Membaca kritis dalam bahasa Indonesia

Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia

Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia

Membaca kritis dalam bahasa Indonesia bertujuan untuk memahami apa yang telah dibaca. Memahami sendiri merupakan sasaran yang paling sederhana dari kegiatan membaca. Setelah itu, lebih jauh Anda dituntut  untuk dapat menilai apa yang telah Anda baca itu dari berbagai aspek. Untuk dapat menilai bacaan, diperlukan keterampilan membaca kritis. Oleh karena itu, Anda akan di ajak untuk mengenal, memahami, dan menerapkan keterampilan membaca kritis dalam kegiatan membaca. Dengan demikian, Anda diharapkan bukan saja memiliki kemampuan memahami bacaan dengan baik, melainkan juga dapat memberikan penilaian secara kritis terhadap apa yang dibaca.

HAKIKAT MEMBACA KRITIS

Dalam kegiatan membaca, setelah Anda dapat memahami isi bacaan yang dibaca, mungkin timbul pertanyaan dalam diri Anda, “Apa maksud penulis sebenarnya?” Sewaktu kegiatan membaca berlangsung, pertanyaan- pertanyaan berikut juga mungkin muncul dalam benak Anda. “Mengapa penulis menulis seperti itu? Apa maksud yang diusung di balik tulisannya itu? Apakah yang disampaikannya itu mengandung kebenaran? Dan mungkin masih banyak pertanyaan lain bermunculan dalam benak Anda. Jika itu yang terjadi, maka berbahagilah Anda karena sesungguhnya Anda telah bersikap kritis terhadap bacaan dan penulisnya.

Pada dasarnya, saat seseorang membaca kritis (critical reading) dia melakukan kegiatan membaca dengan bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan ingin mencari-cari kesalahan penulis. Membaca kritis adalah kemampuan memahami makna tersirat dan tersorot sebuah bacaan. Untuk itu, di dalam membaca kritis diperlukan kemampuan berpikir dan bersikap kritis. Dalam kegiatan membaca kritis, pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis. (Harris et. al. 1983; Smith, 1986; dalam Tarigan, 1988:89).

Membaca kritis merupakan suatu strategi membaca yang bertujuan untuk mendalami isi bacaan berdasarkan penilaian yang logis-rasional, analitis, dan kritis. Pembaca turut terlibat sedemikian rupa secara mendalam dengan pikiran-pikiran penulisnya. Dia melakukan analisis demi analisis dalam memaknai setiap informasi yang tersaji dalam bacaan. Dengan membaca kritis, pembaca dapat pula mencamkan lebih dalam apa yang dibacanya. Di samping itu, pembaca pun akan memiliki kepercayaan diri yang lebih, dalam mengkritisi pikiran orang lain.

Melalui kegiatan membaca kritis, pembaca bukan hanya sekedar berupaya menemukan fakta-fakta, informasi-informasi, kebenaran-kebenaran yang tertulis dalam suatu bacaan, melainkan juga menemukan alasan-alasan mengapa sang penulis mengatakan/mengemukakan apa yang ditulisnya itu. Dengan kata lain, pembaca bukan hanya sekedar menemukan apa yang dikatakan penulis, melainkan juga menemukan jawab, mengapa hal itu dikatakannya. Itulah ciri dari berpikir kritis sebagai hasil dari kegiatan membaca kritis.

KARAKTERISTIK MEMBACA KRITIS

Coba Anda renungkan, apa dan bagaimana kebiasaan membaca Anda? Apakah Anda membaca hanya sekedar mencari tahu bermacam-macam informasi, memahami bacaan, atau lebih jauh menilai apa yang Anda baca? Jika proses membaca Anda sudah sampai pada penilaian terhadap apa yang dibaca, biasanya Anda tidak akan bisa menghindar dari keinginan untuk memberikan komentar, tanggapan, pendapat, bahkan usulan. Jika Anda mengalami pengalaman seperti itu, artinya Anda sudah memasuki tahap membaca kritis.

Salah satu ciri dari membaca kritis adalah berpikir dan bersikap kritis. Berpikir dan bersikap kritis itu ditandai oleh hal-hal berikut:

  1. kemampuan menginterpretasi secara kritis;
  2. menganalisis secara kritis;
  3. mengorganisasi secara kritis;
  4. menilai secara kritis;
  5. menerapkan konsep secara kritis (Nurhadi, 1987:143).

Lebih jauh, Nurhadi (1987) memberikan sejumlah teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan sikap kritis, yakni:

  1. kemampuan mengingat dan mengenali bahan bacaan,
  2. kemampuan menginterpretasi makna tersirat,
  3. kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep dalam bacaan,
  4. kemampuan menganalisis isi bacaan,
  5. kemampuan menilai isi bacaan,
  6. kemampuan mencipta (to create) bacaan.

Keenam sikap kritis tersebut sejalan dengan konsep berpikir pada tataran ranah kognitif dalam Taksonomi Bloom yang sudah direvisi oleh Anderson dan Krathwhol (2001:268). Ranah-ranah dimaksud meliputi hal-hal berikut:

Kemampuan mengingat dan mengenali

Kemampuan mengingat dan mengenali meliputi kemampuan:

  1. mengenali peristiwa-peristiwa, latar, tempat dalam bacaan;
  2. menyebutkan tokoh-tokoh cerita dan sifat-sifatnya;
  3. menyatakan kembali definisi-definisi, prinsip-prinsip;
  4. menyatakan kembali fakta-fakta atau detil bacaan;
  5. menyatakan kembali fakta-fakta perbandingan, unsur-unsur hubungan;
  6. sebab-akibat, karakter tokoh, dan sebagainya.

Kemampuan memahami/menginterpretasi makna tersirat

Tidak semua gagasan yang terdapat dalam teks bacaan itu dinyatakan secara tersurat atau secara eksplisit pada baris kata-kata atau kalimat-kalimat (reading on the line). Sering kali pula, gagasan serta makna tersebut terkandung di balik baris kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut (reading between the line), dan untuk menggalinya diperlukan sebuah interpretasi dari Anda sebagai pembacanya. Anda harus mampu menafsirkan kata, frase, kalimat, pernyataan ide, baik pokok maupun penunjang yang tidak dinyatakan secara eksplisit oleh penulisnya. Pembaca harus mampu menafsirkan fakta-fakta dan informasi-informasi yang disajikan secara kritis.

Kemampuan menginterpretasi makna tersirat ditandai oleh kemampuan berikut:

  1. menafsirkan maksud kata/frase/kalimat/pernyataan;
  2. membuat perbandingan-perbandingan antarfakta;
  3. menentukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antarfakta;
  4. menafsirkan makna-makna tersirat suatu bacaan.

Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep

Pembaca kritis, di samping memahami makna tersirat melalui pemahaman dan interpretasi secara kritis, juga mampu menerapkan konsep- konsep yang terdapat dalam bacaan ke dalam situasi baru yang bersifat problematik.

Kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep meliputi kemampuan:

  1. mengikuti petunjuk-petunjuk dalam bacaan;
  2. menerapkan konsep-konsep/gagasan utama ke dalam situasi baru yang problematik;
  3. menunjukkan kesesuaian antara gagasan utama dengan situasi yang dihadapi;
  4. membuat contoh-contoh praktis dari konsep teoretis.

Kemampuan menganalisis

Kemampuan menganalisis ialah kemampuan pembaca melihat komponen-komponen atau unsur-unsur yang membentuk sebuah kesatuan. Kesatuan dalam bacaan meliputi gagasan-gagasan utama, pernyataan- pernyataan, simpulan-simpulan, dan sebagainya.

Pembaca kritis diharapkan melihat fakta-fakta, detil-detil penunjang, atau unsur pembentuk yang lain yang tidak disebutkan secara eksplisit. Sebuah teks bacaan pada dasarnya merupakan sebuah kesatuan gagasan yang bulat dan utuh. Setiap penulis memiliki gaya yang berbeda dalam menyajikan dan mengungkapkan gagasannya itu. Ada yang jelas tersurat, samar tersirat, atau jauh tersorot.

Kemampuan menganalisis bacaan ditandai oleh kemampuan- kemampuan berikut:

  1. mengidentifikasi ide pokok bacaan;
  2. menentukan kalimat utama paragraf;
  3. membedakan fakta dan opini;
  4. mengidentifikasi jalan pikiran penulis.

Kemampuan menyimpulkan (Sintesis)

Gagasan-gagasan yang disampaikan penulis terangkai dalam berbagai bentuk dan berbagai cara. Kemampuan menganalisis bacaan dengan baik akan menjadi dasar bagi kemampuan menyimpulkan bacaan. Fakta-fakta yang tersaji dalam bacaan, dihubung-hubungkan, dibanding-bandingkan, dicari-cari persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, lalu pembaca menemukan pikiran atau gagasan baru. Hal itu merupakan ciri dari kerja sintetis dalam kegiatan membaca.

Bentuk-bentuk atau hasil kerja penyintesisan dapat berupa simpulan/ ringkasan/ikhtisar, tema bacaan, judul yang sesuai untuk bacaan, organisasi tulisan.

Contoh-contoh kemampuan menyintesis yang didasari oleh kemampuan menganalisis, meliputi kemampuan berikut:

  1. menghubung-hubungkan gagasan utama bacaan dan mengungkapkannya kembali dengan kata-kata sendiri;
  2. menyimpulkan bacaan;
  3. membuat sinopsis;
  4. mengorganisasikan gagasan utama bacaan;
  5. menentukan tema bacaan;
  6. menyusun kerangka bacaan;
  7. membuat judul yang tepat pada sebuah bacaan;
  8. membuat ringkasan/ikhtisar bacaan.

Kemampuan menilai isi bacaan

Kemampuan menilai isi bacaan secara kritis dilakukan melalui kegiatan mempertimbangkan, menilai, dan menentukan keputusan. Untuk mengecek kebenaran gagasan, fakta-fakta, atau pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh penulis, pembaca dapat mengajukan pertanyaan- pertanyaan berikut. Apakah pernyataan tersebut benar? Jika benar, apa buktinya dan mana fakta pendukungnya? Adakah maksud terselubung penulis di balik tulisannya itu?

Baca Juga: Hakikat Berbicara Dalam Bahasa Indonesia

Kemampuan menilai bacaan menyiratkan sikap kritis pembacanya. Artinya, si pembaca tidak begitu saja mempercayai apa yang disampaikan penulis melalui tulisannya itu. Pembaca terlebih dahulu mengkaji bacaan itu secara cermat, saksama, dan kritis, baik terhadap aspek bahasa maupun aspek isi.

Secara rinci, kemampuan menilai bacaan itu meliputi kemampuan-kemampuan Berikut:

  1. menilai kebenaran setiap gagasan pokok secara keseluruhan;
  2. menentukan dan membedakan fakta dan opini disertai alasan;
  3. menilai dan menentukan hakikat isi tulisan (realitas atau fantasi);
  4. menentukan maksud/tujuan terselubung penulisnya;
  5. menilai relevansi pengembangan gagasan dengan tujuan penulisannya;
  6. menentukan keselarasan antara data yang diungkapkan dengan simpulan yang dibuat;
  7. menilai keakuratan penggunaan bahasa dalam berbagai tataran.

SYARAT DAN MANFAAT MEMBACA KRITIS

Kegiatan membaca kritis akan dapat dilakukan jika pembaca memenuhi beberapa persyaratan pokok berikut ini:

  1. memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bidang ilmu yang disajikan dalam bacaan;
  2. tidak tergesa-gesa dalam bertanya dan menilai bacaan;
  3. berpikir analitis, kritis, logis, dan sistematis;
  4. menerapkan berbagai metode analisis yang logis dan ilmiah. (Nurhadi,1988; Harjasujana dkk.,1988)

Beberapa manfaat yang bisa Anda petik dari kegiatan membaca kritis adalah sebagai berikut:

  1. pemahaman yang mendalam dan komprehensif terhadap materi bacaan;
  2. kemampuan mengingat yang lebih kuat dan lama sebagai hasil dari usaha memahami berbagai hubungan antarfakta dalam bahan bacaan, antar fakta di luar bacaan, dan hubungan dengan pengalaman personal;
  3. kepercayaan diri yang mantap dalam memberikan pendapat tentang isi bacaan.

LANGKAH-LANGKAH MEMBACA KRITIS UNTUK MENILAI BACAAN

Secara sederhana, kritik terhadap teks bacaan dapat dilakukan dengan cara:

  1. memahami isi bacaan;
  2. mencari dan mencatat kelemahan-kelemahan bacaan, baik yang menyangkut isi maupun cara penyajian;
  3. mencari kriteria atau aturan yang benar mengenai objek yang dinilai; dan
  4. membandingkan kelemahan dengan kriteria.

Untuk melakukan kegiatan membaca kritis dalam rangka menilai bacaan, Nurhadi (1988) memberikan beberapa tips ihwal kegiatan membaca kritis, yakni:

  1. Berpikirlah secara kritis.
  2. Lihatlah apa yang ada di balik kata-kata itu untuk mengetahui motivasi penulis.
  3. Waspadalah terhadap kata-kata yang berlebihan, tidak tentu batasannya, emosional, ekstrem, atau generalisasi yang berlebihan.
  4. Waspadailah terhadap perbandingan yang tidak memenuhi persyaratan.
  5. Cermati logika penulis yang tidak logis.
  6. Perhatikan pernyataan-pernyataan yang Anda baca.

Secara rinci, menilai bacaan secara kritis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:

  1. memahami maksud penulis,
  2. memahami organisasi dasar tulisan;
  3. menilai penyajian penulis/pengarang.

berikut penjelasannya

Memahami maksud penulis

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menilai bacaan melalui kegiatan membaca kritis adalah menentukan serta memahami maksud dan tujuan penulis. Kebanyakan tulisan memenuhi satu (atau lebih) dari keempat tujuan tulisan, yaitu: memberitahu (to inform), meyakinkan (to convince), mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade), atau menghibur (to entertain). Tujuan penulis itu dapat teridentifikasi dengan jelas atau bahkan samar-samar. Seorang pembaca yang kritis, akan berusaha mencari dan mendapatkan maksud yang tersembunyi ini.

Beberapa petunjuk untuk mencari maksud penulis adalah sebagai berikut ini.

  1. Baca paragraf-paragraf pendahuluan dan paragraf-paragraf penutup.
  2. Kadang-kadang maksud penulis dinyatakan secara eksplisit atau tersirat di bagian tersebut.
  3. Perhatikan pilihan kata dan peletakan penekanan informasi yang menunjang maksudnya itu.
  4. Pahami maksud tulisan dari cara mengorganisasikan tulisan. Pengorganisasian tulisan sering kali mengindikasikan maksud tulisan. Tulisan yang dimaksudkan untuk memberitahukan akan memerikan pokok tulisannya secara langsung dan nyata. Tulisan yang mengandung maksud mendesak atau mengajak akan ditata dalam suatu urutan atau susunan yang logis. Tulisan yang mengandung maksud meyakinkan, selain memenuhi dua kriteria di atas ditambah lagi dengan daya tarik yang dapat mendongkrak emosi pembaca.

Baca Juga: Pengembangan Paragraf Dalam Bahasa Indonesia

Pahami maksud tersirat berdasarkan pilihan ragam teks bacaan. Misalnya surat dagang mungkin mencoba mendesak/mengajak pembaca membeli sesuatu. Suatu artikel politik, keagamaan, atau masalah sosial mungkin mengajak pembaca pada sudut pandang atau sikap tertentu. (Albert [etal]:1981b:2).

Memahami organisasi dasar tulisan

Maksud penulis dalam tulisan yang berbentuk artikel biasanya akan tampak dalam pengorganisasian tulisannya. Organisasi tulisan pada dasarnya terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan kesimpulan.

Pendahuluan

Dalam paragraf-paragraf pembukaan, biasanya penulis akan memperkenalkan subjek/fokus/tema tulisan beserta pendekatan khusus untuk mengupas hal itu. Penulis sering kali menunjukkan secara singkat pokok- pokok penting cakupan tulisan secara garis besar dan menetapkan aspek- aspek masalah apa yang akan dimasukkan atau dikeluarkan. Di samping itu, sering pula dia menjelaskan maksud penulisan artikel itu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada paragraf-paragraf pembukaan itu juga akan tersirat karakteristik dan nada artikel tersebut, misalnya berat atau ringan, harfiah atau satiris, serius atau humor, dan sebagainya.

Pembaca yang seksama akan mencermati indikasi-indikasi dimaksud untuk memudahkannya membaca dengan pemahaman yang lebih tinggi serta mendalam, dan menilai karya itu secara lebih jujur.

Isi

Artikel-artikel yang baik dapat menjelaskan di mana pendahuluan berakhir, dan di mana pula isi artikel itu bermula. Biasanya isi suatu uraian terdiri atas beberapa bagian. Bagian ini merupakan ruang bagi penulis untuk mengutarakan gagasan-gagasannya segamblang mungkin. Kadang-kadang kita dapat menemui petunjuk-petunjuk tipografi mengenai bagian-bagian penting itu, misalnya penggunaan angka Romawi, judul-judul bercetak tebal, kata-kata/frase-frase bercetak miring, atau spasi-spasi terbuka. Kadang- kadang kita juga mendapati kata-kata petunjuk konteks yang mengacu pada langkah-langkah. Kata-kata seperti pertama, kedua, lebih lanjut, akhirnya, dan sebaliknya menunjukkan langkah-langkah dalam suatu uraian yang tersusun secara logis. Jika tanda-tanda itu tidak muncul, kita harus mencari kalimat-kalimat, klausa-klausa atau frase-frase tradisional yang menunjukkan perubahan atau perpindahan perkembangan pikiran.

Penulis yang cermat akan membuatnya semudah mungkin agar para pembacanya dapat mengikuti kecenderungan pikirannya. Pada saat tersebut, kita mungkin menemukan bantuan dan harus menyandarkan diri pada pembacaan teliti kita sendiri untuk memperhatikan bagian-bagian uraian itu. Dalam setiap kasus, tugas kita sebagai pembaca yang cerdas adalah menemukan organisasi dasar pengarang, rangka dasarnya, dan memanfaatkannya untuk mencapai pemahaman.

Kesimpulan

Pada akhir tulisan, para penulis biasanya mulai mengalihkan perhatian dari apa yang sedang dikatakan menuju apa yang telah dikatakannya. Inilah suatu pertanda bagi kita bahwa dia akan menutup atau menyimpulkan tulisannya itu. Penulis yang seksama kerapkali menegaskan kembali apa-apa yang telah dikatakannya pada paragraf-paragraf pembukaan mengenai pokok-pokok penting dari perkembangannya. Kita hendaknya memperguna- kan bantuan-bantuan serupa itu untuk menolong kita meresensi atau  meninjau kembali keseluruhan penyajian tersebut.

Andaikata sang penulis tidak memberikan bantuan-bantuan tersebut kepada kita, maka seyogianyalah kita berhenti sejenak setelah menyelesaikan artikel tersebut, dan meninjau kembali dalam hati apa-apa yang telah dikatakannya tadi. Kemudian cobalah menilai sampai di mana keberhasilannya dalam menyajikan pokok masalah tulisannya itu secara jelas, dalam upaya pencapaian maksud serta tujuannya.

Para pembaca yang teliti dan cermat, para penjaga yang bertanggung jawab, akan tetap waspada baik terhadap indikasi-indikasi yang eksplisit maupun yang implisit dari tema, maksud, ruang, lingkup, dan organisasi umum sang penulis. Kerapkali pula, para pembaca yang kurang berpengalaman gagal memanfaatkan dengan sebaik-baiknya bantuan yang beraneka ragam yang disajikan oleh pengarang. (Albert, etal, 1961:9-10).

Menilai penyajian penulis/pengarang

Selaku pembaca kritis, kita harus mampu menilai atau mengevaluasi penyajian bahan sang penulis. Di samping memperhatikan maksud dan cara menyampaikan tulisan, kita juga harus dapat menentukan apakah si penulis telah menguraikan cakupan pokok masalahnya secara memuaskan, atau tidak. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan untuk menilai bacaan antara lain.

  1. Dari segi informasi:
    • Sumber-sumber informasi apakah yang digunakan sang penulis?Apakah sumber-sumber tersebut dapat dipercaya?
    • Apakah terdapat jurang-jurang dalam informasinya itu? Apakah terdapat petunjuk-petunjuk bahwa dia tidak mengetahui hal itu atau salah memberi keterangan? Bagaimana kita dapat mengecek hal itu?
    • Apakah analisis atau interpretasinya mengenai informasi itu lengkap?
    • Apakah interpretasinya itu relevan dengan judul/topik?
    • Apakah terdapat problem-problem atau masalah penting yang harus dipecahkan, namun tidak dipecahkan?
    • Apakah informasi dan isi umum tulisan sesuai dengan maksud tulisannya?
  2. Dari segi logika:
    • Apakah sang penulis menuntut intelek pembaca atau perasaan pembaca?
    • Apakah dia membedakan fakta-fakta dan interpretasinya sendiri mengenai fakta-fakta tersebut?
    • Apakah    sang     penulis     menunjang    pendapat-pendapat    serta kesimpulan-kesimpulannya dengan fakta-fakta?
    • Apakah terdapat sejumlah jurang analisis atau dalam argumen- argumennya?
    • Apakah dia secara sengaja atau tidak sengaja keliru mengenai buah pikiran?
    • Apakah dia bisa membedakan fakta dan opini?
    • Apakah generalisasi yang dibuatnya itu gegabah (membuat suatu pernyataan umum yang tidak didukung oleh fakta-fakta)
    • Apakah fakta-faktanya itu cukup memuaskan atau tidak berat sebelah?
    • Apakah terdapat analogi yang salah?
    • Apakah tidak mengemis masalah? (mengira benar apa yang tidak dibuktikan/belum dibuktikan benar).
    • Apakah penulis berkecenderungan membuat fakta-fakta yang menunjang posisinya (mempergunakan kata-kata yang dibumbui atau kata-kata sugestif untuk menciptakan suatu sikap emosional terhadap masalah suatu masalah).
  3. Dari segi bahasa:
    • Apakah sang penulis menyandarkan diri pada makna kata-kata yang denotatif, harfiah, atau pada nilai kata-kata yang konotatif, emosional?
    • Apakah dia mempergunakan kata-kata emosional yang berlebih- lebihan?
    • Apakah pilihan kata-katanya memberat sebelahan fakta-fakta yang disajikannya?
    • Apakah pilihan kata-katanya secara umum, baik sengaja atau tidak sengaja, mempengaruhi pembaca?
    • Apakah pilihan kata-katanya mencerminkan preferensi-preferensi (pilihan-pilihan), prasangka-prasangka, asumsi-asumsi (anggapan- anggapan), atau sikap-sikapnya sendiri?
  4. Dari segi kualifikasi:
    • Siapa      dia?      Apa      minatnya,     kedudukannya,     pengalaman- pengalamannya?
    • Apakah    latar    belakang    pendidikan    atau   pengalaman    yang dimilikinya dapat menjamin mutu tulisannya?
    • Apakah sumber-sumber informasi yang digunakannya relevan dan dapat dipercaya?
    • Mengapa dan untuk apa dia menulis buku atau artikel ini?
    • Apakah dia jujur dan objektif dalam mempergunakan fakta- faktanya?
  5. Dari segi sumber-sumber informasi :
    • Apakah informasi-informasi itu diambil dari sumber-sumber yang diakui dan dapat dipercaya?
    • Apakah informasi-informasi itu diambil dari sumber-sumber ilmiah atau hanya dari sumber-sumber populer?
    • Apakah ahli-ahli atau sumber-sumber tempat mereka mengambil informasi itu berwewenang dalam bidang mereka?
    • Apakah majalah-majalah, koran-koran, pamplet-pamplet, buku- buku, atau sumber-sumber itu dapat mengubah interpretasi mereka terhadap fakta-fakta?
    • Apakah sumber-sumber penulis itu mewakili atau menggambarkan segala jenis masalah, ataukah terbatas pada suatu posisi tertentu saja? Apakah pengarang mengemukakan suara yang sama kepada semua orang yang mengemukakan point of view yang berbeda atau menantang?
    • Apakah pengarang sadar akan keterbatasan-keterbatasan sumber- sumbernya? Apakah pengarang mempergunakannya secara bijaksana? (Albert, et al. 1961b:14-16).

MENILAI BACAAN SEHARI-HARI: KORAN DAN MAJALAH

Bertumpuknya bahan bacaan mendorong kita untuk memiliki prinsip- prinsip yang dapat membimbing kita untuk dapat memilih bahan bacaan secara arif. Pada dasarnya, santapan bacaan kita haruslah sesuatu yang bermanfaat, terutama untuk menjaga agar kita dapat mengikuti perkembangan zaman dalam berbagai bidang kehidupan. Di samping itu, kita juga memerlukan informasi-informasi yang bersifat umum.

Para pembaca yang teliti dan kritis akan terus mengevaluasi ide-ide yang disajikan bacaan pada mereka, terutama sekali untuk melihat apakah ide-ide itu menarik perhatian, penting, dan bermanfaat bagi dirinya. Para pembaca koran dan majalah yang sudah berpengalaman dapat mengambil keuntungan dari edisi harian itu dalam waktu yang relatif singkat. Mereka akan mengetahui di mana harus mencari informasi yang diingini. Mereka juga akan membaca dengan berbagai strategi; bagian-bagian mana yang harus dibaca sekilas dan bagian-bagian mana pula yang harus dibaca dengan teliti. Mereka dapat memanfaatkan pokok-pokok berita secara efisien, memilih mana yang harus dibaca dan mana yang tidak pantas dibaca.

Inilah pertanyaan-pertanyaan pembimbing untuk menilai koran atau majalah.

  1. Siapa pemilik koran atau majalah itu?
  2. Pengaruh apa yang hendak ditanamkan melalui ulasan berita dan politik, serta kebijakan tajuk rencana penerbitan tersebut?
  3. Cermati kebijakan penerbit dalam tajuk rencana! Meskipun semua koran dan majalah diharapkan berlaku objektif dalam menyajikan berita, namun pada prakteknya kerapkali memihak, baik secara terang-terangan ataupun secara rahasia. Kebijakan-kebijakan tajuk rencana biasanya dapat diprediksi dengan cara membacanya secara tetap dan teratur, serta membanding-bandingkan pendapat-pendapat yang diekspresikan pada halaman tajuk rencana dengan berita-berita lainnya yang dimuat dalam koran tersebut.
  4. Cermati tata sajiannya! Jumlah dan tipe kolom-kolom yang disingkatkan (digabungkan) kerapkali memberikan petunjuk terhadap posisi umum penerbitan tersebut.
  5. Afiliasi-afiliasi politik, sosial, ekonomi, atau keagamaan yang manakah dari penerbitan itu yang dapat mewarnai pendapat-pendapatnya?
  6. Apakah penerbitan itu mengikatkan dirinya pada sesuatu program umum, regional, nasional, atau internasional?
  7. Posisi apakah yang biasanya diambil oleh penerbitan itu pada masalah- masalah yang kontroversial atau yang sedang ramai diperdebatkan?
  8. Bagaimanakah janji-janji atau komitmen-komitmen tajuk rencana penerbitan itu dalam mempengaruhi ulasan beritanya? Jenis-jenis berita apakah yang biasanya ditaruh di halaman tengah atau belakang?
  9. Dari sumber-sumber manakah penerbitan itu mengambil berita internasional, nasional, atau lokalnya? Apakah penerbitan itu hanya menggunakan salah satu jawatan pengumpul berita utama saja, ataukah dari beberapa jawatan?
  10. Bagaimanakah nilai berita lokal itu dibandingkan dengan berita atau ulasan yang berasal dari kantor-kantor berita tadi?

Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan serupa itu takkan dapat diperoleh dengan tepat dan memuaskan dengan jalan menelaah satu atau dua nomor penerbitan saja. Para pembaca yang bijaksana akan sampai pada kesimpulan-kesimpulan mereka setelah membaca secara kritis dan ekstensif koran-koran mereka sehari-hari secara rutin dan teratur.

Baca Juga: Hakikat Berbicara Dalam Bahasa Indonesia

Sebagai tambahan terhadap nilai-nilai umum yang telah dijelaskan tadi, para pembaca berpengalaman juga harus memperhatikan hal-hal lain, seperti:

Penyensoran tersembunyi (hidden censorship)

Berita-berita yang tidak dicetak kerap kali menyatakan kebijaksanaan tajuk rencana sebuah koran. Apakah kita yakin bahwa koran itu telah memberikan segala informasi yang berhubungan dengan topik-topik secara lengkap dan komprehensif pada kolom-kolomnya? Kita dapat mengecek hal itu melalui pembandingan dari koran-koran lain mengenai berita topik yang sama.

Pilihan bahasa (choice of language)

Apakah koran itu menggunakan kata-kata yang tampak objektif namun sebenarnya membelokkan arah berita? Bandingkanlah nomina-nomina, verba-verba, dan kata-kata yang menentukan sifat, misalnya dalam melaporkan perundingan-perundingan antara penguasa industri dan karyawan/buruh. Apakah pilihan kata-katanya benar-benar objektif, ataukah mencerminkan pendapat atau keputusan editorial?

Posisi (position)

Posisi dan panjangnya suatu artikel berita kerap kali mencerminkan skema nilai para editor (redaktur). Semua pertanyaan serta petunjuk di atas akan membantu kita dalam membangun sikap waspada dan kehati-hatian terhadap segala pendapat dan sumber informasi. Sikap kritis kita dalam menghadapi bacaan akan membentur media antara penerimaan atau penolakan tak berdasar dengan penerimaan atau penolakan yang berdasar (Albert, et al; 1961-b:17-19).

Rangkuman Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia

Untuk dapat menilai bacaan diperlukan kemampuan membaca kritis. Membaca kritis (critical reading) adalah kegiatan membaca dengan bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan mencari-cari kesalahan penulis.

Salah satu ciri dari membaca kritis adalah berpikir dan bersikap kritis. Berpikir dan bersikap kritis itu ditandai oleh hal-hal berikut:

  1. kemampuan menginterpretasi;
  2. menganalisis;
  3. mengorganisasi;
  4. menilai;
  5. menerapkan konsep secara kritis.

Terdapat enam teknik  yang dapat digunakan  untuk  meningkatkan  sikap  kritis,  yakni:

  1. kemampuan mengingat dan mengenali bahan bacaan,
  2. kemampuan menginterpretasi makna tersirat,
  3. kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep  dalam bacaan, 
  4. kemampuan menganalisis isi bacaan,
  5. kemampuan menilai isi bacaan,
  6. kemampuan mencipta (to cerate) bacaan.

Keenam sikap kritis tersebut sejalan dengan konsep berpikir pada tataran ranah kognitif dalam Taksonomi Bloom yang sudah direvisi  oleh Anderson dan Krathwhol (2001:268). Ranah-ranah dimaksud meliputi hal-hal berikut.

  1. kemampuan mengingat dan mengenali;
  2. kemampuan memahami/menginterpretasi makna tersirat;
  3. kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep;
  4. kemampuan menganalisis; 
  5. kemampuan menyimpulkan (sintesis);
  6. kemampuan menilai isi bacaan.

Kegiatan membaca kritis akan dapat dilakukan jika pembaca memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:

  1. memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bidang ilmu yang disajikan dalam bacaan;
  2. tidak tergesa-gesa dalam bertanya dan menilai bacaan;
  3. berpikir analitis, kritis, logis, dan sistematis;
  4. menerapkan berbagai metode analisis yang logis dan ilmiah.

Secara sederhana, kritik terhadap teks bacaan dapat dilakukan dengan cara:

  1. memahami isi bacaan;
  2. mencari dan mencatat kelemahan-kelemahan bacaan, baik yang menyangkut isi maupun cara penyajian;
  3. mencari kriteria atau aturan yang benar mengenai objek yang dinilai;
  4. membandingkan kelemahan dengan kriteria.

Menilai bacaan secara kritis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:

  1. memahami maksud penulis,
  2. memahami organisasi dasar tulisan;
  3. menilai penyajian penulis/pengarang.

Beberapa manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan membaca kritis adalah:

  1. pemahaman yang mendalam dan komprehensif terhadap materi bacaan;
  2. kemampuan mengingat yang lebih kuat dan lama sebagai hasil dari usaha memahami berbagai hubungan antarfakta dalam bahan bacaan, antarfakta di luar bacaan, dan hubungan dengan pengalaman personal;
  3. kepercayaan diri yang mantap dalam memberikan pendapat tentang isi bacaan.

Untuk menilai bacaan sehari-hari seperti koran, di samping harus memperhatikan hal-hal umum tadi, juga harus memperhatikan:

  1. penyensoran tersembunyi (hidden censorship);
  2. pilihan bahasa (choice of language);
  3. posisi (position).

Referensi:

Yeti Mulyati,dkk. 2016. Bahasa Indonesia. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 5.26

Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia

3 thoughts on “Membaca Kritis Dalam Bahasa Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated