pengertian manusia sebagai

MANUSIA ANTARA JASMANI DAN ROHANI

Manusia antara jasmani dan rohani adalah hubungan sudah dipelajari oleh manusia sejak awal mula kehadirannya dipentas dunia. Para filsuf berpendapat yang berkenaan dengan struktur metafisik manusia. Terdapat empat paham mengenai jawaban atas permasalahan tersebut, yaitu

1) Materialisme,

2) Idealisme,

3) Dualisme,

4) Manusia sebagai kesatuan jasmani rohani

Materialisme

Gagasan para penganut Materialisme, seperti Julien de La Mettrie dan Ludwig Feuerbach bertolak dari realita sebagaimana dapat diketahui melalui pengalaman diri atau observasi. Oleh karena itu, alam semesta atau realitas ini tiada lain adalah serba materi, serba zat, atau benda. Manusia merupakan bagian dari alam semesta sehingga manusia tidak berbeda dari alam itu sendiri. Sebagai bagian dari alam semesta, manusia tunduk pada hukum alam, hukum kualitas, hukum sebab-akibat atau stimulus-respon. Manusia dipandang sebagai hasil puncak mata rantai evolusi alam semesta sehingga mekanisme tingkah lakunya (stimulus-respon) semakin efektif.

Baca juga: Sebagai Makhluk Tuhan

Yang esensial dari manusia adalah badannya, bukan jiwa atau rohnya. Manusia adalah apa yang nampak dalam wujudnya, terdiri atas zat (daging, tulang, dan urat syaraf). Segala hal yang bersifat kejiwaan, spiritual atau rohaniah pada manusia dipandang hanya sebagai resonansi saja dari berfungsinya badan atau organ tubuh. Pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai Epiphenomenalisme (J.D. Butler, 1968).

Idealisme

Bertolak belakang dengan pandangan materialisme, penganut Idealisme menganggap bahwa esensi diri manusia adalah jiwanya atau spiritnya atau rohaninya, hal ini sebagaimana dianut oleh Plato. Sekalipun Plato tidak begitu saja mengingkari aspek badan, namun menurut dia, jiwa mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada badan. Dalam hubungannya dengan badan, jiwa berperan sebagai pemimpin badan, jiwalah yang mempengaruhi badan karena itu badan mempunyai ketergantungan kepada jiwa. Jiwa adalah asas primer yang menggerakkan semua aktivitas manusia, badan tanpa jiwa tiada memiliki daya. Pandangan tentang hubungan badan dan

jiwa seperti itu dikenal sebagai Spiritualisme (J.D.Butler, 1968).

Dualisme

Dalam uraian terdahulu tampak adanya dua pandangan yang bertolak belakang. Pandangan pihak pertama bersifat monis–materialis, sedangkan pandangan pihak kedua bersifat monis– spiritualis. C.A. Van Peursen (1982) mengemukakan paham lain yang secara tegas bersifat dualistik, yakni pandangan dari Rene Descartes. Menurut Descartes, esensi diri manusia terdiri atas dua substansi, yaitu badan dan jiwa. Oleh karena manusia terdiri atas duasubstansi yang berbeda (badan dan jiwa) maka antara keduanya tidak terdapat hubungan saling mempengaruhi (S.E. Frost Jr., 1957), namun demikian setiap peristiwa kejiwaan selalu paralel dengan peristiwa badaniah atau sebaliknya. Contohnya, jika jiwa sedih maka secara paralel badanpun tampak murung atau menangis. Pandangan hubungan antara badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai Paralelisme (J.D. Butler, 1968).

Manusia sebagai kesatuan jasmani rohani

Manusia hidup dalam ruang dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai berbagai kebutuhan, insting, nafsu, serta mempunyai tujuan. Selain itu, manusia mempunyai potensi untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan potensi untuk berbuat baik, potensi untuk mampu berpikir (cipta), potensi berperasaan (rasa), potensi berkehendak (karsa), dan memiliki potensi untuk berkarya. Adapun dalam eksistensinya manusia memiliki aspek individualitas, sosialitas, moralitas, keberbudayaan, dan keberagaman. Implikasinya maka manusia itu berinteraksi atau berkomunikasi, memiliki historisitas, dan dinamika

Sumber:

Buber, M. 1959. Between Man and Man. (Translated by Ronald Gregor Smith). Boston: Beacon Press.

Butler, J. D. 1957. Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion. New York: Harper & Brothers Publishers.

Cassirer, E. 1987. An Essay On Man. (Terj.: Alois A. Nugroho). Jakarta:Gramedia.

Friedman, S.M. 1954. Martin Buber, The. Life of Dialogue. London: Routledge and Began Paul Ltd.

Frost Jr., S.E. 1957. Basic Teaching of The Great Philosophers. New York: Barnes & Nobles.

Hasan, F. 1973. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: Pustaka Jaya.

Henderson, S.v.P. 1959. Introduction to Philosophy of Education. Chicago: The University of Chicago Press.

Sumantri, Muhammad S. 2017. Pengantar Pendidikan. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated