Terampil menggunakan bahasa Indonesia

TERAMPIL MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA

TERAMPIL MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA

Terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai berikut:

PENGERTIAN KETERAMPILAN BERBAHASA

Keterampilan berasal dari kata terampil yang bermakna cakap atau mampu dan cekatan. Kata ‘terampil’ mendapat imbuhan ke- -an menjadi keterampilan yang bermakna kecakapan atau kemampuan dan kecekatan. Keterampilan berbahasa adalah kemampuan dan kecekatan menggunakan bahasa yang dapat meliputi mendengarkan/menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Telah kita ketahui bahwa fungsi mama bahasa adalah sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulis. Dengan demikian, terampil berbahasa Indonesia artinya terampil menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Keterampilan berbahasa lisan meliputi menyimak dan berbicara, sedangkan keterampilan berbahasa tulis meliputi membaca dan menulis. Dilihat dari sifatnya, keterampilan menyimak dan membaca bersifat reseptif yaitu menerima atau memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara atau penulis, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif, artinya menghasilkan pembicaraan atau tulisan.

Keterampilan berbahasa lisan dilakukan secara tatap muka atau secara langsung dengan dan tanpa media penghubung (telepon). Keterampilan berbahasa tulis dilakukan tanpa tatap muka antara pembaca dan menulis.

Saudara, apa dan bagaimana empat keterampilan berbahasa tersebut, mari kita ikuti uraian berikut ini.

KETERAMPILAN RESEPTIF

Menyimak

Menyimak atau dalam kurikulum sekolah digunakan istilah mendengarkan adalah kegiatan berbahasa dengan tujuan memahami pesan yang disampaikan pembicara. Dapat disimpulkan bahwa menyimak berbeda dengan mendengar.

Baca Juga: Konsep Menyimak Dalam Bahasa Indonesia

Setiap orang yang memiliki alat pendengaran yang sehat pasti dapat mendengar segala macam bunyi dan suara dengan baik, artinya alat dengar berfungsi membantu setiap makhluk (manusia dan hewan) mendengar bunyi- bunyi yang keluar dari berbagai sumber dan Arab. Jika ada bunyi benda meledak tidak hanya manusia yang dapat mendengar, hewan yang ada di sekitar benda yang meledak tersebut pun dapat mendengar bunyi ledakan itu. Suara kicau burung di hutan tidak hanya dapat didengar oleh manusia, hewan lain pun dapat mendengar kicauan burung tersebut.

Demikian pula halnya dengan mendengar bahasa, jika seseorang hanya mendengar ujaran orang lain, artinya dia hanya mendengar bunyi-bunyi ujar tersebut tanpa tahu maksud atau makna yang terkandung di dalamnya. Lalu apa bedanya dengan menyimak atau mendengarkan?

Menyimak atau mendengarkan memang menggunakan alat yang sama yaitu alat dengar, namun seperti yang diungkapkan di atas bahwa menyimak memiliki tujuan sedangkan mendengar tidak. Tarigan (1980) mencontohkan ungkapan tentang menyimak “Tuhu ngeibegina, tapi labo idengkehkenna” yang artinya “Memang didengarnya, tetapi tidak disimaknya.” Para orang tua pun sering menasihati putra-putrinya sebagai berikut “kalau orang tua sedang berbicara jangan hanya sekadar didengar, masuk telinga kiri keluar telinga kanan.” Artinya, jika orang tua memberi nasihat diperhatikan dan diterapkan. Penjelasan di alas menunjukkan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara mendengar dan mendengarkan atau menyimak. Dalam bahasa Inggris, padanan mendengar adalah to hear, sedangkan menyimak adalah to listen atau hearing dan listening.

Di dalam menyimak orang tidak hanya mengaktifkan pendengarannya, tetapi juga haus berkonsentrasi serta menggunakan sikap-sikap positif, baik terhadap pembicara maupun bahan pembicaraan. Sikap positif terhadap bahan simakan atau pembicaraan akan membantu penyimak berkonsentrasi dalam memahami simakan. Jika sebelum menyimak seseorang sudah tidak menyenangi topik pembicaraan, ia tidak akan melakukan kegiatan menyimak dengan sungguh-sungguh, yang terjadi adalah ia hanya mendengar saja atau menjadi penyimak pasif. Hal yang sama akan terjadi jika penyimak tidak menyukai pembicaranya. Apapun yang disampaikan pembicara akan dinilai tidak baik oleh penyimak, sehingga kegiatan menyimak pun menjadi tidak efektif.

Menyimak bersifat interaktif dan noninteraktif. Menyimak interaktif adalah menyimak dengan melakukan tanya jawab dengan pembicara atau dengan penyimak yang lain. Artinya, kegiatan menyimak interaktif dapat dilakukan secara dua arah dan multi arah. Kegiatan menyimak interaktif sering kita saksikan atau kita lakukan. Contohnya, ketika kita menyimak atau mendengarkan penjelasan guru di kelas, ceramah agama di majelis-majelis taklim, dalam kegiatan diskusi atau musyawarah. Menyimak interaktif jarak jauh terjadi ketika pelaku bahasa melakukan kegiatan bertelepon.

Menyimak noninteraktif adalah kegiatan menyimak yang tidak disertai dengan tanya jawab atau interaktif antara pembicara dan penyimak. Kegiatan ini kita lakukan ketika mendengarkan siaran radio atau televisi (siaran berita, promosi/iklan, lawak, dan sebagainya). Pada kegiatan tatap muka juga sering kita melakukan menyimak noninteraktif, seperti mendengarkan pidato, ceramah yang tidak disertai dengan tanya jawab, atau mendengarkan nasihat. Anda dapat mencari contoh lain tentang kegiatan menyimak interaktif dan noninteraktif.

Membaca

Sebagaimana menyimak, membaca adalah kegiatan berbahasa dalam rangka memahami pesan. Jika pada menyimak pesan yang berusaha dipahami disampaikan secara lisan, maka pesan yang dipahami oleh pembaca adalah pesan yang disampaikan melalui tulisan. Artinya, keterampilan membaca tergolong ke dalam keterampilan berbahasa tulis.

Baca Juga: Konsep Membaca Dalam Bahasa Indonesia

Banyak keterampilan membaca yang dapat dimiliki oleh setiap orang, namun pada mata kuliah ini keterampilan yang akan Anda pelajari dan Anda latih adalah keterampilan yang sesuai dengan yang Anda butuhkan, yaitu keterampilan membaca pemahaman.

Bloom (2001) menerjemahkan pemahaman sebagai suatu proses dalam rangka mengetahui isi sebuah komunikasi atau gagasan yang dikomunikasikan baik dalam bentuk lisan maupun tulis. Di dalam pemahaman terdapat unsur tujuan, sikap, dan respon yang dapat mewakili sesuatu pengertian dari pesan yang disampaikan. Smith dalam Solkhan (1987) membagi pemahaman dalam membaca menjadi empat kategori yaitu:

  1. pemahaman literal,
  2. interpretatif,
  3. kritis,
  4. kreatif.

KETERAMPILAN PRODUKTIF

Berbicara

Saudara, kegiatan berbicara yang dimaksudkan di sini berkaitan dengan kegiatan ilmiah, bukan berbicara sebagaimana orang-orang berbicara dalam situasi nonformal seperti mengobrol atau kongko-kongko kata orang Jakarta. Berbicara yang diuraikan pada bahan ajar ini adalah kegiatan berbicara dalam rangka memperoleh dan menyampaikan pengetahuan dalam rangka mempraktikkan keterampilan berbahasa.

Baca Juga: HakikatĀ Berbicara Dalam Bahasa Indonesia

Jenis-jenis kegiatan berbicara yang biasa dilakukan pelajar/mahasiswa adalah diskusi, seminar, memberi sambutan atau pidato, melakukan wawancara untuk memperoleh informasi, dan lain-lain.

Berbicara adalah kegiatan menyampaikan pesan kepada orang lain (penyimak) dengan media bahasa lisan. Suhendar (1992: 20) mendefinisikan, berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran/perasaan menjadi wujud ujaran.

Sebagai suatu proses tentu banyak alat dan cara yang diperlukan dalam melakukan kegiatan berbicara. Alat utama yang digunakan orang dalam melakukan kegiatan berbicara adalah alat-alat ucap yang meliputi seluruh bagian mulut (bibir, lidah, langit-langit keras, langit-langit lunak, gigi, tenggorokkan, anak tekak, pita suara), paru-paru, dan juga hidung. Jika satu dari sekian alat-alat ucap tersebut ada yang tidak sehat akan mengganggu pelafalan atau ujaran pembicara.

Kegiatan berbicara yang baik dilakukan dengan melalui tahapan- tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Pada tahap persiapan, pembicara harus melakukan kegiatan menentukan tujuan, mengumpulkan referensi, menyusun kerangka, dan melakukan latihan. Pada tahap pelaksanaan, pembicara melalui tahapan membuka pembicaraan, menyampaikan gagasan, dan menutup pembicaraan. Evaluasi dapat  dilakukan dengan cara mendengarkan kembali kegiatan berbicara jika dibuat rekaman ketika berbicara atau meminta masukan dari pendengar, khususnya teman yang mendengarkan apa dan bagaimana kita berbicara.

Keterampilan berbicara sama dengan keterampilan berbahasa yang lain (menyimak, membaca, dan menulis) yang memerlukan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan berpikir yang memadai. Setiap orang dapat memiliki keterampilan berbicara yang baik, asal bersungguh-sungguh belajar untuk memahami konsep-konsep tentang berbicara dan melakukan latihan secara berkesinambungan. Pada modal berikutnya yaitu modal yang khusus membahas tentang keterampilan berbicara Anda akan mempelajari dan berlatih berbicara yang berkaitan dengan kepentingan Anda sebagai mahasiswa.

Menulis adalah keterampilan berbahasa kedua yang bersifat produktif. Jika pada keterampilan berbicara orang menyampaikan pesan, gagasan, atau buah pikiran dengan menggunakan bahasa lisan, dalam menulis pesan disampaikan penulis melalui bahasa tulis. Seperti halnya pada berbicara, menulis juga memerlukan proses. Untuk memperoleh tulisan yang baik penulis juga harus melalui tahapan-tahapan, yaitu tahap pra penulisan, tahap penulisan, dan tahap pasca penulisan.

Tahap pra penulisan atau tahap persiapan, pada tahap ini penulis harus melakukan kegiatan menentukan topik, mengorganisasikan tulisan, menentukan sasaran atau pembaca, mengumpulkan informasi, dan menyusun kerangka karangan. Pada tahap penulisan, penulis mulai menyusun tulisan atau melakukan kegiatan menulis. Tulisan penulis pada tahap ini masih dalam bentuk draf atau buram. Setelah tulisan dianggap selesai, penulis masuk pada tahap pasca penulisan, yaitu membaca ulang tulisan, memperbaikinya dengan cara menambah atau mengurangi dan memperbaiki tulisan yang bersifat mekanis sampai dianggap tulisan benar-benar final.

Haffemian dan Lincoln berpendapat bahwa “Menulis merupakan suatu proses. Pada waktu menulis seseorang memerlukan lebih banyak waktu untuk berpikir, menuangkan ide-idenya di atas kertas dengan cara mengembangkan topik, memilih kata-kata, membaca kembali apa yang ditulisnya, memikirkannya, mempertimbangkannya, dan memperbaikinya.”

Saudara, keterampilan menulis tidak didapatkan seseorang dengan cara yang mudah atau sekali jadi. Richek, dkk. (1997) mengungkapkan bahwa: “Penulis yang baik tidak menghasilkan tulisan dengan cam yang mudah atau sekali jadi, melainkan melalui tahapan-tahapan yang panjang.” Penyataan yang sama juga diungkapkan oleh Hock (1999): “Menulis atau mengarang adalah suatu kemahiran yang berbeda dengan kemahiran berbahasa yang lain (menyimak, berbicara, dan membaca). Kemahiran atau keterampilan menulis dapat diperoleh seseorang melalui latihan-latihan yang intensif.”

Sebagai suatu proses menulis memerlukan waktu yang panjang dan tahapan-tahapan yang harus dilalui. Mengapa memerlukan waktu yang panjang dan tahapan-tahapan yang banyak? Gere (1985) mengungkapkan bahwa “Menulis adalah berkomunikasi, menulis adalah mengekspresikan diri, menulis adalah menginstruksikan, dan menulis adalah usaha untuk belajarā€. Untuk memperoleh keterampilan menulis seperti yang diungkapkan oleh Gere di atas dapat diartikan bahwa untuk dapat menjadi penulis yang baik, seseorang dituntut untuk memiliki beberapa pengetahuan sekaligus. Pertama, seorang penulis memerlukan pengetahuan tentang isi (substansi) tulisan, sedangkan pengetahuan tentang bagaimana menuliskannya adalah pengetahuan yang menyangkut tentang aspek-aspek kebahasaan dan teknik penulisan.

Amran Halim, dkk. (1979) mengemukakan lima komponen penting yang terdapat di dalam sebuah karangan. Komponen-komponen tersebut adalah:

  1. isi karangan,
  2. bentuk karangan,
  3. tata bahasa,
  4. gaya,
  5. ejaan dan tanda baca.

Isi atau substansi karangan adalah hal-hal yang dituangkan ke dalam karangan. Isi karangan dapat berupa ide, pengalaman, fakta, atau informasi- informasi yang diperoleh melalui bacaan.

Bentuk karangan dapat dibedakan menjadi dua yaitu karangan dalam bentuk formal dan nonformal. Contoh karangan dalam bentuk formal antara lain laporan, surat dinas, jurnal, dan karya ilmiah. Sedangkan karangan yang berbentuk nonformal antara lain cerpen, dongeng, novel, dan karya-karya sejenis.

Tata bahasa merupakan aturan-aturan bahasa yang berlaku. Tata bahasa dalam tulisan meliputi tata cara menggabungkan kata atau morfem (morfologi), penyusunan ‘kalimat (sintaksis), serta aturan-aturan atau tata cara penulisan.

Gaya, berhubungan dengan pilihan kata (diksi) dan gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penulis. Komponen ini besar pengaruhnya terhadap isi tulisan. Pilihan kata banyak memiliki keterkaitan dengan komponen- komponen lain dalam tulisan, terutama keterkaitannya dengan tujuan, bentuk tulisan, terutama keterkaitannya dengan pembaca.

Penerapan ejaan dan tanda baca dalam sebuah tulisan harus disesuaikan dengan ejaan yang berlaku. Penggunaan ejaan yang tidak mengikuti aturan-aturan kebahasaan akan mengganggu pemahaman pembaca terhadap isi tulisan, hal ini menimbulkan tulisan menjadi tidak komunikatif. Hal yang fatal juga dapat timbul dari informasi yang disampaikan dengan cara yang tidak komunikatif, yaitu terjadinya salah penafsiran.

Nah Saudara, demikian tegasnya penyataan-penyataan para ahli bahasa tersebut tentang bagaimana caranya seseorang mendapatkan keterampilan menulis, memang tidak mudah. Banyak pengetahuan dan kemampuan lain yang diperlukan untuk memperoleh tulisan yang baik. Namun, Anda jangan dulu pesimis, sebagai seorang mahasiswa yang memiliki semangat belajar yang tinggi Anda pasti dapat menjadi penulis yang baik melalui belajar dan berlatih secara berkesinambungan, banyak bertanya, membaca, menyimak pembicaraan orang lain, Anda tidak akan hanya terampil menulis, tetapi seluruh keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dapat Anda kuasai.

Anda tidak percaya? Mari kita buktikan! Sebelum kita berlatih menulis, camkanlah dulu tip-tip berikut ini.

  1. Jangan tumbuhkan rasa takut salah ketika akan menulis.
  2. Pastikan bahwa Anda punya sesuatu yang layak diinformasikan.
  3. Pastikan bahwa Anda menguasai gagasan yang akan Anda tulis.
  4. Jangan pikirkan judul apa yang akan Anda gunakan.
  5. Jangan pikirkan orang-orang yang Anda anggap lebih pandai akan mencemooh Anda.
  6. Tulis topik dan sub-subtopik yang akan Anda tulis/kembangkan.
  7. Segera lakukan, jangan ditunda.

Saya akan memberikan ilustrasi berikut ini.

Anda menyaksikan beberapa orang asing bermain gamelan dengan sangat baik. Apakah ada sesuatu yang muncul dalam pikiran Anda? Misal, Anda terpikir mengapa mereka orang asing mau bermain musik tradisional Indonesia, padahal anak-anak muda Indonesia sekarang lebih merasa bangga jika dapat menjadi anak band. Munculkanlah ide untuk menulis tentang dilema ini.

Contoh.

Indonesia, negara besar di dunia. Indonesia berada di atas bumi yang kekayaannya sangat melimpah. Seni dan budayanya beraneka ragam jenis dan bentuknya. Jumlah penduduknya nomor tiga terbanyak di dunia. Apa yang kurang dari negeri ini? Alamnya, budayanya, Keseniannya, hasil kerajinannya, sampai pada jumlah penduduknya.

Ragam musik tradisional, calung, angklung, gambang kromong, gamelan, cianjuran, saluang, kolintang, dan berbagai jenis alat-alat musik. Masing-masing daerah yang ditempati oleh berbagai suku lebih dari 350 suku yang terdapat di Indonesia. Lebih dari separuh penduduk ini adalah anak-anak dan remaja. Namun, berapa banyak dari mereka yang bisa memainkan alat-alat musik tradisional seperti gamelan yang dimainkan oleh anak-anak dari Australia, Jerman, Belanda, Inggris, dan negara asing lainnya? Ke mana mereka, anak-anak bangsa ini. Apa yang terjadi pada mereka? Tidakkah ada rasa cinta lagi mereka pada tanah ini? Di manakah orang tua mereka? Di manakah guru-guru mereka? Di manakah pemimpin-pemimpin mereka? Masih berapa gelintirkah orang yang peduli dengan kekayaan bangsa ini? Akankah kekayaan negara ini akan benar-benar punah dari bumi persada ini. Mulai dari kayu di hutan, naskah-naskah lama yang merantau dan telantar, sungai-sungai yang tercemar, barang tambang yang hilang, dan yang sangat menyedihkan, merosotnya nilai-nilai moral serta lupa pada Tuhan yang mengasihi dan menyayangi bangsa ini.

Tulisan tersebut masih dapat dikembangkan dengan memunculkan sub- subtopik sesuai dengan pengetahuan Anda tentang hal tersebut. Setelah Anda menulis seperti contoh di atas, adakah yang ingin Anda tanyakan? … Bagus! Apa judul yang pantas untuk tulisan seperti itu. Tip di atas mengatakan bahwa jangan pikirkan judul sebelum Anda menulis. Pikirkanlah ide, topik yang akan Anda kembangkan. Judul dapat Anda tentukan setelah tulisan selesai. Terdapat beberapa kriteria untuk menentukan judul yang baik, yaitu buatlah judul yang menarik, kaitkan judul dengan isi tulisan, judul yang baik berapa penyataan bukan pertanyaan.

Baiklah Saudara, Anda boleh menggunakan judul untuk tulisan di atas sebagai berikut. `Nilai-nilai yang Hilang’, `Kekayaan yang Dilupakan’, ‘Hati- hati Kekayaanmu Punah’, Mencari Satu Juta Hilang satu Triliun’, dan lain- lain.

Demikian Saudara uraian tentang keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif (menyimak dan membaca) serta produktif (berbicara dan menulis) telah Anda pahami dengan baik. Selanjutnya akan kita bahas tentang hubungan antarketerampilan berbahasa tersebut. Apakah masing-masing keterampilan berbahasa tersebut saling berdiri sendiri atau saling berhubungan. Kita ikuti uraian berikut ini.

HUBUNGAN ANTARKETERAMPILAN BERBAHASA

Empat keterampilan berbahasa di atas baik lisan (menyimak dan berbicara) maupun tulis (membaca dan menulis) memiliki keterkaitan yang sangat erat. Satu keterampilan akan mendukung keterampilan yang lainnya. Hubungan antarragam bahasa memang lebih erat dibandingkan hubungan keterampilan di luar ragam, artinya hubungan antara menyimak dengan berbicara lebih erat dibandingkan hubungan menyimak dengan membaca atau menulis. Dengan kata lain, hubungan keterampilan pada ragam yang sama dapat disebut hubungan langsung, sedangkan hubungan keterampilan pada ragam yang berbeda hubungannya adalah hubungan tidak langsung.

Kita lihat hubungan ini dari segi ragam. Pada ragam lisan, yaitu menyimak dan berbicara berada pada ruang yang sama. Hal ini menunjukkan kedekatan hubungan antarkeduanya. Dalam kegiatan berbahasa lisan secara tatap muka, penyimak dan pembicara dapat bertukar atau berganti peran. Penyimak bertukar peran menjadi pembicara dan sebaliknya, pembicara menjadi penyimak. Pergantian peran ini biasanya terjadi pada kegiatan tanya jawab, saling memberi masukan atau interaktif.

Interaktif antara penyimak dan pembicara merupakan satu kelebihan yang dimiliki bahasa ragam lisan. Pada kegiatan berbahasa ini pengguna bahasa dapat seketika memperbaiki kesalahan berbahasa yang terlanjur terjadi. Penyimak pun dapat lebih cepat memahami pesan yang disampaikan pembicara karena dibantu oleh ekspresi dan media atau alat bantu yang digunakan pembicara.

Sumbangan keterampilan menyimak; pengetahuan yang diperoleh seseorang melalui menyimak dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuannya berbicara. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi pembicara yang baik, orang harus memiliki keterampilan menyimak yang baik. Perhatikan tanda panah pada tabel antara menyimak dan berbicara

Sebagaimana menyimak dan berbicara, keterampilan membaca dan menulis juga dapat berganti peran. Anda ingat ketika Anda menerima dan menulis surat untuk teman atau keluarga Anda yang berada jauh dari tempat tinggal Anda. Ketika Anda menerima sepucuk surat, Anda membaca surat tersebut maka Anda menjadi pembaca. Ketika Anda menulis surat balasan maka Anda menjadi penulis. Hal ini juga merupakan kelebihan bahasa ragam tulis, yaitu mengatasi kesulitan berkomunikasi jarak jauh. Tidak mungkin dua orang yang berada di tempat yang berjauhan melakukan kegiatan berbahasa dengan ragam lisan.

Sumbangan keterampilan/membaca; pengetahuan seseorang yang diperoleh melalui membaca dapat digunakan untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan menulis. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi penulis yang baik, orang harus memiliki keterampilan membaca yang baik.

Bagaimanakah hubungan keterampilan berbahasa dari segi sifat? Keterampilan berbahasa yang memiliki sifat sama pasti memiliki hubungan yang erat. Keterampilan menyimak dan membaca keduanya bersifat reseptif. Pengetahuan seseorang yang diperoleh melalui kegiatan menyimak akan menjadi skemata yang akan membantunya ketika memahami isi bacaan, demikian pula sebaliknya; pengetahuan yang diperoleh dari bacaan atau hasil membaca akan menjadi skemata yang akan membantu dalam memahami isi simakan. Artinya, kedua keterampilan berbahasa reseptif ini selalu saling mendukung. Dapat disimpulkan bahwa, seseorang yang terampil membaca juga terampil menyimak atau sebaliknya.

Jika antarketerampilan berbahasa reseptif memiliki hubungan yang erat, maka dapat diasumsikan bahwa antarketerampilan berbahasa produktif juga memiliki hubungan yang erat. Pada sebuah kegiatan seminar, penyaji tidak mungkin langsung berbicara di hadapan peserta seminar. Jauh hari sebelum kegiatan seminar berlangsung penyaji sudah menyiapkan makalah sebagai bahan seminar. Ini artinya, seorang pembicara yang baik juga adalah seorang penulis yang baik atau sebaliknya, penulis yang baik juga seorang pembaca yang baik. Anda dapat membuktikan hal ini dengan cara memperhatikan seorang penulis pada waktu dia berbicara di sebuah pertemuan ilmiah.

Uraian di atas menunjukkan bahwa hubungan antarketerampilan berbahasa pada ragam yang sama dan pada sifat yang sama memiliki hubungan yang sangat erat. Pertanyaan berikutnya, apakah keterampilan berbahasa pada ragam dan sifat yang berbeda juga memiliki hubungan. Mari kita kaji.

Apakah terdapat hubungan antara keterampilan menyimak (lisan reseptif) dengan keterampilan menulis (tulis produktif)? Ide, gagasan, atau pesan yang akan disampaikan melalui bahasa tulis dapat diperoleh seseorang (penulis) melalui kegiatan membaca dan juga menyimak. Artinya, keterampilan menyimak yang dimiliki seseorang dapat digunakan untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan menulisnya. Dengan demikian terdapat hubungan antara keterampilan menyimak dengan keterampilan menulis.

Hal yang sama juga dimiliki oleh keterampilan membaca dan berbicara. Pengetahuan yang diperoleh seseorang dari membaca dapat digunakannya ketika ia mengemukakan gagasan pada kegiatan berbicara. Artinya keterampilan membaca yang dimiliki seseorang dapat meningkatkan keterampilan berbicaranya.

Demikian uraian tentang hubungan antarketerampilan berbahasa baik dilihat dari segi ragam maupun sifat keterampilan tersebut. Kesimpulannya adalah setiap keterampilan berbahasa tersebut memiliki hubungan satu dengan yang lainnya dan saling mendukung. Tidak akan seseorang yang hanya memiliki satu keterampilan berbahasa saja, misal orang yang terampil menulis tetapi tidak terampil membaca atau terampil membaca tetapi tidak terampil berbicara. Namun demikian untuk memperoleh keterampilan tersebut tidak bias tidak harus melalui latihan yang berkesinambungan.

RANGKUMAN TERAMPIL MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA

Terampil berbahasa Indonesia artinya terampil menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Keterampilan berbahasa lisan meliputi menyimak dan berbicara, sedangkan keterampilan berbahasa tulis meliputi membaca dan menulis. Dilihat dari sifatnya, keterampilan menyimak dan membaca bersifat reseptif yaitu menerima atau memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara atau penulis, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif, artinya menghasilkan pembicaraan atau tulisan.

Menyimak memiliki sifat interaktif dan noninteraktif Menyimak interaktif adalah menyimak dengan melakukan tanya jawab dengan pembicara atau dengan penyimak yang lain. Menyimak interaktif jarak jauh dilakukan ketika pelaku bahasa melakukan kegiatan bertelepon. Menyimak noninteraktif adalah kegiatan menyimak yang tidak disertai dengan tanya jawab atau interaktif antara pembicara dan penyimak.

Sebagai keterampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif, kegiatan membaca bertujuan memahami isi bacaan. Pemahaman dalam membaca dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu:

  1. pemahaman literal,
  2. interpretasi,
  3. membaca kritis,
  4. membaca kreatif.

Berbicara adalah kegiatan menyampaikan pesan kepada orang lain (penyimak) dengan media bahasa lisan. Suhendar (1992: 20) mendefinisikan, berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran/perasaan menjadi wujud ujaran.

Keterampilan berbahasa yang bersifat produktif lainnya adalah menulis. Jika pada keterampilan berbicara orang menyampaikan pesan, gagasan, atau buah pikiran dengan menggunakan bahasa lisan, dalam menulis pesan disampaikan penulis melalui bahasa tulis. Seperti halnya pada berbicara, menulis juga memerlukan proses. Untuk memperoleh tulisan yang baik penulis juga harus melalui tahapan-tahapan, yaitu tahap pra penulisan, tahap penulisan, dan tahap pasca penulisan.

Setiap keterampilan berbahasa memiliki hubungan satu dengan yang lainnya dan saling mendukung. Keterampilan berbahasa reseptif yang dimiliki seseorang dalam memperoleh dan meningkatkan keterampilan berbahasa produktif. Tidak ada cara lain untuk memperoleh keterampilan berbahasa, baik reseptif dan produktif yaitu dengan cara berlatih dan berlatih secara berkesinambungan.

Referensi:

Yeti Mulyati,dkk. 2021. Bahasa Indonesia. Tanggerang Selatan: Penerbit Universitas Terbuka. Hal 2.20

TERAMPIL MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA TERAMPIL MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA TERAMPIL MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA TERAMPIL MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Releated