Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut…

KONSEP MEMBACA

Keterampilan membaca memegang peranan penting dalam aktivitas komunikasi tertulis. Aktivitas membaca menjadi bagian dari kebutuhan aktivitas keseharian kita. Aktivitas membaca dilakukan untuk berbagai keperluan, mulai dari sekedar untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan perolehan informasi secara umum, untuk kepentingan hiburan, atau untuk kepentingan perolehan informasi secara khusus, hingga untuk kepentingan studi dan pendalaman disiplin ilmu.

Sumber bacaannya pun beragam, mulai dari bacaan populer seperti tulisan-tulisan pada koran, surat kabar, dan majalah hiburan; karya-karya fiksi seperti novel dan cerpen; tulisan ilmiah populer seperti pada majalah-majalah khusus; dan tulisan-tulisan keilmuan untuk disiplin-disiplin ilmu tertentu seperti yang kita dapati pada jurnal- jurnal ilmiah, buku-buku teks, dan karya publikasi ilmiah lainnya.

Baca Juga: Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia

Untuk berbagai keperluan tersebut diperlukan keterampilan membaca yang fleksibel. Strategi membaca yang dipergunakan untuk masing-masing bahan bacaan dan untuk masing-masing keperluan akan berbeda-beda. Pembaca fleksibel adalah pembaca yang pandai memilih dan menerapkan strategi yang tepat dalam menghadapi bahan bacaannya.

Lalu, apa sebenarnya hakikat dari membaca itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus menelusurinya dari pengertian dan hakikat membaca itu sendiri.

  1. Membaca merupakan proses pengubahan lambang visual (katon) menjadi lambang bunyi (auditoris). Pengertian ini menyiratkan makna membaca yang paling dasar yang terjadi pada kegiatan membaca permulaan. Pada tahap ini kegiatan membaca lebih ditujukan pada pengenalan lambang-lambang bunyi yang belum menekankan aspek makna/informasi. Sasarannya adalah melek huruf.
  2. Membaca merupakan suatu proses decoding, yakni mengubah kode-kode atau lambang-lambang verbal yang berupa rangkaian huruf-huruf menjadi bunyi-bunyi bahasa yang dapat dipahami. Lambang-lambang verbal itu mengusung sejumlah informasi. Proses pengubahan lambang menjadi bunyi berarti itu disebut proses decoding (proses pembacaan sandi).
  3. Membaca merupakan proses merekonstruksi makna dari bahan-bahan cetak. Definisi ini menyiratkan makna bahwa membaca bukan hanya sekedar mengubah lambang menjadi bunyi dan mengubah bunyi menjadi makna, melainkan lebih ke proses pemetikan informasi atau makna sesuai dengan informasi atau makna yang diusung si penulisnya. Dalam hal ini, pembaca berusaha membongkar dan merekam ulang apa yang tersaji dalam teks sesuai dengan sumber penyampainya (penulis).
  4. Membaca merupakan suatu proses rekonstruksi makna melalui interaksi yang dinamis antara pengetahuan siap pembaca, informasi yang tersaji dalam bahasa tulis, dan konteks bacaan (Anthony, Pearson, & Raphael, 1993:284).

Keempat definisi di atas memperlihatkan rentangan definisi membaca dari yang paling sederhana yang bertumpu pada kemampuan melek huruf hingga kemampuan sesungguhnya yang bertumpu pada melek wacana. Yang dimaksud dengan melek huruf adalah kemampuan mengenali lambang- lambang bunyi bahasa dan dapat melafalkannya dengan benar. Sementara, yang dimaksud dengan kemampuan melek wacana adalah kemampuan mengenali, memahami, dan memetik makna/maksud dari lambang-lambang yang tersaji dalam bahasa tulis itu dalam artian yang sesungguhnya. Tentu saja, definisi membaca yang relevan dengan bahasan modul ini dan yang sesuai dengan kepentingan Anda sebagai mahasiswa adalah definisi membaca yang bertumpu pada kemampuan melek wacana.

Baca Juga: Hakikat Karya Ilmiah dan Karya Ilmiah Populer

Selanjutnya, mari kita bicarakan ihwal tingkatan-tingkatan membaca yang senafas dengan definisi membaca yang relevan dengan kepentingan kita.

TINGKATAN-TINGKATAN MEMBACA

Terdapat dua klasifikasi membaca yang relevan dengan pengertian membaca yang bertumpu pada kemampuan melek wacana dan relevan dengan kebutuhan Anda sebagai mahasiswa, yakni membaca intensif dan membaca ekstensif. Menurut Grellet (1989), kemampuan membaca intensif perlu dimiliki oleh semua orang yang ingin mengembangkan kemampuan belajar, karena menurutnya belajar membaca intensif identik dengan belajar ‘bagaimana belajar’.

Kegiatan membaca tidak selalu digunakan untuk kepentingan belajar. Ada berbagai tujuan yang ingin kita peroleh melalui kegiatan membaca. Untuk hal-hal yang bersifat serius dan mendalam kita gunakan strategi membaca intensif. Akan tetapi, jika kita memerlukan informasi yang komprehensif, meluas, meskipun tidak mendalam, kita perlu menguasai teknik membaca ekstensif.

Mari kita kenali kedua teknik membaca dimaksud dalam paparan berikut.

Membaca Intensif

Pengertian Membaca Intensif

Apa sesungguhnya membaca intensif itu? Membaca intensif adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara cermat untuk memperoleh pemahaman terhadap teks bacaan secara tepat dan akurat. Tarigan (1979) lebih memfokuskan kegiatan membaca intensif untuk pembelajaran di dalam kelas. Menurutnya, membaca intensif (intensive reading) adalah studi seksama, telaah teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap tugas-tugas pendek, kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari. Teks-teks yang biasa dibaca secara intensif antara lain dokumen- dokumen resmi, dokumen-dokumen kontrak, buku-buku pelajaran, teks-teks hukum, karya ilmiah, jurnal-jurnal ilmiah, dan lain-lain. Kemampuan membaca intensif ditandai oleh kemampuan memahami detil-detil informasi secara lengkap, akurat, dan kritis terhadap fakta-fakta, konsep, gagasan, ide, pengalaman, pesan, dan perasaan yang tertuang dalam bahasa tulis.

Untuk sampai pada kemampuan tersebut, Munby (dalam Grellet) mengajukan sejumlah keterampilan mikro yang harus dimiliki pembaca dalam melakukan kegiatan membaca intensif. Keterampilan-keterampilan dimaksud meliputi kemampuan:

  1. mengenali lambang-lambang tulis suatu bahasa;
  2. memahami dan menggunakan butir-butir leksikal yang tak dikenal;
  3. memahami informasi tersurat;
  4. memahami fungsi komunikatif kalimat dan ujaran;
  5. memahami makna-makna konseptual;
  6. memahami hubungan antarkalimat dalam paragraf;
  7. memahami hubungan antarparagraf dalam bacaan;
  8. mengenali dan memahami fungsi sarana kohesi dan koherensi;
  9. mengidentifikasi sarana petunjuk konteks;
  10. mengidentifikasi butir-butir informasi penting dalam sebuah teks;
  11. membedakan ide utama dan ide pendukung;
  12. menyarikan butir-butir penting untuk membuat simpulan;
  13. menyeleksi butir-butir informasi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan;
  14. membaca cepat untuk mendapatkan gambaran umum isi bacaan;
  15. membaca cepat untuk menemukan informasi khusus/tertentu;
  16. mengubah gaya penyajian teks (misalnya, dari paparan ke dalam bentuk diagram, tabel, grafik, dan lain-lain).

Membaca intensif sering diidentikkan dengan teknik membaca untuk belajar. Kegiatan membaca ini melibatkan aktivitas kognitif dalam berbagai tataran. Hal ini berarti peranan skemata dalam kegiatan membaca intensif sangatlah penting. Skema/skemata adalah abstraksi pengalaman seseorang yang secara konstan mengalami pemantapan sesuai dengan informasi baru yang diperolehnya. Oleh karena itu, semakin banyak pengalaman seseorang maka semakin banyak dan kaya pula skematanya.

Seseorang yang memiliki kekayaan skemata yang memadai akan membantu proses pemahaman yang lebih mudah dan cepat dalam kegiatan membaca. Proses pemahaman isi bacaan akan bergantung pada kemampuan pembaca dalam menghubungkan pengetahuan siapnya yang tersimpan dalam skemata dengan informasi baru yang tertulis dalam teks bacaan. Proses demikian menunjukkan interaksi yang simultan antara proses baca dengan model top-down (menerka) dengan model bottom-up (menarik informasi).

Tingkatan Pemahaman dalam Membaca Intensif

May (dalam Marzano, 1995) membagi tingkat-tingkat pemahaman itu ke dalam empat klasifikasi, yakni pemahaman literal, interpretatif, kritis, dan kreatif.

Pemahaman Literal

Pemahaman literal merupakan keterampilan memahami yang paling sederhana atau paling dasar karena hanya memerlukan sedikit kegiatan berpikir. Keterampilan ini merupakan keterampilan menemukan makna kata dan kalimat dalam konteks secara langsung. Contoh: Bagaimana pembaca memahami isi bacaan jika ada teks sebagai berikut.

Indonesia berhasil mengatasi masalah para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama ini tidak terselesaikan, yaitu banyaknya para TKI yang bekerja ke berbagai negara tetangga melalui cara-cara yang ilegal. Para TKI itu masuk ke negara tetangga Malaysia, Singapura, Thailand, dan negara lainnya dengan tidak memenuhi persyaratan administrasi yang berlaku. Sekarang Indonesia telah berhasil menertibkan para TKI tersebut. Setiap calon TKI diperiksa kelengkapan administrasinya, oknum-oknum yang memberangkatkan TKI ke luar negeri dengan cara ilegal mendapat perhatian ekstra ketat. Setiap oknum yang diketahui mengambil manfaat dengan cara menipu para TKI akan segera ditindak tegas. Sekarang kita boleh merasa bangga karena tahun ini pemerintah akan mengirimkan sekitar 3500 TKI sebagai pembantu rumah tangga dan pekerja kasar ke berbagai negara.

Saudara, pembaca yang berada pada kategori pemahaman literal akan memahami wacana di alas apa adanya, sebagai berikut `Pemerintah telah berhasil mengatasi masalah TKI yang selama ini belum terselesaikan’. Selain dari pemahaman itu tidak ditemukan atau tidak ada pemikiran lain dari pembaca pada tingkat pemahaman literal ini.

Interpretasi

Pemahaman kategori atau tingkat kedua ini adalah pemahaman yang melibatkan keterampilan berpikir yang diperlukan pembaca untuk mengidentifikasi gagasan dan makna yang tidak secara eksplisit dinyatakan dalam teks. Untuk dapat menemukan makna yang implisit ini, keterampilan berpikir pembaca meliputi kemampuan menggeneralisasi, menemukan hubungan sebab akibat, mengidentifikasi motif-motif, menemukan hubungan antarbagian teks, memprediksi kesimpulan, dan membuat perbandingan.

Kita gunakan lagi contoh wacana di atas (pemahaman literal). Pembaca yang berada pada kategori pemahaman interpretasi akan menggunakan keterampilan berpikirnya, menggunakan pengetahuannya tentang masalah negara yang berkaitan dengan TKI (menggeneralisasi), kesulitan yang dihadapi para TKI di negara orang (hubungan sebab akibat), karakter orang Indonesia baik TKI maupun oknum penyalur tenaga kerja (mengidentifikasi motif), menemukan ide pokok antarkalimat dan antarparagraf (menemukan hubungan antarparagraf), dan menyimpulkan serta membuat perbandingan jika ada.

Baca Juga: Kemampuan Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Pembaca dengan tingkat pemahaman interpretasi akan menjelaskan makna teks di alas bukan hanya sebagai suatu keberhasilan pemerintah mengatasi masalah TKI, pembaca pada tingkat ini akan menggunakan pengetahuannya tentang masalah ini dan mengaitkannya dengan isi teks, terutama pada bagian:

“Sekarang kita boleh merasa bangga karena tahun ini pemerintah akan

mengirimkan sekitar 3500 TKI sebagai pembantu rumah tangga dan pekerja kasar ke berbagal negara.

Pembaca pada tingkat ini akan menganalisis isi wacana kalimat demi kalimat. Pembaca juga akan membandingkan keberhasilan pemerintah dalam menertibkan para TKI dan agen pengirimnya dengan profesi TKI. Pembaca akan dapat menangkap makna implisit yang dikemukakan penulis, bahwa dengan mengirimkan tenaga kerja pembantu rumah tangga dan pekerja kasar ke negara tetangga bukanlah sesuatu yang membanggakan tetapi mungkin justru sangat menyedihkan, karena bangsa kita tetap saja menjadi budak atau lebih halus disebut buruh di negara orang.

Demikian saudara, bahwa untuk menjadi pembaca pada kategori interpretasi orang harus memiliki pengetahuan yang sesuai dengan gagasan yang terdapat dalam bacaan atau yang disebut dengan istilah skemata dan harus mampu menggunakan berbagai keterampilan berpikir. Keterampilan membaca tingkat ini dapat dimiliki setiap orang yang mau berlatih yaitu dengan cara banyak membaca dengan berbagai jenis bacaan.

Pemahaman Kritis

Keterampilan membaca dengan pemahaman kritis adalah keterampilan membaca yang dimiliki oleh pembaca yang tidak hanya mampu memaknai bacaan secara literal dan menginterpretasikannya. Pembaca pada kategori ini juga mampu menilai apa yang dibacanya. Pembaca mampu menilai secara kritis gagasan-gagasan yang disampaikan penulis dan juga kesahihan apa yang dibacanya.

Masih dengan contoh teks yang sama di atas. Pembaca kritis pasti memahami atau mampu menangkap isi teks secara literal atau apa adanya. Pembaca kritis juga mampu menangkap makna implisit atau makna yang terkandung di balik teks tersebut atau disebut makna tersirat. Lebih dan itu pembaca kritis juga mampu menilai teks tersebut secara keseluruhan. Misal, pembaca dapat menilai kesahihan atau keabsahan teks tersebut, artinya pembaca mengetahui betul bahwa teks laporan reporter tersebut benar adanya yaitu ada fakta bahwa seluruh TKI yang berangkat ke negara tetangga dibekali dengan berkas-berkas administrasi yang cukup atau legal. Benar bahwa ada 3500 TKI yang akan menjadi pekerja baru di negara-negara tetangga.

Pembaca kritis juga mampu menilai kebermanfaatan teks atau baik atau buruk teks tersebut bagi pembaca. Misal, pembaca berpendapat bahwa komentar pelapor yang menanyakan pemirsa tentang apakah informasi tersebut menjadi sesuatu yang membanggakan atau menyedihkan merupakan suatu gagasan yang sangat baik, karena merangsang pembaca untuk berpikir.

Jadi pembaca kritis adalah pembaca yang menggunakan lebih banyak kemampuan berpikirnya, pengetahuan, dan pengalamannya.

Pemahaman Kreatif

Keterampilan membaca dengan pemahaman kreatif merupakan keterampilan membaca yang berada pada tingkat paling tinggi. Di samping memiliki kemampuan yang dimiliki oleh pembaca tingkat pemahaman literal, interpretasi, dan kemampuan berpikir kritis, pembaca kategori ini mampu menerapkan gagasan-gagasan yang ada pada teks atau bacaan ke situasi baru; mengombinasikan gagasan yang dimiliki pembaca dengan gagasan yang dalam teks serta mampu memperluas konsep-konsep yang ada dalam teks dibacanya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pembaca kreatif berusaha secara kreatif menciptakan sesuatu yang baru berdasarkan gagasan-gagasan yang ada dalam teks.

Berikut ini contoh pembaca yang kreatif yang membuat tulisan berdasarkan kemampuannya memahami, menginterpretasi, dan menilai teks yang dibacanya. Berikut ini gagasan baru yang dituliskannya.

Suatu kemajuan telah dicapai oleh pemerintah kita dalam hal mengatasi masalah tenaga kerja Indonesia yang telah bertahun bahkan berpuluh tahun tidak dapat diselesaikan. Tahun ini merupakan tahun cemerlang bagi departemen tenaga kerja yang telah mampu menumpas oknum- oknum pengiriman TKI ke luar negeri. Tiga ribu lima ratus tenaga kerja telah disebar ke berbagai negara tetangga, suatu kemajuan yang sangat luar biasa. Negara kita juga menjadi bersih dari orang-orang rakus yang mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan kesulitan dan penderitaan orang lain.

Apakah pengiriman tiga ribu lima ratus orang Indonesia bekerja di negara orang sebagai pembantu rumah rangga, tukang kebun, supir, kuli bangunan, dapat dikatakan sebagi suatu kebanggaan? Bukankah jenis pekerjaan itu merupakan suatu pekerjaan yang tidak beda dengan pesuruh pada tingkat yang paling rendah? Apakah mereka, tenaga- tenaga kerja itu lebih merasa terhormat jika bekerja dengan bangsa lain dibandingkan dengan bangsanya sendiri?

Mereka, para pekerja itu seharusnya sadar bahwa sebenarnya mereka bukan hanya menjual tenaga mereka, tetapi mereka juga telah menjual kehormatan mereka sebagai bangsa. Jangan juga lupa bahwa mereka juga sebenarnya telah mempertaruhkan nyawa mereka secara sia-sia.

Para pejabat, Jangan Anda menganggap diri Anda sebagai pemimpin jika belum mampu memaknai masalah ini lebih mendalam. Mengekspor TKI ke luar negeri mungkin akan menghasilkan devisa yang sangat besar, tetapi menjual kehormatan bangsa adalah kerugian yang lebih besar. Jika para pejuang kemerdekaan hidup kembali, mereka akan menangis, mereka sangat terpukul dengan keadaan seperti ini. Dan seterusnya.

Saudara, wacana di atas merupakan hasil karya seorang pembaca kreatif yang diperoleh dari hasil membaca. Karya-karya baru yang dapat dihasilkan seorang pembaca kreatif tidak hanya berupa karya tulis baru, tetapi juga menghasil hasil karya dalam bentuk lain. Misal, dari sebuah teks cerita atau puisi, seorang pembaca yang pelukis dapat membuat lukisan berdasarkan cerita atau puisi yang dibacanya; dan hasil membaca, seorang pembaca kreatif dapat memunculkan ide baru berupa sebuah industri rumahan yang dapat menampung tenaga kerja baru. Karya-karya baru yang muncul dari seorang pembaca kreatif sangat beragam, bergantung bahan bacaan yang dibacanya.

Demikian Saudara, keterampilan membaca tingkat kreatif seperti di atas dapat Anda latih dengan cara banyak membaca.

Teknik-teknik Membaca Intensif

Teknik membaca intensif bertolak pada teori skemata. Menurut Rumelhart (1983), inti dari sebuah pemahaman ditentukan oleh suatu struktur kognitif yang disebut skemata. Menurut teori ini, pengetahuan yang diperoleh seseorang dari lingkungan sekitarnya disimpan dalam memorinya dalam bentuk jaringan atau struktur yang saling terkait, yang membentuk skemata.

Kepemilikan skemata berpengaruh terhadap kualitas pemahaman seseorang terhadap suatu permasalahan. Menurut Adams (1977),  pemahaman akan sesuatu bergantung pada struktur pengetahuan yang dimiliki pembacanya. Pendapat ini senada dengan temuan Branford dan Franks (1995). Menurutnya, kemampuan membaca seseorang akan sangat bergantung pada banyaknya informasi awal yang diterima dan dimilikinya.

Struktur pengetahuan itu disebut skemata. Skemata itu sendiri terbagi ke dalam tiga kategori, yakni

  1. skemata isi berkaitan dengan isi pengetahuan, tema atau topik disiplin ilmu;
  2. skemata formal berkaitan dengan bentuk penyampaian pesan, seperti puisi, prosa fiksi, prosa nonfiksi, dll.;
  3. skemata linguistik berkaitan dengan kompetensi bahasa dan berbahasa.

Pemanfaatan skemata untuk memprediksi apa yang dibaca mencerminkan model membaca top-down. Pembaca yang mengandalkan informasi dari teks dalam proses membacanya tergolong bergaya bottom-up. Model membaca yang memadukan kedua model tersebut disebut model interactice. Model membaca interaktif akan mengaktifkan struktur kognitif (skemata), baik sebelum, selama, maupun sesudah kegiatan membaca dilakukan.

Teknik Membaca Intensif

Selanjutnya, mari kita bicarakan teknik-teknik membaca intensif yang prosedur pelaksanaannya berlandaskan pada teori membaca interaktif dari Rumelhart. Teknik-teknik dimaksud lazim digunakan untuk kepentingan studi, yakni SQ3R (SURTABAKU menurut istilah Tampubolon), KWLH, dan CATU.

Teknik SQ3R (SURTABAKU)

Teknik ini pertama kali digagas oleh seorang guru besar Psikologi dari Ohio State University, Prof. Francis P. Robinson (1941). SQ3R merupakan singkatan dari Survei, Question, Read, Recite, dan Review. Tampubolon mengindonesiakannya menjadi SURTABAKU, singkatan dari Survei, Tanya, Baca, Katakan, dan Ulang. Singkatan ini sekaligus  juga  mencerminkan suatu prosedur atau langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan kegiatan membaca intensif. Teknik SQ3R lebih tepat digunakan untuk kepentingan studi atau membaca untuk studi. Membaca untuk studi tidak selalu didasarkan atas minat dan kebutuhan. Kadang-kadang pembaca melakukan aktivitas bacanya itu lebih didorong oleh suatu keharusan, misalnya untuk kepentingan tes dan ujian. Artinya, bahan bacaan apapun, diminati atau tidak, disukai atau tidak, dibutuhkan atau tidak, tetap harus dibaca, dipahami, dan dikuasai.

Teknik SQ3R lebih tepat digunakan untuk membaca buku. Prosedur pelaksanaannya dalam membaca intensif menempuh langkah-langkah berikut.

Survei (Menjajagi)

Pada langkah ini, pembaca melakukan penjajagan atau survei awal mengenai gambaran umum isi buku itu sebelum kegiatan membaca yang sesungguhnya dilakukan. Sasaran survei biasanya ditujukan terhadap anatomi buku. Hal-hal yang harus anda cermati pada saat survei adalah hal-hal berikut:

  1. bagian pendahuluan, meliputi:
    • halaman cover luar (judul buku, pengarang, penerbit, tempat dan tahun terbit, edisi, cetakan),
    • daftar isi,
    • daftar tabel,
    • daftar grafik/gambar,
    • kata pengantar,
    • abstrak;
  2. bagian isi, meliputi :
    • urutan dan tata penyajian isi buku,
  3. bagian akhir/penutup, meliputi:
    • bagian kesimpulan dan rekomendasi,
    • biografi penulis,
    • apendiks,
    • daftar pustaka.

Catatan: Pertanyaan-pertanyaan pemandu yang bisa anda ajukan pada saat survei ini berkenaan dengan gambaran umum isi buku, kebermanfaatannya, kemenarikan, letak-letak informasi fokus yang diperlukan, otoritas dan kredibilitas pengarang, keorisinilan dan aktualitas tema tulisan, kemutakhiran dan kelengkapan sumber-sumber rujukan, kelogisan dan kesistematisan sajian, dan lain-lain.

Question (Bertanya)

Setelah memperoleh gambaran umum mengenai buku yang akan dibacanya, langkah berikutnya adalah mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai buku itu. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin berkenaan dengan apa yang ingin Anda ketahui, apa yang seharusnya anda ketahui, atau apa yang anda ragukan. Mula-mula anda akan mencatat pertanyaan apapun yang muncul dalam benak Anda tanpa mempedulikan payung-payung temanya. Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan itu harus dikelompokkan berdasarkan payung-payung temanya. Pertanyaan-pertanyaan yang anda buat akan memandu kegiatan baca anda secara aktif untuk mencari jawaban, membuktikan jawaban, menolak, mengkritiki, atau mengukuhkan gagasan pengarangnya.

Read (Membaca)

Langkah berikutnya adalah kegiatan membaca. Terdapat beberapa teknik membaca yang bisa anda gunakan, misalnya skimming, scanning, membaca cepat pola vertikal, pola diagonal, pola wig-zag, pola blok, pola spiral, pola horizontal, dan lain-lain. Dengan berpedoman pada pertanyaan yang anda rumuskan, kegiatan membaca yang anda lakukan akan bersifat fleksibel, yakni kegiatan membaca yang disesuaikan dengan bahan, jenis, tingkat kesulitan bahan, tujuan, keperluan, dari pembacanya. Tidak semuabahan bacaan akan dihadapi dengan cara yang sama, baik dalam tempo, kecepatan, teknik dan strategi baca yang anda terapkan.

Melalui kegiatan membaca, anda akan memperoleh beberapa alternatif simpulan:

  1. pertanyaan terjawab,
  2. pertanyaan tidak terjawab,
  3. pertanyaan    terjawab    tetapi     tidak     puas     dan     tidak     lengkap,
  4. memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru,
  5. menolak gagasan penulis,
  6. mengukuhkan gagasan penulis, dan lain-lain.
Recite (Menceritakan)

Setelah kegiatan membaca dilakukan, langkah berikutnya adalah mengecek hasil baca tersebut melalui langkah penceritaan kembali. Maksudnya, setelah kegiatan membaca selesai dilakukan anda akan menginternalisasikannya ke dalam sistem memori anda guna meyakinkan perolehan informasi yang anda dapatkan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan orang dalam langkah ini. Ada yang memadukannya dengan kegiatan membuat ikhtisar bacaan, mencatat butir-butir penting bacaan, membuat peta konsep hasil bacaan, membuat bagan atau skema, dan lain-lain.

Review (Meninjau Ulang)

Untuk memastikan pemahaman anda terhadap buku yang dibaca, langkah terakhir dari SQ3R adalah meninjau ulang seluruh rangkaian kegiatan baca anda, terutama butir-butir penting yang mungkin tidak atau belum terkuasai. Jika ada bagian yang menurut anda lemah, anda harus mengulang kembali langkah 2, 3, dan 4 (Question, Read, dan Recite) secara intensif. Melalui kegiatan review, anda bukan sekedar bisa mendeteksi dan mempelajari ulang bagian yang belum terkuasai, tetapi juga dapat memantapkan bagian yang sudah anda kuasai.

Ingin memahami buku dengan baik lewat kegiatan membaca? Cobalah gunakan metode/teknik SQ3R!

Teknik KWLH

Teknik ini sebagaimana teknik SQ3R juga cocok digunakan untuk kepentingan studi. KWLH merupakan singkatan dari Know, Want, Learned, dan How. Melihat deretan kata-kata yang terbentuk dari singkatan itu, teknik KWLH hendak menuntun pembaca pada kegiatan membaca selektif sesuai dengan kebutuhan dan keperluan.

Prosedur pelaksanaan teknik KWLH dalam membaca intensif menempuh langkah-langkah berikut.

Know atau Pengetahuan Siap

Langkah pertama dari teknik ini adalah pengecekan pengetahuan siap yang dimiliki pembaca mengenai topik bacaan yang akan dibacanya. Pertanyaan kunci yang dapat diajukan pada langkah ini adalah “Apa yang sudah saya ketahui mengenai topik ini?” Pengetahuan tentang topik yang akan dibaca sebenarnya tidak wajib ada, tetapi alangkah baiknya jika pembaca memilikinya. Ketersediaan pengetahuan siap ini akan membantu pembaca dalam memahami bacaan dan berkontribusi terhadap kecepatan baca. Dengan demikian, pembaca dapat meningkatkan kecepatan membaca secara interaktif dan fleksibel.

Want atau Keinginan/Keperluan

Berdasarkan pengecekan pengetahuan siap yang sudah tersedia, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi hal-hal yang ingin atau hendak diketahui lebih lanjut mengenai topik tersebut. Pertanyaan kunci yang dapat diajukan pada langkah ini adalah “Apa yang ingin dan harus saya ketahui mengenai topik ini?”Pembaca perlu menetapkan hal-hal yang ingin dan harus diketahui dari bacaannya itu.

Hal-hal yang ingin dan harus diketahui pembaca itu mungkin berkaitan dengan konsep/informasi yang:

  1. tidak tersedia dalam pengetahuan siapnya,
  2. memerlukan pendalaman dan penguatan,
  3. berbeda atau bahkan bertentangan dengan pengetahuan siap yang telah dimilikinya,
  4. mencerminkan perspektif baru pengarangnya,
  5. sesuai dengan kebutuhan fungsional pembacanya.
Learn (ed) atau Keharusan Mempelajari

Berbekal hal-hal yang ingin dan harus diketahui dari bacaan itu, langkah berikutnya adalah mempelajari hal-hal dimaksud melalui kegiatan membaca. Pertanyaan kunci yang dapat diajukan pada langkah ini adalah “Apa dan bagian mana dari bacaan itu yang harus saya baca dan pelajari?; Informasi apa yang sudah saya peroleh dari kegiatan membaca itu?” Melalui kegiatan membaca, pembaca akan mencari dan menemukan informasi yang diperlukannya. Kegiatan ini pun sekaligus dapat dijadikan tolok ukur untuk mengukur apa-apa saja yang dapat diperolehnya dari kegiatan membaca itu.

How atau Pengontrolan Hasil Baca, “Bagaimana?”

Melalui kegiatan membaca, pembaca berusaha mencari, menemukan, dan mempelajari apa yang diperlukannya dari bacaan. Untuk meyakinkan diri bahwa apa yang telah dipelajari itu dianggap memadai dan cukup dikuasai, langkah berikutnya adalah melakukan perenungan dan internalisasi. Pertanyaan kunci yang dapat diajukan pada langkah ini adalah “Apakah saya masih memerlukan informasi tambahan untuk melengkapi informasi yang sudah saya peroleh dari bacaan itu? Yang dimaksud dengan informasi tambahan bisa berarti penguatan terhadap bagian-bagian yang dianggap penting atau bagian-bagian yang belum dikuasai dengan baik. Atau, informasi tambahan bisa juga berarti penambahan dan perluasan atas suatu informasi tertentu yang memerlukan pendalaman.

Teknik KWLH menuntut pembaca untuk melakukan kegiatan membaca secara kritis. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukannya adalah mengingat dan menyiapkan seluruh pengetahuan siap yang telah dimilikinya mengenai berbagai informasi. Selanjutnya, pembaca melakukan identifikasi dan menentukan apa-apa yang ingin dan perlu diketahui dari bacaan yang hendak dibacanya Berbekal keingintahuannya itu, pembaca melakukan kegiatan baca secara sungguh-sungguh, intensif, dan kritis.

Melalui proses perenungan dan internalisasi, pembaca akan dapat mengukur kuantitas dan kualitas perolehan informasi dari kegiatan membacanya itu. Dengan begitu, ia akan dapat menentukan kegiatan tindak lanjut. Jika apa yang diperolehnya dirasakan cukup dan telah memenuhi keperluannya, dia tidak perlu melakukan kegiatan membaca ulang atau membaca sumber lain yang berkaitan. Akan tetapi, jika hal itu belum terpenuhi, pembaca akan terus melakukan pencarian, pendalaman, dan perluasan bahan bacaan.

Teknik CATU

CATU merupakan kependekan dari Cari, Tulis-kembali, dan Uji. Teknik ini lebih cocok digunakan untuk membaca karya-karya ilmiah yang lebih pendek mengenai suatu topik tertentu, misalnya pada artikel-artikel ilmiah, bab-bab atau sub-subbab sebuah buku, atau mungkin catatan-catatan kuliah. Sama seperti halnya dengan teknik SQ3R dan KWLH, singkatan yang menamai teknik ini juga mencerminkan prosedur atau langkah-langkah kegiatan membaca yang harus ditempuh pembacanya.

Langkah-langkah teknik CATU meliputi prosedur berikut:

Cari (CA)

Langkah ini mengharuskan pembaca untuk mencari butir-butir penting bacaan, setelah sebelumnya menentukan informasi fokus yang hendak dipelajari. Pada teknik ini, pembaca tidak dituntut untuk melakukan penjajagan awal atau survei terlebih dahulu, karena informasi fokus yang hendak dipelajari sudah tertentu. Oleh karena itu, kegiatan langsung diarahkan pada kegiatan membaca untuk mencari butir-butir penting bacaan dan mengolahnya menjadi sebuah pemahaman.

Tulis-kembali (T)

Pada langkah ini, pembaca akan menginternalisasikan apa yang sudah diperoleh dan dipahaminya dari bacaan itu dengan cara menuliskannya kembali dengan menggunakan kata-kata sendiri. Ada banyak cara yang bisa ditempuh dalam langkah ini. Membuat ringkasan bacaan, peta konsep dalam bentuk bagan atau skema, ringkasan dalam bentuk kerangka atau outline, dan lain-lain. Setiap orang memiliki kebiasaan, cara/gaya, kecocokan, dan kesukaan yang berbeda dalam membuat “jembatan keledai”. Semakin banyak dan lengkap informasi yang bisa direkam ulang dengan kata-kata sendiri dalam langkah ini, semakin baik pula pemahaman yang diperoleh dari kegiatan membaca itu.

Uji (U)

Langkah terakhir dari teknik CATU adalah pengujian atau pengecekan pemahaman. Pemahaman pembaca terhadap hasil baca yang ditunjukkan lewat langkah dua (tulis-kembali) belum tentu tepercaya. Untuk mengukur keterandalan dan ketepercayaannya, pembaca perlu melakukan langkah 3 yakni pengujian atau pengecekan hasil baca. Pengujian dapat dilakukan dengan jalan mencobakan atau mengimplementasikan konsep-konsep yang diperoleh itu pada hal-hal lain yang memiliki kesamaan masalah. Pengujian dapat pula dilakukan dengan memberikan contoh-contoh lain yang berbeda dari apa yang dicontohkan dalam bacaan. Jika hal itu dapat dilakukan pembaca dengan mudah, artinya dia telah memahami dan menguasai apa yang telah dipelajari dan dibacanya itu dengan baik.

Membaca Ekstensif

Hakikat Membaca Ekstensif

Membaca ekstensif lebih ditujukan untuk membaca secara komprehensif dengan cakupan bahan bacaan yang lebih luas. Jenis membaca ini dipergunakan untuk mengakses informasi sebanyak-banyaknya dari beragam bacaan dengan cepat. Membaca ekstensif bukan untuk kepentingan pendalaman informasi, melainkan untuk perluasan informasi.

Sementara ahli menyebutkan bahwa membaca ekstensif sering dimanfaatkan untuk menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca. Kegiatan membaca dipandang sebagai kebutuhan rohani yang harus selalu dipenuhi.

Karakteristik Membaca Ekstensif

Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat beberapa indikator yang dapat dijadikan karakteristik bagi membaca ekstensif. Beberapa karakteristik dimaksud meliputi hal-hal berikut.

  1. Cakupan bacaan lebih luas, lebih banyak, lebih variatif.
  2. Bahan bacaan sesuai dengan pilihan pembaca (minat dan keperluan).
  3. Tujuan membaca lebih ditujukan pada pemahaman secara komprehensif, memperkaya informasi, atau memenuhi kesenangan daripada pemahaman yang mendalam.
  4. Kecepatan baca bertaraf sedang.
  5. Kegiatan membaca bersifat individual.
  6. Tindak lanjut kegiatan membaca lebih mengarah pada respons personal ketimbang pengujian atau pengetesan.

Berdasarkan beberapa karakteristik di atas, membaca ekstensif bermanfaat untuk hal-hal berikut:

  1. memperkaya input (pengetahuan siap/skemata) sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas pemahaman dalam menerima informasi baru;
  2. menambah dan meningkatkan kompetensi bahasa dan kompetensi berbahasa;
  3. memperkaya perbendaharaan kosakata;
  4. mengenali dan memahami berbagai jenis dan bentuk tulisan sebagai dasar untuk menumbuhkan keterampilan menulis;
  5. menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca atas dasar motivasi intrinsik; dan
  6. menumbuhkan rasa percaya diri.

Teknik-teknik Membaca Ekstensif

Menurut Broughton (1978), membaca ekstensif dapat dilakukan melalui tiga cara, yakni:

  1. survei reading (membaca survei),
  2. skimming (membaca sekilas),
  3. superficial reading (membaca dangkal).

Penggunaan ketiga teknik membaca ini dilakukan secara fleksibel bergantung pada situasi dan kondisi, terutama bergantung pada tujuan baca dan waktu yang tersedia untuk membaca.

Survei Reading (Membaca Survei)

Teknik membaca ini dipergunakan jika pembaca ingin mengetahui gambaran umum sebuah atau beberapa buah buku/bacaan, atau memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Ketika kita pergi ke toko buku atau pameran buku kadang-kadang kita dihadapkan pada banyak pilihan, padahal kita tidak memiliki banyak waktu untuk berlama-lama menentukan pilihan. Untuk situasi seperti ini, teknik membaca survei sangat cocok dipergunakan.

Hal-hal yang sebaiknya menjadi fokus perhatian dalam membaca survei adalah bagian-bagian bacaan berikut ini:

  1. bagian sampul depan buku: judul, pengarang, penerbit, tahun dan kota terbit; cetakan ke-…
  2. bagian halaman-halaman awal buku: kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik;
  3. bagian halaman belakang: biografi pengarang, daftar pustaka, indeks, lampiran-lampiran, glosarium;
  4. bagian dalam buku: judul-judul bab dan subbab, bagan, skema, gambar- gambar dan ilustrasi lain.

Bagian-bagian yang menjadi fokus survei tadi akan memberikan gambaran umum isi buku, meliputi:

  1. hakikat isi bacaan,
  2. pengorganisasi tulisan,
  3. pendekatan dan sikap pengarang terhadap masalah yang ditulisnya.

Berbekal gambaran umum tersebut, pembaca akan dapat memutuskan tingkat kepentingan buku itu untuk dirinya.

Skimming (Membaca Sekilas)

Teknik ini digunakan untuk tujuan-tujuan berikut:

  1. memperoleh kesan umum sebuah bacaan;
  2. menemukan informasi tertentu dari suatu bacaan;
  3. mencari bahan/sumber bacaan di perpustakaan.

Teknik skimming merupakan teknik membaca cepat dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. membaca dengan kecepatan tinggi;
  2. memfokuskan perhatian hanya pada butir-butir penting bacaan atau bagian-bagian informasi yang dibutuhkan;
  3. menentukan terlebih dahulu informasi khusus yang dibutuhkan;
  4. menyiapkan/mengingat kata kunci (inti) yang hendak dicari.

Dalam kehidupan sehari-hari, secara fungsional teknik membaca skimming sering kita gunakan pada saat mencari informasi-informasi tertentu dari bacaan, misalnya mencari nomor telepon seseorang pada buku telepon, mencari iklan tertentu dari surat kabar, menemukan jadwal penerbangan pesawat, jadwal kereta api, mencari penjelasan suatu istilah dalam sebuah indeks buku, dan lain-lain. Untuk hal-hal tersebut, teknik  skimming  itu sering juga disebut membaca memindai.

Superficial Reading (Membaca Dangkal)

Membaca dangkal (Superficial Reading) pada dasarnya digunakan untuk tujuan memperoleh pemahaman ala kadarnya, pemahaman dangkal yang bersifat luaran, tidak mendalam, atau membaca untuk mencari kesenangan dan hiburan. Mengingat tujuannya yang tidak mendalam, teknik membaca ini lebih cocok digunakan untuk hal-hal berikut;

  1. membaca koran/surat kabar,
  2. majalah-majalah hiburan,
  3. karya-karya sastra untuk penikmatan (bukan pendalaman atau pengkritisian) seperti cerpen, novel, dongeng, hikayat- hikayat, dan lain-lain,
  4. pamplet-pamplet, brosur, iklan, pengumuman, dan sejenisnya.

Ketiga teknik membaca (survei, skimming, dan dangkal) yang tergolong ke dalam teknik membaca ekstensif ini lebih tepat dilakukan di luar kelas dan bersifat individual. Untuk kepentingan studi dan belajar, penggunaan teknik membaca intensif hanyalah tahap awal yang masih harus diikuti oleh teknik- teknik membaca intensif.

Rangkuman Hakikat Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Kegiatan membaca dilakukan untuk berbagai tujuan dan keperluan. Oleh karena itu, diperlukan keterampilan membaca yang fleksibel. Pembaca fleksibel adalah pembaca yang pandai memilih dan menerapkan strategi baca yang tepat dalam menghadapi bahan bacaannya.

Definisi membaca yang dikemukakan para ahli dapat dikategorikan ke dalam dua kategori yang menunjukkan tingkatan, yakni

  1. definisi yang bertumpu pada kemampuan melek huruf,
  2. definisi yang bertumpu pada melek wacana.

Yang dimaksud dengan  melek huruf adalah kemampuan mengenali lambang-lambang bunyi bahasa dan dapat melafalkannya dengan benar. Sementara, yang dimaksud dengan kemampuan melek wacana adalah kemampuan mengenali, memahami, dan memetik makna/maksud dari lambang-lambang yang tersaji dalam bahasa tulis itu dalam arti yang sesungguhnya.

Dilihat dari cakupan bahan dan keperluannya, terdapat dua jenis membaca yang sering digunakan, yakni membaca intensif dan membaca ekstensif. Membaca intensif sering diidentikkan sebagai membaca untuk studi (belajar) dengan cakupan bacaan yang lebih spesifik dan tertentu untuk mencapai pemahaman. May (dalam Marzano, 1995) membagi tingkat-tingkat pemahaman itu ke dalam empat klasifikasi, yakni pemahaman literal, interpretatif, kritis, dan kreatif. Untuk menerapkan strategi membaca intensif terdapat beberapa teknik membaca yang bisa digunakan, antara lain teknik SQ3R, KWLH, dan OPQRST.

Membaca ekstensif dipergunakan untuk kepentingan perolehan informasi yang komprehensif, meluas, tidak mendalam, atau untuk kepentingan kesenangan dan hiburan. Oleh karena itu, cakupan bahan bacaannya lebih banyak dan tidak terfokus pada satu buku atau bacaan tertentu.

Terdapat tiga teknik yang tergolong ke dalam teknik membaca ekstensif, yakni

  1. teknik survei,
  2. teknik skimming atau membaca sekilas,
  3. teknik membaca dangkal atau suferficial reading.

Referensi:

Yeti Mulyati,dkk. 2021. Bahasa Indonesia. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 4.4

Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia

2 thoughts on “Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated