pengertian manusia sebagai

HUBUNGAN MANUSIA DAN AGAMA

Hubungan Manusia dan agama merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Hal ini terdapat pada manusia manapun baik dalam rentang waktu (dulu-sekarang-akan datang) maupun dalam rentang geografis tempat manusia berada.

Keberagamaan menyiratkan adanya pengakuan dan pelaksanaan yang sungguh atas suatu agama. Adapun yang dimaksud dengan agama ialah “satu sistem credo (tata keimanan atau keyakinan) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia; satu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu; dan satu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya yang sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud di atas (Endang Saifuddin Anshari, 1982).

Seperti telah kita maklumi, manusia memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Di lain pihak, Tuhan pun telah menurunkan wahyu melalui utusan-utusanNya, dan telah menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk dipikirkan oleh manusia agar manusia beriman dan bertakwa kepadaNya. Manusia hidup beragama karena agama menyangkut masalah-masalah yang bersifat mutlak maka pelaksanaan keberagamaan akan tampak dalam kehidupan sesuai agama yang dianut masing-masing individu. Hubungan Manusia dan agama berkenaan dengan sistem keyakinannya, sistem peribadatan maupun pelaksanaan tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia serta hubungan manusia dengan alam.

Baca juga: Manusia sebagai makhluk berbudaya

Dalam keberagamaan ini manusia akan merasakan hidupnya menjadi bermakna. Tata cara hidup dalam berbagai aspek kehidupannya, jelas pula apa yang menjadi tujuan hidupnya sebagai berikut.

a. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat yang mulia.

b. Manusia adalah kemauan bebas. Inilah kekuatannya yang luar biasa dan tidak dapat dijelaskan: kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yang bebas kepadanya dunia alam world of nature, sejarah, dan masyarakat sepenuhnya

bergantung serta terus menerus.

c. Manusia adalah makhluk yang sadar. Ini adalah kualitasnya yang paling menonjol. Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yang menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yang tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa.

d. Manusia adalah makhluk yang sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satusatunya makhluk hidup yang mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri, ia mampu mempelajari, menganalisis, mengetahui, dan menilai dirinya.

e. Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib semu quasi-miracolous yang memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya.

f. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yang ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yang ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yang seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yang ada.  Kekuatan inilah yang selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat, dan mencipta dalam alam jasmaniah dan rohaniah.

g. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yang ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yang lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.

h. Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yang bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yang independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yang tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.

Demikianlah penjelasan tentang Hubungan Manusia dan agama

Sumber:

Buber, M. 1959. Between Man and Man. (Translated by Ronald Gregor Smith). Boston: Beacon Press.

Butler, J. D. 1957. Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion. New York: Harper & Brothers Publishers.

Cassirer, E. 1987. An Essay On Man. (Terj.: Alois A. Nugroho). Jakarta:Gramedia.

Friedman, S.M. 1954. Martin Buber, The. Life of Dialogue. London: Routledge and Began Paul Ltd.

Frost Jr., S.E. 1957. Basic Teaching of The Great Philosophers. New York: Barnes & Nobles.

Hasan, F. 1973. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: Pustaka Jaya.

Henderson, S.v.P. 1959. Introduction to Philosophy of Education. Chicago: The University of Chicago Press.

Sumantri, Muhammad S. 2017. Pengantar Pendidikan. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka

2 thoughts on “HUBUNGAN MANUSIA DAN AGAMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated