terdapat rangkuman atau pertanyaan-pertanyaan untuk didiskusikan.
  4. Perhatikan halaman pertama pada setiap bab.
  5. Lakukan skimming terhadap bab terakhir karena biasanya bab terakhir merupakan kesimpulan atau rangkuman dari isi buku.
  6. Perhatikan pula bagian akhir buku, apakah terdapat indeks, glosarium, daftar pustaka, dan hal lain yang dapat membantu memahami isi buku.

Selanjutnya, berikut ini adalah petunjuk melakukan prabaca (previewing) terhadap sebuah bab dari suatu buku atau sebuah artikel.

  1. Bacalah judul buku atau artikel.
  2. Perhatikan seluruh ilustrasi yang ada.
  3. Apabila bab atau artikel tersebut terdiri atas sub-subbab atau subsubtopik, lakukan skimming terhadap judul sub-subbab atau subsubtopik tersebut.
  4. Lakukan pula skimming terhadap paragraf awal dan akhir serta rangkuman bab atau artikel tersebut. Apabila terdapat pertanyaan- pertanyaan pada akhir bab, lakukan pula skimming terhadapnya.
Beberapa manfaat melakukan prabaca (previewing).

Pertama, kegiatan prabaca memungkinkan pembaca mengetahui jenis bacaan yang dihadapi, konteks bacaan, tema bacaan, tingkat kesulitan, dan pengorganisasian bacaan.

Kedua, ini yang paling penting, dengan mengetahui tema bacaan pembaca akan segera mengaktifkan latar belakang pengetahuan siap (skemata) yang telah dimilikinya yang berkaitan dengan tema itu. Dengan begitu, pembaca akan lebih mudah menangkap dan memahami maksud bacaannya dengan lebih baik, meskipun mungkin pembaca menemui beberapa pemakaian kosakata/istilah asing yang tidak dipahaminya. Di samping itu, pembaca juga akan dapat memanfaatkan waktu tempuh bacanya dengan lebih cepat.

Ketiga, kegiatan prabaca dapat menumbuhkan kesadaran pembaca bahwa untuk memahami isi/maksud sebuah bacaan, proses membaca tidak harus dilakukan secara kata demi kata yang disisir habis, namun dapat dilakukan secara terpilih dengan melewati bagian-bagian yang dianggap tidak perlu atau bagian yang dianggap sudah tersedia dalam bank pengetahuan siap kita (Mikulecky, 1990: 35-38).

Pendugaan (predicting)

Setelah selesai atau selama melakukan prabaca (previewing), sebaiknya pembaca melakukan dugaan terhadap kemungkinan isi/maksud bacaan dari bacaan yang dihadapinya. Sebagai contoh, ketika anda membaca sebuah judul buku yang berbunyi Sejarah Pendidikan Indonesia (karangan Prof. Dr. Nasution, M.A.) mungkin kita menduga bahwa salah satu informasi yang akan kita peroleh dari buku itu antara lain informasi tentang perkembangan pendidikan di Indonesia, sejak masa sebelum, semasa, dan sesudah kemerdekaan, bahkan hingga saat buku itu ditulis. Dugaan-dugaan mengenai isi bacaan terus kita lakukan ketika atau setelah mengamati ilustrasi berupa gambar, diagram, dan informasi lain yang diperoleh ketika melakukan prabaca (previewing). Ketika melakukan dugaan, kita berupaya mendapatkan informasi:

  1. jenis bahan bacaan yang akan kita baca, apakah berupa laporan penelitian buku pelajaran, artikel, cerita, iklan atau lainnya;
  2. apa yang sudah dan apa yang belum kita ketahui mengenai isi bacaan;
  3. seberapa teliti kita harus membaca suatu bacaan. Apakah kita perlu mengingat bagian-bagian tertentu dari bahan bacaan, bagian mana saja kita perlu melakukan scanning untuk mendapatkan informasi tertentu?

Apakah kita hanya perlu membaca untuk tujuan bersenang-senang saja tanpa perlu mengingat-ingat sesuatu dari bahan bacaan tersebut?

Membaca dengan Kecepatan Bervariasi dan Menandai Bahan Bacaan

Setelah kita melakukan kegiatan prabaca dan menduga-duga isi bacaan yang kita hadapi, kita pun mulailah melakukan kegiatan membaca yang sesungguhnya. Berdasarkan hasil kegiatan prabaca dan juga dugaan kita terhadap teks yang kita hadapi, mungkin kita akan menggunakan beberapa keterampilan dalam membaca. Untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai bahan bacaan yang benar-benar baru bagi kita, kita perlu menggunakan keterampilan membaca skimming terhadap seluruh bacaan, kemudian membaca ulang dengan tempo yang lebih lambat bagian-bagian ketelitian. Misalnya, membaca ulang bab-bab atau bagian-bagian bab yang masih belum kita pahami, membaca kembali tabel-tabel yang berisi data statistik, formula-formula atau rumus-rumus penting.

Apabila bahan bacaan dalam buku atau artikel yang kita hadapi tidak seluruhnya baru, berdasarkan hasil prabaca dan dugaan yang sudah dilakukan, mungkin untuk bagian-bagian yang sudah kita pahami, kita baca dengan sangat cepat (melakukan skimming) judul-judul bab atau subbabnya saja, sedangkan bab-bab atau sub-bab yang belum kita pahami, kita baca dengan cepat (skimming) guna memperoleh kesan umum dan dibaca ulang dengan teliti bagian-bagian yang kita anggap perlu untuk itu.

Selama membaca ulang bagian-bagian yang kita anggap perlu dibaca dengan teliti, berilah tanda pada bagian-bagian yang Anda anggap penting. Jangan segan pula membuat catatan-catatan, baik pada halaman bacaan maupun pada kartu-kartu yang Anda siapkan untuk itu. Misalnya, bubuhilah garis bawah pada kalimat atau garis tegak pada pinggir paragraf yang Anda anggap memuat informasi penting. Tulis tanda tanya pada bagian yang masih belum Anda pahami atau Anda ragukan kebenarannya atau Anda tidak setuju terhadapnya.

Baca Juga: Hakikat Berbicara Dalam Bahasa Indonesia

Untuk membantu Anda mengingat organisasi bahan bacaan, gunakan halaman kosong pada bagian akhir buku untuk membuat diagram pohon mengenai organisasi/isi buku. Cukup Anda tuliskan kata-kata kunci pada diagram tersebut. Sedangkan yang menyedihkan adalah masih ada orang tua dan guru yang berpesan pada anak agar jangan mencoret atau menulis pada halaman buku bacaan/pelajaran. Perlu kita ingat baik-baik bahwa sangatlah keliru bila kita menginginkan halaman-halaman buku atau margin dari artikel yang dibaca selalu bersih dari tanda-tanda atau tulisan. Lebih baik buku-buku menjadi buruk rupa atau rusak karena dibaca secara sungguh-sungguh daripada dibiarkan bersih mengilat, namun tidak dimengerti, kecuali buku- buku yang dibiarkan bersih mengilat itu adalah buku-buku atau majalah yang dibaca untuk tujuan mendapatkan hiburan.

BERLATIH MENGUNGKAPKAN ISI BACAAN

Berikut ini disediakan beberapa teks informatif. Silakan Anda baca teks dimaksud dengan menerapkan berbagai strategi membaca cepat seperti yang telah dijelaskan di muka. Setiap kali hendak memulai kegiatan membaca, lihatlah jam tangan Anda, lalu catat waktu mulai membaca. Misalnya mulai membaca pk. 10.03. Demikian juga ketika selesai membaca, catat pula waktunya. Dengan demikian, Anda akan mengetahui berapa lama waktu yang Anda gunakan untuk membaca teks tersebut!

Teks 1

Mulai membaca pukul: …..

RADAR KELELAWAR DETEKSI TUMOR

Para ilmuwan di Skotlandia berharap radar mimik kelelawar dapat mengetahui lokasi dan mengidentifikasi tumor yang tersembunyi dalam tubuh. Tim peneliti dari Universitas Strathclyde telah mengembangkan sebuah teknik diagnosis yang sama dengan teknik beberapa binatang dalam mendeteksi objek atau targetnya.

Navigasi kelelawar dan serangga pemburu yang menggunakan indra penglihatan dan pendengaran dengan memanfaatkan gema coba dikembangkan saat ini. Tim ini sedang melihat penggunaan prinsip yang sama untuk menemukan tumor yang tersembunyi dalam tubuh seseorang dengan menggunakan ultrasuara itu.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh majalah Engineer edisi 12 November 2007, penelitian ini sedang memfokuskan pada cara pendeteksian dengan menggunakan panduan kemampuan kelelawar, lumba-lumba, dan ikan paus dalam menangkap mangsanya. Ketiga jenis hewan ini memang terkenal memiliki kemampuan canggih untuk menangkap mangsanya dengan menggunakan sinyal ultrasuara yang dikeluarkannya.

“Kode akustik” ini digunakan untuk mengidentifikasi objek yang berbeda-beda. Seekor kelelawar sebagai contohnya, pancaran ultrasuara dari bunyi “citcit” hewan ini diyakini digunakan untuk menangkap mangsanya. Gema yang dihasilkan dari seekor kelelawar berfungsi untuk mendeteksi sebuah serangga yang sedang terbang, yang kemudian akan membimbingnya menangkap mangsanya itu.

“Kelelawar, ikan lumba-lumba, dan ikan paus menggunakan perangkat akustik yang kompleks dalam mengidentifikasi dan membimbing dalam menangkap mangsanya,” ujar Profesor Gordon Hayward, yang memimpin penelitian ini. Tim mesinnya telah menggunakan matematika untuk menemukan kode akustik kelelawar dalam menangkap mangsa yang berbeda-beda, termasuk nantinya untuk menangkap sel kanker. Penelitian ini diharapkan akan selesai dalam waktu tiga tahun ke depan Sistem ini nantinya juga diharapkan dapat digunakan dalam militer untuk mendeteksi dan menangkal ranjau bawah laut.

Dalam tim ini juga bergabung beberapa ilmuwan dari Universitas Virginia dan Universitas South California. Dalam penelitiannya, mereka akan menggunakan suara ultra untuk menyusun gambar dari tingkat  sel pada organ  tubuh manusia. (Jumlah  kata: 276) Sumber: Pikiran Rakyat,  22 November 2007.

Selesai membaca pukul: ……..

Cobalah Anda jawab pertanyaan-pertanyaan berikut yang digali dari teks di atas. Pertanyaan-pertanyaan dimaksud dapat membimbing Anda memahami bacaan di atas. Persentase kebenaran jawaban Anda menunjukkan tingkat pemahaman Anda terhadap isi bacaan tersebut.

Pertanyaan Teks 1:

  1. Binatang     apa    yang     diduga     para     ilmuwan     Skotlandia    dapat mengidentifikasi lokasi tumor dalam tubuh manusia?
  2. Mengapa serangga pemburu yang menggunakan indra penglihatan dan pendengaran dipilih untuk proyek penelitian pendeteksian lokasi tumor?
  3. Di samping kelelawar, binatang apa lagi yang menggunakan sinyal ultrasuara dalam menangkap mangsanya?
  4. Bagaimana cara kerja kelelawar dalam menangkap mangsanya? Jelaskan!
  5. Apa yang dimaksud dengan “kode akustik”?
  6. Siapakah Prof. Gordon Hayward itu?
  7. Adakah kaitan antara kode akustik pada kelelawar dengan sel kanker?
  8. Dengan cara bagaimana kode akustik kelelawar dalam menangkap mangsa ditemukan?
  9. Jika penelitian ini berhasil, apa sumbangsihnya bagi militer?
  10. Coba kemukakan cara kerja suara ultra pada penelitian kanker!

Dengan data jumlah kata yang dibaca, waktu yang diperlukan untuk membaca, dan skor jawaban yang benar, Anda dapat menghitung banyaknya skor KEM. Untuk mengukur KEM seseorang/Anda perlu dilakukan hal-hal berikut ini.

Mengukur Kecepatan Membaca (KM)

Cara untuk mengukur kecepatan membaca adalah menghitung jumlah kata dalam bacaan dibagi dengan jumlah waktu baca dalam hitungan detik, jumlah waktu ini dibagi 60 sehingga menjadi menit.

KM= (jumlah kata dalam bacaaan (kb)) : (jumlah waktu baca : 60 (sm))

Mengukur Pemahaman Isi (PI)

Caranya adalah menghitung persentase skor jawaban yang benar atas skor jawaban ideal dari pertanyaan tes pemahaman bacaan.

PI = (skor jawaban benar /  skor jawaban ideal) x 100%

Mengukur Kemampuan Efektif Membaca (KEM)

KEM = (KB / (SM:60)) x (PI/100) KPM

Keterangan:

KM      =  Kemampuan  Membaca

KB       = Jumlah Kata dalam Bacaan

SM       = Jumlah Sekon (detik) Membaca

PI/100 =  Persentase Pemahaman Isi

KEM = Kemampuan Efektif Membaca

KPM = Jumlah Kata per Menit

Agar lebih jelas, perhatikan contoh sebagai berikut.

KB = 1000

SM = 120 (2 menu)

PI = 80

KEM = 400 KPM

Standar Minimal KEM

Masalahnya sekarang adalah berapakah KEM yang harus kita miliki? Berikut ini adalah standar minimal KEM seseorang berdasarkan latar belakang pendidikannya.

PendidikanKEM
SD/SMP200 Kata per menit
Kelas I60-80 kata per menit
Kelas 290-110 kata per menit
Kelas 3120-140 kata per menit
Kelas 4150-160 kata per menit
Kelas 5170-180 kata per menit
Kelas 6190-250 kata per menit
SMA250 kata per menit
Mahasiswa325 kata per menit
Karya siswa (pascasarjana)400 kata per menit
Orang dewasa(tidak sekolah)200 kala per menit

Akan tetapi, tidak semua jenis bacaan harus dibaca secara cepat. Pembaca yang efisien mempunyai kecepatan membaca sesuai dengan bahan yang dihadapi dan tujuan membacanya. Soedarso (1991) membaginya sebagai berikut.

  1. Membaca secara skimming dan scanning (kecepatan lebih dari 1.000 KPM) digunakan untuk:
    • mengenali bahan yang akan dibaca;
    • mencari jawaban atas pertanyaan tertentu;
    • mendapatkan struktur dan organisasi bacaan serta menemukan gagasan bacaan.
  2. Membaca dengan kecepatan yang tinggi (500 – 800 KPM) digunakan untuk:
    • membaca bahan-bahan yang muda dan tidak dikenal;
    • membaca novel ringan untuk mengikuti jalan cerita.
  3. Membaca secara cepat (350 – 500 KPM) digunakan untuk:
    • membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskriptif dan bahan- bahan nonfiksi lain yang bersifat informatif;
    • membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya dan mengantisipasi akhir cerita.
  4. Membaca dengan kecepatan rata-rata (250 – 350 KPM) digunakan untuk:
    • membaca fiksi yang agak sulit untuk analisis watak serta jalan cerita;
    • membaca nonfiksi yang apak sulit untuk mendapatkan detail, mencari hubungan atau membuat evaluasi ide penulis.
  5. Membaca lambat (100 – 125 KPM) digunakan untuk:
    • mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isi;
    • menguasai bahan-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat teknik;
    • membuat analisis bahan-bahan bernilai sastra klasik;
    • memecahkan persoalan yang ditunjuk dengan bacaan yang bersifat instruksional (pedoman).

Contoh menghitung KEM

Jumlah kata dalam teks 290. Jumlah waktu baca 30 detik. Skor yang Anda peroleh menjawab soal/pertanyaan 90, maka:

KM = 290/(30:60) = 580/menit

PI = (90/100)x100% = 90%

KEM =  290/(30:60)  X  90/100 = 522 KPM

Baca Juga: Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia

Teks 2

Mulai membaca pukul: …..

RAHASIA KHASIAT BAWANG PUTIH

Bawang putih memang dikenal sebagai bahan pangan penghasil bau menyengat. Tapi, jangan sekali-kali menyepelekan khasiatnya. Para peneliti Inggris telah berhasil mengungkap misteri penyebab makan bawang putih bisa membantu menjaga kesehatan jantung. Kuncinya adalah allicin, yang diuraikan menjadi senyawa sulfat sangat berbau yang mencemarkan bau nafas. Senyawa ini bereaksi dengan darah merah dan menghasilkan sulfida hidrogen yang merenggangkan saluran darah dan membuat darah mudah mengalir.

Meski demikian, para pakar Inggris memperingatkan bahwa mengonsumsi suplemen bawang putih bisa menimbulkan efek samping. Sulfida hidrogen menghasilkan bau telur busuk dan dipergunakan untuk memproduksi bom bau (stink bom). Sedangkan pada kadar rendah, senyawa itu memainkan peran vital dalam membantu sel-sel saling berkomunikasi dengan sesamanya. Pada pembuluh darah, senyawa itu merangsang sel yang membentuk lapisan mengendur dan menyebabkan pembuluh melebar. Pada gilirannya hal itu akan mengurangi tekanan darah, memungkinkan darah mengangkut lebih banyak oksigen ke organ tubuh esensial dan mengurangi tekanan pada jantung.

Tim peneliti Universitas Alabama mencelupkan pembuluh darah tikus pada larutan yang mengandung ekstrak dari bawang putih yang diremukkan. Para peneliti juga mendapati bahwa sel darah merah yang terkena sedikit sekali sari bawang putih yang dijual di toserba segera menghasilkan sulfida hidrogen.

Percobaan lanjutan memperlihatkan bahwa reaksi kimia berlangsung utamanya pada permukaan sel darah merah. Tim peneliti menunjukkan indikasi bahwa produksi sulfida hidrogen dalam sel darah merah mungkin bisa digunakan untuk menetapkan standar kadar bawang putih yang ditambahkan ke makanan. Kepala peneliti, Dr. David Kraus mengatakan hasil penelitian yang mereka lakukan memperlihatkan bawang putih dalam makanan itu sangat bagus. “Tentu saja di kawasan tempat konsumsi bawang putih tinggi, seperti di Laut Tengah dan Timur Jauh, tingkat terjadinya penyakit kardiovaskuler rendah.”

Sementara itu, Judy O’Sulivan, ahli rawat jantung pada Yayasan Jantung Inggris (BHF), mengatakan penelitian menarik ini mengindikasikan bawang putih mungkin bermanfaat bagi kesehatan jantung. “Namun, tetap saja belum ada bukti yang cukup untuk mendukung gagasan pemakaian bawang putih sebagai obat untuk mengurangi risiko mengalami penyakit jantung,” kata O’Sulivan. “Perlu dicamkan bahwa suplemen (bawang putih) dalam kadar tinggi mungkin berinteraksi dengan obat pengencer darah dan mungkin memperbesar resiko pendarahan,” kata Judy O’Sulivan. (Jumlah kata: 336) Sumber: Pikiran Rakyat, 22 November 2007.

Selesai membaca pukul: ……..

Pertanyaan Teks 2:

  1. Siapakah yang pertama kali menguak misteri khasiat bawang putih?
  2. Mengapa bawang putih diyakini dapat menjaga kesehatan jantung?
  3. Pada kondisi bagaimanakah bawang putih dapat menimbulkan efek samping?Mengapa?
  4. Bagaimana cara kerja para peneliti dari Universitas Alabama dalam membuktikan hasil temuannya? Jelaskan!
  5. Bagaimana reaksi dari pencelupan pembuluh darah tikus pada larutan ekstrak bawang putih yang diremukkan?
  6. Menurut teks di atas, bawang putih dapat berkhasiat dapat pula berakibat. Coba Anda jelaskan, kapan bawang putih berkhasiat dan kapan berakibat?
  7. Daerah manakah yang diperkirakan tingkat terjadinya kardiovaskulernya rendah? Berikan alasannya!
  8. Siapakah Judy O’Sulivan itu?
  9. Bagaimana pendapat Judy O’Sulivan tentang bawang putih?
  10. Bawang putih bisa mengobati penyakit jantung. Apakah pernyataan itu sesuai dengan isi teks di atas? Berikan alasan Anda! Seperti halnya pada teks 1 di atas, pada teks 2 ini pun Anda dipersilakan untuk menghitung persentase kebenaran jawaban Anda dan menghitung KEMnya.

Selanjutnya, silakan hitung KEM Anda jika jumlah kata teks tersebut 276.

Rangkuman Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Kemampuan membaca dapat ditolokukuri oleh dua kemampuan utama, yakni: (1) kemampuan visual dan (2) kemampuan kognisi. Kemampuan visual adalah kemampuan mata melihat dan menangkap lambang-lambang tulis secara cepat. Sementara kemampuan kognisi adalah kemampuan otak memahami makna dan maksud lambang- lambang secara tepat. Kemampuan membaca yang sesungguhnya itu sering juga disebut kemampuan/kecepatan efektif membaca (KEM). KEM merupakan perpaduan antara kemampuan visual (kecepatan mata melihat lambang) dan kemampuan kognisi (ketepatan otak memaknai lambang). KEM dapat ditentukan dengan membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh, lalu dikalikan dengan persentase pemahaman bacaan.

Dalam menghadapi sumber informasi yang melimpah, pembaca dituntut memiliki kemampuan memilih bahan bacaan dengan cepat serta berkemampuan membaca cepat pula. Untuk itu, diperlukan strategi- strategi membaca yang efektif. Membaca memindai sebagai salah satunya. Terdapat dua jenis membaca memindai, yaitu scanning dan skimming. Scanning merupakan jenis membaca cepat dengan tujuan untuk menemukan informasi khusus/tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya dalam suatu teks. Skimming menuntut pembaca memiliki kemampuan memproses teks dengan cepat guna memperoleh gambaran/kesan umum mengenai suatu teks, meliputi organisasi, gaya, fokus tulisan, gagasan-gagasan utama, dan sudut pandang penulis, termasuk mengenai kaitan teks dengan kebutuhan dan minat pembaca. Untuk kepentingan pemahaman, kegiatan membaca harus memperhatikan 3 aspek berikut: preview, predicting, dan fleksible (kecepatan variatif). Preview: kegiatan prabaca; predicting: kegiatan pada saat membaca berlangsung dengan melakukan dugaan-dugaan; fleksible mengatur tempo dan kecepatan baca secara bervariasi sesuai dengan karakteristik bahan dan tujuan baca.

Referensi:

Yeti Mulyati,dkk. 2016. Bahasa Indonesia. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 5.3

Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia

2 thoughts on “Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated