Pengertian dan Konsep Etika Bisnis

Pengertian dan Konsep Etika Bisnis

Pengertian dan Konsep Etika Bisnis

Pengertian dan Konsep Etika Bisnis akan dibahas dalam artikel berikut. Selamat membaca….

PENGERTIAN ETIKA BISNIS

Etika bisnis merupakan prinsip dan standar yang menentukan perilaku dalam organisasi bisnis (Ebert & Griffin, 2009). Etika bisnis juga merupakan standar perilaku dan nilai-nilai moral yang mengarahkan tindakan dan keputusan di lingkungan kerja (Boone & Krtz, 2005). Kegiatan bisnis harus mempertimbangkan isu-isu sosial yang terkait dengan etika bisnis ini yang meliputi bagaimana keputusan yang diambil dapat memengaruhi lingkungan, karyawan, dan pelanggan. Isu-isu tersebut terkait dengan tanggung jawab sosial, filosofi, kebijakan, prosedur, dan tindakan yang diarahkan pada kesejahteraan sosial sebagai tujuan utamanya. Etika bisnis juga dipertegas dengan iklim etika dalam organisasi. Kode perilaku dan standar etika dapat memainkan peran yang signifikan dalam bisnis yang dilakukan dengan cara yang benar.

Dalam bisnis, seperti dalam kehidupan manusia, keputusan mengenai benar atau salah pada situasi tertentu tidak selalu melibatkan pilihan yang jelas. Penerimaan terhadap perilaku dalam bisnis ditentukan tidak hanya oleh organisasi tetapi juga para pemangku kepentingan seperti pelanggan, pesaing, peraturan pemerintah, kelompok peminatan, dan masyarakat umum. Etika bisnis ini mirip dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral. Etika bisnis dapat membangun kepercayaan di antara individu dan dalam hubungan bisnis. Penyusunan kepercayaan dan keyakinan tersebut sangat sulit dicapai oleh organisasi yang mempunyai reputasi yang tidak etis.

Baca Juga: Etika Manajerial Seorang Manajer

Isu-isu etika merupakan permasalahan, situasi, atau kesempatan yang dapat diidentifikasi yang memerlukan orang untuk memilih di antara  berbagai kegiatan yang dapat dievaluasi sebagai benar atau salah, etis atau tidak etis. Dalam bisnis, pilihan tersebut melibatkan keuntungan dan siapa yang melakukannya. Isu-isu etika tidak dibatasi hanya untuk organisasi atau perusahaan yang berorientasi keuntungan (for-profit organization), namun juga pada organisasi yang tidak berorientasi pada keuntungan. Isu etika meliputi semua bidang kegiatan organisasi termasuk pemerintah. Penilaian negatif atau tidak etis terhadap organisasi dapat memengaruhi kemampuan organisasi membangun hubungan dengan pelanggan, pemasok, investor, karyawan, dan masyarakat secara umum.

Perilaku etis menunjukkan keyakinan individual dan norma-norma sosial mengenai hal yang baik dan hal yang benar. Perilaku tidak etis menunjukkan keyakinan individual dan norma-norma sosial mengenai hal yang salah dan hal yang tidak benar. Etika memang didasarkan pada keyakinan individual dan konsep-konsep sosial. Oleh karena itu, etika tersebut bervariasi diantara individu, situasi, dan budaya. Individu dapat saja mengembangkan kode etik yang merefleksikan sikap dan keyakinan yang luas tanpa melanggar standar umum. Namun demikian, terdapat bidang yang sering disebut abu-abu (grey area) yang tidak jelas apakah perilaku menunjukkan etis ataukah tidak etis.

Kode etik merupakan pernyataan tentang kebijakan yang berfokus pada permasalahan benar atau salah dan bukan merupakan standar perilaku. Kode etik merupakan prinsip atau nilai moral yang digunakan oleh organisasi dan karyawan, dalam semua kegiatan bisnisnya baik internal maupun hubungan dengan pihak luar. Kode etik tersebut diterapkan bagi individu dan seluruh warga atau anggota organisasi dan memengaruhi kondisi internal organisasi dan para pemangku kepentingan yang berada di luar organisasi. Kebanyakan organisasi bisnis cenderung menyamakan kebijakan dengan kode etik.

Selanjutnya, etika bisnis dimulai dari etika individu, yaitu individu yang berperan sebagai manajer, karyawan, dan berbagai posisi lainnya dalam organisasi. Kode etika setiap personal ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor yang disusun dan disaring dalam kehidupannya. Etika bisnis seringkali juga disebut sebagai etika organisasional dengan memperhatikan individu yang bekerja di dalamnya dan lingkungan pasar yang kompetitif (Harrison, 2005). Etika bisnis juga menunjukkan bisnis itu sebagai entitas yang berbeda dan bertindak secara kompetitif. Bisnis sebagai suatu entitas merupakan perilaku manajer, karyawan, dan wirausahawan secara individual. Sementara itu, etika manajerial merupakan standar perilaku yang memberikan arahan bagi manajer secara individu di tempat kerjanya. Etika manajerial ini dapat memengaruhi bisnis dengan berbagai cara. Etika manajerial ini diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu etika terhadap karyawan, etika terhadap organisasi, dan etika terhadap agen-agen ekonomi.

Baca Juga: PERILAKU ETIKA PROFESI AKUNTANSI

Etika manajer terhadap karyawan meliputi etika dalam merekrut karyawan dan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan karyawan, etika dalam memberikan upah atau penghargaan lain dan etika dalam bekerja di tempat kerja, serta privasi karyawan dan respek atau tanggap terhadap karyawan. Pedoman mengenai etika dan hukum menyatakan bahwa merekrut dan melakukan pemutusan hubungan kerja harus didasarkan pada kemampuannya melaksanakan tugas atau pekerjaannya. Pemberian penghargaan atau upah serta pekerjaan dan suasana kerja merupakan hal-hal yang bersifat kontroversial. Hal ini disebabkan jenis pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, tingkat risiko yang dihadapi dalam pekerjaan akan sangat berpengaruh dalam menentukan besaran gaji atau penghargaan yang diberikan perusahaan atau organisasi kepadanya.

Etika manajer terhadap organisasi juga melibatkan isu-isu etis, seperti konflik kepentingan, kerahasiaan, dan kejujuran. Konflik kepentingan terjadi ketika kegiatan dapat memberikan kemanfaatan bagi individu namun dapat merugikan orang lain atau organisasi. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, organisasi memiliki peraturan dan kebijakan yang digunakan untuk mengatur organisasi tersebut beserta individu-individu yang ada di dalamnya. Bisnis yang persaingannya sangat ketat seperti bisnis perangkat lunak (software) dan berbagai bisnis mode (fashion) harus memilki pengaman agar ide atau desain produk yang diciptakan tidak dicuri pihak lain seperti pesaing. Permasalahan yang relatif umum dalam bidang yang lebih luas adalah kejujuran, baik dalam berperilaku maupun dalam berkarya atau menghasilkan ide-ide kreatif.

Etika terhadap agen-agen ekonomi meliputi etika dalam periklanan, negosiasi dan persetujuan, pemesanan dan pembelian, serta etika dalam lembaga-lembaga keuangan. Hal ini menyebabkan adanya ambiguitas etika yang mungkin dalam setiap melaksanakan kegiatan bisnis dengan masing- masing agen ekonomi tersebut, terutama pelanggan, pemasok, pemegang saham, perantara, dan serikat pekerja. Selanjutnya, etika memang bervariasi, terutama antarnegara di dunia ini yang memiliki kebudayaan yang berbeda, pasti memiliki etika yang berbeda pula. Menurut Harrison (2005), ada beberapa peran yang penting dalam etika bisnis, yaitu:

  1. Mendeskripsikan dan mengategorisasikan proses pembentukan nilai dalam organisasi dan dalam perekonomian pasar bebas;
  2. Menjelaskan dan mengategorisasikan sebagai moral, bagaimana mengambil keputusan dalam organisasi;
  3. Memberikan kritik dalam proses pembentukan nilai dalam organisasi  dan dalam perekonomian pasar bebas;
  4. Mengarahkan nilai-nilai yang harus dipertahankan dalam organisasi dengan memperhatikan kombinasi pengalaman dan temuan dalam ilmu sosial;
  5. Menjelaskan bagaimana keputusan harus dibuat dengan cara memperhatikan prinsip-prinsip moral.

Sementara itu, dunia bisnis dan organisasi mempunyai beberapa karakteristik, yaitu adanya hierarki tanggung jawab dan kewenangan, ketidakpastian manajemen dan risiko yang ditanggung, rantai hubungan sebab dan akibat yang kompleks, peran inti aliran informasi dan asimetri informasi, serta adanya ukuran dan hubungan antarsistem yang harus diperhatikan. Untuk melaksanakan peran etika bisnis tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Tanggung jawab dan kewenangan sesuai hirarki yang ada
  2. Mengelola ketidakpastian dan berani menanggung resiko
  3. Rantai hubungan sebab dan akibat yang kompleks
  4. Peran kunci aliran informasi dan asimetri informasi
  5. Ukuran dan hubungan antarsistem dengan pertimbangan tertentu Selanjutnya, ada tiga jenis etika dalam organisasi dan pengelolaannya,

yaitu etika organisasi, etika manajemen, dan etika bisnis. Etika organisasi adalah etika kerja dalam organisasi, yang meliputi tindakan, peran, kewajiban, dan tanggung jawab individual dalam struktur formal organisasi baik sebagai pemilik, pemangku kepentingan, dan sasaran. Etika organisasi diterapkan tidak tergantung pada lingkungan di mana organisasi beroperasi. Dalam prakteknya, etika organisasi juga meliputi proses pengelolaan atau manajemen, hubungan antarmanajer, dan hubungan antara manajer dan karyawan. Untuk itulah dibutuhkan etika manajemen yang mengatur hubungan antarmanajer dan hubungan antara manajer dan karyawan. Etika bisnis menunjukkan pada bisnis tersebut sebagai entitas yang berbeda dan bertindak secara kompetitif. Dalam kenyataannya, bisnis sebagai suatu entitas merupakan tindakan individu sebagai wirausahawan, manajer, dan karyawan.

ISU-ISU ETIKA DALAM BISNIS

Bagaimana menilai perilaku yang etis? Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan dalam menilai perilaku etis yang bersifat subyektif dan ambigu. Pertama, mendapatkan informasi yang relevan dan berdasarkan pada fakta. Kedua, menganalisis fakta untuk menentukan manakah nilai-nilai moral yang paling tepat. Ketiga, membuat pertimbangan etis berdasarkan pada kebenaran atau kesalahan kegiatan atau kebijakan yang diusulkan. Walaupun terdapat langkah-langkah dalam menilai perilaku etis, namun langkah atau proses tersebut tidak selalu dapat berjalan mulus, misalnya kenyataan atau fakta yang kurang dapat terbaca dengan jelas atau nilai-nilai moral yang tidak dapat disepakati. Pertimbangan dan keputusan tetap harus dibuat untuk mempertahankan kepercayaan. Menurut Ebert & Griffin (2009), ada empat pertimbangan etis yang harus dilakukan, yaitu kegunaan (utility), hak-hak (rights), keadilan (justice), dan kepedulian (caring). Pertimbangan kegunaan, diukur dengan pertanyaan apakah kegiatan dapat mengoptimalkan manfaat yang dipengaruhi oleh etika?. Hak diukur dengan pertanyaan apakah etika tersebut memengaruhi semua individu yang terlibat?Keadilan diukur dengan pertanyaan apakah etika yang ada itu adil?Sedangkan kepedulian diukur dengan pertanyaan apakah etika bersifat konsisten untuk semua orang?

Baca Juga: ETIKA ESTETIKA ETIKET PROFESIONALISME

Selanjutnya, mengenal isu-isu etika merupakan langkah yang penting dalam memahami etika bisnis. Isu etika merupakan permasalahan, situasi, dan kesempatan yang dapat diidentifikasi yang menghendaki orang untuk memilih dari antara beberapa tindakan yang dapat dinilai baik dan buruknya atau etis dan tidaknya. Dalam bisnis, pilihan tersebut membawa konsekuensi pada keuntungan yang dapat diperoleh. Etika bisnis juga berhubungan  dengan budaya dimana operasi bisnis dilakukan. Seperti di negara Amerika misalnya, pemberian hadiah dalam pertemuan pertama untuk membahas masalah bisnis dipandang berkolusi. Namun di Jepang, bila pemberian hadiah tersebut tidak dilakukan maka hal tersebut dianggap tidak sopan. Satu hal utama yang mendorong perbuatan tidak etis pada umumnya adalah bisnis yang terlalu agresif dalam mencari keuntungan atau uang yang merupakan sasaran bisnis. Isu-isu etika ini selalu berkaitan dengan keputusan bisnis dan apa yang dilakukan manajer dari hari ke hari.

Berbagai isu etika yang terkait dengan keputusan dan perhatian manajer terhadap apa yang dilakukan sehari-hari. Berbagai isu etika dalam bisnis dikategorikan ke dalam konteks yang berhubungan dengan perilaku

mengintimidasi dan memaksa, konflik kepentingan, keadilan dan kejujuran, komunikasi, penyalahgunaan sumber daya perusahaan, asosiasi atau hubungan bisnis dan plagiarisme. Penyalahgunaan sumber daya perusahaan merupakan perilaku yang tidak etis di tempat kerja, seperti menggunakan sumber daya perusahaan untuk kepentingan pribadi atau membawa peralatan yang digunakan di tempat kerja tersebut ke rumah karyawan untuk kepentingannya sendiri. Hal tersebut akan mengganggu produktivitas kerja perusahaan, terutama apabila peralatan atau sumber daya yang disalahgunakan tersebut merupakan peralatan atau sumber daya yang vital bagi organisasi atau perusahaan.

Selain itu, perilaku mengintimidasi (intimidating) atau melakukan tindak kekerasan (abusing) pada karyawan lain juga merupakan perilaku tidak etis karyawan di tempat kerjanya. Perilaku kekerasan ini dapat berupa perilaku kekerasan secara fisik, dengan kata-kata, atau secara mental. Perilaku ini juga akan menyebabkan produktivitas perusahaan yang terkait dengan produktivitas karyawan akan mengalami penurunan. Namun demikian, perilaku kekerasan dan intimidasi ini sulit dinilai dan dikelola karena perbedaan budaya dan gaya hidup. Kata-kata kasar misalnya, bagi sebagian orang tidak jadi masalah, bahkan hal tersebut mungkin tidak terasa kasar, namun bagi orang lain akan lebih menyakitkan. Selain itu, bullying di tempat kerja juga seringkali terjadi ketika karyawan baik secara individu atau kelompok dituntut untuk mencapai target produksi tertentu pada waktu tertentu. Tindakan bullying ini dapat dilakukan baik dengan kata-kata maupun non kata-kata yang menurunkan produktivitas karyawan.

Konflik kepentingan juga merupakan isu etika bisnis yang terkait dengan karyawan. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang harus memilih apakah mereka akan menerima karyawan baru yang dibutuhkan bagi organisasi atau menolak karyawan baru tersebut karena akan menjadi pesaing baginya dalam mendapatkan bonus. Konflik kepentingan ini dilakukan oleh individu yang merasa terancam dalam organisasi ketika dia harus mengambil keputusan. Individu harus dapat memisahkan antara kepentingan individu dan kepentingan organisasi. Selain itu, penerimaan komisi atau ‘uang pelicin’ untuk mempercepat keputusan yang harus diambil juga merupakan tindakan yang tidak etis. Keadilan dan kejujuran adalah inti dari etika bisnis dan berhubungan dengan nilai pengambil keputusan. Keadilan dan kejujuran juga berhubungan dengan penggunaan sumber daya perusahaan oleh karyawan.

Para pemilik dan pelaku bisnis beserta karyawan yang ada dalam perusahaan harus mendasarkan pada huku dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan tersebut. Namun, adakalanya para pengambil keputusan itu menggunakan kebijakan yang boleh dimilikinya justru untuk melunakkan hukum dan peraturan tersebut atau melanggar hukum dan aturan yang telah berlaku saat ini. Oleh karena kejujuran merupakan salah satu perilaku etis karyawan yang menjadi tuntutan keberhasilan bisnis maka perusahaan menggunakan kejujuran sebagai salah satu kriteria penerimaan karyawan baru dalam perusahaan.

Komunikasi merupakan bidang yang terkait dengan etika bisnis. Hal ini terjadi apabila perusahaan melakukan kesalahan dalam periklanan atau memberikan janji-janji yang palsu dalam memromosikan produknya. Banyak perusahaan yang gagal memberikan informasi yang benar mengenai produknya kepada calon pelanggan. Aspek penting lainnya dalam komunikasi yang terkait dengan permasalahan etika adalah pemberian label atau nama produk (product labeling). Selain komunikasi, perilaku bisnis terhadap pihak yang terkait seperti pelanggan, pemasok, dan berbagai pihak lain yang membantu bisnis juga harus memenuhi nilai-nilai etika bisnis.

Perilaku etika dalam bisnis meliputi cara menjaga rahasia perusahaan, memenuhi tanggung jawab, dan menghindari perilaku yang memaksakan kehendak kepada pihak lain. Manajer misalnya, memiliki kewenangan untuk menjalankan semua proses bisnis dengan posisinya, juga tetap harus menjunjung tinggi etika yang ada. Manajer harus tetap menciptakan lingkungan kerja yang membantu tercapainya sasaran organisasi. Metode yang digunakan manajer untuk melaksanakan tanggung jawabnya harus dikompromikan pada karyawan, namun tetap dapat mencegah manipulasi, ketidakjujuran, dan konflik kepentingan karyawan dalam perusahaan. Plagiarisme yang merupakan tindakan mengaku karya orang lain sebagai karya dirinya tanpa menyebutkan sumbernya juga merupakan perilaku yang tidak etis.

Mengapa bisnis juga harus berfokus pada etika? Ada berbagai alasan mengapa bisnis harus menekankan pada praktik perilaku yang etis. Bagi para manajer, mereka harus melakukan hal yang benar untuk dilakukan yang merefleksikan nilai-nilai personal. Namun demikian, ada beberapa alasan pentingnya etika bisnis yang merupakan kunci keberhasilan dalam bisnis dan memenangkan persaingan, yaitu tuntutan pelanggan terhadap perilaku etis dalam bisnis, etika yang baik akan memperbaiki iklim kerja, dan pemberdayaan karyawan baru sangat memerlukan petunjuk yang baik dan jelas.

Para pelaku bisnis harus memahami tuntutan dan harapan pelanggan terhadap dilaksanakannya etika dalam bisnis perusahaan. Tuntutan pelanggan terhadap perilaku yang etis tersebut akan mendorong para pelaku bisnis dan karyawan untuk menjadi warga korporasi yang baik. Banyak pelanggan yang tidak mau menerima bisnis suatu perusahaan yang gagal memenuhi standar etika, seperti perusahaan yang tidak memperhatikan penanganan limbahnya, perusahaan yang pernah mencelakai pelanggan atau karyawannya, atau perusahaan yang tidak memperhatikan standar keselamatan. Standar etika yang tinggi dan kepercayaan masyarakat yang besar merupakan esensi kegiatan bisnis. Bila kepercayaan masyarakat hilang maka kekuatan bersaing perusahaan tersebut juga hilang. Reputasi dalam perilaku yang etis merupakan hal yang penting dalam membangun kepercayaan terhadap perusahaan.

Standar etika yang jelas dan dapat mengarahkan seluruh personel dalam organisasi atau perusahaan tersebut akan mewujudkan iklim kerja yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan pengetahuan semua personel mengenai hal yang diharapkan orang lain padanya serta hal yang dapat dan tidak dapat ditoleransi. Mereka juga harus mengetahui bahwa keberhasilan tidak dapat dijamin dengan penyediaan uang atau dana. Pengetahuan mengenai hal-hal tersebut akan membuat karyawan merasa lebih baik, dapat bekerja dengan lebih baik, dan mereka mempunyai komitmen tinggi terhadap pekerjaannya.

Selanjutnya, alasan pentingnya perilaku yang etis dalam bisnis adalah semakin mendatarnya struktur organisasi maka semakin dekat jarak hubungan antara pelanggan dan karyawan, dan semakin besar peran dan kewenangan karyawan dalam mengambil keputusan. Manajer atau pimpinan hanya melakukan pengecekan. Kondisi inilah yang menuntut semua karyawan harus berperilaku etis di tempat kerjanya atau melakukan etika bisnis. Dalam lingkungan kerja tersebut, standar dan praktik etika adalah hal yang sangat mendasar. Pemberdayaan karyawan dilakukan dengan menggunakan standar dan praktik sebagai dasar melakukan tindakan dan pengambilan keputusan. Etika bisnis terkait dengan perilaku yang secara sukarela dilakukan demi organisasi yang biasanya didorong oleh motif altruistik. Motif altruistik adalah motif atau dorongan individu untuk melakukan sesuatu yang baik karena keinginannya menjadikan organisasi lebih baik. Para personel dalam organisasi melakukan perilaku tersebut didasarkan pada moral yang tinggi.

STANDAR ETIKA BISNIS

Etika bisnis merupakan pencarian dan komitmen untuk memenuhi standar moral yang tepat dalam bisnis. Etika bisnis merupakan berarati pemahaman terhadap cara untuk bertindak dalam lingkungan bisnis yang berbeda. Dalam praktik, etika bisnis berkaitan dengan dua isu, yaitu kesulitannya dalam menentukan tindakan apakah yang paling tepat dari satu situasi ke situasi yang lain dan kekuatan untuk selalu melakukan tindakan atau perilaku etis. Semua orang telah mengetahui hal-hal yang benar dan yang salah sehingga untuk menentukan manakah perilaku atau tindakan yang tepat, bukan merupakan hal yang sulit. Namun demikian, kenyataannya, apa yang tepat merupakan hal yang sulit dan membingungkan.

Selanjutnya, adanya dilema moral yang merupakan konflik kepentingan yang melibatkan pilihan etika. Adanya dilema moral ini disebabkan adanya standar personal mengenai apa yang benar dan konflik yang sesuai dengan situasi. Standar personal tersebut berkembang dalam seluruh  kehidupan orang tersebut. Apapun tindakan yang dilakukan pasti akan menghasilkan konsekuensi. Adakalanya standar personal yang dimiliki tidak sesuai dengan standar etika perusahaan atau organisasi sehingga menimbulkan dilema moral. Karyawan pada setiap tingkat pasti mempunyai pilihan dan keputusan yang sulit dalam memecahkan dilema moral tersebut. Peran pimpinan adalah mengevaluasi dampak keputusan yang diambil dan kesesuaiannya dengan para pemangku kepentingan. Dampak keputusan tersebut ada yang bersifat obyektif dan ada yang bersifat subyektif.

Ada tiga pendekatan atau teori dalam menganalisis perilaku etis, yaitu pendekatan utilitarianisme, teori hak, dan teori keadilan (Fry et al., 2000). Pada pendekatan utilitarianisme, keputusan yang menghasilkan produk yang terbaik untuk sejumlah pemangku kepentingan yang terbaik merupakan keputusan yang etis atau bermoral. Selain itu, keputusan yang etis adalah seharusnya dapat memaksimumkan manfaat dan meminimalkan kerugian yang diderita para pemangku kepentingan. Sebagai contohnya, keputusan melakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh perusahaan

merupakan keputusan yang merugikan karyawan dan keluarganya karena kehilangan pekerjaan dan kehilangan penghasilan. Pendekatan kedua adalah teori hak, yang menyatakan bahwa pendekatan dalam mengambil keputusan harus mengasumsikan bahwa hak individual selalu dilindingi. Teori hak ini digunakan apabila pendekatan utilitarianisme tidak dapat memaksimumkan keuntungan para pemangku kepentingan. Apabila keputusan yang diambil melanggar hak maka keputusan tersebut dinilai tidak etis. Hak yang dimaksud tersebut adalah hak mendapatkan keselamatan, kesehatan, privasi, dan hak untuk dipercaya. Selanjutnya, teori keadilan menyatakan bahwa setiap keputusan yang diambil diasumsikan menganut prinsip keadilan, kesamaan, dan obyektif.

Untuk mencegah kegiatan yang tidak etis dan illegal, organisasi atau perusahaan memiliki langkah-langkah formal seperti menyusun kode etik, mengembangkan kejelasan posisi perilaku yang etis, dan menunjukkan dukungan manajemen yang lebih tinggi terhadap standar etika yang digunakan. Tanggung jawab etis meliputi tercapainya persyaratan legal dan memuaskan sasaran pemilik bisnis yang terkait dengan harapan masyarakat sebagai cara organisasi atau perusahaan dan karyawannya berperilaku.

Memahami bagaimana orang membuat pilihan dan hal yang menentukan orang bertindak secara tidak etis bisa mengganti trend ke arah perilaku tidak etis dalam bisnis. Keputusan etis dalam organisasi dipengaruhi oleh tiga faktor kunci, yaitu standar moral individu, pengaruh manajer, dan rekan kerja, serta kesempatan untuk terlibat dalam perbuatan yang menyimpang. Apabila seorang karyawan mempunyai standar moral individu yang baik, maka ia akan menerapkan perilaku etis. Kegiatan dan contoh yang telah dilakukan rekan kerja sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang disusun organisasi akan menghasilkan perilaku etis dan konsisten dalam organisasi. Apabila perusahaan atau organisasi gagal memberikan contoh atau teladan yang baik atau yang sesuai dengan kode etik maka akan terjadi kekacauan dan konflik yang berkembang menjadi perilaku yang tidak etis bahkan jahat. Apabila pimpinan meninggalkan tempat kerjanya lebih awal, anak buahnya cenderung mengikuti atau melakukan hal yang sama.

Isu-isu etika pada umumnya muncul dari konflik, oleh karenanya akan sangat bermanfaat menguji penyebab konflik etika. Manajer bisnis dan karyawan seringkali mengalami beberapa tekanan antara keyakinan etis yang dimiliki dan tanggung jawabnya pada organisasi tempatnya bekerja. Banyak karyawan menggunakan standar etika yang berbeda antara di tempat kerja dan di rumah. Konflik akan meningkat apabila karyawan merasa bahwa perusahaannya mendorong dilakukannya perilaku yang tidak etis atau merasa mendapat tekanan di perusahaan karena perbedaan tersebut. Selain itu, sulit bagi karyawan untuk menentukan kode etik apakah yang dapat diterima dalan perusahaan jika perusahaan tidak pernah menyusun kebijakan dan standar etika. Tanpa adanya kebijakan dan standar tersebut, karyawan bisa mendasarkan keputusannya pada bagaimana rekan kerja dan supervisornya berperilaku.

Selanjutnya, kode etik profesional merupakan peraturan dan standar formal yang menjelaskan hal yang diharapkan perusahaan dari karyawan. Kode etik tidak perlu mendetail untuk setiap situasi, tetapi harus menyediakan pedoman dan prinsip yang dapat membantu karyawan mencapai sasaran organisasi dan mengendalikan resiko pada cara yang dapat diterima dan etis. Pengembangan kode etik harus meliputi tidak hanya para eksekutif dan dewan direktur tetapi juga semua karyawan pada semua posisi dalam perusahaan atau organisasi. Kode etik, kebijakan etika, dan program pengembangan etika dapat memajukan perilaku etis karena ketiganya mampu menjelaskan manakah kegiatan yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima dan ketiganya membatasi kesempatan melakukan perbuatan yang menyimpang dengan memberikan hukuman bagi penumpangan peraturan dan standar. Kode etik dan kebijakan etika mendorong terciptanya budaya etis dalam perusahaan. Dari penelitian yang dilakukan para ahli dikatakan bahwa budaya etis perusahaan sangat ditentukan oleh perilaku yang menyimpang di masa mendatang. Pelaksanaan kode etik dan kebijakan etika melalui pemberian penghargaan dan hukuman akan meningkatkan penerimaan karyawan terhadap standar etika.

Salah satu program untuk meningkatkan pelaksanaan standar etika adalah karyawan boleh melaporkan perilaku tidak etis di tempat kerja secara anonim. Meskipun demikian, karyawan takut terjadi balas dendam oleh karyawan lain yang dilaporkannya tersebut. Whistleblowing terjadi ketika karyawan mengungkapkan perilaku tidak etis karyawan lain kepada pihak eksternal organisasi, seperti ke media atau lembaga pemerintah. Perusahaan seringkali meminta karyawan untuk melaporkan perlakuan tidak etis rekan kerjanya secara internal saja. Namun demikian, whistleblowers seringkali diperlakukan negatif dalam organisasi.

Kecenderungan yang ada saat ini adalah perubahan inisiatif etika berdasar peraturan atau legal dalam organisasi menjadi budaya atau integritas yang menjadikan etika bagian dari nilai-nilai yang dianut organisasi. Program etika bisnis yang efektif baik bagi tercapainya kinerja organisasi. Perusahaan selalu mengembangkan fungsi kepercayaan secara lebih efektif dan efisien dan menghindari kerusakan reputasi perusahaan dan imej produk perusahaan. Etika organisasional akan memberikan dampak positif bagi tercapainya sasaran organisasi seperti keuntungan, kemampuan, kepuasan kerja karyawan, dan loyalitas pelanggan. Tidak adanya etika organisasional dan tidak adanya nilai-nilai di tempat kerja seperti kejujuran, kepercayaan, dan integritas dapat memiliki dampak negatif pada sasaran organisasi dan ingatan karyawan.

Menurut Madura (2007), ada beberapa contoh keputusan bisnis yang dinilai tidak etis, yaitu:

  1. Pemberian komisi agar mendapatkan harga produk yang lebih murah atau untuk mendapatkan proyek tertentu.
  2. Manajer yang merekrut calon karyawan yang tidak memenuhi kualifikasi karena calon karyawan tersebut adalah teman sekolahnya dulu.
  3. Manajer yang memberikan kemenangan dalam tender untuk pembelian bahan-bahan dari pemasok yang dapat memberikan komisi kepadanya.
  4. Untuk menghemat biaya, perusahaan membuang limbah ke sembarang tempat yang dapat menyemarkan lingkungan sekitarnya.

Masih banyak lagi tindakan atau keputusan tidak etis yang dilakukan parusahaan atau personel dalam perusahaan yang melanggar etika dan dapat merugikan berbagai pihak. Keputusan yang tidak etis biasanya terjadi ketika keputusan yang dibuat hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri tetapi merugikan para pemangku kepentingan lainnya. Oleh karena itu, perusahaan harus selalu melakukan pemantauan terhadap keputusan yang telah diambil untuk menjamin bahwa keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan yang ada.

Etika tidak pernah terlepas dari hukum. Baik etika (termasuk etika bisnis) dan sistem hukum dalam suatu negara selalu berevolusi dari waktu ke waktu. Namun demikian, ada beberapa hal yang menjadikan perhatian oleh para pelaku bisnis, seperti:

  1. Ada beberapa tindakan yang legal menurut hukum namun dipandang kurang atau tidak etis menurut beberapa orang.
  2. Ada beberapa tindakan yang tidak sah atau tidak dapat diterima menurut peraturan hukum namun tidak mengandung konten etika.
  3. Beberapa pengembangan etika berhubungan dengan pengembangan karakter atau memaksimumkan manfaat sosial.

Semua bisnis memberikan perhatian pada etika sebagai bagian dari misi organisasi atau perusahaan tersebut. Semua pelaku bisnis menyadari bahwa perilaku etis merupakan perilaku mendasar dalam menjalankan bisnisnya. Bisnis juga mempunyai nilai inti (core values) yang merupakan keyakinan khusus yang menjadi bagian dari filosofi pengoperasian bisnis. Nilai inti dalam bisnis tersebut meliputi kejujuran, kepercayaan, penghargaan, dan seluruh nilai moral yang terkait dengan bisnis. Perusahaan lain ada yang menggunakan integritas sebagai nilai inti.

Cara yang paling populer dalam memromosikan perilaku etis adalah melalui kode etik. Kode etik tersebut bersifat formal merupakan kalimat yang tertulis yang diyakini oleh bisnis harus dilakukan dan yang diyakini oleh bisnis untuk dihindari. Tujuan disusunnya kode etik tersebut adalah untuk memberitahu kepada semua pihak terkait mengenai cara menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan isu-isu etika. Kode etik bisa bersifat sangat umum, namun bisa juga bersifat khusus dan mendetail.

Selanjutnya, budaya bisnis merupakan hal yang penting dalam mempelajari etika bisnis. Budaya bisnis merupakan seperangkat nilai dan keyakinan mengenai hal yang baik, benar, dan tepat dalam bisnis. Nilai dan keyakinan tersebut pada umumnya dikenal dengan baik dan dapat diterima oleh semua anggota atau pelaku bisnis. Ada tiga hal yang harus dipahami dalam membangun budaya bisnis yang etis, yaitu pemimpin harus menyusun nilai moral bisnis yang jelas atau dapat dipahami, perilaku, dan standar etika tersebut disusun secara logis, dan proses membangun budaya etis tersebut sulit. Bisnis harus mendukung dan menguatkan karyawan dengan nilai-nilai etika melalui pemberian penghargaan pada karyawan yang menjalankan nilai-nilai etika bisnis dan memberikan sanksi bagi pelanggaran etika bisnis.

Faktor yang menentukan apakah perilaku seseorang tersebut etis atau tidak antara lain tahap pengembangan moral dan variabel pemoderasi lain seperti karakteristik individual, desain struktur organisasi, budaya organisasi, dan intensitas isu-isu mengenai etika. Individu yang memiliki moral kuat tidak akan melakukan sesuatu yang keliru bila berhadapan dengan peran, kebijakan, ataupun deskripsi pekerjaan. Sebaliknya, moral individu akan melemah karena struktur dan budaya organisasi yang memungkinkan perilaku yang tidak etis.

Selanjutnya, ada tiga tahap pengembangan moral (Boone & Kurrtz, 2005). Tahap pertama adalah preconventional level, yaitu orang memilih antara benar dan salah berdasarkan pada konsekuensi personal dari luar sumber daya sepereti hukuman fisik, penghargaan, atau pertukaran. Pada tahap ini berbagai peraturan ditaati dengan baik untuk menghindari hukuman yang bersifat fisik. Pada tahap kedua, conventional level,  keputusan mengenai etika berkaitan dengan standar yang ditetapkan dan digunakan dalam hidup bermasyarakat. Pada tahap ini berbagai kewajiban harus ditaati dan hal yang menjadi harapan masyarakat harus dipenuhi. Tahap ketiga yang disebut dengan principle level adalah pendefinisian nilai moral yang tidak termasuk kewenangan kelompok. Pada tahap ini semua prinsip etika diikuti meskipun mereka tidak mematuhi hukum dan menilai hak-hak orang lain walaupun harus mengabaikan pendapat mayoritas.

Selanjutnya, ada dua karakteristik individual sebagai faktor pemoderasi, yaitu nilai dan kepribadian yang menentukan apakah orang akan berperilaku etis. Nilai personal menunjukkan keyakinan mendasar mengenai hal yang benar dan yang salah. Nilai ini dipengaruhi oleh hal yang didengar dan dilihat dari orang tua, guru, teman, dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, karyawan yang berasal dari organisasi yang sama bisa memiliki nilai yang berbeda. Selanjutnya, ada dua jenis kepribadian yang memengaruhi tindakan individu yang mendasarkan pada keyakinan mengenai hal yang benar dan yang salah, yaitu kekuatan ego (ego strength) dan kemampuan pengendalian (locus of control). Ego strength mengukur kekuatan kepercayaan diri seseorang. Individu yang memiliki ego strength tinggi akan mengerjakan hal yang mereka pandang benar dan lebih konsisten dengan pertimbangan moral. Locus of control merupakan keyakinan individu untuk mengendalikan kesempatannya. Individu dengan internal locus of control yakin dapat mengendalikan masa depannya sendiri. Oleh karena itu, individu dengan internal locus of control mempunyai standar sendiri untuk menentukan hal yang benar dan yang salah yang konsisten dengan standar atau pertimbangan moralnya.

Faktor pemoderasi lainnya adalah desain struktur organisasi. Desain struktur organisasi akan memengaruhi apakah karyawan akan berperilaku secara etis dengan meminimalkan ambiguitas dan ketidakpastian dengan peran dan peraturan formal yang secara terus-menerus mengingatkan karyawan mengenai perilaku etis dan mendorong perilaku etis. Variabel struktural lain yang memengaruhi pilihan etis yang meliputi ssaran, sistem penilaian kinerja, prosedur alokasi penghargaan. Meskipun organisasi menggunakan sasaran atau tujuan sebagai petunjuk yang dapat memotivasi karyawan, namun sasaran atau tujuan ini dapat menimbulkan perilaku tidak etis. Sebagai contoh, perusahaan yang bertujuan mendapatkan keuntungan akan melakukan perilaku yang tidak etis dengan menghalalkan cara yang masih mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Sistem penilaian kinerja organisasi menyangkut bagaimana penghargaan akan dialokasikan pada karyawan. Bila pemberian penghargaan tergantung pada hasil sebagai tujuan maka karyawan akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuan termasuk melakukan pelanggaran terhadap standar etika.

Selanjutnya, budaya organisasi juga memengaruhi perilaku etis. Budaya organisasi berisi nilai-nilai bersama yang dianut organisasi tersebut. Nilai- nilai tersebut menunjukkan apa yang diterima dan apa yang diyakini seperti menciptakan lingkungan yang dapat mendorong perilaku etis atau tidak etis. Organisasi dapat menggunakan pengelolaan berdasarkan nilai, yaitu menggunakan nilai-nilai untuk mengarahkan cara mengerjakan tugas atau pekerjaannya. Manajer organisasi memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang dapat mendukung karyawan menerima budaya dan nilai- nilai yang diperlukan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan.

Bagaimana perilaku etis dapat diciptakan? Manajer dapat melakukan sejumlah langkah untuk menciptakan perilaku etis di tempat kerja, seperti menyeleksi karyawan dan memilih karyawan yang sesuai dengan standar etika, menyusun kode etik, memimpin dengan cara memberikan contoh. Proses seleksi karyawan yangmeliputi wawancara, tes tertulis, pengujian latar belakang, sabagainya merupakan tahap yang penting dalam mengenal pengembangan moral, nilai-nilai personal, ego strength dan locus of control individu tersebut. Pada tahap ini individu akan diberi pemahaman mengenai hal yang benar dan yang salah, dan standar etika dalam organisasi. Kode etik merupakan catatan atau statemen formal mengenai nilai-nilai organisasi dan peran yang harus dimainkan oleh masing-masing pihak.

Selanjutnya, melakukan bisnis secara etis memerlukan komitmen dari pimpinan puncak karena nilai-nilai bersama atau yang disebut budaya disusun antara lain oleh pemimpin dan pendiri. Pimpinan juga harus menyusun praktik pemberian penghargaan dan memberikan hukuman. Bagaimana etika bisnis dikembangkan? Banyak perusahaan membuat seminar, workshop, dan berbagai bentuk program pelatihan untuk menciptakan dan mendorong perilaku etis. Program pelatihan tersebut bukannya tidak menuang kontrovesi. Kritik utama terhadap program pelatihan tersebut adalah etika merupakan sistem nilai yang terbentuk ketika individu masih muda. Oleh karena itu, nilai hanya dapat dipelajari ketika masih muda, bahkan ketika masih kanak-kanak. Namun demikian, beberapa peneliti menyatakan bahwa pelatihan mengenai etika tersebut dapat meningkatkan pengembangan moral sehingga dapat meningkatkan kesadaran individu terhadap isu-isu etika dalam bisnis.

Selanjutnya, ada berbagai isu dalam etika bisnis, yaitu kepemimpinan yang etis, melindungi karyawan yang melaporkan kesalahan, kewirausahaan sosial, dan usaha sukarela dari para karyawan. Pemimpin yang etis adalah pemimpin yang mengambil keputusan secara etis, jujur, tidak melakukan manipulasi, tidak berbohong, berlaku adil, dan tidak menggunakan kesempatan atau situasi untuk memanfaatkan karyawan. Kebanyakan karyawan merasa takut melaporkan kesalahan atau kecurangan yang dilakukan pimpinan atau rekan kerjanya karena takut kariernya akan terhambat. Namun demikian, untuk dapat mewujudkan bisnis yang beretika, kesalahan atau kecurangan tersebut harus dilaporkan untuk diberikan hukuman atau sanksi bagi pelaku kecurangan tersebut.

Sementara itu, kewirausahaan sosial merupakan individu atau organisasi yang mencari kesempatan untuk memperbaiki masyarakat dengan menggunakan pendekatan praktis, inovatif, dan berkelanjutan. Usaha  sukarela karyawan seringkali disebut sebagai perilaku menyimpang yang tidak ada dalam deskripsi pekerjaannya, namun karyawan secara sukarela melakukannya. Perilaku menyimpang yang dilakukan secara sukarela tersebut memang dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan, namun dapat menimbulkan stres kerja dan menyebabkan konflik pekerjaan– keluarga.

Cole (2004) menyatakan bahwa beberapa perusahaan telah menerapkan duabelas langkah dalam menerapkan kode etik untuk melaksanakan etika bisnis, yaitu:

  1. Mengintegrasikan kode etik dalam sistem nilai perusahaan
  2. Menjamin bahwa kode etik yang ada didukung oleh pimpinan
  3. Menyosialisasikan kode etik pada semua karyawan dengan benar
  4. Mengarahkan karyawan mengenai cara mengelola kesulitan pelaksanaan kode etik dan cara menangani kemungkinan terjadinya menyimpangan dari kode etik
  5. Memberikan kesempatan kepada semua personel dalam organisasi untuk menanggapi isi kode etik tersebut
  6. Memberitahukan persyaratan yang harus dijalankan manajer untuk memahami dan menerapkan kode etik dalam praktik
  7. Mengenalkan prosedur untuk meninjau dan merevisi kode etik bila diperlukan
  8. Membuat suatu kontrak kesediaan untuk melakukan kode etik bagi karyawan
  9. Menyediakan pelatihan mengenai isu-isu yang relevan bila menerapkan kode etik
  10. Menerjemahkan kode etik ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami bila diperlukan
  11. Mendistribusikan fotokopi kode etik kepada pemasok dan pelanggan untuk mendukung tanggung jawab mereka dalam melaksanakan kode etik
  12. Memasukkan kode etik dalam laporan tahuan sehingga para pemangku kepentingan dan masyarakat umum mengetahui kode etik yang berlaku di perusahaan tersebut.

Untuk melaksanakan kode etik tidak dapat terlepas dari permasalahan dilema moral seperti yang telah disinggung pada subpokok bahasan sebelumnya. Dilema moral tersebut meliputi:

  1. Suatu cara kegiatan atau keputusan tertentu dilaporkan dalam laporan tahunan seperti ukuran depresiasi terutama pada situasi dan kondisi khusus
  2. Mendapatkan kontrak penjualan di pasar yang persaingannya tinggi sehingga membutuhkan adanya dorongan atau pilihan yang disarankan
  3. Penggabungan antara rencana, desain, dan informasi penting lainnya dari pesaing oleh mata-mata (espionage)
  4. Merencanakan pengendalian terhadap kenyataan yang menggabungkan keamanan atau keefektifan produk

Keberadaan kode etik dalam melaksanakan etika bisnis juga diperlukan dalam melakukan negosiasi bisnis, khususnya dalam situasi yang tidak ada pengendalian atau batasan yang bersifat legal atau  konstitusional. Keberadaan kode etik dalam etika bisnis didukung oleh manajemen puncak (top management) akan membantu mewarnai budaya perusahaan yang membedakan praktik bisnis perusahaan tersebut dari perusahaan bisnis lain, membedakan praktik bisnis yang dapat diterima oleh perusahaan tersebut, serta mempertajam praktik bisnis yang ada.

Isu mengenai etika bisnis lainnya adalah engeksploitasi wanita dan anak- anak baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Pada perusahaan multinasional juga terdapat pertentangan antara praktik bisnis lokal dan praktek bisnis perusahaan tersebut untuk memberikan upah yang rendah bagi karyawan yang berasal dari perusahaan lokal. Permasalahan lingkungan juga ikut menentukan apakah bisnis tersebut telah berjalan dengan baik atau masih melanggar peraturan mengenai polusi lingkungan. Polusi tersebut bila tidak tertangani dengan baik akan merusak hutan, sungai, dan ekosistem lingkungan lainnya yang berdampak pada permasalahan pemanasan global (global warming). Perusahaan berusaha untuk meminimalkan polusi, mengurangi limbah, dan mengembangkan metode produksi yang ramah lingkungan. Dalam beberapa kasus, pemerintah membantu dengan peraturan atau hukum yang bersifat nasional dan berbagai kesepakatan internasional. Namun demikian, apabila hukum, peraturan, dan kesepakatan nasional dan internasional tersebut tidak ada maka perusahaan menggunakan etika bisnis sebagai dasar mewujudkan kondisi tersebut.

Etika bisnis seringkali tumpang tindih dengan etika praktis seperti etika lingkungan, etika medis, etika jurnalisme, etika politik, dan sebagainya (Harrison, 2005). Etika lingkungan merupakan hak keuangan para pemegang saham untuk menyusun pendekatan proaktif menghadapi green issues. Etika medis merupakan kewajiban perusahaan farmasi untuk menetapkan harga yang rendah di negar-negara sedang berkembang yang masih memerlukan bantuan keuangan dan memiliki keterbatasan sumber daya. Etika jurnalisme dan etika politik merupakan etika yang terkait masalah komunikasi. Masih banyak lagi etika yang berlaku di masyarakat yang kebanyakan tumpang tindih dengan etika bisnis.

Penggunaan etika bisnis menunjukkan bisnis itu sendiri sebagai entitas yang berbeda dan melaksanakan bisnis secara kompetitif. Etika bisnis membahas permasalahan etika dalam bisnis secara umum yang seringkali terkait dengan etika pasar yang ada dalam sistem perekonmian pasar yang kompetitif. Dalam kenyataannya, etika bisnis sebagai satu entitas dilakukan oleh individu dalam organisasi bisnis sebagai wirausaha, manajer, dan karyawan.

Etika bisnis juga berhubungan dan tumpang tindih dengan etika profesional, seperti etika akuntan, etika pemasaran, etika manajemen sumber daya manusia, dan sebagainya. Etika akuntan penting bagi semua organisasi sebagai penilai, pengendali, dan pelaporan berbagai aspek manajemen keuangan dengan tingkat kejujuran dan transparansi tinggi. Etika pemasaran terkait dengan persepsi pelanggan mengenai periklanan dan penjualan melalui berbagai media. Sementara itu, etika manajemen sumber daya manusia merupakan etika yang penting terutama dalam pengelolaan karyawan dalam organisasi tersebut.

Sementara itu, ada keterkaitan antara etika dan hukum. Baik etika maupun hukum di semua negara di dunia ini selalu mengalami perubahan  dan perkembangan. Hukum sebagai bentuk operasionalisasi kode moral memiliki beberapa catatan penting, yaitu:

  1. Ada kalanya tindakan yang dilakukan telah sesuai hukum, namun dipandang tidak etis oleh beberapa individu dalam masyarakat
  2. Ada kalanya tindakan yang dilakukan melanggar hukum (illegal), namun tidak mengandung konten etika secara khusus. Hal ini bukan berarti hukum telah hancur, namun analisis etika secara luas tidak diperlukan.
  3. Beberapa pendekatan dalam etika berhubungan dengan pengembangan atau untuk memaksimumkan manfaat sosial yang tidak secara sederhana diatur dengan hukum kecuali untuk hal-hal yang terkait dengan hasil.

Dalam masyarakat ada empat standar yang berkembang, yaitu hukum, etika, kebebasan, dan politik. Banyak literatur mengenai etika bisnis yang tidak terkait dengan tindakan kriminal karena tidak ada dilema etika. Etika bisnis juga berhubungan dengan ambiguitas dan kesulitan batasannya dengan hukum. Dalam melaksanakan etika bisnis, terdapat tiga langkah, yaitu kesadaran (awareness), keinginan (intention), dan keputusan (decision). Kesadaran moral merupakan adanya isu etika dalam pengambilan keputusan dalam konteks khusus. Pertimbangan moral, yaitu keputusan mengenai hal yang benar untuk dikerjakan. Perilaku yang etis yaitu mengerjakan sesuatu yang benar.

Rangkuman Pengertian dan Konsep Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan prinsip dan standar perilaku dan nilai-nilai moral yang mengarahkan tindakan dan keputusan di lingkungan kerja. Untuk dapat diterapkan, organisasi menetapkan kode etik yang berlaku umum dalam organisasi tersebut. Kode etik ini merupakan cara untuk memromosikan perilaku etis dalam organisasi. Selain itu, manajer harus menggunakan prinsip dan standar dalam kode etik tersebut dalam menyeleksi karyawan, memilih karyawan yang sesuai kode etik, dan memberikan contoh perilaku yang etis. Perilaku etis dapat dianalisis menggunakan tiga pendekatan atau teori, yaitu pendekatan utilitarianisme, teori hak, dan teori keadilan.

Pelaksanaan kode etik juga memerlukan komitmen dari manajemen puncak. Etika bisnis juga seringkali tumpang tindih dengan etika lainnya seperti etika lingkungan, etika politik, etika medis, etika jurnalkisme,  dan sebagainya. Selain itu, etika bisnis juga tumpang tindih dengan etika profesional seperti akuntan, pemasaran, manajemen sumber daya manusia, dan seterusnya.

Referensi

Iriani, Dorothea Wahyu. 2020. Pengantar Bisnis. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 1.41

Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis Pengertian dan Konsep Etika Bisnis

2 thoughts on “Pengertian dan Konsep Etika Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated