Pengertian dan Manajemen Bank Umum di Indonesia

MANAJEMEN LIKUIDITAS BANK UMUM

MANAJEMEN LIKUIDITAS BANK UMUM

Manajemen likuiditas bank umum merupakan hal yang cukup kompleks. Suatu bank dianggap likuid apabila:

  1. memiliki sejumlah likuiditas sesuai (minimal sama) dengan jumlah kebutuhan likuiditasnya;
  2. memiliki likuiditas kurang dari kebutuhannya, tetapi mempunyai surat-surat berharga yang segera dapat dialihkan menjadi kas;
  3. mempunyai kemampuan untuk memperoleh likuiditas dengan cara menciptakan uang.

Manajemen Likuiditas bank umum merupakan hal yang sangat vital bagi bank. Sebagai lembaga intermediasi dana, kepercayaan nasabah deposan adalah hal yang sangat penting bagi nasabah. Salah satu aspek untuk menjaga kepercayaan nasabah deposan adalah tingkat likuiditas bank. Oleh karena itu manajemen likuiditas bank merupakan faktor penting dalam operasional bank.

baca juga: Manajemen Aktiva-Pasiva Bank Umum

Untuk menjaga likuiditas bank terdapat beberapa teori manajemen likuiditas, antara lain comercial loan theory, doctrine of assets shiftability, theory of shiftability to the market, dan the anticipated income theory.

Comercial loan theory, mempostulatkan bahwa suatu bank akan dapat terjamin likuiditasnya apabila sumber dana jangka pendek digunakan untuk mendanai kredit jangka pendek dan kredit tersebut ditujukan untuk kegiatan usaha yang berjalan normal. Sementara aktiva produktif jangka panjang harus didanai dari sumber dana jangka panjang juga.

Berbeda dengan Comercial loan theory, doctrine of assets shiftability menjelaskan bahwa bank dapat segera memenuhi kebutuhan likuiditasnya dengan memberikan shiftable loan atau call loan, yaitu pinjaman yang harus dibayar dengan pemberitahuan satu atau beberapa hari sebelumnya dengan jaminan surat-surat berharga.

Sehingga bila bank membutuhkan likuiditas suatu waktu, maka kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan cara menagih debitur, dan bila tidak tertagih bank dapat segera menjual surat-surat berharga yang menjadi jaminan. Teori ini hanya bisa berlaku bagi negara-negara dengan pasar keuangan yang cukup maju. Selain itu, bila teori ini diterapkan akan mengandung risiko turunnya harga surat berharga apabila ternyata banyak pihak yang menjual surat berharga di pasar keuangan.

Sementara itu, theory of shiftability to the market, berasumsi bahwa likuiditas suatu bank akan dapat terjamin apabila bank memiliki portfolio surat- surat berharga yang dapat segera dialihkan untuk memperoleh uang kas atau likuiditas. Teori ini muncul saat surat-surat berharga sudah menjadi populer sebagai instrumen keuangan, yaitu saat pemerintah Amerika Serikat sangat gencar menerbitkan surat berharga.

baca juga: Pengertian Akuntansi

Agak berbeda dengan teori yang lain yang lebih menekankan pada aset likuid surat berharga, the anticipated income theory, lebih menekankan pada aliran kan (cash flow). Teori ini menyatakan bahwa bank-bank seharusnya dapat memberikan kredit jangka panjang apabila pelunasan bunga dan cicilan pokok pinjaman dapat dijadwalkan pembayarannya secara rutin diwaktu yang akan datang.

Pelunasan ini dapat memberikan aliran kas yang teratur yang dapat untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bank. Apabila teori ini diterapkan ada kemungkinan munculnya risiko manakala ternyata pembayaran tidak rutin atau tersendat karena faktor-faktor eksternal, ataupun karena faktor mismanagement dari nasabah debitur.

Untuk mengukur likuiditas, terdapat beberapa rasio yang lazim digunakan, antara lain sebagai berikut.

  1. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga.
  2. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga.
  3. Rasio kewajiban bersih call money terhadap aktiva lancar.
  4. Rasio surat-surat berharga jangka pendek terhadap total portfolio surat-surat berharga.
  5. Rasio total kredit terhadap total aset.

Referensi :

Murti Lestari. 2015. Bank dan Lembaga Keuangan Nonbank. Penerbit Universitas Terbuka: Tanggerang Selatan. Hal 4.11

One thought on “MANAJEMEN LIKUIDITAS BANK UMUM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated