Pengertian Intrapreneurship dan Tujuannya dalam Bisnis

Pengertian Intrapreneurship dan Tujuannya dalam Bisnis

Pengertian Intrapreneurship dan Tujuannya dalam Bisnis

Pengertian intrapreneurship dan tujuannya dalam bisnis akan dijelaskan dalam artikel berikut. Selamat membaca…

Inovasi yang berkesinambungan, baik dalam aspek produk, proses, maupun dalam prosedur pengelolaan serta struktur organisasi perusahaan, serta dimilikinya kemampuan bersaing secara efektif di pasar internasional dianggap merupakan jenis keterampilan yang menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam menghadapi perkembangan ekonomi global abad ke-21. Intrapreneurship dipandang sebagai proses yang dapat mendukung usaha perusahaan untuk terus-menerus melakukan inovasi dan untuk memiliki kemampuan dalam menghadapi persaingan di pasar internasional. Sikap dan perilaku entrepreneurship dibutuhkan untuk perusahaan berukuran kecil hingga yang besar, agar dapat maju dan berkembang dalam lingkungan yang penuh persaingan.

Walaupun belum banyak yang memahami, Intrapreneurship telah menjadi sesuatu yang populer. Kebanyakan peneliti sepakat bahwa istilah ini menunjukkan kegiatan entrepreneurship yang terikat aturan organisasi serta keterbatasan sumber, yang dimaksudkan untuk menciptakan hasil yang inovatif. Tujuan utama dari Intrapreneurship adalah untuk mengembangkan tumbuhnya semangat entrepreneur dalam batas-batas organisasi, yang mampu mendorong berkembangnya suasana inovatif dalam organisasi.

DEFINISI

Definisi intrapreneurship telah berkembang sejak 30 tahun terakhir, terutama di kalangan pendidikan tinggi. Sebagai contoh, seorang peneliti mendefinisikan intrapreneurship sebagai suatu konsep yang luas, yaitu menumbuhkan, mengembangkan, dan mengimplementasikan gagasan ataupun perilaku baru. Inovasi bisa berbentuk produk atau jasa baru, sistem pengelolaan, rencana, atau program yang menyangkut anggota suatu organisasi. Dalam pengertian ini, intrapreneurship bisa ditafsirkan sebagai usaha untuk meningkatkan kembali kemampuan organisasi atau perusahaan untuk memiliki keterampilan ataupun kemampuan inovatif.

Baca Juga: Pengembangan Strategi Intrapreneurship Dalam Bisnis

Shaker A. Zahra mengamati bahwa intrapreneurship bisa bersifat formal maupun juga informal, dimaksudkan untuk menciptakan usaha baru dalam sebuah organisasi atau perusahaan yang sudah mapan, melalui inovasi produk, proses, maupun pengembangan pasar. Kegiatan semacam ini bisa dilakukan atau dikembangkan pada tingkat organisasi atau perusahaan secara keseluruhan, divisi, fungsi, ataupun proyek tertentu, dengan tujuan bersama yaitu memperbaiki posisi organisasi atau perusahaan dalam persaingan ataupun untuk memperbaiki kinerja finansial organisasi atau perusahaan tersebut.

Dari berbagai definisi mengenai intrapreneurship dapat ditarik kesimpulan bahwa intrapreneurship bisa didefinisikan sebagai suatu proses, di mana seseorang atau suatu kelompok, dalam kaitan dengan sebuah organisasi ataupun perusahaan, berusaha menciptakan organisasi yang baru datang mendorong terjadinya pembaharuan atau inovasi dalam organisasi atau perusahaan. Berdasarkan definisi ini, perubahan strategi (perubahan organisasi dalam hal strategi dan/atau perubahan struktur), inovasi (memperkenalkan sesuatu yang baru kepada pasar atau konsumen), dan usaha bersifat entrepreneur dalam sebuah organisasi atau perusahaan yang sudah mapan, merupakan bagian penting dan sah dari proses intrapreneurship suatu organisasi atau perusahaan.

MANFAAT INTRAPRENEURSHIP

Saat ini sudah banyak pihak yang mulai menyadari pentingnya Intrapreneurship. Berbagai pihak mengungkapkan perlunya untuk mengalirkan pemikiran kewirausahaan dalam organisasi birokratis berukuran besar. Tom Peters yang menaruh perhatian besar terhadap fenomena munculnya inovasi dalam perusahaan, seperti juga banyak peneliti lain, ternyata menemukan bahwa Intrapreneurship memang sangat dibutuhkan.

Baca Juga: Konsep Entrepreneur atau Wirausaha dalam Bisnis

Kebutuhan terhadap Intrapreneurship ini muncul sebagai reaksi terhadap berbagai tekanan yang dialami perusahaan, seperti munculnya banyak pesaing baru dengan teknologi yang lebih canggih, semakin tidak dipercayainya pengaturan yang dilakukan menggunakan gaya manajemen tradisional, berhentinya karyawan terbaik yang mencoba mengembangkan usaha sendiri, munculnya pesaing dari luar negeri, mengecilnya ukuran perusahaan-perusahaan besar, dan tumbuhnya keinginan yang kuat pada kebanyakan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas maupun efisiensi.

Persaingan selalu menjadi masalah bagi semua kegiatan usaha, terutama pada masa berkembangnya teknologi dengan pola seperti sekarang ini, di mana inovasi dan berbagai perbaikan merupakan hal yang biasa terjadi dalam kegiatan perusahaan. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk melakukan inovasi apabila tidak ingin tertinggal dari para pesaingnya.

Di negara-negara tertentu kehilangan karyawan terbaik juga makin sering terjadi. Makin banyak orang yang lebih tertarik untuk berwirausaha dibanding menjadi pegawai karena semakin banyak tersedia modal ventura yang membuat mendapatkan pinjaman untuk memulai usaha menjadi mudah. Karena itu, perusahaan di jaman modern ini perlu menyediakan saluran untuk memberikan peluang bagi berkembangnya Intrapreneurship, sehingga mengurangi minat karyawan terbaiknya untuk meninggalkan posisinya dalam perusahaan.

HAMBATAN TERHADAP INTRAPRENEURSHIP

Terhambatnya Intrapreneurship dalam suatu organisasi biasanya menunjukkan tidak efektifnya gaya manajemen tradisional untuk digunakan dalam pengembangan usaha baru. Walaupun sering kali terjadi tanpa disengaja, dampak gaya manajemen tradisional sering kali sedemikian buruknya sehingga anggota organisasi cenderung tidak berminat untuk menjadi intrapreneur. Tabel berikut ini menunjukkan berbagai jenis teknik manajemen dan akibat negatif yang ditimbulkannya apabila teknik- teknik tersebut dijalankan secara kaku. Tabel ini juga mencoba menunjukkan corak tindakan yang direkomendasikan untuk mengatasi berbagai akibat negatif tersebut.

Baca Juga: Konsep Dasar Kewirausahaan atau Entrepeneurship

Tabel Sumber Hambatan dan Solusi bagi Munculnya Intrapreneurship

JENIS PRAKTEK MANAJEMEN TRADISIONALHAMBATAN YANG TIMBUL  TERHADAP INTRAPRENEURSHIPSOLUSI YANG DIUSULKAN
Memaksakan prosedur standar untuk menghindari terjadinya kesalahanSolusi inovatif terhambat, dana terbuang karena penggunaannya keliruDibuat aturan yang spesifik untuk setiap jenis situasi
Pengelolaan sumber mengacu pada efisiensi dan ROIDaya saing hilang, kemampuan penetrasi pasar menurunUsaha difokuskan pada masalah yang rawan (misalnya pangsa pasar)
Pengendalian mengacu pada rencanaFakta diabaikan diubah sesuai situasiRencana kenyataan dihadapi
Rencana Jangka PanjangSasaran yang salah terpaksa tetap menjadi acuan, mahal jika gagalSasaran dilengkapi dengan milestone yang setiap tahap selalu diperiksa kesesuaiannya
Pengelolaan secara fungsionalEntrepreneurship jadi terhambat, sehingga perusahaan gagalEntrepreneurship dibantu dengan keterampilan manajerial yang sifatnya multidisiplin
Menghindari tindakan berisiko bagi bisnis utamaPeluang hilangMenggunakan langkah- langkah kecil, bertahap, sesuai kebutuhan
Menjaga bisnis utama dengan seluruh kekuatan yang dimilikiUsaha baru ditinggalkan apabila bisnis utama tergangguUsaha baru dijadikan bisnis utama, berani menghadapi risiko
Pertimbangan terhadap langkah baru mengacu pada PengalamanKeputusan mengenai pasar dan persaingan menjadi keliruMenggunakan strategi belajar, asumsi-asumsi diuji kebenarannya
Penyajian seragamMotivasi karyawan turun terjadi inefisiensiSeimbangkan risiko terhadap imbalan, gunakan imbalan khusus
Individu dipromosikan apabila mampu menyesuaikan diri (compatible)Inovator tidak munculBerikan peluang bagi “perusuh” dan orang yang berani berbuat.
Kuratko, hal.55 Tabel 3.1.

Penting untuk memahami berbagai jenis penghambat bagi munculnya Intrapreneurship dalam sebuah organisasi. Untuk mendapat dukungan dan menggairahkan munculnya semangat Intrapreneurship, sumber hambatan perlu dibuang dan diusahakan untuk mengembangkan alternatif cara pengelolaan.

Aspek Munculnya Inovasi

Setelah mengenali berbagai jenis penghambat munculnya inovasi, James Brian Quinn, seorang ahli di bidang inovasi, menemukan bahwa dalam perusahaan ukuran besar terdapat aspek-aspek tertentu yang bisa merangsang munculnya inovasi, adalah berikut ini.

Suasana dan visi

Perusahaan yang inovatif memiliki visi yang jelas tentang suasana yang inovatif dan memberikan dukungan yang jelas terhadap munculnya suasana seperti itu.

Orientasi terhadap Pasar

Perusahaan inovatif memiliki visi yang berkaitan dengan realitas pasar.

Organisasi berukuran kecil dan mendatar (flat)

Perusahaan inovatif berusaha agar memiliki organisasi mendatar (flat) dengan tim berukuran kecil.

Pendekatan dari berbagai arah

Dalam mengembangkan suatu gagasan, pimpinan inovatif mengem- bangkan kegiatan dari berbagai arah.

Pembelajaran interaktif

Dalam suasana inovatif mempelajari dan menguji gagasan dilakukan melalui berbagai fungsi yang ada dalam organisasi.

Kelompok Non-Formal

Perusahaan yang sangat inovatif memanfaatkan kelompok-kelompok di luar garis otoritas formal sehingga bisa terhindar dari hambatan birokrasi, memiliki daya reaksi yang cepat dan loyalitas kelompok yang tinggi.

REKAYASA ULANG PEMIKIRAN TENTANG PERUSAHAAN

Untuk merangsang munculnya gagasan inovatif dalam perusahaan, perlu diciptakan suasana yang mampu mendorong para karyawan agar berani mengembangkan gagasan. Akan tetapi sering kali para pimpinan tidak yakin, bahwa gagasan bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan mereka. Mereka juga sering kali mengalami kesulitan untuk mengimplementasikan kebijakan yang mendorong kebebasan maupun kegiatan yang tidak terstruktur, yang biasanya merupakan tempat bagi tumbuhnya gagasan inovatif. Akan tetapi, para pimpinan memang perlu menciptakan kebijakan yang dapat membantu karyawan inovatif untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Empat langkah penting agar suasana sejenis itu bisa terwujud adalah sebagai berikut.

  1. Perlu ditetapkan sasaran yang jelas dan terukur. Sasaran hendaknya disepakati oleh manajemen maupun oleh karyawan, sehingga tahapan- tahapan pencapaian sasaran bisa jelas dan memungkinkan untuk dicapai.
  2. Perlu diciptakan sistem umpan-balik dan perangsang sehingga karyawan yang berpotensi sebagai inovator ataupun sebagai Intrapreneur menyadari bahwa organisasi bisa menerima dan menghargai gagasan baru.
  3. Perlu ditonjolkan dan diutamakan tanggung jawab secara individual. Memberi kepercayaan dan kejelasan tanggung jawab merupakan faktor kunci keberhasilan program inovasi.
  4. Memberikan imbalan yang sesuai dengan hasil yang diperoleh. Sistem imbalan perlu mampu mengakomodasikan dan juga mendorong anggota organisasi untuk berani menanggung risiko dan berusaha mencapai sesuatu.

Setiap perusahaan perlu mampu menciptakan cara mengembangkan Intrapreneurship yang sesuai dengan kondisi organisasinya masing-masing. Tetapi, terdapat beberapa pertanyaan kunci yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam mewujudkan cara pengembangan yang tepat. Rangkaian pertanyaan ini bisa menjadi umpan balik bagi organisasi dalam rangka memilih pendekatan yang tepat.

  1. Apakah Anda perlu mendorong karyawan untuk menjadi Intrapreneur?
    • Intrapreneur menunjuk dirinya sendiri untuk berperan sebagai Intrapreneur, dan ternyata pilihan peran ini direstui oleh perusahaan. Banyak perusahaan yang keliru, mencoba menetapkan orang tertentu untuk menjadi inovator.
  2. Apakah    perusahaan    Anda     memberikan    peluang     kepada    para Intrapreneur agar dapat mencoba gagasannya?
    • Dalam proses inovasi, apabila pengembangan gagasan dialihkan dari pencetus gagasan kepada karyawan atau pihak lain, maka pihak yang ditunjuk untuk mengembangkan gagasan tidak memiliki rasa tanggung jawab seperti yang dimiliki pencetus gagasan.
  3. Apakah karyawan di perusahaan Anda diizinkan untuk mengerjakan tugas dengan caranya sendiri? Atau mereka harus terus-menerus menjelaskan dan meminta izin untuk menjalankan cara kerja tertentu?
    • Pada beberapa organisasi, pemberian izin semacam ini sering kali harus melewati beberapa tingkatan hierarki, sehingga keputusan menjadi terlambat, sementara pengambil keputusan juga tidak paham karena  tidak pernah bertemu dengan pencetus gagasan.
  4. Apakah di perusahaan Anda tersedia cara informal agar bisa cepat mendapatkan sumber untuk mencoba gagasan baru?
    • Beberapa perusahaan mengizinkan karyawannya menggunakan sebagian waktu kerja mereka untuk mencoba gagasan baru, ataupun juga dana apabila muncul gagasan baru yang masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perusahaan lain justru mengontrol sumber dengan ketat dan tidak bersedia menyisihkan dana untuk keperluan mempelajari lebih lanjut gagasan yang muncul.
  5. Apakah di perusahaan Anda dikembangkan cara untuk mengelola banyak produk dan sering melakukan percobaan?
    • Budaya perusahaan sering kali menginginkan penelitian maupun perencanaan yang sempurna sebelum melaksanakan suatu kegiatan. Akan menjadi lebih baik apabila lebih sering mencoba walaupun dengan penelitian dan perencanaan yang kurang sempurna.
  6. Apakah sistem kerja di perusahaan Anda menghalalkan pengambilan risiko dan memberikan toleransi terhadap kesalahan?
    • Inovasi tidak akan dapat diwujudkan tanpa risiko dan kesalahan. Inovasi yang berhasil sering kali dimulai dengan kesalahan.
  7. Apakah organisasi Anda bersedia mempertahankan percobaan dalam waktu yang memadai dan berkali-kali diawali secara keliru?
    • Inovasi sering kali makan waktu, kadang-kadang hingga 10 tahun, padahal pengoperasian perusahaan sering kali iramanya ditentukan oleh rencana tahunan.
  8. Apakah karyawan di perusahaan Anda lebih tertarik kepada  gagasan baru atau lebih suka mempertahankan cara lama yang sudah mereka kuasai?
    • Gagasan baru sering kali menerabas batas-batas pola kerja ataupun organisasi lama, sehingga sering muncul gejala mempertahankan pola lama pada orang-orang yang merasa terganggu.
  9. Apakah di organisasi Anda cukup mudah untuk membentuk tim otonom yang mampu berfungsi secara lengkap?
    • Tim kecil dengan tanggung jawab ataupun kewenangan penuh untuk melaksanakan gagasan atau kegiatan Intrapreneur sering kali bisa menyelesaikan banyak inovasi. Tetapi banyak perusahaan yang merasa enggan membentuk tim sejenis itu.
  10. Apakah para Intrapreneur di perusahaan Anda bebas menggunakan sumber yang dimiliki divisi lain atau dari pemasok luar?
    • Intrapreneur sering kali harus berhadapan dengan situasi monopoli internal, misalnya produk hanya boleh dikerjakan oleh bagian tertentu, hanya boleh dipasarkan oleh bagian pemasaran, yang tidak paham terhadap gagasan baru yang mendasari inovasi, sehingga gagasan baru hilang tanpa mampu berkembang lebih lanjut.

Cara lain untuk menciptakan suasana inovatif adalah melalui aturan inovasi (rules of innovation) berikut ini.

  1. Anjurkan agar karyawan berani berbuat atau bertindak.
  2. Jika memungkinkan utamakan menggunakan pertemuan informal.
  3. Berikan toleransi terhadap kegagalan dan jadikan kegagalan sebagai pengalaman untuk belajar.
  4. Usahakan agar gagasan dapat menjadi sesuatu yang dapat dipasarkan ataupun dapat digunakan.
  5. Berikan ganjaran (reward) terhadap inovasi.
  6. Usahakan agar layout fisik perusahaan memudahkan terjadinya komunikasi informal.
  7. Berharaplah agar ada gagasan baru bisa muncul walaupun melanggar aturan, misalnya ada karyawan yang justru memikirkan gagasan baru pada jam kerja normal.
  8. Bentuk tim-tim kecil untuk memikirkan gagasan yang berorientasi ke masa depan.
  9. Dorong anggota organisasi untuk mengakali prosedur yang kaku ataupun aturan-aturan yang sifatnya birokratis.
  10. Promosikan dan berikan ganjaran (reward) bagi karyawan yang inovatif.

Andaikata aturan-aturan tersebut dipenuhi maka akan terbentuk suasana kerja yang kondusif dan mendukung munculnya Intrapreneurship, dan perusahaan akan memiliki suasana yang sesuai bagi perilaku Intrapreneurship. Karena itu, untuk merangsang agar gagasan baru bisa muncul maka organisasi perlu memeriksa dan meninjau ulang falsafah pengelolaannya. Banyak perusahaan yang pengelolaannya bertumpu pada pemikiran yang sudah ketinggalan jaman mengenai budaya kerja sama, teknik-teknik manajemen yang digunakan, dan sistem nilai yang dianut para pimpinan maupun karyawannya. Para pimpinan perusahaan perlu belajar untuk dapat hidup bersama atau memberi kesempatan terhadap para Intrapreneur.

Organisasi bisa membantu mengubah kembali cara berpikir dan mendorong munculnya suasana yang inovatif, yaitu dengan cara:

  1. mengidentifikasikan    secara    dini     calon-calon    Intrapreneur    yang berpotensi;
  2. ada dukungan dari manajemen puncak terhadap kegiatan atau gagasan yang dimunculkan oleh para Intrapreneur;
  3. mendorong munculnya variasi perbedaan maupun keteraturan antar bagian dalam kegiatan strategis perusahaan;
  4. mempromosikan Intrapreneur;
  5. mengembangkan kerja sama antara Intrapreneur dan organisasi secara keseluruhan.

Mengembangkan suasana inovatif ternyata mampu memunculkan banyak manfaat bagi organisasi. Corak suasana yang sesuai bagi Intrapreneurship merangsang munculnya pengembangan produk ataupun jasa baru, sehingga mampu mendorong organisasi untuk tumbuh. Selain itu, akan tercipta kelompok-kelompok kerja yang dapat membantu menjaga kemampuan kompetitif perusahaan. Suasana yang kondusif bagi orang-orang yang berprestasi membantu perusahaan untuk mampu menjaga orang-orang yang terbaik agar tidak tertarik untuk meninggalkan perusahaan.

RANGKUMAN PENGERTIAN INTRAPRENEURSHIP DAN TUJUANNYA DALAM BISNIS

Intrapreneurship bisa ditafsirkan sebagai usaha untuk meningkatkan kembali kemampuan organisasi atau perusahaan untuk memiliki keterampilan ataupun kemampuan inovatif. Shaker A. Zahra menyebutkan bahwa intrapreneurship dimaksudkan untuk menciptakan usaha baru dalam sebuah organisasi atau perusahaan yang sudah mapan, melalui inovasi produk, proses, maupun pengembangan pasar. Kegiatan semacam ini bisa dilakukan atau dikembangkan pada tingkat organisasi atau perusahaan secara keseluruhan, divisi, fungsi, ataupun proyek tertentu, dengan tujuan bersama yaitu memperbaiki posisi  organisasi atau perusahaan dalam persaingan ataupun untuk memperbaiki kinerja finansial organisasi atau perusahaan tersebut. Dari berbagai definisi mengenai intrapreneurship dapat ditarik kesimpulan bahwa intrapreneurship bisa didefinisikan sebagai suatu proses, di mana seseorang atau suatu kelompok, dalam kaitan dengan sebuah organisasi ataupun perusahaan, berusaha menciptakan organisasi yang baru datang mendorong terjadinya pembaharuan atau inovasi dalam organisasi atau perusahaan.

Terhambatnya Intrapreneurship dalam suatu organisasi biasanya menunjukkan tidak efektifnya gaya manajemen tradisional untuk digunakan dalam pengembangan usaha baru. Walaupun sering kali terjadi tanpa disengaja, dampak gaya manajemen tradisional sering kali sedemikian buruknya sehingga anggota organisasi cenderung tidak berminat untuk menjadi intrapreneur.

Terdapat beberapa aspek yang bisa merangsang munculnya inovasi, yaitu

  1. suasana dan visi;
  2. orientasi terhadap Pasar;
  3. organisasi berukuran kecil dan mendatar (flat);
  4. pendekatan dari berbagai arah;
  5. pembelajaran interaktif;
  6. kelompok Non-Formal.

SUMBER

Lubis, S.B. Hari. 2020. Kewirausahaan. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 9.3

Pengertian Intrapreneurship dan Tujuannya dalam Bisnis Pengertian Intrapreneurship dan Tujuannya dalam Bisnis Pengertian Intrapreneurship dan Tujuannya dalam Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated