Konsep dasar akuntansi yang berlaku umum

KONSEP DASAR AKUNTANSI YANG BERLAKU UMUM

Konsep dasar akuntansi yang berlaku umum harus dipahami oleh akuntan. Karena Konsep dan prinsip akuntansi adalah aturan baku yang menjadi landasan dalam proses akuntansi. Sebagai media komunikasi bisnis, akuntansi harus mampu menjamin adanya pemahaman yang sama antara penyaji informasi (keuangan) perusahaan dan pihak-pihak yang menggunakan informasi tersebut. Karena itu, perlu ada cara atau metode yang tepat untuk menghasilkan informasi akuntansi. Di Indonesia, cara atau metode penyajian informasi akuntansi diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

1. KONSEP KESATUAN USAHA (BUSSINESS ENTITY)

Konsep dasar akuntansi yang pertama adalah konsep kesatuan usaha (Bussiness entity). Yang dimaksud dengan konsep kesatuan usaha (entitas bisnis) adalah bahwa setiap perusahaan dianggap sebagai suatu lembaga yang berdiri sendiri. Karena berdiri sendiri, maka keuangan perusahaan harus terpisah dari keuangan pemilik, keuangan direktur, dan keuangan karyawan atau bisa dikatakan bahwa akuntansi yang berlaku untuk suatu unit ekonomi tertentu tidak boleh dicampuradukkan dengan unit ekonomi lainnya. Jadi, unit usaha yang menyelenggarkan akuntansi merupakan satu kesatuan yang berdiri sendiri dan terpisah dari pemiliknya dan juga dari perusahaan-perusahaan lain.

Konsep kesatuan usaha mensyaratkan bahwa sebuah perusahaan harus dianggap terpisah dari perusahaan-perusahaan lain. Misalnya seseorang yang memiliki dua buah perusahaan bengkel mobil dan peusahaan angkutan, hendaklah mengadakan pencatatan akuntansi tersendiri untuk masing-masing perusahaan tersebut.

baca juga: silabus perbankan dasar

Implikasi dari konsep ini adalah bahwa suatu unit ekonomi tertentu harus dibedakan keuangannya dengan unit ekonomi yang lain, apalagi hal itu mengenai perusahaan. Keuangan perusahaan harus terpisah dari keuangan direktur utama, karyawan, atau keuangan pemilik. Jadi para pemakai laporan keuangan perusahaan mengetahui dengan jelas kekayaan/utang sebuah perusahaan dan mengetahui dengan pasti bahwa kekayaan itu tidak dicampur aduk dengan kekayaan karyawan, pelanggan, atau pemiliknya.

Sebagai contoh, seorang pemilik perusahaan ingin mengetahui kemajuan perusahaannya. Untuk tujuan tersebut, laporan keuangan yang disusun hendaknya tidak mencampuradukkan transaksi kepentingan pribadinya dengan transaksi perusahaan. Misalnya, pemilik mengurangkan pengeluaran pribadinya dari pendapatan perusahaan. Jika hal tersebut dilakukan, maka pemilik atau pimpinan perusahaan sulit mengetahui betapa sesungguhnya penjualan perusahaan.

Salah satu PABU (Prinsip-Prinsip Akuntansi Berterima Umum) yang berlaku di akuntansi adalah konsep kesatuan usaha (economy entity concept).Konsep kesatuan usaha memandang perusahaan sebagai suatu entitas yang terpisah dari pemiliknya.Berlandas konsep kesatuan usaha ini maka akuntansi menyajikan gambaran tentang perusahaan sebagai entitas yang berdiri sendiri atau tidak bercampur tangan dengan pemiliknya.

Prinsip kesatuan usaha sangat penting dalam akuntansi, karena dengan prinsip ini semua transaksi yang dicatat oleh akuntansi harus dipandang dari sudut pandang perusahaan.Dengan demikian, akuntansi menyajikan hasil kinerja, posisi keuangan, maupun informasi keuangan lainnya tentang perusahaan sebagai entitas yang berdiri sendiri yang terpisah dari pemiliknya.Meskipun aset yang dikuasai perusahaan berasal dari setoran pemilik, tetapi aset tersebut sudah berada di bawah kendali perusahaan tersebut.

Sebagai entitas yang berdiri sendiri, perusahaan dapat melakukan kegiatan transaksi dengan berbagai pihak.Pada gambar di atas telah digambarkan bahwa perusahaan setidak-tidaknya melakukan kegiatan transaksi dengan 6 pihak eksternal.Selain itu, gambar di atas juga menegaskan bahwa transaksi yang melibatkan setoran dari pemilik hanyalah salah satu jenis transaksi dari banyak transaksi yang dilakukan perusahaan.Dana (berupa uang tunai ataupun aset lainnya) yang disetor kepada pemilik menjadi aset perusahaan yang terpisah dari pemiliknya.

2. KESINAMBUNGAN/KELANGSUNGAN USAHA (GOING CONCERN)

Konsep dasar akuntansi yang kedua adalah kesinambungan atau kelangsungan usaha (going concern). Menurut konsep kesinambungan, perusahaan dianggap akan beroperasi selama waktu yang tidak dapat ditentukan. Atas dasar inilah, laporan keuangan perusahaan perlu disusun secara periodik biasanya per bulan, triwulan, semester atau per tahun. Dengan membuat laporan secara periodik, pihak pemakai informasi akuntansi dapat membandingkan kemajuan perusahaan dari waktu ke waktu.Jika kita ingin membeli saham suatu perusahaan publik, misalnya, maka kita perlu membandingkan laporan keuangannya selama beberapa periode, sehingga kita mendapat gambaran yang jelas mengenai apakah perusahaan yang akan kita beli, sahamnya mampu memberi kita laba (dividen).

baca juga: BIDANG-BIDANG SPESIALISASI DALAM AKUNTANSI

Implikasi konsep ini bagi para pemakai laporan keuangan adalah bahwa pemakai mengetahui perusahaan akan tetap berjalan sampai waktu yang tidak ditentukan dan dapat memakai laporan keuangan tersebut untuk menentukan membeli saham perusahaan tersebut atau berinvestasi dalam bentuk lain.

3. STANDAR MONETER (PENGUKURAN NILAI DENGAN UANG)

Konsep dasar akuntansi yang ketiga adalah standar moneter. Menurut konsep ini, setiap transaksi yang dilakukan perusahaan harus dapat diukur dengan satuan uang. Tujuannya adalah agar terdapat pengertian yang sama dalam menaksir nilai suatu transaksi. Akan tetapi, harap diingat bahwa prinsip ini bermanfaat apabila tingkat inflasi terkendali. Jika inflasi meroket tidak terkendali, maka prinsip ini kurang bermanfaat karena akan sulit menaksir harga suatu barang.

4. HARGA PEROLEHAN

Konsep dasar akuntansi yang keempat adalah harga perolehan. Dalam akuntansi, yang dimaksud dengan harga perolehan adalah nilai atau biaya yang dikorbankan untuk memperoleh suatu barang hingga barang tersebut siap digunakan.Misalkan harga sebuah buku pelajaran adalah Rp 25.000,00. Misalkan pula Andi hanya dapat memiliki buku tersebut setelah ia mengeluarkan ongkos ke toko buku sebesar Rp 2.000,00. Dalam hal ini, harga perolehan buku tersebut adalah Rp 27.000,00. Harga suatu barang atau nilai penggantinya berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Implikasi dari konsep harga perolehan adalah bahwa aktiva tetap dicatat sebesar harga untuk memperolehnya sehingga informasi yang disampaikan menjadi benar. Selain itu, harga perolehan tersebut berguna untuk menetapkan besarnya penyusutan yang akan dilakukan terhadap aktiva tetap tersebut.

5. PERIODE AKUNTANSI

Kelima, Perusahaan berjalan secara terus-menerus sepanjang waktu. Untuk mengetahui kemajuan perusahaan, maka perlu dibuat laporan keuangan secara periodik (berkala).Dengan adanya laporan berkala, pemakai informasi akuntansi dapat membuat keputusan yang berkaitan dengan strategi dan kebijakan perusahaan, yaitu dengan cara membandingkan laporan keuangan antarperiode.

6. PENETAPAN BEBAN DAN PENDAPATAN

Keenam, Beban dan pendapatan erat hubungannya dengan hasil yang dicapai perusahaan. Beban dan pendapatan yang dilaporkan dalam akuntansi haruslah beban dan pendapatan yang benar-benar terjadi dalam periode akuntansi. Konsep ini melibatkan secara bersamaan atau gabungan penghasilan dan beban yang dihasilkan secara langsung dari transaksi atau peristiwa lain yang sama. Misalnya pembebanan beban komisi penjualan terhadap penjualan yang diperoleh, atau bisa juga pemakaian perlengkapan yang dilakukan pada bulan Januari harus diakui sebagai beban bulan Januari jika periode akuntansi perusahaan ditetapkan per bulan, bukan beban bulan Februari atau Maret.

Implikasi dari konsep ini adalah kita dapat mengetahui seberapa besar biaya dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tertentu. Selain itu, kita juga dapat mengukur laba bersih dengan mengurangi pendapatan dengan beban/biaya yang disatukan pada periode yang sama.

7. OBJEKTIVITAS

Ketujuh, Prinsip objektivitas menyatakan bahwa seluruh informasi yang terdapat dalam laporan keuangan (akuntansi) harus didukung oleh bukti-bukti bukan berdasarkan pendapat seseorang.

Sumber :

Jusup, Al Haryono.2011.Dasar-dasar Akuntansi (Jilid 1). Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN

Jusup, Al Haryono.2011.Dasar-dasar Akuntansi (Jilid 2). Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN

Marunung, Elvy Maria.2011.Akuntansi Dasar (untuk Pemula). Jakarta: Erlangga

Mulyadi.2008.Sistem Akuntansi.Yogyakarta: BPEE-Yogyakarta

Rudianto.2009. Pengantar Akuntansi. Jakarta: Erlangga

Sugiarto.2020.Pengantar Akuntansi.Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka

2 thoughts on “KONSEP DASAR AKUNTANSI YANG BERLAKU UMUM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Releated