Ringkasan Ikhtisar Sinopsis dan Abstrak

Ringkasan Ikhtisar Sinopsis dan Abstrak

Ringkasan Ikhtisar Sinopsis dan Abstrak

Ringkasan Ikhtisar Sinopsis dan Abstrak serta Tips dan trik menulis ringkasan yang baik dalam bahasa Indonesia akan dijelaskan dalam artikel berikut. Selamat membaca….

PENGERTIAN

Istilah ringkasan dan meringkas bukan hal yang asing bagi kita. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan akademis, para guru dan siswa sudah sangat akrab dengan istilah ini. Di samping istilah tersebut, kita juga sering mendengar istilah-istilah lain yang tampak berkerabat dengan istilah “ringkasan”. Istilah-istilah tersebut antara lain ikhtisar, sinopsis, dan abstrak.

Baca Juga: Tata Cara Menulis Makalah Yang Baik

Apa persamaan dan perbedaan dari keempat istilah tersebut dengan “ringkasan”. Mari kita perhatikan ilustrasi berikut.

  1. “Ibu Gina tidak bisa masuk kelas hari ini,” demikian jelas ketua kelas III-A salah sebuah SLTP di pinggiran kota Cianjur kepada teman-teman sekelasnya. “Beliau meminta kita untuk meringkas bacaan yang terdapat dalam Buku Paket dari halaman 25-30. Tulis hasil pekerjaan kita dalam buku tugas bahasa Indonesia, lalu kumpulkan di meja Bu Gina di ruang guru. Oya, beliau berpesan agar ringkasan yang kita buat tidak lebih dari satu halaman. Demikian pesannya, tambah Gumelar, sang ketua kelas, mengakhiri pengumuman untuk teman-temannya.
  2. Senin 12 Juni 2007. Jika sedang musim hujan seperti ini, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Tiga buku acuan untuk bahan ujian besok belum sempat kusentuh. Padahal buku yang sedang ku pelajari sekarang pun baru seperempatnya saja. Akhirnya aku mengambil jalan pintas. Keempat buku acuan ini berhasil ku pelajari seluruhnya hanya dengan jalan membaca bagian-bagian ikhtisarnya saja. Kebetulan buku-buku tersebut menyajikan ikhtisar pada setiap akhir bab dari buku tersebut. (Catatan harian seorang gadis).
  3. Dalam suatu diskusi kelas, Pak Adi, salah seorang guru bahasa Indonesia, sedang mengadakan perbincangan dengan para siswanya di seputar masalah-masalah karya prosa, khususnya novel-novel yang termasuk ke dalam angkatan 70-an. Saat itu, beberapa orang anak diminta menceritakan jalan cerita satu-dua buah contoh novel yang pernah dibacanya. Di luar dugaan Pak Adi, Orin, salah seorang muridnya yang agak pendiam, mengetahui tokoh-tokoh dan jalan cerita hampir seluruh novel yang diceritakan kawannya. Ketika Pak Adi bertanya, apakah Orin telah membaca seluruh novel yang diceritakan kawannya, Orin dengan tenang menjawab “tidak!”. Dia mengetahui semua itu karena dia memiliki kumpulan sinopsis dari novel-novel tadi. Tak satu pun dari novel itu telah ia baca secara tuntas, tetapi ia telah membaca sinopsisnya.
  4. Setiap mahasiswa yang telah merampungkan masa studinya dengan meraih gelar sarjana pendidikan wajib menyerahkan tiga eksemplar skripsi berikut abstraknya ke perpustakaan”, demikian bunyi sebuah pengumuman yang terpampang dalam papan pengumuman kampus UT.

Dari keempat contoh ilustrasi di atas, secara berturut-turut Anda mendapati empat buah istilah yang tampaknya berkerabat. Kelima istilah dimaksud adalah ringkasan, ikhtisar, sinopsis, abstrak, dan parafrase. Bahkan, ada satu istilah lagi yang sering juga dikelompokkan ke dalam kelompok istilah tersebut, yakni rangkuman. Apa sebenarnya pengertian dari istilah-istilah tersebut? Adakah persamaan dan perbedaannya?

Mari kita perhatikan kembali ilustrasi (1). Pada ilustrasi tersebut kita jumpai istilah ringkasan. Proses kerjanya disebut meringkas. Ringkasan merupakan alih bahasa dari summary. Istilah ini mengandung makna sebagai salah satu wujud/bentuk penyingkatan suatu informasi dengan hanya menyajikan informasi atau butir-butir pentingnya. Meskipun sebuah ringkasan hanya berisi butir-butir penting atau butir-butir pokok dari sebuah informasi lengkap dan komplit, namun tidak berarti pikiran penulis atau pembicara tidak bisa disarikan secara utuh.

Gorys Keraf (1978:84) melukiskan ringkasan (summary) sebagai suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Menurutnya, membuat ringkasan atas sebuah karangan yang panjang dapat diumpamakan sebagai memangkas sebatang pohon yang rindang sehingga yang tersisa hanyalah batang-batang dan cabang-cabangnya yang terpenting. Pernyataan ini menyiratkan makna bahwa meskipun yang tersisa tinggal batang dan cabang pohon yang terpenting, namun tidak berarti kebermaknaan sebuah pohon menjadi hilang. Kebermaknaan sebuah pohon akan tetap bisa dilihat dan dipertahankan sebagaimana kita melihat wujud semula.

Lebih jauh dia menjelaskan bahwa “keindahan gaya bahasa, ilustrasi serta penjelasan-penjelasan yang terperinci dihilangkan, serta sari karangannya dibiarkan. Meskipun bentuknya ringkas dan singkat, namun ringkasan itu tetap mempertahankan pikiran pengarang dan pendekatannya yang asli.

Selanjutnya, mari kita amati ilustrasi (2). Pada ilustrasi tersebut Anda dapati sebuah kata bercetak miring, yaitu ikhtisar. Istilah ini merupakan alih bahasa dari bahasa Inggris ‘precis’. Ahmadi (1990:88) menjelaskan bahwa ikhtisar sebenarnya merupakan sinonim dari ringkasan. Di samping istilah ikhtisar, istilah-istilah lain yang dianggap bersinonim dengan ringkasan adalah sinopsis, abstrak, dan parafrase. Menurutnya, keempat istilah yang disebutkan tadi merupakan sinonim dari ringkasan yang mempunyai kemiripan dan kedekatan makna, tetapi biasanya dengan konotasi dan konteks pemakaian yang khusus (berbeda-beda).

Baca Juga: Membuat Karangan Dalam Bahasa Indonesia

Mari kita amati kembali kelima ilustrasi yang tersaji di bagian awal kegiatan belajar ini. Dilihat dari maknanya, kelima istilah yang terdapat dalam kelima ilustrasi di atas memiliki makna dasar yang sama, yakni pemadatan dan penyingkatan informasi hingga tersisa butir-butir pokok yang merupakan cerminan ide atau pikiran penulis/pembicara aslinya.

Meskipun kelima istilah tadi berkerabat, bersinonim, memiliki kemiripan dan kedekatan makna, namun konteks pemakaiannya berbeda-beda. Coba Anda perhatikan pemakaian istilah “sinopsis” pada ilustrasi (3). Istilah ini biasa digunakan untuk lingkungan sastra, khususnya karya prosa (cerpen dan novel) dan drama. Dijelaskan Ahmadi (1990:89), “sinopsis biasanya digunakan untuk meringkas cerita atau lakon (dan hasil ringkasannya itu) sehingga tetap memperlihatkan langkah-langkah atau plot cerita itu”.

Istilah lain yang berkerabat dengan ringkasan adalah abstrak. Istilah ini biasa digunakan dalam konteks tulisan ilmiah, seperti tulisan-tulisan dalam jurnal ilmiah, skripsi, disertasi, dan lain-lain. Abstrak merupakan intisari dari sebuah tulisan dalam bentuk mini. Parera (1982) mengartikan intisari atau abstrak ini sebagai bentuk rangkuman yang sangat ketat dan dipergunakan dalam bidang ilmu pengetahuan dan industri.

Abstrak lebih banyak dipergunakan secara profesional sebagai satu panduan untuk mengetahui informasi-informasi baru dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu. Sebagai contoh, di Indonesia LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) sering menerbitkan abstrak dari buku-buku baru dalam disiplin ilmu tertentu. Informasi singkat dan padat mengenai isi buku itu biasanya sangat bermanfaat untuk para pembaca, terutama para cendekiawan dan para pakar di bidang disiplin ilmu dimaksud. Kalangan perguruan tinggi juga sering meminta para pembuat karya ilmiah seperti tesis (S-2) dan disertasi (S-3) untuk menyertakan abstrak dari karya yang telah dibuatnya. Dengan demikian, orang yang membutuhkan informasi tentang karya tersebut tidak harus membaca seluruh karya (tesis, disertasi) dimaksud, melainkan cukup dengan membaca abstraknya.

PROSEDUR PEMBUATAN RINGKASAN

Prosedur pembuatan ringkasan dapat kita klasifikasikan ke dalam dua kategori, yakni:

  1. prosedur umum,
  2. prosedur khusus.

Prosedur umum merupakan langkah-langkah kerja yang bersifat umum dan berlaku untuk pembuatan suatu ringkasan dan sinonim-sinonimnya, seperti ikhtisar, sinopsis, rangkuman, dan abstrak. Sementara, prosedur khusus merupakan langkah-langkah kerja yang bersifat khusus untuk pembuatan salah satu wujud pemadatan atau penyingkatan, salah satu tulisan tertentu dalam konotasi dan konteks tertentu pula.

Prosedur umum dalam pembuatan sebuah ringkasan, pada dasarnya terbagi ke dalam empat langkah, yakni membaca, menyeleksi, menulis, dan membandingkan. Pada tahap membaca si pembuat ringkasan harus membaca dan mengkaji secara saksama bahan bacaan yang hendak diringkasnya. Pada tahap menyeleksi, pembuat ringkasan memilah-milah bagian inti dan bukan inti, menyeleksi pikiran utama dan pikiran penjelasnya. Pikiran-pikiran utama penulis dikumpulkan untuk dijadikan dasar bagi penulisan ringkasan. Pada tahap menulis pembuat ringkasan menulis ulang ide-ide pengarang yang dikumpulkan dalam wujud yang lebih singkat yang berbeda dari wujud semula. Hal penting yang harus diperhatikan dalam langkah ini adalah merekonstruksi ide, menyaring, serta memadatkannya tanpa mengganggu keutuhan dan keaslian maksud penulis aslinya.

Baca Juga: PEMBAHASAN LENGKAP TENTANG KEJUJURAN

Langkah selanjutnya adalah membandingkan hasil ringkasan dengan teks aslinya. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam langkah terakhir ini adalah:

  1. inti isi bacaan direproduksi dengan bahasa sendiri;
  2. jika hendak menyertakan pikiran penjelas, maka pikiran penjelas di- maksud harus benar-benar terpilih, yakni yang memberikan sokongan berarti bagi pikiran utamanya;
  3. tidak boleh menyertakan pikiran lain di luar pikiran asli penulisnya.

Bagaimana mewujudkan prosedur kerja di atas ke dalam langkah operasional, jika Anda hendak membuat sebuah ringkasan, baik ringkasan dari hasil membaca maupun ringkasan hasil menyimak? Mari kita ikuti langkah-langkah kerja berikut.

TAHAP DAN CONTOH PEMBUATAN MACAM-MACAM RINGKASAN

Selanjutnya, mari kita berlatih membuat ringkasan bacaan. Di samping prosedur umum tadi yang berlaku umum untuk semua langkah kerja dalam proses pembuatan ringkasan (ikhtisar, sinopsis, abstrak, dan parafrase), terdapat pula prosedur khusus yang berlaku untuk masing-masing bentuk ringkasan.

Pada bagian ini kita akan mencoba mempelajari bagaimana cara membuat ikhtisar bacaan.

Contoh 1 Langkah-langkah dan Contoh Membuat Ikhtisar Bacaan

Langkah 1: Membaca teks asli

Silakan Anda baca contoh bacaan berikut!

Pelajaran bahasa mempunyai nilai yang lebih penting bila dibandingkan dengan mata-mata pelajaran lain, oleh karena hal itu akan menjadi kunci pembuka pintu. Maksudnya, pelajaran bahasa akan membukakan pintu yang akan dilalui oleh mata-mata pelajaran lain. Hasil pekerjaan remidi yang dilakukan oleh para ahli dalam membantu murid-murid yang terbelakang telah membuktikan pernyataan di atas. Antara lain dapat disebutkan di sini hasil pekerjaan yang telah dilakukan Dr. Fernald.  
Pada umumnya murid-murid yang kurang menguasai pemakaian bahasa memperlihatkan gejala-gejala perkembangan mental yang lambat bila dibandingkan dengan perkembangan mental anak-anak yang baik penguasaan bahasanya. Biasanya, anak-anak yang kurang mampu berbahasa mempunyai sifat pemalu, pendiam, dan kurang dapat menyesuaikan diri dalam pergaulan.
Hasil pekerjaan remidi dalam mata pelajaran bahasa membuktikan, bahwa segera setelah si anak baik penguasaan bahasanya, dari anak yang tadinya dianggap bodoh oleh karena sering tidak naik kelas, ia sekarang memperlihatkan dirinya sebagai seorang anak yang cerdas. Malah ada di antara mereka yang kecerdasannya bahkan melebihi anak yang tadinya dianggap guru lebih cerdas. Dalam pergaulan di sekolah pun anak tersebut tidak lagi bersifat malu-malu dan suka mengasingkan diri. la menjadi anak yang periang dan disukai teman-temannya dalam pergaulan.  
Banyak contoh yang dapat kita kemukakan bahwa anak-anak yang kurang baik penguasaan bahasanya bukanlah semata-mata disebabkan oleh kebodohannya, tetapi mungkin pula disebabkan oleh kesalahan pengajaran bahasa yang diberikan kepadanya. Kesalahan pelaksanaan pengajaran bahasa yang diterimanya menyebabkan ia benci kepada mata pelajaran itu. la menjadi berputus asa dan akibatnya ia tidak memperoleh penguasaan bahasa yang baik. Kekurangmampuan berbahasa ini berakibat pula terhadap mata-mata pelajaran lainnya, sehingga ia sering gagal dalam mengikuti pelajaran dan akhirnya tertinggal dari teman-temannya.
Gambaran tersebut memperlihatkan kepada kita, betapa pentingnya pengajaran bahasa. Oleh karena itu, menjadi kewajiban guru bahasalah untuk melaksanakan pengajaran ini dengan sebaik-baiknya.  
Dikutip dari: Pandu Bahasa l.a halaman 72- 73 dengan perubahan seperlunya

Langkah 2: Menandai informasi penting bacaan

Langkah pertama yang harus kita lakukan dalam membuat ikhtisar bacaan adalah membaca dan memahami teks asli. Sambil membaca, cobalah menandai bagian-bagian informasi yang dipandang penting. Penandaan dimaksud dapat dilakukan dengan stabilo (mewarnai) atau dengan jalan menggarisbawahi bagian-bagian yang dianggap penting tersebut.

Anda mungkin bertanya, bagian mana dari bacaan itu yang tergolong ke dalam butir-butir penting. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan dasar bagi ukuran penting dan tidaknya sebuah informasi. Ukuran-ukuran dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Bagian bacaan tersebut berisi informasi yang dibutuhkan pembacanya;
  2. Bagian bacaan tersebut merupakan ide pokok dari setiap paragraf yang terdapat dalam bacaan tersebut;
  3. Bagian bacaan tersebut merupakan ide penjelas yang memberikan sokongan kuat terhadap ide pokok.

Kembali kepada contoh bacaan kita di atas, selanjutnya mari kita tandai bacaan tersebut berdasarkan kriteria ide pokok dan ide penjelas yang benar- benar memberikan sokongan kuat terhadap ide pokoknya. Pengetahuan tentang bagaimana cara mencari ide pokok suatu paragraf telah Anda pelajari dalam modul Keterampilan Membaca. Jika Anda lupa, Anda dapat membaca ulang modul tersebut untuk menyegarkan kembali ingatan Anda. Sekarang, mari kita perhatikan paragraf pertama dari bacaan itu.

Pelajaran bahasa mempunyai nilai yang lebih penting bila  dibanding-  kan dengan mata pelajaran-mata pelajaran lain, oleh karena  hal  itu akan menjadi kunci pembuka pintu. Maksudnya, pelajaran bahasa akan membukakan pintu yang akan dilalui oleh mata-mata pelajaran lain. Hasil pekerjaan remidi yang dilakukan oleh para ahli dalam membantu murid- murid yang terbelakang telah membuktikan pernyataan di atas. Antara lain dapat disebutkan  di  sini  hasil  pekerjaan  yang  telah  dilakukan  Dr. Fernald.

Bagian yang digarisbawahi dan bercetak tebal pada paragraf di atas merupakan ide pokok dari paragraf tersebut, sedangkan yang bercetak tebal tanpa garis bawah merupakan ide tambahan yang memberikan dukungan kuat terhadap ide pokoknya. Dengan demikian, ide pokok paragraf pertama di atas adalah pengajaran bahasa memiliki nilai yang lebih penting bila dibandingkan dengan mata-mata pelajaran lainnya.

Selanjutnya, mari kita lihat paragraf yang kedua.

Pada umumnya murid-murid yang kurang menguasai pemakaian bahasa memperlihatkan gejala-gejala perkembangan mental yang lambat bila dibandingkan dengan perkembangan mental anak-anak yang baik penguasaan bahasanya. Biasanya, anak-anak yang kurang mampu berbahasa mempunyai sifat pemalu, pendiam, dan kurang dapat menyesuaikan diri dalam pergaulan. Hasil pekerjaan remidi dalam mata pelajaran bahasa membuktikan, bahwa segera setelah si anak baik penguasaan bahasanya, dari anak yang tadinya dianggap bodoh oleh karena sering tidak naik kelas, ia sekarang memperlihatkan dirinya sebagai seorang anak yang cerdas. Malah ada di antara mereka yang kecerdasannya akhirnya melebihi anak yang tadinya dianggap guru lebih cerdas. Dalam pergaulan di sekolah pun anak tersebut tidak lagi bersifat malu-malu dan suka mengasingkan diri. la menjadi anak yang periang dan disukai teman-temannya dalam pergaulan.

Paragraf ketiga

Banyak contoh yang dapat kita kemukakan bahwa anak-anak  yang  kurang baik penguasaan bahasanya bukanlah semata-mata disebabkan oleh kebodohannya, tetapi mungkin pula disebabkan oleh kesalahan pengajaran bahasa yang diberikan kepadanya. Kesalahan pelaksanaan pengajaran bahasa yang diterimanya menyebabkan ia tidak suka kepada mata pelajaran itu. la menjadi berputus asa dan akibatnya ia tidak memperoleh penguasaan bahasa yang baik. Kekurangmampuan berbahasa ini berakibat pula terhadap mata-mata pelajaran lainnya, sehingga ia sering gagal dalam mengikuti pelajaran dan akhirnya tertinggal dari teman-temannya.

Paragraf terakhir

Gambaran di atas memperlihatkan kepada kita, betapa pentingnya pengajaran bahasa. Oleh karena itu, menjadi kewajiban guru bahasalah untuk melaksanakan pengajaran  ini  dengan  sebaik-baiknya.  Penggunaan berbagai metode dan teknik pengajaran yang variatif dan kreatif akan merangsang minat anak untuk belajar bahasa.

Langkah 3: Mencatat butir-butir informasi penting dalam bentuk kerangka ide

Berdasarkan analisis terhadap ide pokok dan ide penjelas yang memberikan sokongan kuat terhadap ide pokok, maka akan kita dapati kerangka idenya. Kerangka ide dimaksud merupakan kumpulan ide-ide pokok dari setiap paragraf. Untuk lebih jelasnya, inilah contoh kerangka ide dari bacaan kita di atas.

Pelajaran bahasa lebih penting dari mata pelajaran lain:kunci pembuka;membantu murid-murid terbelakang melalui remidi.Anak yang kurang dalam penguasaan bahasa cenderung perkembang- an mentalnya lambat:Pemalu, pendiam, sulit menyesuaikan diriPenguasaan bahasa anak berkaitan dengan kesalahan pengajarannya oleh guru.Kewajiban guru bahasa untuk melaksanakan pengajaran bahasa dengan sebaik-baiknya.

Langkah 4: Menulis ikhtisar bacaan

Sekarang kita sudah siap dengan butir-butir informasi yang dianggap penting dari bacaan kita di atas. Selanjutnya kita akan mencoba mereproduksi butir-butir informasi tersebut ke dalam bentuk ikhtisar atau ringkasan bacaan.

Hal yang perlu diingat dalam membuat ikhtisar adalah kebebasan menggunakan kata-kata sendiri dengan tidak merusak ide asli/semula. Agar kaitan antar ide menjadi runtun dan padu, maka si pembuat ikhtisar boleh menggunakan kata-kata sambung/hubung/konjungsi, dan sejenisnya yang dapat mengikat keutuhan ikhtisar yang dibuatnya.

Berikut ini contoh ringkasan dari bacaan di atas.

Pelajaran bahasa lebih penting dari pelajaran lainnya, karena penguasaan bahasa merupakan kunci pembuka bagi mata-mata pelajaran lain. Karenanya, remidi untuk anak-anak terbelakang juga sering dilakukan melalui pengajaran bahasa. Anak yang mengalami hambatan bahasa, cenderung menunjukkan kelambatan perkembangan mental: pemalu, pendiam, dan sulit menyesuaikan diri dalam pergaulan. Kadang- kadang kekurangmampuan siswa dalam berbahasa sering disebabkan oleh ketidaktepatan dalam pengajarannya. Hal ini menjadi kewajiban guru bahasa untuk menanganinya.

Sekarang Anda sudah dapat membuat ikhtisar sebuah bacaan atau mungkin ikhtisar hasil simakan. Setelah Anda berhasil membuat ikhtisar bacaan, mungkin timbul pertanyaan kecil pada benak Anda. Apakah ikhtisar yang Anda buat tersebut benar-benar telah mencerminkan ide penulis asal? Apakah ikhtisar yang Anda buat itu tidak menyelipkan ide atau gagasan Anda sendiri? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, Anda masih harus melakukan satu tahap kegiatan lagi dari proses pembuatan ikhtisar, yakni tahap peninjauan ulang hasil ikhtisar yang dibuat dengan jalan memperbandingkannya dengan tulisan aslinya.

Langkah 5: Membandingkan ikhtisar dengan teks semula

Ikhtisar yang telah Anda buat harus diperiksa ulang untuk memastikan bahwa informasi yang telah Anda reproduksi lewat ikhtisar itu tidak menyimpang dari tulisan aslinya. Bandingkanlah ikhtisar yang telah Anda buat tersebut dengan kerangka ide bacaan yang telah Anda buat pada langkah (3). Dengan jalan memperbandingkan kerangka  ide dengan hasil  reproduksi ide dimaksud, Anda akan dapat menilai ketepatan dan kecocokan ikhtisar tersebut dengan pikiran-pikiran penulis aslinya.

Saudara, ada suatu hal penting yang harus selalu diingat, yaitu jangan sekali-kali Anda memasukkan pemikiran-pemikiran Anda terhadap kerangka ide yang telah Anda buat. Jika hal ini Anda lakukan, yang terjadi Anda bukan membuat ringkasan tetapi membuat tulisan baru.

Contoh 2 Langkah-langkah dan Contoh Membuat Sinopsis

Seperti telah dijelaskan pada bagian awal modul ini bahwa “sinopsis” pada dasarnya merupakan suatu istilah yang berkerabat dengan “ringkasan”, namun dipakai dalam pengertian yang lebih khusus. Istilah ini sering digunakan untuk pembuatan ringkasan atau ikhtisar dari sebuah karya  sastra yang berbentuk prosa (cerpen dan novel) dan drama.

Langkah-langkah umum yang ditempuh untuk membuat sinopsis sama seperti halnya prosedur umum pembuatan sebuah ringkasan. Secara khusus, langkah-langkah pembuatan sinopsis hendaknya mengikuti langkah-langkah berikut.

Langkah 1: Menuliskan identitas buku

Sebelum membuat sinopsis, langkah awal yang harus kita perhatikan adalah memperhatikan dan menuliskan kembali secara cermat identitas buku/bacaan (novel, cerpen, drama) yang hendak dibuat sinopsisnya. Identitas bacaan tersebut meliputi: judul buku, pengarang, penerbit, tahun penerbitan, cetakan dan edisi, tebal halaman, harga buku (bila perlu). Sebagai gambaran langkah ini, perhatikan contoh berikut.

I.     IDENTITAS BUKU
Judul novel                           :  Raumanen
Pengarang                             : Marianne Katopo
Penerbit                                 : FT Gaya Favorit Press, Jakarta
Tahun terbit                          : 1977
Cetakan/Edisi                       : II (1986)
Tebal halaman                     : 95 halaman
Harga                                     : Rp 1.900,00

Langkah 2: Membaca buku secara keseluruhan

Membaca novel tersebut secara keseluruhan, sambil berusaha memahami hal-hal berikut ini.

  1. Siapa tokoh-tokohnya dan bagaimana karakternya?
  2. Di mana kejadian itu berlangsung serta bagaimana latarnya?
  3. Apa tema cerita itu serta bagaimana jalan ceritanya?
  4. Bagaimana cara pengarang bercerita (sudut pandang), apakah bergaya orang pertama atau bergaya orang ketiga?
  5. Bagaimana gaya bertutur, gaya bahasa, dan daya tarik pengarang dalam menyajikan ceritanya?

Langkah 3: Menuliskan sinopsis buku

Menulis ringkasan cerita dengan memperhatikan hal-hal berikut.

  1. Tema, latar dan tempat kejadian, serta para tokoh cerita ditulis setelah penulisan “Identitas Buku”.
  2. Mulailah sistem penulisan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kalimat-kalimat pembuka yang dapat digunakan untuk mengawali sinopsis ini, antara lain:

Novel yang berjudul… ini mengisahkan … dan seterusnya. Buku yang ditulis oleh … ini berjudul … dan seterusnya. Kisah ini diawali … dan seterusnya.

  1. Jika diperlukan, mengutip seutuhnya bagian-bagian yang dipandang penting dari buku tersebut dengan mencantumkan halaman dari kutipan tersebut.
II. GAMBARAN UMUM BUKU
Tema novel : Masalah adat: kawin paksa
Tempat kejadian : Jakarta dan sekitarnya
Latar : Kehidupan muda-mudi masa kini serta aktivitas-aktivitasnya
Tokoh :
1. Raumanen (Manen), seorang gadis Manado berusia 18 tahun yang berparas cantik dan lugu.
2. Hamonang Pohan (Monang) seorang insinyur muda yang sering dijuluki “buaya darat”.

Panjang sinopsis berkisar antara 2-4 halaman. Mari kita perhatikan contoh berikut!

Selanjutnya, mari kita perhatikan sinopsisnya!

SINOPSIS

Novel Raumanen karya Marianne Katopo yang berhasil meraih hadiah harapan pada Sayembara Penulisan Novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975 ini mengisahkan tokoh utama yang bernama Raumanen (Manen) dan Hamonang Pohan (Monang). Manen seorang gadis Manado berumur 18 tahun. la dikenal sebagai gadis cantik yang lugu, aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Dalam suatu kegiatan yang diikutinya, dia bertemu dengan Ir. Monang, seorang pemuda Batak lulusan ITB.

Pertemuan itu berbuntut terus. Hubungan yang semula dianggapnya sebagai “persahabatan” berlanjut pada hubungan sepasang kekasih. Meskipun begitu, Manen tidak terlalu merisaukan peringatan teman-temannya akan bahaya “menjadi mangsa si perebut hati wanita”, karena pada pandangannya Monang lebih memperlakukannya sebagai “adik” daripada sebagai kekasih.

Dalam perkembangan selanjutnya, hubungan mereka semakin mesra. Seiring itu pula, ayah, ibu, serta teman-teman Manen tak bosan-bosannya memperingatkan gadis lugu itu pada sebuah falsafah Batak yang juga pasti dianut keluarga Monang. Putra laki-laki sulung Batak harus kawin dengan gadis sesukunya. Peringatan tersebut tidak membuat Manen memutuskan hubungannya dengan Monang, malah tali kasihnya semakin kuat. Hubungan kedua insan itu menyadarkan dirinya masing-masing. Monang bagi Manen merupakan cinta pertamanya; sedangkan Manen bagi Monang merupakan satu-satunya gadis yang mampu menaklukkan petualangan cintanya selama ini.

Kemesraan kedua insan itu pada akhirnya sampai jua pada titik yang melampaui batas. Sebuah bungalow di Cibogo merupakan awal bencana bagi keduanya. Monang berjanji akan bertanggung jawab dan mengawini Manen. “Kalau cuma itu sebabnya hingga kau mau kawin denganku … kurasa lebih baik kau lupakan saja,” kata Manen (hlm. 48). Gadis itu tak mau kawin dengan lelaki yang bermaksud menikahinya hanya karena terpaksa. Tetapi demikianlah yang sesungguhnya. Monang begitu mencintai gadis itu, sayang keluarganya tak merestuinya. Ibu Monang telah menjodohkan Monang dengan gadis Batak pilihan keluarganya. Monang tak kuasa menolaknya, akhirnya dia kawin dengan gadis pilihan keluarganya.

Lain halnya dengan keluarga Manen, “begitu luas pandangannya, begitu lapang hatinya. Bagi mereka Indonesia itu bukan cuma istilah kosong saja, yang dapat sewaktu-waktu didesak oleh kesetiaan yang berlebih-lebihan pada peninggalan leluhur Minahasa” (hlm 73).

Manen hamil. Menurut dokter, bayinya akan lahir cacat sebagai akibat dari penyakit siphilis yang diidap bapaknya, Monang. Dokter menyarankan untuk menggugurkannya tetapi nurani Manen menyangkalnya. Ini anaknya, darah dagingnya sendiri. la rela menderita sungguhpun itu disebabkan oleh kehidupan tak sehat Monang sebelum kenal dengannya.

Suatu senja, di dalam keputusasaannya yang amat sangat Manen mengurung diri di kamarnya. la teringat kisah-kasih cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya, suka-duka bersamanya, kepedihan hatinya. Ia tak kuasa membendung perasaan bersalahnya yang mendalam. Inilah akibat dari segalanya “… Aku terbuang selama- lamanya dari Tuhan dan manusia” (hlm 92). Gadis manis yang malang itu, akhirnya mengambil jalan pintas, memilih jalannya sendiri, menghukum dirinya sendiri. la bunuh diri!

Meskipun membaca sinopsis sebuah karya sastra (seperti novel, misalnya), dapat memberikan informasi umum tentang isi novel tersebut, namun ada unsur lain yang terabaikan. Membaca karya sastra tidak hanya sekedar memetik intisari jalan ceritanya, siapa pelakunya, kapan dan di mana terjadinya, melainkan yang lebih penting adalah mengapresiasi unsur estetiknya serta mengambil makna dan hikmah dari karya tersebut. Pembuatan sinopsis karya sastra sesungguhnya bukan dimaksudkan untuk dijadikan bahan bacaan, melainkan untuk sekedar mengarsipkan agar mudah mengungkap data jika sewaktu-waktu diperlukan.

Contoh 3 Langkah-langkah dan Contoh Membuat Abstrak

Abstrak merupakan salah satu bentuk ringkasan yang biasa dilakukan terhadap karya-karya ilmiah, seperti skripsi (S-1), tesis (S-2), disertasi (S-3), dan karya-karya eksposisi formal lainnya, misalnya artikel-artikel dalam jurnal ilmiah, dan rekaman peristiwa pengadilan yang berkenaan dengan suatu kasus/peristiwa hukum yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk memudahkan kita dalam mempelajari ihwal abstrak dan penulisannya, bahasan kita mengenai abstrak akan kita batasi pada abstrak dari laporan hasil penelitian, seperti skripsi, tesis, atau mungkin disertasi.

Mengapa kita dituntut untuk dapat membuat abstrak?

Ada beberapa manfaat yang bisa kita petik melalui abstrak, di antaranya sebagai berikut.

  1. Abstrak memberi peluang pada pembacanya untuk menghemat waktu bila dibandingkan dengan membaca dokumen aslinya.
  2. Dengan waktu yang sama, orang dapat memperoleh informasi yang lebih banyak dari sejumlah abstrak yang dibacanya.
  3. Memberikan kemudahan kepada para penggunanya untuk melakukan seleksi bacaan secara efektif dan efisien.
  4. Mengurangi kesulitan penafsiran penggunaan bahasa bila dibandingkan dengan tulisan aslinya.
  5. Membantu pembaca untuk memperkaya sumber literatur, karena banyak tulisan ilmiah yang tidak dipublikasikan.
  6. Membantu para pustakawan di dalam menyuguhkan informasi-informasi melalui kartu-kartu katalog yang harus disiapkannya.

Siapa sebenarnya penulis abstrak itu? Abstrak dapat ditulis oleh si penulis karangan aslinya sendiri, dapat juga ditulis oleh pihak lain (abstraktor) yang memang ahli dalam bidangnya masing-masing.

Bagaimanakah rambu-rambu penulisan sebuah abstrak? Ada beberapa kriteria yang bisa dipedomani dalam menyusun abstrak. Kriteria-kriteria dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Abstrak disajikan dalam bentuk paparan informatif.
  2. Bahasa yang digunakan lugas, singkat, padat, dan jelas.
  3. Panjang abstrak lebih kurang 500 – 1500 perkataan.
  4. Isi abstrak sekurang-kurangnya harus mencakup: masalah dan tujuan penelitian, gambaran singkat mengenai metode dan teknik penelitian yang digunakan, hasil-hasil penelitian, kesimpulan dan saran.

Selanjutnya, mari kita perhatikan contoh abstrak berikut. Abstrak ini ditulis berdasarkan laporan hasil penelitian seorang peneliti.

ABSTRAK

RELEVANSI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DALAM BUKU TEKS PELENGKAP UNTUK SMU DENGAN KURIKULUM/GBPP 1994 BAHASA INDONESIA

Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah “bagaimana tingkat relevansi pembelajaran bahasa Indonesia dalam buku teks pelengkap untuk SMU dengan Kurikulum/GBPP 1994 Bahasa Indonesia”. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesesuaian pembelajaran bahasa Indonesia yang terdapat dalam buku teks pelengkap untuk SMU yang digunakan di Jawa Barat dengan tuntutan Kurikulum/GBPP 1994. Tingkat kesesuaian (relevansi) dimaksud meliputi tingkat relevansi wacana dengan tema, bahan ajar pemahaman struktur dengan rambu-rambu 17, bahan ajar penggunaan struktur dengan rambu- rambu 18, bahan ajar pemahaman kosakata dengan rambu-rambu 17, bahan ajar penggunaan kosakata dengan rambu-rambu 18, bahan ajar dalam GBPP dengan pengembangannya dalam buku pelengkap, pembelajaran kosakata dalam GBPP dengan pengembangannya dalam buku pelengkap.

Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode deskriptif- kualitatif dengan teknik analisis kaji banding antara konsep-konsep yang terdapat dalam buku teks pelengkap dengan konsep-konsep yang merupakan tuntutan dalam Kurikulum 1994. Pencatatan dan pengumpulan data dilakukan dengan sistem kartu data. Tuntutan pembelajaran bahasa Indonesia menurut Kurikulum 1994 dikajibandingkan dengan deskripsi pembelajaran dan pengembangannya dalam buku pelengkap.

Beberapa simpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

  1. Wacana pembelajaran yang relevan dengan tema dalam buku teks PBBII (69.84%), MBI (83.87%), PBSII (79-17%).
  2. Pembelajaran kosakata yang relevan dengan pengembangannya dalam buku teks PBBII (80%), MBI (55.56%), PBSII (50%).
  3. Pembelajaran struktur yang relevan dengan pengembangannya dalam buku teks PBBII (53.85%), MBI (38.46%), PBSII (60%)
  4. Bahan ajar pemahaman struktur, baik dalam buku teks PBBII  maupun MBI tergolong relevan dengan rambu-rambu 17.
  5. Bahan ajar penggunaan struktur, baik dalam buku teks MBI maupun PBBII tidak relevan dengan rambu-rambu 18.
  6. Membaca menyimak, menulis, dan berbicara dalam PBBII tidak dija- dikan rujukan untuk bahan ajar pemahaman dan penggunaan struktur.
  7. Bahan ajar pemahaman dan penggunaan terpadu kosakata, baik dalam PBBII maupun MBI tidak relevan dengan rambu-rambu 17 dan 18.  

Berdasarkan beberapa temuan tersebut ada beberapa saran untuk para pemakai buku teks (siswa, guru, sekolah, atau pihak lain) agar berhati-hati dan cermat dalam menentukan buku yang layak pakai untuk kepentingan pegangan belajar para siswa di sekolah. Para penulis buku teks, selain dituntut untuk menguasai isi dari disiplin ilmu yang ditulisnya juga harus paham benar tentang Kurikulum/GBPP yang berlaku di sekolah pada saat itu.

Jika kita perhatikan contoh abstrak di atas, kita akan mendapatkan empat ide pokok dari abstrak tersebut.

  1. Ide pokok paragraf pertama berkenaan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.
  2. Paragraf kedua berkenaan dengan penggunaan metode dan teknik penelitian.
  3. Paragraf ketiga berkenaan dengan hasil penelitian
  4. Paragraf terakhir berkenaan dengan saran-saran sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian tadi.

MENILAI RINGKASAN

Bagaimana menilai ringkasan? Pertanyaan ini akan muncul manakala Anda ingin mengetahui kualitas hasil tulisan reproduksi Anda dalam bentuk ringkasan. Hal apa saja yang harus diperhatikan serta bagaimana proses dan tahapan kerjanya? Silakan Anda ikuti saran berikut ini!

  1. Bandingkan hasil ringkasan yang Anda buat dengan teks aslinya. Pertanyaan-pertanyaan pemandu yang bisa Anda gunakan antara lain:
    • Apakah ringkasan yang dibuat itu tergolong sinopsis, abstrak, atau ikhtisar?
    • Jika jenis/macam ringkasan yang dibuat sudah jelas klasifikasinya, apakah hasil ringkasan itu sesuai dengan karakteristik dari jenis ringkasan yang dibuat itu?
    • Apakah esensi maksud, makna, informasi yang termuat dalam ringkasan sudah mencerminkan maksud, makna, dan informasi yang terkandung dalam teks aslinya?
    • Apakah panjang ringkasan (kuantitas kata dan kalimat) lebih padat dan singkat; tidak lebih dari 1/3 teks aslinya?
    • Apakah orisinalitas pikiran penulis aslinya dapat tetap dipertahankan sehingga tidak tercemari oleh masuknya pikiran dan pendapat si pembuat ringkasan?
  2. Periksa sistematika dan pengorganisasian sajian ringkasan! Pertanyaan- pertanyaan pemandu yang dapat Anda gunakan antara lain:
    • Apakah kalimat-kalimat yang terangkai dalam paragraf sudah runtun dan padu?
    • Apakah pemakaian kata sambung (konjungsi), kata-kata petunjuk konteks, kata ganti dapat mendukung kesatuan dan kepaduan paragraf?
    • Apakah teknis sajian ringkasan lebih memudahkan pembaca dalam memahami dan menangkap informasi yang tersaji dalam ringkasan?
  3. Periksa pemakaian bahasa dalam ringkasan. Pertanyaan-pertanyaan pemandu yang dapat Anda gunakan antara lain:
    • Apakah tingkat keterbacaan kata dan kalimat dalam ringkasan lebih mudah dibaca dan tidak menyimpang dari esensi maksud teks aslinya?
    • Apakah kalimat-kalimat yang mengusung esensi maksud teks asli sudah efektif?
    • Apakah penggunaan ejaan dan tanda baca dalam ringkasan sudah benar dan tepat?

Untuk sekedar rambu-rambu dalam menilai kualitas hasil tulisan reproduksi dalam bentuk ringkasan, Anda dapat menggunakan pedoman sederhana di atas dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan pemandunya. Jika jawaban Anda atas pertanyaan-pertanyaan tersebut minimal 80% menunjukkan jawaban “ya”, artinya kualitas ringkasan Anda tergolong bagus. Namun, jika sebaliknya, ringkasan Anda tergolong kurang bagus.

Rangkuman Ringkasan, Ikhtisar, sinopsis, dan Abstrak

Rangkuman merupakan bentuk pemadatan informasi dari suatu pokok persoalan yang diuraikan secara rinci dengan hanya mengambil intisari pembicaraan. Ada bermacam-macam istilah untuk bentuk-bentuk tulisan pemadatan ini yang memiliki makna yang lebih khusus, antara lain: ikhtisar, ringkasan, sinopsis, dan abstrak. Ikhtisar dan ringkasan biasanya digunakan untuk pemadatan yang dilakukan terhadap sebuah bacaan (hasil baca) atau hasil simakan yang sifatnya umum. Sinopsis biasa digunakan untuk pemadatan tulisan yang berupa karya sastra, seperti cerpen dan novel; sedangkan abstrak biasa digunakan untuk tulisan ilmiah, seperti artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.

Pembuatan tulisan dalam bentuk padat dimaksud pada dasarnya melalui prosedur umum yang sama, yakni melalui tahap-tahap berikut: membaca (menyimak), menyeleksi, menulis, dan membandingkan.

Secara khusus, untuk membuat ikhtisar bacaan hendaknya menempuh langkah-langkah berikut:

  1. membaca/menyimak teks asli,
  2. mengidentifikasi ide pokok bacaan dan ide penjelas yang dianggap sangat mendukung atau penting,
  3. mencatat ide-ide penting dimaksud dalam bentuk kerangka,
  4. menulis ikhtisar bacaan dengan memperhatikan jumlah kata maksimal yang diinginkan dan keluwesan merangkai kerangka ide pokok menjadi uraian yang padu, informatif, singkat, padat, dan jelas.

Dalam pembuatan sinopsis cerpen atau novel hendaknya dilakukan dengan menempuh langkah-langkah berikut:   

  1. identitas buku,
  2. membaca cerpen/novel secara keseluruhan,
  3. menulis sinopsisnya, dengan  memperhatikan  hal-hal  berikut:  tema,  latar,  tempat  kejadian, tokoh dan penokohan; menggunakan sudut pandang orang ketiga; mengutip seutuhnya bagian yang dianggap penting dan mendukung;
  4. panjang sinopsis berkisar antara 2-4 halaman.

Referensi:

Yeti Mulyati,dkk. 2021. Bahasa Indonesia. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 8.3

Ringkasan Ikhtisar sinopsis dan Abstrak Ringkasan Ikhtisar sinopsis dan Abstrak Ringkasan Ikhtisar sinopsis dan Abstrak

One thought on “Ringkasan Ikhtisar Sinopsis dan Abstrak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated